Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 42. Pak Catur Resi Dikromo


__ADS_3

Kepergian Asti dengan keluarga Lek No menuju kota Solo akan dimulai siang nanti. Segala persiapan untuk Akbar dilakukan oleh Bulek Ratih dibantu Ninuk. Sementara, Mbok Bayah pamit pulang.


Asti sengaja memasukan peti perhiasan itu ke dalam koper pakaiannya yang lebih kecil dan hanya diisi pakaian untuk bermalam hanya dua atau tiga hari saja.


Sementara Joko dan Lek No mulai mengangkut stroller dan tas perlengkapan untuk Akbar ke bagasi.


Lagi- lagi wajah Ibu Suparlan muncul di depan pintu rumahnya. Mungkin tadi dia sempat bertatapan dengan Ninuk. Jadi wanita cepat- cepat masuk kembali ke dalam rumahnya.


Joko yang kali ini mengemudikan mobilnya dan Lek No yang duduk di sebelahnya. Ninuk mengalah dengan mengambil duduk di jok belakang. Sebab di jok tengah, ada Bulek Ratih dan Asti. Sementara, Akbar dibaringkan di tengah-tengah dengan penyangga dari guling bayi.


Perjalanan di tempuh dalam waktu lebih dari 70 menit. Banyak proyek pengerjaan jalan yang agak menghambat laju mobil yang mereka tumpangi menuju ke arah kota Solo.


Tadi Ninuk sudah mencari tempat menginap yang cukup baik di kota itu lewat aplikasi, tentu dengan harga sewa per malam yang tidak mahal.


Sengaja Ninuk mencari losmen atau hotel itu yang terdekat dengan mall. Dia mau berjalan- jalan dan makan di mall tersebut untuk refreshing. Tentunya setelah menjalani ujian akhir UN di sekolahnya Minggu lalu.


" Pokoknya Asti janji akan membayar ini dari uang penjualan perhiasan..." Janji Asti pada mereka. Wajah- wajah mereka tampak cerah dan bahagia.


Mbak Sasya sudah menghubungi Asti lagi. Dari kemarin kakak kedua Satrio itu sudah meminta keluarga Asti menginap di rumahnya. Tetapi Asti menolak dengan alasan Ninuk dan keluarganya mau menikmati wisata kota di malam hari.


Di depan sebuah rumah makan dengan konsep ala keraton itulah mereka janjian akan bertemu. Tampaknya restoran ini cukup besar dan megah. Joko segera memarkirkan kendaraan di antara dua mobil yang juga sangat mewah.


"Mbak Sasya kami sudah sampai, maaf terlambat sedikit!" Kata Asti saat menelpon kakak iparnya itu.


" Oh, ya. Sudah. Minta tolong antar pada pegawai restoran di sana, ya! Bilang aja ke ruang pesanan Ibu Sasya Anindita."


Rombongan itu melangkah menuju lobi restoran yang dipenuhi ornamen dan hiasan dinding dengan berbagai bentuk wayang kulit yang terbuat dari besi berbagai material dan bahan.


Joko sudah mendorong koper kecil milik Asti. Sementara Ninuk membawa tas perlengkapan Akbar. Bayi itu digendong Bulek Ratih.


Di ruangan itu, Asti menemui seorang pegawai. Pria muda itu tersenyum ramah ketika Asti memberi tahu kalau dia akan bertemu dengan Ibu Sasya.


Mereka diantar oleh pegawai itu menuju ruangan di lantai dua. Sampai di depan sebuah pintu, Asti mulai mengenali wanita cantik yang berdiri di sana


"'Mbak Sasya?" Panggil Asti kurang yakin.


Wanita cantik dengan gaun formal dengan blazer itu menoleh. Dia terlihat senang dengan kedatangan Asti yang hanya terlambat tak kurang dari sepuluh menit.


Cepat sekali, wanita itu berjalan ke sebuah ruangan yang lebih tertutup.


Mbak Sasya dengan ramah mempersilakan keluarga Lek No ikut masuk.


" Silakan, Pak Catur! Kenalkan ini Nastiti Anjani, adik ipar saya!"


Asti menyalami tangan Pak Catur. Pria itu sebaya dengan Lek No. Tetapi rambutnya yang agak keriting tampak putih berkilau karena sudah dipenuhi uban. Tetapi membuat pria itu terlihat lebih pandai dan bijaksana.


