
" Asti! " Teriak Bulek Ratih.
Wanita itu tadi juga agak curiga ketika mendengar suara benda jatuh di dapur. Sejak kemarin dia memang melihat Asti kurang sehat. Asti hanya makan sangat sedikit. Padahal ada bermacam - macam makanan yang mereka buat untuk acara tahun baru tersebut.
" Asti! Kamu Kenapa? Tolong!"
Teriakan wanita paruh baya itu mengejutkan semua orang. Terutama Pak Leon. Lelaki itu segera bergerak cepat menuju ke dapur. Alangkah terkejutnya pria itu melihat tubuh Asti tergolek di lantai dapur. Dengan Bulek Ratih yang memegang tangannya dengan panik.
" Tolong, Pak! Angkat Asti ke dalam kamar saja!"
Segera saja Pak Leon mengangkat tubuh kaku Asti, menuju ruang kamar tidur utama. Mereka semua ikutan panik juga. Pak Leon membaringkan Asti di ranjangnya yang besar. Ruangan tidur itu luas dengan penataan yang sederhana, simpel dan modern.
" Aku panggil, Bu Bidan Irna saja!"
Joko berusaha tenang.
Bulek Ratih berhasil mendapatkan minyak kayu putih di laci lemari bayi Akbar. Walaupun kamar tidur itu ramai dengan kehadiran Bulek Ratih, Bu Jum dan Mbak Ning. Akbar masih tertidur pulas di boks bayinya.
Joko mengambil kunci motor yang tergantung di dekat bufet di ruang tengah. Dia berlari ke garasi bersama Mas Yanto yang segera membuka pintu kamar.
Asti masih belum juga siuman. Pak Leon mencari sesuatu benda yang terpajang pada lemari rias Asti. Di sana ada sederet botol parfum. Dia membuka parfum itu dan memberitahu pada Bulek Ratih agar diletakkan di lubang hidung Asti.
Akhirnya ada gerakan perlahan dari Asti. Matanya terbuka sedikit. Namun Bu Jum terus memijat telapak kaki Asti yang sangat dingin.
" Bulek...! " Bisik Asti perlahan.
Dari luar kamar terdengar suara Joko dan suara seorang wanita. Wanita muda yang baru menikah hampir empat bulan yang lalu itu membuka klinik kesehatan ibu dan bayi di seberang jalan sana.
Wanita muda itu mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam kamar. Dia segera memeriksa Asti yang terbaring lemas dengan wajah pucat.
__ADS_1
"'Mbak Asti, Biasanya sering sakit maag kalau kurang istirahat dan banyak pikiran ini! " Cetus Bu Bidan muda itu yang sering memeriksa Akbar saat dibawa ke kliniknya. Terkadang Asti juga sering minta obat bila kepada bidan itu bila merasa kurang enak badan.
" Istirahat dulu, ya. Atau mau dibawa ke klinik untuk dirawat?" tanya wanita itu.
" Istirahat di rumah aja, Bu Bidan!"
Wanita itu lalu memberikan resep obat yang dapat ditebus di kliniknya. Dia melihat wajah Asti yang masih pucat.
" Saya pikir Akbar sakit lagi, ternyata ibunya!" ujar Wanita itu pada Bulek Ratih yang terus mendampingi Asti yang terbaring di kamarnya.Wanita muda itu pamit untuk pulang diantar Joko sekaligus untuk menebus resep.
Beberapa hari sebelumnya Akbar juga kurang enak badan jadi agak rewel. Sehingga Asti sering terbangun dari tidurnya di malam hari setiap Akbar menangis karena giginya tumbuh.
Keadaan Asti malah bertambah parah. Tubuhnya menggigil hebat menjelang Magrib. Padahal suhu tubuhnya sangat tinggi. Akhirnya Lek No dan Bulek Ratih berinisiatif membawa Asti ke rumah sakit. Pak Cakra sudah menyiapkan mobil Pak Leon di depan rumah Asti.
Atas saran Pak Leon, mereka membawa Asti ke rumah sakit terdekat. Pria itu yang duduk di samping Pak Cakra terus menelpon pihak rumah sakit. Tak sampai 20 menit mobil memasuki sebuah bangunan rumah sakit swasta yang masih baru dan modern. Bangunan itu baru dibuka setahun yang lalu.
Kedatangan mereka sudah ditunggu oleh para petugas jaga di ruang depan dengan sebuah kursi roda.
" Tenang, Berdoalah Bu Ratih. Semoga Asti segera pulih!"
Dokter sudah menangani keadaan Asti yang segera diberi infus. Sementara Joko dan Pak Cakra mengurus segala administrasi di ruang kasir. Ternyata nama Pak Leon sudah tertera di sana sebagai penjamin. Sebab beliau mendaftarkan beberapa pekerja tetap di proyek pembangunan perumahannya itu berobat di rumah sakit ini.
