
Ternyata urusan Mbak Tia siang itu cukup rumit juga. Sampai Bu Jum tidak enak karena seharian berada di kantor Polsek, jadi Qani diurus oleh ibunya sendiri. Sebagian besar keinginan Bu Jum untuk mendampingi Ibu Anggun, agar dapat melihat dengan mata kepala nya sendiri, mereka dapat memberikan hukuman yang pantas atas perbuatan wanita muda itu yang baru bekerja tak sampai 6 bulan lamanya di rumah itu.. . Tetapi sudah berani melakukan tindakan kriminal berupa pencurian perhiasan milik majikannya.
Lek No ternyata sudah meminta izin pada tuan rumah untuk pulang di esok paginya. Mereka akan meminta Dimas yang akan membawa mobil itu... Sebab Leon melarang Asti mengemudikan mobilnya itu dalam jarak yang sangat jauh. Apalagi mereka membawa Qani dan Akbar dalam perjalanan pulang tersebut.
" Ayok kita rapi-rapi!" ujar Bulek Ratih setelah selesai makan malam...
Beberapa tas dan koper sudah dijejer di depan pintu kamar masing- masing ... Ternyata Joko dan Leon masih harus tertahan di kantor pusat Semarang, dengan permasalahan soal pembebasan tanah dan ganti rugi untuk pembebasan lahan di daerah Madiun. Jadi mereka berencana menggurus masalah itu dengan melibatkan seorang ahli hukum yang selama ini sudah banyak membantu di kantor pusat dengan berbagai masalah hukum yang rumit.
Akbar ribut untuk membawa pulang juga sepeda roda tiganya. Sampai Ibu Anggun memintanya langsung dengan Hanum. Tentu saja gadis manis, cucunya yang sudah bersekolah di kelas 4 SD itu mengizinkannya. Selain sepeda itu sudah terlalu kecil, dia juga mempunyai sebuah sepeda mini roda dua yang lebih baru.
" Nanti pakai mobil ayah saja, bawa sepedanya! Mobil Ibu tidak muat! " ucap Leon.
Bagasi itu sudah memuat beberapa tas besar juga koper Asti yang berisi pakaian milik mereka masing-masing. Belum lagi stroller milik Qani. Juga perlengkapan bayi itu yang harus ada di bangku penumpang agar mudah diambil dan digunakan setiap saat.
Kalau Leon sudah berkata seperti itu, mau tak mau Akbar langsung patuh. Padahal dia sudah tidak sabaran untuk mencoba menaiki sepeda roda tiga itu di rumahnya nanti.
" Kalau Akbar tidak sabaran, silahkan! " ucap Asti. " Kamu pulang dengan ayah dan Om Joko nanti. Ibu sama adek dan Mbah No juga Mbah Ratih pulang duluan..."
Gemes juga Asti akhirnya. Karena Akbar masih tak mau berpisah dengan sepedanya itu. Kalau sudah begini, Asti hilang sabar. Watak itu persis watak Satrio, ayah kandung Akbar yang memang selalu mengutamakan kepentingannya sendiri.
" Akbar! Nggak nurut omongan ayah sama ibu, Nih!" tantang Leon ketika mendengar rengekan anak laki-laki itu." Ya, sudah. Akbar tinggal di sini sendirian nanti, ya! Yang ada di rumah ini hanya Eyang Kakung dan Eyang Uti. Ayah dan Om Joko mau menggurus semua pekerjaan... Jadi nggak bisa menjaga Akbar di sini!"
Ucapan Leon yang agak tegas itu menghentikan rengekan Akbar. Mata anak laki-laki itu berkaca-kaca. Leon sudah mempelajari watak Akbar yang mulai memunculkan rasa egonya saat ini. Sebagai bagian dari perkembangan seorang anak yang mulai berusia 3 tahun.
Dia juga sudah meminta izin sebelumnya pada Asti untuk membantu istrinya itu mendidik putra-putri mereka dengan disiplin dan kepatuhan. Walaupun dia tidak menampik kalau sikap sopan santun dan hormat Akbar kepada orang yang lebih tua pada juga hasil didikan istrinya. Belum lagi kemampuan Akbar menghapal berbagai doa pendek untuk kegiatan sehari-hari. Sampai mengikuti gerakan shalat fardhu.
__ADS_1
Paginya, Mbak Tini datang dengan sebuah tas besar kiriman oleh - oleh dari Mbak Mesya untuk keluarga Lek No. Mereka baru berangkat ke Bandung malam tadi. Untuk sementara Mbak Tini akan diperbantukan di rumah ini, bersama Mbak Siti. Karena akan menunggu seorang wanita yang masih berkerabat dengan Mbak Tini dari kampungnya untuk bekerja di sini menggantikan Mbak Tia.
Leon mengantar mereka sampai di depan pintu gerbang rumah. Pria itu menciumi pipi dan dahi kedua anaknya itu berganti - ganti. Sampai dia juga mencium dahi istrinya penuh mesra.
" Jaga anak-anak, ya. Sayang! Jangan telat makan, maag-nya nanti kambuh!"
Asti mencium pipi suaminya itu dengan lembut. " Semoga semua urusan Mas Leon berjalan lancar dan lekas kembali ke rumah."
" Kamu masih berhutang penjelasan dengan sikap diam kamu selama ini atas Mbak Tia!" Tantang Leon.
