
Di kamar Bude Ayu itulah, Asti menghitung sisa uang tunai yang ada di dompet kulit pemberian Pak Catur waktu itu. Bahkan Asti tidak terlalu memusingkan banyaknya uang yang dia keluarkan untuk membawa keluarga Lek No menginap dan berjalan-jalan di kota Solo.
Dalam kesempatan itu bahkan Asti berjanji akan sering-sering membawa Akbar bepergian. Agar anaknya itu dapat mengenal kerabat dan sanak saudara yang tinggal tersebar di kota-kota kecil dari ujung Timur wilayah Jawa Tengah.
Sekarang yang terpenting adalah membayar zakat mal atau zakat harta dari hasil penjualan perhiasan kemarin.Terkadang, Asti masih merasa bersalah menjual peninggalan harta warisan milik Bude Ayu dan Mbah Putrinya.
Hanya saja Asti berharap, dengan penjualan warisan itu, rumah dan tempat usaha yang dia bangun dapat lebih bermanfaat. Akbar dapat bersekolah setinggi mungkin, karena ada dana pendidikan yang cukup untuknya. Sedangkan Asti dapat membuka toko pakaian lagi. Jadi tidak bergantung dari uang belanja yang diberikan Satrio.
Bahkan selama setahun menikah dengan lelaki itulah dia tidak diberi tahu nominal gajinya. Satrio hanya memberi uang belanja dua juta rupiah per bulannya. Juga tetap tak ditambah, walaupun sekarang ada kehadiran seorang bayi . Tentu dengan kebutuhan belanjanya semakin bertambah.
Di sore itu, Pak Haji Anwar, Joko dan Lek No membicarakan besaran uang yang harus dibayarkan Asti untuk zakat itu. Segera Asti memasukan uang sejumlah tiga puluh lima juta dalam dua amplop berbeda. Niat Asti memberikan uang itu agar digunakan untuk memperbaiki atau merenovasi kamar mandi mushola di depan rumah. Tampak Pak Haji Anwar membacakan doa setelah menerima uang tersebut. Mereka telah menunaikan salah satu dari ketentuan dari ajaran agama tersebut. Perasaan Asti menjadi sangat lega.
Besok siangnya, Asti akan menengok proyek pembangunan rumahnya itu. Setelah itu akan dilanjutkan dengan pembangunan ruko di depannya. Tampaknya proyek itu berjalan cepat selama dua bulan ini. Tampak dari jauh, sudah terlihat bentuk bangunan rumah berlantai dua itu.
Mas Adam mengajak Asti mampir ke kantornya, yang letaknya malah menuju jalan ke arah kota tempat Asti tinggal. Mereka semua diterima baik oleh rekan- rekan dan anak buah Mas Adam di sana . Mereka bekerja di bangunan yang tidak terlalu besar tetapi rapi dan nyaman penataannya.
Ada dua gambar ruko yang menarik perhatian Asti, setelah Mas Adam mendesain dengan cermat.
Gambar ruko yang menarik perhatian Asti. Karena tampak unik dan berbeda dari yang lainnya. Tetapi Asti meminta pria itu tetap mendesain berbagai fasilitas yang memadai dari tiap ruko. Juga membuat lahan parkir yang aman dan nyaman.
"Kenapa, Mbak Asti nggak buat usaha seperti mini market aja dari salah satu ruko itu. Nanti saya bantu menatanya agar sesuai!"
"Dari mana lagi uangnya , Mas? Ini aja takut, nggak cukup! Oh, ya. Apa bisa di didekat samping ruko, yang lahannya agak kosong ini dibuat ala warung tenda yang unik dan menarik ?"
"Oh, bisa. Bisa! Mbak Asti mau jualan makanan ? Wah boleh nih, kita -kita jadi pelanggannya?"
Tawa keras Joko agak mengagetkan Akbar yang tadi mulai mengantuk dalam gendongan Asti. Kesal, Asti mengetok bahu sepupunya itu dengan buku tebal yang ada di atas meja.
"Berisik, ah. Pelan sedikit bisa? Suara tawamu itu, Joko. Nih, Akbar jadi bangun!"
" Habis, Mas Adam lucu! Terlalu bersemangat menggarap proyek ini. Kalau Asti jualan masakan di warung tenda, kasihan Akbar nggak ada yang jaga, ya?"
Dengan penuh kasih sayang, Joko mengendong Akbar yang sudah terbangun. Dia timang-timang bayi gemuk itu sambil menatap beberapa foto pembangunan rumah Asti, dari mulai dibangunnya pondasi, juga didirikannya tiang-tiang penyangganya.