" Bisa kita mulai saja, Sasya!"

__ADS_1


" Asti mana perhiasanmu itu!"


Joko membantu mengangkat dan membuka koper tersebut. Segera Asti mengeluarkan sebuah kotak kayu jati berukir. Saat benda itu di letakkan di meja. Pak Catur mendekat.


Asti mulai memilah- milah perhiasan itu. Dia membuka kantong yang lebih besar. Dikeluarkan semua perhiasan lama milik almarhumah Mbah Putrinya.


" Ini memang sudah lama sekali." Ujar Bapak itu meletakkan alat yang tadi seperti kaca pembesar.


" Ini mungkin milik Mbah buyut saya. Kalau ini milik Bude!"


Bude Ayu memang lebih suka mengoleksi gelang dan liontin yang agak besar. Segera pria itu menuliskan beberapa angka di sebuah buku catatan. " Ini benar- benar mau dijual semuanya?"


" Iya, Pak! untuk membangun rumah dan tempat usaha."


" Bapak akan membayar segini!" Kata pria itu sambil memperlihatkan lembaran kertas yang ada di depannya.


Mata Asti melotot saat pria itu menuliskan nilai harga barang itu dengan angka nol yang mencapai sembilan. " Banyak sekali, pak?"


" Sebenarnya bisa lebih lagi harganya, bila ada surat- suratnya. Bagaimana?"


" Boleh, Pak! "'ujar Asti lemas.


Di seberang meja, Mbak Sasya tersenyum geli. Memang jumlah itu sangat banyak bagi Asti karena tidak memahami nilai historis dari perhiasan itu.


Tak lama ada seorang pria muda masuk membawa sebuah tas kulit agak besar. Tas itu diserahkan kepada Pak Catur.


Pria itu membuka sebuah buku dan menandatangi pada empat lembar kertas yang berbeda. Mbak Sasya membantu merobek lembaran pada buku cek itu dengan hati - hati. Sebelum dimasukan ke dalam amplop diperlihatkan dulu kepada Asti.


Seumur hidupnya, baru kali ini Asti melihat yang namanya cek . Dia sama sekali tak menyangka kalau selembar kertas yang hanya mirip bon pembelian di toko bajunya itu, dapat membeli hampir 1 hektar sawah yang ada di desanya. Lha Ini, ada empat lembar lagi! Belum lagi uang tunai dalam dompet itu yang dipeluk Lek No erat-erat. Seperti takut hilang atau seperti tidak percaya, dengan tumpukan uang berwarna merah muda itu.


" Nanti kalau Asti mau menguangkan cek ini atau memindahkannya ke rekeningmu , biar kakak iparmu yang membantu!"


Benar saja, di sana ada logo bank swasta yang paling besar di Indonesia. Sayangnya bank itu sangat sulit didapatkan di daerah pedesaan. Apalagi di daerah Asti, kecuali bank milik pemerintahan atau perkreditan rakyat.


" Saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan Bapak, karena mau membeli perhiasan warisan itu, Pak!"


" Santai saja... Saya percaya, karena Sasya sudah banyak bercerita tentang keluargamu dan asal- usulmu di Desa Sendang Mulyo. Kapan- kapan saya boleh mampir ke desamu, Asti.?"


" Oh, silakan, Pak! Dengan senang hati saya akan menunggu kedatangan Bapak."


Pria itu langsung menyuruh para pelayan menghidangkan beberapa masakan yang telah dipesannya.


Tak sampai lima menit berbagai makanan terhidang di meja makan panjang.


Asti dibantu Mbak Sasya menyimpan dompet berisi uang dan amplop coklat berisi empat lembar cek di dalam dompet itu. Dompet itu dimasukan kembali ke dalam koper kecil itu


Semua orang menikmati berbagai makanan yang ada di meja itu. Ternyata itu semua pilihan dari Mbak Sasya agar keluarga Lek No dapat menikmati hidangan khas kota ini.

__ADS_1


Pria itu ternyata tertarik dengan cerita Sasya yang pernah menjadi mahasiswanya saat kuliah di Semarang. Selain sebagai seorang dosen, Pak Catur juga seorang penulis dan kolektor perhiasan kuno. Sudah lama beliau ingin menulis sejarah tentang masyarakat di pedesaan yang tinggal di perbatasan Jawa tengah dan Jawa Timur.


