Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 39. Langkah Kecil Asti


__ADS_3

Urusan pembalikan nama sertifikat tanah sudah selesai. Walaupun Asti dibantu Joko dan beberapa orang pejabat terkait, tetap saja harus bolak- balik ke beberapa kantor dan dinas setempat, yang terkait. Sampai akhirnya sertifikat tanah dengan luas hampir mencapai 800 meter itu tercetak atas nama dirinya.


Selama urusan surat-menyurat yang agak njelimet itu, Joko merental mobil milik seorang pria yang bekerja di kelurahan. Sebab Asti tetap harus membawa Akbar ke mana- mana. Tentu saja membawa si bayi gemoy itu juga harus mengajak si kakek dan neneknya juga.


Memang benar, sih! Asti tidak tega mengendong bayi yang masih kecil itu ke tempat- tempat umum. Juga bertemu dengan orang banyak dari berbagai kalangan. Apalagi di beberapa tempat itu banyak orang yang merokok. Tentu kurang baik bagi bayi yang belum genap berumur 40 hari itu.


Sementara, Asti dan Joko berada di kantor pertanahan daerah setempat. Bayi mungil itu dijaga Lek No dan Bulek Ratih di tempat parkir. Tak lupa dengan segala printilan milik si bayi.


" Kita berhenti di warung depan aja, Joko. Kasihan Lek No dan Bulek Ratih ! Kita makan siang di sini saja!"


Mobil Avanza biru navy itu baru dapat meninggalkan gedung kantor BPN daerah setempat, menjelang pukul 15.30. Joko juga mengemudikannya dengan lebih hati- hati di sepanjang arah pulang.


Mereka sempat mampir di sebuah masjid di seberang warung itu, Untuk menunaikan ibadah shalat Asar. Jadi, ketika mereka kembali menu yang dipesan sudah tersedia di meja.


Warung makan yang sederhana ini punya lahan yang luas untuk parkir kendaraan roda empat. Bangunan dengan atap rumbia itu cukup teduh untuk digunakan sekedar beristirahat dan melepas lelah.


Letaknya warung ini juga sangat strategis, di pinggir jalan besar dengan empat persimpangan yang menghubungkan empat kota terdekat di daerah itu. Ke arah barat Boyolali, timurnya Sragen, ke arah selatan Solo dan di utaranya Purwodadi .


Sekarang Asti membiarkan Akbar tidur di Stroller setelah menghabiskan satu botol ASI. Agar Bulek Ratih tidak terganggu saat menikmati makan yang telah mereka pesan sebelumnya.


" Enak ya, Lek?" tanya Asti. Karena percaya dengan lidah wanita itu, yang tidak pernah salah dalam menilai rasa dari setiap makanan yang dimakannya.


" Enak, kok! " Ucap wanita untuk meyakinkan pada suami dan anaknya. Mereka menatapnya dengan pandangan penuh selidik.


"Bilang aja, Ibu lapar. . . ." Protes Joko berkepanjangan.


" Memang kalau kita lapar , setiap makanan yang kita makan jadi terasa enak, betulkan Asti?" Kata Lek No. " Apalagi kalau ada yang bayarin. Enak e, pol!"


Joko jadi tertawa ngakak. Apalagi dia melihat ibunya yang hampir menghabiskan satu porsi nasi liwet yang ada di piringnya dengan ayam goreng , sambel dan lalapan.


Asti memesan satu porsi sop iga dengan nasi setengah. Lain dengan Joko dan Lek No yang memesan nasi komplet dengan ayam panggang.

__ADS_1


" Joko, nanti rental mobil ini yang tiga hari, aku aja yang bayar! " kata Asti mengingatkan.


" Sebenarnya, aku pengen juga membeli mobil dari uang pesangon waktu kerja di PT . Seken juga nggak apa- apa! Lumayan kalau bisa dirental . Tetapi uangnya masih kurang agak banyak, Asti!"


" Mungkin itu ide bagus. Sebab kalau punya mobil seperti ini, mau kemana - kemana semua keluarga bisa terangkut!" Jawab Asti menyetujui.


" Kamu tertarik membeli mobil?"


Jawaban Asti agak lama juga karena dia harus berpikir dan menghitung uang yang ada di tabungan dan rekeningnya.


"Ya, udah! Nanti kita cari mobil yang cocok. Kekurangannya nanti aku yang tambahin."


Saat di perjalanan pulang, mereka mampir ketika melewati show room mobil milik Pak Haji Yassir Manan. Iseng- iseng berhadiah. Siapa tahu melihat mobil seken yang cocok dengan harga murah? Kenapa enggak dicoba!


Banyak jenis mobil yang ditawarkan di sana. Maklum showroom Haji Yassir ini terkenal dengan penjualan mobil - mobil seken yang terbaik. Tampaknya Joko tertarik dengan sebuah mobil niaga yang terawat sangat baik. Apalagi mereka mendapat tawaran potongan harga yang lumayan menarik.


Bulek Ratih agak bingung juga, ketika menyaksikan Asti dan Joko telah membeli satu unit mobil itu tanpa perkara yang rumit. Seperti membeli baju di pasar. Hanya melihat, memilih kalau suka, sesuai dengan yang ditawar lalu dibayar!


Benar saja, mobil Avanza itu diantar keesokan harinya ke rumah dengan alamat Lek No. Transaksi berjalan lancar. Pak Haji Yassir Manan sengaja mengisi bahan bakar di tangki mobil itu sampai penuh sebagai bonus.