"Ini, yang disebut pondasi cakar ayam, ya. Mas?" tanya Joko.
"Iya, ini digunakan untuk bangunan atau rumah yang lebih dari satu lantai. Lebih kuat, juga tahan longsor. "
__ADS_1
Asti terlibat hitung-menghitung angka untuk biaya penyelesaian rumah tinggal dan bangunan empat ruko yang akan dikerjakan pada bulan berikutnya. Beberapa anak buah Mas Adam agak kagum, karena Asti sangat paham dengan berbagai urusan keuangan yang biasanya selalu dipegang oleh kaum pria!
"Jangan salah, lo? Sepupu saya ini sejak SMP sudah dilatih oleh Mbah Kakung untuk menghitung hasil panen padi dari seluruh sawah kami. Dia tahu untung ruginya dari pembelian bibit, pupuk sampai pembayaran upah para buruh yang mengerjakan sawahnya itu."
Mas Adam tersenyum. "Pantas, Bude Ayu almarhumah selalu menyerahkan semua keuangan itu kepada Mbak Asti, ya?"
Segala surat perizinan telah disiapkan para pegawai di kantor itu, juga anggaran biaya yang diperlukan. Pagar seng yang menutupi area itu ternyata cukup menjaga keamanan . Apalagi setelah warga mengetahui kalau pemilik tanah itu adalah keponakan dari istri Pak Rahman Sidiq. Tokoh yang cukup disegani di daerah itu karena nama besar keluarganya banyak yang bekerja sebagai ASN dan tentara.
"Mbak, untuk cat rumah, sebaiknya jangan warna putih! Karena di jalan yang ramai nanti cepat kotor dan pudar."
Saran seorang asisten Mas Adam yang juga tadi telah memilih pagar yang sesuai. Mereka sangat antusias dengan penyelesaian proyek itu. Sebab sejak ada plang besar nama perusahaan yang di pasang pada pagar bangunan rumah Asti tersebut, banyak orang yang mulai tertarik memakai jasa mereka. Kantor mereka mulai sering dikunjungi orang, sebagian tertarik untuk merenovasi hunian mereka.
"Gradasi coklat saja, Mbak Asti. Nanti untuk ruangan di dalam rumah digunakan yang lebih muda lagi warnanya!"
Diskusi itu akhirnya berakhir satu jam kemudian. Apalagi Asti juga sudah mentransfer segala kekurangan pembelian bahan bangunan lainya. Nanti surat perjanjian dan kuitansi pembayaran akan diambil Joko dua hari lagi.
Sekarang mereka akan kembali Ke kota. Namun, sebelum pulang Joko berniat akan mengisi bensin di SPBU dekat alun-alun kecamatan.
Tiba di pintu masuk SPBU, tampak barisan antrian panjang untuk kendaraan roda empat. Sampai Joko dikejutkan dengan dua mobil yang antri di depannya. Di sana ada pria muda berpakaian t-shirt putih dengan celana coklat parka, keluar dari fortuner hitamnya. Lelaki itu berkacama mata hitam dengan penuh gaya.
"Itu Satrio bukan?" tanya Joko pelan.
Yah, dialah gadis yang fotonya ada di hape Ninuk. Wajah wanita cantik itu tampak terlihat semakin muda usianya karena tidak memakai seragam perawatnya.
Tanpa diperintah, Joko keluar dari antrian pengisian Pertamax dan mulai membuntuti mobil Satrio yang mulai keluar dari SPBU. Tak sampai 400 meter, mobil itu memasuki halaman mini market terbesar di daerah itu.
Joko perlahan menyelinapkan mobilnya terparkir di antara dua mobil lain dari Fortuner hitam itu.Dia segera menghubungi seseorang dari hapenya. Wajah Pemuda itu agak gelisah.
Satrio dan perempuan itu tampaknya agak lama di dalam swalayan tersebut. Tiba-tiba di samping mobil Joko ada motor sport kuning yang berhenti. Mereka adalah dua pemuda yang datang berboncengan. Walaupun pakaian mereka agak mirip pembalap dalam film anak-anak muda di sebuah sinetron tv, tetapi mereka sikapnya sangat sopan.
Joko meminta, kedua kawannya itu membuntuti Satrio. Mereka diminta mengambil bukti berupa foto atau video dari pasangan tersebut. Tetapi tanpa melakukan tindakan berbahaya dan melanggar hukum.
Tak lupa Joko juga menyelipkan lima lembar ratusan ribu kepada pemuda yang membawa motor besar itu.