Beliau juga tak menyangka kalau Asti akan menjual semua perhiasan yang sudah cukup lama usianya. Setelah dilihat, perhiasan itu dibuat pada masa penjajahan Belanda. Sebab setelah masa itu, jarang orang yang membuat perhiasan lagi sejak Jepang menjajah Nusantara


Pria itu pamit pergi duluan bersama asistennya karena sudah ditunggu oleh seorang pejabat di sebuah hotel. Mbak Sasya tersenyum. Sebab semua tagihan telah dibayar oleh Pak Catur Resi Di Kromo sebelum dia pergi meninggalkan restoran.


" Nggak mampir ke rumahku, Asti?"


" Terima kasih, Mbak. Besok saja. Sekalian ngerepotin untuk dibantu tetang cara menguangkan cek ini. Asti takut hilang!"


" Ya sudah. Besok aku kirim alamat rumah lewat WA, aja. Ya!"


"'Mbak Sasya, tolong jangan cerita dulu tentang hal ini pada Mas Satrio, ya."


" Kenapa lagi dengan si anak ibu, itu?"


" Lagi errornya bareng sama hapenya , Mbak. Dia marah- marah terus. Sebab Bapak nggak bisa datang ketika Akbar akikahan."


" Pantas, dia langsung berangkat ke Purwokerto malam itu. Mampir sebentar sebelum kembali ke rumah dinasnya."


Keluarga Lek No sejak tadi sudah menyelesaikan makan mereka. Malah Akbar juga sudah bangun. Dia memandang ruangan yang megah dan luas ini.


Di tempat parkir, mereka akhirnya berpisah. Tadi Mbak Sasya sempat memberi arahan menuju rumahnya. Wanita beranak dua itu tetap cantik dan langsing. Satu perempuan lagi yang menjadi teladan dan contoh bagi Asti. Mbak Sasya sangat sangat ramah dan sopan kepada orang lain. Tanpa memandang asal-usul, derajat dan kekayaan!


Mobil Avanza milik Joko itu mulai membelah keindahan kota Solo menjelang sore. Asti menjanjikan kalau mereka akan tinggal di kota ini sampai hari Sabtu atau Minggu. Mumpung besok hari kerja, Asti akan mengurus semua cek dan uang cash itu pada bank yang dimaksud.


Losmen ini mempunyai beberapa pilihan kamar. Asti boleh menggantinya dengan menambah harga, walaupun sudah pesan sebelumnya.


Dia ingin kamar besar agar bisa tidur dengan Ninuk dan Bulek Ratih. Apalagi di kamar itu ada sofa untuk duduk- duduk bersama. Sementara di kamar lainnya, Asti memilih kamar double bed untuk Lek No dan Joko.


Setelah selesai mandi, Lek No dan Joko masuk ke kamar Asti. Kamar di lantai tiga itu juga ada balkonnya.Ada banyak makanan yang sempat beli di perjalan sebelum kembali ke losmen.


"Lek, aku mau ngomong sesuatu!"


"Silakan!" jawab Lek No sambil menimang Akbar.


" Cek ini akan aku masukkan ke rekening. Satu cek ini untuk biaya pendidikan Akbar sampai besar dan kuliah. Dua cek yang ini untuk membangun ruko. Insha Allah, cek yang satu lagi, buat kitab umroh semua bersama- sama. Kalau semua urusan rumah dan ruko sudah selesai!"


Ada ucapan Alhamdulillah dan Allahu Akbar yang diucapkan Lek No, Bulek Ratih, Joko juga Ninuk bersahut - sahutan. Malah Bulek menangis terharu.


" Bagaimana dengan Satrio, Asti?" tanya Bulek Ratih agak heran. Karena sejak awal pembicaraan Asti jarang menyebut nama Satrio.


Sebisa mungkin Asti menahan rasa sedih dan kecewanya karena permasalahan Satrio. Asti tak mau membuat keluarganya bersedih.


"Tunggu aja dulu, Lek! Dia ngambek sampai sekarang, gara- gara orang tuanya nggak datang pada akikahan Akbar!"


" Yang benar, aja! Satrio kok, bisa begitu sikapnya?"

__ADS_1


" Apalagi sejak Aku ngomong mau bangun rumah sendiri. Dia kayaknya nggak suka. Juga makin tak peduli. Padahal aku sudah izin baik- baik !"


__ADS_2