
Kesehatan Asti mulai membaik. Lek No dan Bulek Ratih sepakat untuk menyelenggarakan acara Aqiqah di rumahnya, di desa Sendang Mulyo. Selain mudah meminta bantuan para ibu tetangga dalam acara tersebut. Juga menjaga Asti jangan ikut sibuk, karena bekas operasi caesar itu masih sangat rawan.
Leon juga sudah menyiapkan nasi kotak untuk dibagikan kepada para tetangga di rumah Asti sampai seluruh pekerja di proyeknya.
Upacara sederhana itu berjalan dengan lancar. Qanita Azadirahta Narendra Murti tersenyum dalam gendongan ayahnya, ketika rambutnya mulai digunting oleh Pak Haji dan sesepuh desa ini , saat acara berlangsung. Doa dari para undangan terus berkumandang tak putus-putusnya, memohon keselamatan dan keberkahan bagi bayi mungil itu untuk mendapatkan kebaikan di masa depannya.
Setelahnya, para undangan yang umumnya dihadiri oleh kaum pria itu menikmati hidangan berupa semangkok gulai kambing, sepiring nasi lengkap dengan acar timun wortel, juga sambal merah dan kerupuk. Mereka makan bersama - sama dengan duduk di lantai beralas tikar atau karpet.
Asti kembali menyusui Qani yang sudah diganti bajunya setelah upacara selesai... Hampir semua ibu- ibu yang tadi membantu di dapur Bulek Ratih gemas dengan bayi cantik itu yang mirip boneka hidup. Berkulit halus, dengan mata bulat yang tajam. Rambutnya sedikit ikal.
" Aduh, Mas Akbar... Adiknya boleh Ibu bawa pulang, ya!" Ledek seorang ibu ketika melihat Akbar selalu menjaga adiknya itu.
" Jangan itu adik Akbar!" ujar anak laki-laki itu marah.
Suasana dapur semakin ceria karena Akbar menjadi bahan godaan para ibu tetangga. Mereka sejak kemarin sudah rewang untuk membantu persiapan di dapur Bulek Ratih memasak gulai, juga beberapa makanan untuk diisi dalam besek untuk dibawa tamu pulang.
Begitulah kalau ada hajatan di desa, semua para tetangga dan orang yang mengenal akan membantu si empunya acara. Dari memberikan bermacam- macam bahan mentah untuk keperluan masak-memasak. Segala Jenis sayur-sayuran atau kue-kue basah untuk keperluan acara tersebut.
Sampai mereka pun turut menyumbangkan tenaga dengan ikut masak di dapur bagi kaum wanita. Sedangkan para bapak, akan menyiapkan ruangan di rumah joglo. Mereka bergotong royong mengangkat kursi tamu dan kursi makan dari jati itu untuk diletakkan di teras depan rumah. Agar mendapatkan ruangan yang luas dan lapang di dalam rumah untuk acara itu, dengan menggelar tikar untuk duduk para tamu secara lesehan.
" Namanya memang pas dengan kecantikan bayi Mbak Asti, ya!" Komentar ibu yang lain. Setelah membaca sebuah kartu ucapan dan nama bayi yang akan menjalani upacara Akikah hari itu.
Banyak perubahan yang terjadi di tatanan masyarakat desa saat ini... Terutama di daerah Asti. Zaman dahulu para warga desa yang umumnya petani atau rakyat kecil hanya akan memberi nama pada bayi mereka yang baru lahir sesuai dengan keadaan mereka saat itu. Nama yang sederhana saja! Kadang karena terlalu sederhana, kalau anak muda sekarang mendengarnya, nama itu akan menjadi bahan olok-olok atau ledekan....
__ADS_1
Beberapa puluh tahun kemudian, para pasangan suami-istri muda akan memberi nama anak mereka dengan mengambil nama artis atau nama pelaku dalam film maupun sinteron yang mereka tonton dan disiarkan melalui televisi swasta.
Terkadang agak miris juga dengan nama keren ala orang barat atau orang kota yang disandang anak desa yang bertubuh kurus, kulit hitam, dan sedang bermain di sawah berlumpur tanpa alas kaki. Padahal mereka mempunyai nama bagus seperti Elena, Clarisa atau Kezia untuk anak perempuan. Sedang anak laki- laki banyak bernama Damian, Alvaro ataupun Aliando.
Sekarang dalam beberapa tahun ini, para orang tua sudah banyak mempelajari agama secara mendasar sebagai akar kehidupan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mulai mencari nama-nama yang lebih islami untuk putra-putri mereka yang baru lahir.
" Apalah arti sebuah nama" kata Wiliam Shakespeare, sang pujangga dari Inggris itu! Namun bagi ajaran agama kita, nama adalah bentuk doa dari orang tua kepadanya anaknya. Wajib orang tua memberi nama yang baik, agar doa yang baik itu juga berkah buat kehidupan anak itu di masa depan.
" Qani sudah bobok?" tanya Leon pelan saat masuk ke kamar Asti.
Di kasur lipat di lantai, Akbar sudah terbaring lelap.
Tadi sore beberapa kerabat datang. Ada yang memang belum menengok Asti sejak dia melahirkan, dua bulan yang lalu... Jadi sambil menengok bayi, kerabat dari Mbah Winangun itu juga ikut acara Aqiqah.