" Sudahlah, Mas! Yang penting Mama Anggun harus lebih berhati-hati lagi. Jangan sembarang mempercayai orang!" ujar Asti lembut.
Mobil Inova yang dikemudikan Dimas mulai bergerak meninggalkan kompleks perumahan elite itu menuju luar kota Semarang. Di samping Dimas ada Lek No, di bangku tengah ada Bulek Ratih , Qani dan Asti. Di jok belakang ada Akbar yang akan dijaga Bu Jum.
Akbar sudah lebih riang karena sudah dapat melupakan soal sepeda roda tiganya yang ditinggal di rumah Eyang Murti itu. Dia makan dengan lahap disuapi Asti dengan sayur bening tauge dan empal gepuk bacem dan tahu goreng.
Setelah sholat di musholla kecil di seberang jalan itu, mereka melanjutkan perjalanan. Sejak mau berangkat tadi, Leon sudah memperingatkan agar mereka jangan membicarakan soal Mbak Tia di hadapan Akbar dan Qani. Anak itu masih sangat kecil belum paham apa pun. Tetapi mudah menerima informasi yang kurang baik sekalipun.
Setelah beristirahat sebentar, kali ini Lek No yang akan menggantikan Dimas membawa mobil itu. Ternyata Lek No sudah cukup hapal jalan raya di sekitar daerah Boyolali ini... Sebentar lagi mereka akan melalui kota Solo.
Asti berniat mencari toko oleh-oleh untuk orang - orang di rumah. Walaupun Pak Murti belum sembuh total... Setidaknya Asti berharap sang Bapak mertua kembali sehat... Asti sudah mengundangnya untuk datang ke rumahnya lagi dan menginap agak lama. Ayahnya Leon itu juga berencana untuk menginap di rumah Lek No. Dia ingin hidup santai sejenak di desa yang sangat tenang dan hijau, di Desa Sendang Mulyo.
Mobil yang dikemudikan Lek No mulai bergerak ke sebuah pasar lama yang terkenal dengan bermacam-macam toko yang menjual oleh- oleh dan makanan khas daerah ini. Akhirnya pria itu memarkir mobi itu di depan toko yang mempunyai lahan parkirnya yang agak luas. Di sebuah pasar tradisional yang cukup terkenal di kota ini. Lek No ingin agar kedua cucunya dapat turun dan beristirahat. Mereka sudah terlihat bosan dan letih dalam perjalanan yang memakan waktu yang sangat panjang dan lama.
Dimas dan Lek No mencari warung kecil yang menjual kopi, sambil mengandeng Akbar... Sementara Bu Jum mengendong Qani yang masih setengah mengantuk. Dia mengikuti Bulek Ratih dan Asti yang memasuki sebuah toko besar.
__ADS_1
Mereka membeli banyak makanan khas, terutama kue-kue yang, juga bermacam keripik yang awet disimpan agak lama.
Beberapa kue terkenal dari kota ini pada umumnya tidak tahan disimpan seharian, seperti sosis Solo atau serabi Notosuman. Bahkan kue-kue seperti itu yang orisinal, dijual pada toko masing-masing di daerah yang berbeda pula. Sebenarnya mereka nanti akan mencari toko yang menjual serabi Notosuman yang asli. Walaupun harus menempuh jarak yang agak jauh lagi.
" Bukanya Mbak Mesya sudah mengirim oleh-oleh untuk Bulek tadi?" tanya Asti pelan.
" Kayak kamu nggak tahu saja modelnya para tetangga kita yang tinggal desa ... Satu orang dapat, yang lainnya juga mau!"
" Terus mau diantar satu persatu kue ini ke rumah mereka masing -masing, begitu ?"
" Ya, enggaklah! Nanti disediakan buat tetangga yang sowan ke rumah saja. Taruh di piring- piring!"
Hahaha, Asti tertawa geli... Semakin perhitungan saja Ibunya Joko ini. Sejak masalah Bu Dian itu, Bulek Ratih jadi mulai tahu! Tidak semua orang di desanya berbuat baik dan bersikap tulus terhadap keluarga mereka.. Mereka tidak lagi lugu! Apalagi kalau mendengar rumor tak jelas, malah sudah sampai ke seluruh telinga penduduk seantero desa. Padahal terbukti berita itu belum tentu benar!
Qani menikmati serabi gurih itu. Mereka mampir sebentar di toko penjual serabi khas kota ini... Hanya membeli beberapa kotak saja , dari yang rasa original sampai berbagai variasi rasa lainnya.
Haduh, kedua balita itu hampir menghabiskan satu kotak kue yang rasa coklat. Padahal isinya ada sepuluh buah.
" Enak , dek?" tanya Bu Jum sambil membersihkan dagu Qani dengan tisu basah.
" Nak!" sahut Qani lucu.
Semua orang tertawa mendengarnya. Bayi itu sudah dapat diajak ngobrol walaupun hanya bisa menangkap dari suku kata terakhir dari ucapan orang lain. Bayi itu sudah hampir menghabiskan dua buah serabi. Padahal dia juga sudah minum separuh dari susu di botolnya.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Kali ini Dimas telah berganti yang mengemudikan mobil itu. Sebab dia sudah ngopi dan menikmati semangkuk mie bakso yang sangat terkenal di pasar yang cukup legendaris dengan berbagai makanan khas, oleh-oleh dan berbagai jajanan di lantai duanya.
__ADS_1