
Cahaya kemerahan mulai menghias langit timur, seakan memperlihatkan kalau Sang Surya sebentar lagi akan keluar dari peraduannya. Begitulah keadaan suasana di sekelilingnya ketika rombongan Asti melanjutkan perjalanan. Setelah mereka menyelesaikan selesai sholat dan beristirahat di masjid itu. Hari mulai terang dan cuaca cerah.
Memang setiap pagi, kita akan mendapatkan pemandangan ini, di saat fajar tiba. Apalagi bagi kaum bapak- bapak yang rajin sholat bersama Subuh di masjid. Tetapi terasa lebih menakjubkan lagi , apabila kita melihat munculnya matahari pagi itu dari tempat yang berbeda agak berbeda dari yang biasanya.
 Sepertinya melihat matahari itu terbit di tempat terbaik seperti di atas Gunung Penanjakan itu. Kata Pak Bakdi tempat itu menjadi spot terbaik untuk melihat Sunrise. Sekaligus kunjungan utama para wisatawan ke Gunung Bromo. Walau ada beberapa tempat lainnya di di dara sana, namun masih kurang populer tampaknya. Dari tempat itulah mereka mendapatkan pengalaman dan kenangan yang cukup mengesankan.
Betapa mereka semua sangat menikmati melihat keindahan panorama di area Gunung Bromo Walaupun acara jalan-jalan itu cukup melelahkan juga namun sangat menyenangkan.
Apalagi bagi Putri yang dulu tak sempat pergi ke tempat itu bersama teman-teman satu angkatannya di SMP, dalam acara perpisahan di kelas 9. Karena kedua orang tuanya tidak punya uang lebih untuk menabung guna biayai perpisahan itu. Padahal acara itu sudah direvisi sejak para murid duduk di kelas 7.
Bagi keponakan Pak Ruh, menyekolahkannya Putri di SMP negeri di kecamatan sudah sangat memberatkan. Walaupun anak bungsunya itu banyak mendapatkan bantuannya dari pihak kelurahan, dengan keterangan tidak mampu. Juga dari pihak sekolah, dengan beasiswa dari orang tua angkat.
Semua orang yang melihat matahari terbit di sana akan merasa takjub, kagum. Ada rasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk melihat salah satu keajaiban alam itu. Suatu rahmat yang diberikan Allah kepada umatnya. Apalagi beberapa tempat di sana memang menampilkan pemandangan wisata alam yang berbeda.
Tampak jalan raya yang mereka lalui mulai terlihat dipenuhi dengan kesibukan oleh berbagai masyarakatnya. Dari para pedagang yang membawa hasil bumi untuk dijual di pasar tradisional terdekat. Beberapa karyawan pabrik yang hendak berangkat masuk kerja. Juga beberapa remaja dengan rombongan motornya, mereka sepertinya akan berolah raga di lapangan alun-alun kota. Sebab kebanyakan dari mereka memakai seragam mirip team sepakbola dari club tertentu.
Di dekat di pinggiran kota tampak ada sedikit keramaian menjelang dekat pasar tradisional. Mungkin hari Minggu inilah hari pasaran di tempat itu.
Di sebuah perempatan desa yang ramai, terlihat beberapa penjual mulai menggelar dagangannya di suatu lahan terbukanya yang agak luas. Sepertinya itu lapangan besar itu yang terdekat dari pasar desa.
Kedua mobil berjalan pelan-pelan. Sebab banyak orang lalu lalang di jalan itu. Ada yang menyeberang jalan dengan gerobak berisi penuh sayurannya, juga beberapa orang memakai sepeda ontel. Terutama para bapak dan ibu yang sudah tua. Asti lebih memperhatikan lagi dengan seksama keadaan di luar jendela mobil yang sedang dinaikinya itu.
" Kita cari makanan di sini, Lek?" tanya Asti.
" Boleh itu!" ujar Bulek Ratih.
Pak Sugeng mulai sibuk mencari tempat untuk memarkir mobilnya agar tidak membuat kemacetan jalan di depan pasar itu. Karena mereka juga sedikit lapar. Apalagi di masjid, tempat mereka singgah tadi jauh dari pemukiman penduduk. Sehingga tidak ada warung atau orang berjualan di sekitar sana.
__ADS_1
Lek No segara menelpon Leon yang ada di mobil belakang. Kalau mereka akan mampir sebentar di dekat pasar ini untuk mencari sarapan atau cemilan.
Elf berhenti di sebuah area di pinggir jalan yang agak lapang atau melewati pasar itu. Asti yang sudah berganti baju di masjid tadi. Juga sudah cuci muka dan gosok gigi, jadi lebih pede keluar lebih dahulu dari mobil itu bersama Bulek Ratih.
Anggota keluarga yang lain lebih suka menunggu di dalam mobil, sambil melihat kesibukan aktivitas jual- beli di pinggiran jalan raya yang sangat ramai itu. Terutama para penjual makanan atau sarapan yang membuka lapaknya dengan meja kecil. Lapak mereka mulai dipenuhi oleh para pembeli.
