Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 242. Bertamu di Rumah Pak Sampurno


__ADS_3

Kehadiran keluarga Lek No, Asti dan para ART yang ikut serta dalam rombongan di sore itu, membuat suasana di rumah Pak Sampurno menjadi meriah dan ramai. Biasanya di kediaman Pak Sampurno yang indah, besar dan megah itu sehari-hari nampak sepi. Semua penghuninya sibuk dengan aktivitas masing-masing, dari pagi sampai malam hari.


"Ya, ampun. Yuk Ratih! Mengapa membawa kue dan buah-buahan sebanyak ini!" ucap Ibu Sarita kaget. Ketika kedua supir Elf itu mulai membantu mengeluarkan semua oleh- oleh yang dibeli oleh Lek No dan Leon dalam dus dan kantong kresek berlogo toko buah terkenal di kota Brem ini.


" Itu hanya sedikit, Mas! Terimakasih banyak telah membantu menantu kami , Leon! Karena persoalan pembebasan tanah di desa Sumber Sari jadi cepat selesai, " ujar Lek No.


" Sama-sama. Hati-hati Leon, kalau berurusan dengan calo tanah seperti Pak Kadir dan kawan- kawannya itu! Banyak nggak benarnya mereka ... Suka menipu sana- sini!" Nasehat Pak Sampurno.


Leon tersenyum. Dia banyak dibantu segalanya dalam soal urusan lahan itu, sehingga masalah pembebasan lahan itu tidak sampai berlarut - larut. Biasanya dalam pembelian lahan, seringkali terkendala banyak hal di lapangan. Terkadang sampai sampai berbulan - bulan untuk penyelesaiannya. Bahkan bisa setahun lamanya, baru tuntas.


" Terimakasih kasih, Om... Sudah mengerahkan anak buahnya untuk urusan di kelurahan untuk hari Senin sampai Rabu nanti!" ujar Leon tulus.


" Ya, sama-sama. Kamu kan suami Asti , jadi masih sedulur... Akan kami bantu semampunya. Sayangnya, Nak Leon hanya menginap di rumah ini dua hari. Malah maunya tinggal di hotel yang ada di pinggiran kota."


Leon tersipu-sipu. Banyak alasan mengapa Leon tidak menginap di rumah Pak Sampurno itu lebih lama lagi. Selain jarak tempuh yang cukup jauh dari lahan yang akan dibebaskan... Tak jauh dari desa itu ada banyak penginapan yang didirikan , seperti berupa hotel, wisma atau vila.


Apalagi banyak desa - desa di sekitar sana mulai menggali berbagai potensi yang ada di wilayahnya masing - masing. Semua potensi itu mereka kembangkan untuk dijadikan proyek unggulan. Sebagai sektor wisata baru untuk yang dapat menarik minat para pengunjung datang ke desa mereka . Semua dengan harapan akan memajukan tumbuhnya perekonomian penduduk desa. Karena pada umumnya penduduk di sana hanya mengandalkan hidup dari hasil pertanian.


Saat para orang tua ngobrol di ruang pendopo samping rumah yang lebih sejuk. Justru anak-anak malah senang bermain di halaman rumah yang sangat luas itu. Selain ada taman yang cantik dengan rumput tebal terpangkas rapi, di sana juga ditumbuhi tanaman hias dan bunga-bungaan.


Bahkan di taman itu juga terdapat beberapa kandang burung yang eksotis. Kadang itu dihuni berbagai jenis burung yang berwarna biru dan hijau, sebagai koleksi. Karena jenis burung seperti itu mahal juga harganya. Selain burung kakak tua yang berasal dari Papua.


Mereka asyik ngobrol di pendapa samping rumah yang asri. Ditemani suguhan teh manis hangat dan kue - kue kering cantik dalam toples kristal yang terlihat mewah.


Biasanya kue- kue sejenis Nastar, kastengel, dan kue putri salju itu dihidangkan pada keluarga yang punya ekonomi mapan atau orang kaya di desa mereka. Kue sejenis itu merupakan oleh- oleh yang dibawa oleh anak atau kerabat mereka yang datang dari kota besar seperti Jakarta.