" Biar Bu, Pak. Jangan ngomong dulu ke Ninuk! Kalau mobil ini sudah kita beli. Biar si cerewet itu kaget kalau pulang bulan depan nanti!"


Permintaan Joko itu mereka sanggupi. Semua orang mengiyakan. Kapan lagi mereka bisa memberi kejutan buat Ninuk? Sesekali dia juga perlu dikejutkan agar tidak suka membuat heboh orang lain.


Sorenya, Akbar sudah digendong Bulek Ratih untuk dibawa berjalan- jalan dengan mobil baru oleh Om Joko. Lek No juga antusias untuk test Drive mobil itu. Pria itu ingin juga merasakan membawa mobil sejuta umat itu karena sudah menjadi milik anaknya.


Tampaknya terjadi adu pendapat antara ayah dan anak itu. Sebab Joko tak rela mobil barunya terperosok ke sawah. Karena selama ini sang bapak sehari- hari hanya mengemudikan mobil bak terbuka yang sudah agak tua.


" Huh, tahu Asti masih banyak uang di rekeningnya, dulu . Tak pilih mobil yang agak bagusan, ya. Bu?"


" Loh, bapak dulu mau aja disuruh bayarin mobilnya Lek Kardi ini. Padahal Asti sudah nawarin untuk membeli beli mobil yang lebih bagus. Malah nggak mau!"

__ADS_1


Mendengar penjelasan istrinya, wajah Lek No tampak agak menyesal. Namun dia berbesar hati menerima hal itu, setelah mendengar keinginan Asti untuk membuat rumah dan ruko dari tanah peninggalan Bude Ayu. Tentu dia memerlukan uang banyak untuk mewujudkan keinginannya tersebut.


Asti mencoba menelpon Satrio beberapa kali tetapi tidak mendapatkan respon. Bahkan WA darinya sejak semalam tak dibaca. Apa lelaki itu berangkat ke medan perang, ya? Sehingga tak peduli atau tak mau repot untuk sekedar menjemput istri dan anaknya.


Ya, sudah. Terlanjur basah ya sekalian saja! pikir Asti. Dia kembali menangguhkan kepulangannya ke rumah dinas dulu. Sempat juga memberi pesan pada Mbok Yah untuk sesekali datang ke rumah. Wanita itu mengiyakan karena Asti sudah memberinya tambahan uang sewaktu dia pulang.


" Kenapa? Satrio nggak mau jawab saat ditelpon? " Ucapan Joko itu terdengar, saat anak sulung Lek No itu menghampirinya.


Sungguh Asti tidak melihat Joko yang duduk di teras, sementaranya Asti berkali- kali mencoba menelpon nomor Satrio, juga tidak dijawab.


" Sok tahu, kamu!" ujar Asti lirih.


Dia benar- benar menjaga agar permasalahan ini tidak diketahui keluarganya. Padahal sehari sebelum acara, Pak Cahyadi sudah menelpon Lek No dan menyampaikan permohonan maaf karena penyakit itu, dia tidak bisa datang ke Desa Sendang Mulyo.


" Nanti sore, Mas Adam datang. Dia saudaranya Pak Haji Anwar , seorang Arsitek kawakan. Dia juga punya usaha jasa di bidang renovasi dan pembangunan rumah."


" Nggak usah pakai jasa arsitek, aja. Nanti jadi mahal. Takut uangnya nggak cukup!"


Mata Joko mendelik. " Nanti nego sama orangnya saja, Asti! Kalau bangun ruko sekalian yang bagus agar menarik orang yang akan menyewanya! Sebab di daerah itu lebih ramai daripada perempatan Pasar Kecamatan."


Benar saja, tamu mereka datang setelah Magrib. Ternyata Mas Adam orangnya ramah dan terbuka. Nanti dia akan merancang gambar rumah dulu. Rumah yang diimpikan Asti setelah tinggal di rumah Joglo hampir seumur hidupnya, juga tinggal di rumah dinas dengan segala keterbatasannya.


Selama ini Asti ingin mempunyai rumah dengan ruangan yang luas, terbuka dan modern. Sehingga penghuninya merasa nyaman juga aman.


Contohnya dia pernah melihatnya pada brosur - brosur penjualan properti di sebuah pameran rumah di kota Solo waktu itu. Namun Asti suka rumahnya itu lebih sederhana dengan banyak kamar untuk menampung keluarga atau tamu- tamu yang menginap.


Apalagi dia juga ingin mempunyai usaha sendiri. Misalnya membuka toko pakaian muslim di ruko yang dibangunnya nanti. Jadi dia tidak perlu meninggalkan rumah dan anaknya agak jauh untuk mencari rejeki.


Sejak kehadiran mantan suami Bude Ayu, hatinya mulai diliputi suatu kegelisahan. Pernikahan Bude Ayu dan Pak Rahmat Sodiq yang didasari dengan rasa saling mencintai saja, dilanda gelombang badai perselingkuhan dan perceraian.


Bagaimana dengan nasib pernikahannya karena perjodohan? Dari pandangan orang lain, mungkin dia dianggap wanita yang beruntung dan bahagia dengan pernikahannya itu. Tetapi sikap Satrio makin ke sini semakin membuatnya kecewa dan sakit hati!

__ADS_1


__ADS_2