Asti membeli berbagai macam jajanan pasar dari lapak-lapak itu. Biasanya kue- kue tradisional Jawa, terbuat dari bahan seperti tepung beras, beras ketan sampai olahan singkong. Bulek Ratih tertarik membeli makanan seperti nasi pecel atau Sego pincuk yang tampaknya berbeda dari masakan yang biasanya dibuatnya di rumah. Untuk anak-anak dia membeli beberapa bungkus mie goreng.
Mereka makan di dalam mobil saja. Sebab para pedagang makanan itu tidak menyediakan bangku atau meja untuk para pembeli makan di sana. Semuanya memakai sistem take away, alias dibungkus dan dibawa pulang.
Asti, Ninuk dan Putri makan mie goreng yang dijual si Mbok tadi . Jualan wanita tua itu yang paling laris dipenuhi pembeli. Karena rasa semua makanan yang dijualnya ternyata sangat enak... Terutama Sego pecel itu.
Keluarga Asti jarang membeli kue lain, seperti gorengan... Di rumah, Mbak Ning sering membuat makanan seperti itu. Karena lebih bersih juga lebih sehat. Terutama penggunaan minyak gorengnya.
Beberapa minggu yang lalu mereka mendengar rumor tentang penggunaan minyak jelantah yang digunakan oleh para pedagang gorengan di pinggir jalan. Mereka membeli minyak jelantah yang dijual seseorang dari bekas gorengan sebuah restoran besar. Minyak jelantah itu tidak digunakan lagi setelah dia atau tiga kali penggorengan makanan untuk menjaga kualitas makanan yang mereka jual.
Sementara... lebih aman bagi mereka, jajan makanan tradisional yang tanpa digoreng. Seperti berbagai olahan singkong yang dapat jadikan getuk lindri, lemet atau timus. Yaitu makanan dari parutan singkong yang diberi irisan gula merah dan dibungkus dengan daun pisang dan dikukus. Juga bebas variasi kue dari bahan ketan dan tepung beras sepertinya lemper, wajik atau kue pisang atau nagasari.
Leon makan mie goreng yang dibungkus dengan daun pisang dan kertas nasi. Dia kurang suka sarapan dengan masakan yang bersambal pedas atau sambel kacang seperti pecel. Saat ini pun perutnya sedikit kosong, akan memudahkan dia mengalami sakit perut dan diare hebat kalau makan sembarangan!
Mereka membagi kue- kue jajanan pasar itu menjadi dua kantong. Satu untuk di mobil Elf, satunya lagi untuk di mobil Pajero. Sebab nasi pecel itu hanya memakai dua atau tiga potongan ketupat di dalamnya. Jadi kurang mengenyangkan bagi perut orang dewasa, seperti kaum laki-laki.
Joko juga sudah menghubungi Mas Kancil di rumah. Saat ini Mas Danu sedang menyiapkan makanan untuk mereka semua. Semoga saja dalam satu atau dua jam lagi mereka sudah sampai di rumah dengan selamat.
Perjalanan dilanjutkan. Perut agak nyaman setelah diisi dengan berbagai makanan yang dibeli di pasar itu. Kota Ngawi sudah tertinggal jauh di belakang mereka , beberapa menit kemudian. Padahal di kota itu juga ada tempat - tempat wisata yang cukup menarik . Tetapi tujuan utama mereka sekarang adalah segera sampai di rumah! selain melepas lelah juga dapat mandi untuk menyegarkan tubuh setelah hampir 24 jam tidak mandi.
Asti hanya membeli oleh-oleh, di kota Batu saja. Yaitu makanan yang dikemas sehingga awet untuk disimpan lama. Seperti beberapa macam keripik buah. Terutama keripik apel yang menjadi ciri khasnya oleh - oleh dari Kota Batu. Makanan yang tidak tahan lama semacam cake atau Strudel apel mereka makan selama dalam perjalanan menuju ke Bromo dan pulangnya. Lumayan daripada jajan. Sebab cake itu mengenyangkan dan enak juga.
__ADS_1
Sementara Bulek Ratih membeli banyak apel Malang untuk dibagikan kepada para tetangga di desanya. Walaupun ada juga buah apel seperti itu dijual di pasar kecamatan. Tetapi agak kurang peminatnya. Sebab orang desa jarang makan buah, apalagi buah jenis impor. Kecuali ada kerabat yang berkunjung, biasanya mereka membawa buah-buahan sebagai buah tangan atau oleh- oleh.
Padahal menurut cerita Pak Bakdi, seorang supir Jeep yang mereka sewa, ada salah satu anggota keluarganya yang rajin meminum jus apel Malang itu untuk pengobatan sakit tekanan darah tinggi. Katanya buah yang berasa asam - manis itu juga dapat menurunkan kolestrol.