Kue kering seperti itu pun hanya disajikan pada hari yang sangat khusus, seperti hari raya Idul Fitri. Namun sekarang malah disuguhkan kepada para mereka, sebagai tanda mereka adalah tamu di rumah ini, yang sangat dihormati.

__ADS_1


Sesekali Qani turun dari pelukan ayahnya, untuk merangkak di lantai pendopo yang sangat bersih itu. Sehingga Leon harus beberapa kali mengejar bayi itu, takut mendapat celaka. Sebab bayi cantik itu mulai tertarik dengan kegiatan kakaknya yang bergerak dari satu kandang ke kandang lainnya untuk melihat berbagai jenis burung termahal yang dikoleksi oleh Pak Sampurno itu.


Lek No akhirnya mengikuti Akbar, sambil mengendong Qani. Sedikitnya pria paruh baya itu tahu beberapa nama jenis burung tersebut.


Dulu di rumah Joglo, mereka mempunyai beberapa hewan piaraan. Tetapi karena keadaan kesehatan Asti, yang kurang cocok bila berdekatan dengan hewan berbulu seperti kucing dan burung . Sehingga mereka tidak memelihara hewan di rumah mereka.


Malah mereka membangun kandang sapi tersendiri yang ditempatkan jauh dari rumah mereka. Di dekat perbatasan desa, di rumah bekas milik almarhumah Bude Ayu. Sekarang rumah itu dihuni oleh sebuah keluarga yang mendapat pekerjaan untuk merawat dan menjaga ternak. Sebab di belakang rumah itu berdiri beberapa kandang besar untuk memelihara sapi - sapi dan kambing.


" Om sudah mendengar tentang perceraian kamu dengan Satrio! Anak Bu Widya itu bukanlah lelaki yang baik! Joko banyak cerita tentang kamu Asti!" ujar Pak Sampurno. Ketika pembicaraan mulai mengarah pada kehidupan Asti.


" Iya, Om... Terima kasih karena urusan Mas Leon di sini banyak dibantu Om!" ujar Asti.


" Sayangnya, Leon nggak betah nginap di sini! Malah mencari penginapan yang jaraknya lebih dekat ke daerah itu... Padahal dari rumah ini ke desa Sumber Sari juga nggak jauh-jauh amat!" ujar Nyonya Sarita Sampurno itu menyampaikan alasan dari sikap Leon.


Pada waktu itu Joko akhirnya mengikuti keinginan Leon untuk pindah dari rumah keluarga itu, setelah menginap dua malam di sana. Mereka menyewa dua kamar di hotel yang jaraknya terdekat dari desa Sumber Sari. Di sana juga, Leon menempatkan beberapa tamu , yaitu para pengacara dari kantor pusat untuk mengurus pembelian lahan di desa Sumber sari.


Tampaknya hotel yang bukan bintang lima itu sudah cukup memadai untuk menjamu selama mereka menginap. Termasuk team pengacara itu, didatangkan oleh Pak Adam dari kantor pusat, di Semarang.


Benar saja, tak lama muncullah adik bungsu dari Ibu Sarita itu. Penampilan wanita itu terlihat sudah cukup dewasa dan matang usianya. Bukan hanya dilihat dari wajahnya, juga tubuh yang tidak langsing seperti pada gadis remaja umumnya.


Wanita itu mengenakan gaun semi batik berwarna merah keemasan yang melekat ketat di tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, namun agak gemuk. Sehingga lipatan lemaknya menonjol di perut, dan pinggangnya. Tampilan make- up pun itu hasil polesan pekerja salon yang profesional.Tetapi kurang sesuai untuk dandanan di sore hari. Karena terlalu tebal, dengan banyak campuran warna di mata, pipi dan bibir


Belum lagi rambutnya yang sebahu diwarnai agak pirang kecoklatan. Karena memakai selop bersol tebal, sehingga jalanya sedikit terhuyung-huyung, terhambat oleh ketatnya rok span bawahannya.


" Permisi, selamat sore semua!" ujar adik ibu Sarita yang mempunyai nama Dian Larasati Marwoto.