Akbar terdiam ketika kerabat ibunya itu banyak memberi kado dan hadiah buat adiknya bayinya itu. Walaupun Leon dan Asti juga memberi hadiah ulang tahun untuk Akbar juga berupa seperangkat mainan Lego dengan banyak mobil dan kendaraan untuk di diotak-atik semaunya.
" Sudah! Mas mau tidur di sini atau di luar?"
" Aku tidur dibawah bersama Akbar. Takut Qani terbangun..." ujar Leon menahan kantuk.
Leon mulai belajar sesuatu. Bayinya sekarang sangat dekat dengannya. Jadi walaupun sangat lelah sekalipun setelah pulang kerja... Dia tetap harus mengendong bayi perempuannya itu karena belum mau tidur kalau tidak dibuai sang ayah terlebih dahulu.
" Ayah?" ujar Akbar terbangun. Matanya menatap wajah sang ayah yang sangat dekat dengannya.
__ADS_1
"'Ya , sudah. Kakak bobok, ya? Sebab Adik bayi juga sudah bobok. Besok kalau ayah kerja, kakak bantu ibu jaga adik, ya!"
" Ya, ayah!"
Tanpa sadar Air mata Asti menitik. Sekarang Leon mencoba melindungi dia dan anak-anaknya dengan berbagai cara, seperti benteng yang kokoh. Apalagi ketika dia mendengar Leon tidak akan memberi maaf pada Almira sebelum wanita muda itu datang sendiri ke rumah Asti dan meminta maaf padanya.
Tadi juga Bu Haji Anissa telah membawa kabar yang sangat rahasia. Berita kalau Almira langsung diceraikan oleh suaminya dan mendapat talak tiga. Dampak video Almira yang masih beredar luas di masyarakat itu cukup mempengaruhi nama baik Pak Pram di kesatuannya. Padahal juga tidak mudah bagi Almira dengan segala persyaratannya yang harus dijalaninya untuk menjadi istri seorang abdi negara. Dia harus bersiap menerima semua tugas suami yang akan ditempatkan di daerah mana pun.. Termasuk berangkat ke medan perang.
Pada pengajuan awal pun Almira harus menjalani serangkaian tes dan prosedur yang cukup sulit untuk syarat sebagai istri seorang tentara. Mungkin Almira dapat melewati semua itu rangkaian dan tes itu dengan kepandaian dan daya pikirnya. Tetapi attitude Almira yang bukan pada tempatnya yang akan dapat menghentikan laju karier sang suami. Sehingga jalan perceraian adalah jalan pilihan terbaik bagi keduanya.
" Dia sudah nggak pernah keluar dari kamarnya... Dia malu dengan segala hujatan itu..." bisik Bu Haji yang ikut membantu menggurus Qani yang baru selesai mandi sore.
" Beruntung Mas Adam dan Joko tidak berhubungan lebih jauh lagi dengan Almira..." Bisik Asti lagi penuh rasa syukur.
"'Asti... sebenarnya Adam memperlakukan Almira itu hanya sebagai saudara. Apalagi mereka masih satu fakultas di kampusnya... Jadi Adam mengiyakan saja sewaktu Almira minta berpura-pura menjadi tunangan..."
" Kok, Asti kurang faham dengan maksud Bu Haji?" Tanya Asti bingung.
" Sudah lama Adam naksir kamu, Asti... Sayangnya, waktu itu Adam baru lulus kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan yang layak. Eh, malah Mbak Asti keburu dilamar orang lain... Apalagi Adam baru baru bisa mendirikan kantor yang lebih kecil di dekat kantor kami.. Sampai Adam nekat menawarkan diri untuk mendesain rumah dan ruko itu, barulah dia mendengar soal perceraian Mbak Asti itu."
Asti menahan napas antara bingung dan tak percaya. Justru Almira yang sengaja datang ke kantor Mas Adam itu untuk mengenal lebih jauh sosok Asti yang selalu dibicarakan tunangannya itu. Malah Asti yang menawarkan Almira untuk menata rumah barunya itu.. . Dipikirannya Asti menikahi seorang pejabat polisi yang kaya raya. Sebab wanita muda itu dapat membangun sebuah rumah besar, ruko sekaligus mengisi rumah itu dengan penataan yang disukainya.
" Jadi Almira menganggap saya sebagai saingan..Tetapi untuk siapa?" Asti tertawa pedih. " Saya nggak menyangka kalau begitulah penilaian pertama Almira pada saya. Banyak praduga dan prasangka aneh dan tak masuk akal!"
__ADS_1
" Sifat Almira sangat kompleks", kata Bu Haji Anissa hati- hati. " Di satu sisi, dia adalah gadis yang rendah hati, sopan, dan menghargai orang lain. Tetapi dia tak mampu menyimpan semua hinaan, hujatan yang diterima sejak dia masih kecil dengan ikhlas dan membuatnya menjadi orang yang pendendam. Memang dia berhasil menempa dirinya menjadi pribadi yang kuat tegar. Juga cukup berhasil dengan studi dan pekerjaannya... Mungkin yang nggak dia terima, Asti hidup nyaman... dengan harta yang banyak dan warisan dan nama Winangun yang dihormati. Jadi dia benci dengan kekalahannya itu, sebab Mbak Asti yang dipilih Pak Leon. Dia mempunyai cara tersendiri dengan membuat Asti terpuruk yaitu dengan bercerai dengan Nak Leon!"