Hampir dua jam lebih Asti mendapat penanganan di ruang UGD. Beberapa perawat terus melaporkan perkembangan keadaan Asti. Sambil melihat kantong infus yang dipasang di samping Asti terbaring.
Seorang perawat memanggil keluarga Asti. Bulek Ratih berdiri bersama Pak Leon. Mereka menuju ruang jaga di dekat tangga. Dokter itu melaporkan kepada Asti yang harus menjalani rawat inap. Ternyata Asti terkena penyakit typus. Sehingga suhu tubuhnya tidak stabil.
" Ibu mau pulang ke rumah?" Tawar Pak Leon.
" Saya tetap di sini! Pak Leon kalau mau kembali ke rumah nggak apa- apa, biar Joko ikut pulang sambil mengambil pakaian ganti untuk Asti!"
__ADS_1
Pria itu keluar dari ruang UGD menemui Joko dan Pak Cakra. Lek No masuk untuk menemani istrinya di ruang tunggu.
" Mas Joko, disuruh ibu ambil pakaian ganti untuk Asti! Nanti diantar Cakra! Ibu Ratih sudah menelpon Ninuk untuk menyiapkannya!"
Pajero milik Pak Leon yang dikemudikan Cakra meninggalkan pelataran rumah sakit. Pria itu kembali ke ruang tunggu. Menit demi menit berlalu. Sesekali dia melihat Asti yang terbaring dan tampak gelisah. Bulek Ratih segera masuk dan mendampinginya.
Hampir tengah malam , barulah Asti dipindahkan ke ruang perawatan di lantai dua. Ruang khusus VIP. Ruangan itu mempunyai tempat ruang tunggu di dalam berupa sofa yang lumayan duduki.
" Pak Leon, pulang saja bersama Pak Cakra! Terima kasih atas segala pertolongannya! Kami akan bermalam di sini. Biar besok Ninuk dan Joko yang bergantian jaga! Tinggallah di kamar atas di rumah Asti! " Bisik Lek No.
Dua jam sekali ada suster yang datang dan memeriksa keadaan Asti. Saat terbaring lemas di ranjang rumah sakit justru hanya ada air mata yang terus menetes di di wajah Asti yang pucat.
Wanita muda itu menangis bukan mencemaskan keadaan dirinya yang sedang sakit. Malah dia terus memikirkan anaknya yang harus dijaga Bu Jum malam ini.
" Tenangkan pikiranmu, Asti! Jangan cemas, ya! " bujuk Bulek Ratih perlahan.
Beberapa kali Asti turun dari pembaringannya dibantu Bulek Ratih untuk ke kamar kecil yang masih menjadi satu dalam ruangan VIP tersebut. Selain untuk buang air kecil, Asti juga wudhu. Dia sholat dalam keadaan duduk karena masih lemah.
Menjelang Subuh keadaan Asti sudah membaik setelah mendapat beberapa suntikan dari dokter yang merawat sakitnya.
Paginya, Ninuk yang datang diantar Joko dengan mobilnya. Gadis itu yang akan menjaga Asti siang ini. Sementara kedua orangtuanya pulang ke rumah untuk istirahat.
" Mbak, maafkan. Ninuk, ya! Karena menyiapkan acara bakar- bakaran itu. Mbak Asti kecapean dan jadi sakit!"
Asti yang sudah menyelesaikan sarapan pagi yang disediakan pihak rumah sakit hanya tersenyum miris. " Kamu jangan begitu, Nuk! Mbak sudah kurang enak badan sejak Akbar tumbuh gigi empat hari yang lalu. Bukan karena capek! Mungkin telat makan dan banyak pikiran. Sampai drop begini..."
" Ninuk jadi tahu, kalau Pak Leon sangat panik sewaktu Mbak Asti pingsan di dapur. Bahkan tetap memaksa Mbak Asti dirawat di rumah sakit ini." Ninuk tertawa geli.
" Mbak Asti sakitnya parah, lho! Coba kalau tetap di rawat di rumah atau di klinik Bidan Irna! Mbak akan terlambat mendapat pertolongan! Bilang aja mbak takut disuntik kan?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Ninuk, Asti hanya menatap sepupunya itu dengan sedih. Hampir semalaman jarum infus itu menempel di punggung tangan kirinya. Infus inilah yang memberinya kekuatan setelah tubuhnya lemas dan terkena demam tinggi. Kini perut terasa perih dan harus menelan semua makanan lunak yang disediakan pihak rumah sakit. Sebab dia harus minum obat untuk memulihkan kesehatannya.