Benar saja, Tak lama Satrio dan gadis itu keluar dari swalayan sambil bergandengan tangan. Malah gadis cantik itu menatap wajah Satrio dengan sangat mesra.
Mungkin banyak orang menilai kalau gadis Itu seperti baru lulus SMA saja. Apalagi dia masih sangat muda dengan penampilan yang bergaya gadis kota besar . Dia memakai atasan crop hitam yang masih dapat memperlihatkan perut dan pinggang yang ramping dengan kulitnya yang mulus. Lalu ditimpa outer rajut putih yang juga pendek. Bawahannya adalah jeans Stretch kebiruan. Ada sandal cantik di kuku jarinya yang diberi kutek warna merah tua.
__ADS_1
Sesekali mereka berbicara sambil tertawa bahagia. Belanjaan mereka sepertinya berupa snack dan air mineral yang juga dibawa Satrio secara gentleman.
" Apa kamu masih tetap menyembunyikan perbuatan busuk Satrio seperti ini dengan kami. Kenapa Asti?"
"Aku masih nggak percaya saja. Sebab Satrio pernah ngomong kalau dia punya banyak teman dari kaum wanita. Apa Ninuk pernah kasih informasi tentang perempuan itu?"
"Pernah, cuma nggak ku tanggapi. Kupikir Ninuk hanya berhalusinasi. Apa yang kamu dapat dari pernikahan yang nggak sehat ini?"
"Kenapa kamu ngomong begitu, sih, Joko. ?"
"Sejak Ibu mengabarkan soal lamaran Satrio, saya sudah nggak suka dengan sikap anak Pakde Cahyadi itu. Padahal manajer di PT tempat aku kerja juga naksir kamu, Asti. Tetapi kamu tentu nggak enak kan menolak perjodohan dari Bude Ayu?"
" Semua itu sudah menjadi jalan dari hidup dan takdir saya..."
"Harusnya, saya datang dari Semarang untuk memberitahumu... Yah, keluarga kita terlalu bahagia dengan rencana pernikahan itu."
"Kenapa kamu nggak suka dengan Satrio?"
"Bukan nggak suka! Saya sering bertemu dia ketika datang pada acara Mbah Sanjaya. Namun dia tak pernah menganggap kita saudara, karena tidak sederajat dengan nama besar keluarganya."
Tampaknya itu pukulan berat bagi Joko, karena anak Lek No ini dikenal sangat baik dan mudah berteman dengan siapa saja!
" Sepertinya dia mau menerima perjodohan ini karena permintaan dari Bude Widya. Ibu yang sangat dia sayangi."
Joko memang belum mengali informasi terlalu jauh tentang Satrio dan kedua orang tuanya karena tinggal di kota dan daerah yang lumayan jauh letaknya.
Hanya saja masih ada terdengar selentingan berita buruk tentang Pakde Cahyadi dan Satrio. Maklum keluarga Mbah Sanjaya sangat menghormati menantu dari anak pertamanya itu dan Satrio adalah cucu kebanggaan itu. Tetapi banyak cucu- cucu dari dari anak Mbah Sanjaya yang lain kurang suka dengan kesombongan Satrio.
Jadi mereka yang diperlakukan tidak baik oleh Satrio suka berkeluh kesah pada Joko. Namun, tak bisa mencegah campur tangan Bude Ayu almarhumah dan Ibu Widya Prameswari untuk menyatukan keluarga mereka dengan jalan pernikahan.
"Kamu akan membantu saya, Joko?"
"Saya, bapak, Ibu dan Ninuk akan selalu membantumu, karena kita bersaudara. Sudah lama saya tahu, kalau dia sangat meremehkan keluarga kita."
Cara Joko berbicara semakin penuh emosi. "Saya juga punya setengah darah dari keturunan Winangun, nggak akan saya biarkan dia menghancurkan hidup kamu. Asti!"
Agak lama Asti menangis terisak-isak di dalam mobil itu. Dia berusaha kuat dan tegar dengan segala badai kehidupan yang berat. Tetapi sangat menyakitkan bila dikhianati oleh lelaki yang berjanji akan menjadi imam untuk dalam rumah tangga ini.
__ADS_1
" Tolong, jangan ngomong soal ini dulu ke orang tuamu, ya? Bantu aku!"
Suara-suara gumaman Akbar menghentikan tangisan Asti. Rasanya percuma bersedih, terluka atau kecewa dengan Satrio. Begitu cepatnya lelaki itu tergoda perempuan lain. Sekarang Asti punya Akbar. Anak inilah yang akan menjadi pelita kehidupannya nanti.