Lek No hanya menangapi sekilas. Karena dulu juga mereka harus merawat Pak Harjo Winangun yang mengalami sakit yang sangat tiba- tiba. Menurut penilaian tetangga karena sakit sudah tua, sebab mengalami berbagai komplikasi selain jantung dan asam urat. Walaupun pria itu sudah diet dan menjalani pengobatan secara herbal.
Perjalanan semakin mendekati tempat tujuan, setelah mobil melewati jembatan yang sangat besar dengan air sungai yang sedikit menyurut. Anak- anak sudah bangun, Qani diam saja ketika wajahnya dilap dengan tisu basah oleh Bu Jum. Sejak bepergian, bayi itu jarang menangis karena tahu kalau ada ayah dan ibunya yang akan selalu bersamanya.
Lain halnya dekat Akbar yang sudah nemplok dengan Mbah No, dia duduk di tengah di apit Bulek Ratih. Bocah laki-laki itu makan kue-kue yang disodorkan Mbah Putrinya itu. Begitulah sikap Akbar yang agak berbeda dengan Asti, Ibunya... Anak itu gampang sekali beradaptasi di berbagai lingkungan yang baru. Sedikit penurut, cerewet dan gampang berbaur dengan orang lain. Terutama orang dewasa.
Beberapa pemandangan di sekeliling mereka, mulai dikenali oleh Asti.. Karena sudah memasuki wilayah perbatasan di Jawa Tengah. Seperti hamparan sawah di suatu tempat yang letaknya mulai meninggi. Pohon- pohon jati yang menjadi penghias dan peneduh di pinggir jalan raya.
Semua itu adalah ciri-ciri tanah di daerahnya yang sebagian adalah tanah berkapur. Justru tanah berkapur inilah yang cocok untuk pohon jati tumbuh dengan suburnya. Jadilah pohon itu ditanam di beberapa tanah yang luas, mirip hutan lindung. Karena akan dimanfaatkan kayunya, kalau usia pohon itu sudah cukup tua untuk ditebang.
Di beberapa desa di perbatasan ini banyak berdiri Industri kecil yang mengolah kayu jati. Dari pembuatan mebel atau perabotan rumah tangga seperti kursi, lemari dan tempat tidur. Justru di desa lainnya, ada industri pengolahan kayu jati menjadi kusen jendela dan, jendela dan pintu dari kayu jati berukir. Kebanyakan mereka mendapat pesanan dari daerah lain, sampai kota- kota sekitarnya.
" Itu rumah Mbah No !" jerit Akbar senang setelah mereka melewati sebuah jalan raya yang menikung, melewati hutan jati yang menutupi jurang dan lembah-lembah di sekeliling desa Sendang Mulyo. Desa itu seperti tertutup dari jalan raya itu dengan lebatnya daun- daun jati yang berbaris rapi di pinggiran jalan raya provinsi itu. Pohon - pohon itu tumbuh besar, tinggi dan menjulang.
"Hore Akbar sudah mau sampai rumah!" ujarnya lagi. Qani ikut bertepuk tangan, ikut terbawa senang dengan kegembiraan kakaknya.
Beberapa menit kemudian Elf mulai memasuki wilayah desa Sidodadi, dengan ciri jalan simpangan pertigaan yang khas. Akbar melambaikan - lambaikan tangannya karena senang. Ketika dia melihat dari jauh jejeran ruko AS, alias pertokoan Ayu Sulaksmi, yang berada di depan rumahnya. Tampaknya pintu depan rumah juga sudah dibuka lebar oleh Mas Yanto.
Pria itu membantu mengawasi jalan di kedua sisi simpangan itu agar kedua mobil itu dapat masuk ke jalan depan rumah dengan aman. Sebab mereka harus memotong jalan dari lalu lintas dua arah di depan ruko tersebut. Sebelum masuk ke dalam halaman rumahnya dengan garasi yang sudah dikosongkan.
Sementara lalu lintas di depan ruko jadi semakin ramai dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang di sana. Dengan adanya Simpangan itu, daerah mereka semakin mudah dilewati lalu lintas dari beberapa kota kecil di sekitarnya. Apalagi sekarang hari Minggu, banyak orang - berjalan- jalan melewati daerah mereka untuk berganti suasana.
Kancil dan Mas Danu segera menyambut kedatangan mereka. Semua anggota keluarga yang turun dari Elf dan Pajero disalaminya termasuk Om Ardi. Para pria dibantu dua supir sibuk menurunkan barang bawaan mereka yang semakin bertambah banyak saja dari semula yang mereka bawa. Selain ada beberapa dus oleh-oleh. Juga plastik besar berisi buah apel.
__ADS_1
' Home sweet home ' begitulah kalimat yang Asti rasakan ini. Setelah meninggalkan rumah ini agak lama, rumah ini selalu membuatnya kangen. . Sebab pada bangunan hunian berlantai dua inilah, dia kembali menata hidupnya. Setelah dihancurkan mental dan harga dirinya oleh ulah sang mantan dan istri barunya itu.