Wanita itu tadi datang ke pendapa ini, karena ingin mengetahui siapa tamu yang datang ke rumah kakaknya ini. Sebab rumah besar itu ramai dengan celoteh para supir di dekat pos penjagaan. Juga dengan banyaknya orang di pendopo samping , yang artinya tamu itu masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga mereka.

__ADS_1


Wanita itu menatap para tamunya yang datang. Sampai wajahnya tampak sumringah setelah melihat kehadiran Leon yang juga ada di sana.


Sekilas Ibu Sarita menjelaskan tentang jati diri adik bungsunya itu yang juga tinggal di rumah ini bersama anak bungsunya, Nindya . Istri Pak Sampurno itu dengan bangga memperkenalkan adiknya itu yang menurutnya sudah tampil sangat berkelas. Katanya Dian Larasati ini menjadi staf pengajar di kids school, sebuah sekolah bertaraf internasional.


Pendidikan yang setara dengan atau taman kanak-kanak atau Paud itu menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantarnya. Jadi sekolah di sana cukup bonafid juga.


Wajah manis wanita yang tadinya agak cerah itu malah sedikit cemberut. Apalagi ketika Ibu Sarita itu mengenalkan wanita cantik yang duduk sebelah Leon.


" Ini Asti, istri Nak Leon... Asti ini justru keponakannya Masmu!" ujarnya.


 Tiba -tiba saja, tangan Asti yang sudah terulur itu untuk menyalami Mbak Dian itu hanya disentuhnya sedikit. Malah seperti agak didorong. Wajah Asti menjadi memerah. Ada apa ini?


Wanita itu ngeloyor masuk ke dalam rumah, setelah berbasa-basi sebentar, dengan alasan mau ke kamar untuk ganti pakaian. Apalagi ketika mendengar mereka mau pamit kembali ke penginapan karena hari sudah sangat sore


" Aku coba datang di Senin pagi. Untuk melihat jalannya pembayaran tanah itu di kelurahan Sumber Sari itu, No!" ujar pria itu senang sambil menepuk-nepuk bahu Lek No.


Dia mendekati Asti. " Kalau ada apa-apa, bilang Om mu ini! Dulu Bapakku dan Mbah Harjo sangat akrab, melebihi saudara yang lain!"


" Iya, Om!"


" Sering - sering mampir!"


Mereka kembali masuk ke dalam Elf setelah mobil itu berputar di halaman beraspal itu agar mudah keluar dari halaman rumah. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap ringan. Terutama Leon dan Lek No. Tetapi Asti juga agak kepikiran. Mengapa Mbak Dian tadi bersikap aneh padanya?


Berdasarkan cerita Si Om Sampurno tadi, Istrinya berasal dari kalangan rakyat kebanyakan. Hampir semuanya saudara Ibu Sarita adalah pedagang. Apalagi kedua mertua Om Sampurno itu juga berjualan sembako di sebuah pasar tradisional, di kota itu.


Keluarga ayah Pak Sampurno, yaitu Pak Jayadi Wijoyo Winangun adalah seorang pengusaha besar pada masanya. Pria itu pemilik beberapa pabrik besar di kota itu. Ada pabrik besar yang masih dimiliki oleh kakak Pak Sampurno, Pabrik pengolahan pengolahan makanan itu, pasarannya sudah menembus Asia dan Amerika.

__ADS_1


Beberapa menit setelah sampai di penginapan terdengar azan dari desa di bawah sana... Tersembunyi di antara gelapnya pohon-pohon besar di sore hari, menjelang malam hari.


Mereka tadi sempat membeli beberapa lauk matang di warung pinggir jalan. Walaupun restoran penginapan buka, tetapi tak banyak pilihan menu yang ditawarkan. Apalagi Joko yang sudah tinggal di tempat ini selama seminggu tentu mengetahui semuanya. Jadi mereka hanya memesan nasi dan sayur saja. Untuk lauk pauk , digunakan beberapa lauk simpanan yang tahan lama. Juga lauk yang sempat dibeli di warung pinggir jalan, menuju daerah pinggiran kota. Asti membeli dua bungkus sate ayam dan beberapa potong ayam bakar.


__ADS_2