
Rumah mulai sepi setelah Lek No dan istrinya kembali ke desa kira -kira pukul 19.30. Untuk sementara mereka akan menyiapkan acara lamaran itu secara sederhana saja.
Jadi hanya mengundang orang- orang yang paling berkepentingan dengan acara lamaran itu.
Seperti mengundang Pak Haji Anwar dan dua tokoh dari Desa Sendang Mulyo. Untuk tetangga di sekitar rumah Asti, Bulek Ratih akan meminta tolong bantuan Bu Ani istri pak RT dan para ibu lainnya. Sedangkan Pak RT dan pengurus lingkungan setempat juga akan diundang juga untuk pendamping bagi Pak Leon.
"Mbak Asti! " Panggil Bu Ani sore itu. Mungkin wanita itu tadi melihat Asti sudah pulang dari pasar. Jadi, dia memberi banyak waktu agar ibu satu anak itu beristirahat dulu atau membersihkan tubuhnya sebelum sholat Ashar.
" Masuk, Bu!" Sapa Asti melihat wajah istri pak RT itu sumringah. Segera dibawanya wanita itu ke ruang tengah yang lebih lega dan santai.
" Aku diminta tolong bukan saja sama Bu Ratih, lho! Juga amanat langsung sama Pak Leon!" Katanya bangga. " Nggak menyangka saja, ternyata Pak Leon melamar Mbak Asti. Padahal dulu, sering jalannya sama Mbak Almira, gitu..."
Asti tersenyum manis. " Minggu depan Mbak Almira malah sudah akan menikah, Bu!"
" Masa sih? Wah, kita tentu tidak diundang. Sebab hanya mengenal Mbak Almira sekilas, waktu menata rumah ini, ya. Mbak! Bagaimana dengan Mas Adam? Bukannya dulu mereka sangat dekat bahkan pernah bertunangan!"
" Saya kurang tahu, Bu Ani! Sebab Mbak Almira setelah menyelesaikan pekerjaannya di sini. Banyak mengerjakan proyek lain. Sering ketemunya di warungnya Joko malah..."
Senyum Bu menjadi kecut. " Kata bapaknya, Mbak Almira itu gambaran wanita modern zaman sekarang, yang dapat menentukan masa depannya sendiri. Karena pendidikannya juga tinggi, sampai sarjana kan?"
" Iya, Bu!"
" Tetapi jodoh itu nggak kemana. Buktinya? Hati Pak Leon nggak bisa berpaling dari Mbak Asti. Terus ditungguin sampai Mbak Asti siap menerimanya dirinya ..."
" Bu Ani, bisa aja! Justru saya yang merasa tidak sebanding dengan Pak Leon, Bu!"
" Masa, sih? Justru Pak Leon sudah lama mencari pendamping hidupnya yang seperti Mbak Asti ini. Wanita cantik yang sholehah dan nggak neko-neko penampilannya, sederhana...."
" Saking sederhananya sampai diceraikan suaminya ya, Bu! Sebab Lela suka memilih perempuan yang lebih muda dan berpenampilan berani dan seksi!" Ucap Asti miris.
__ADS_1
" Ya, udah, Mbak! Kita ngomongin buat persiapan acara Sabtu malam besok aja. Lupakanlah aja masa lalu!"
Sekarang Bu Ani tampak agak serius. " Berapa tamu yang akan diundang, Mbak? Biar kita dapat menyiapkan segala sajian nya dengan baik."
Asti hanya menatap wajah ibu Ani itu untuk meyakinkannya. " Nggak banyak tamu yang diundang kok, Bu! Paling pertemuan untuk rembukan antara pihak dari Pak Leon dan keluarga saya. Tamunya yang diundang tidak sampai 30 orang, termasuk para bapak di lingkungan ini!"
"Begini, Mbak! Kita buat yang simpel aja. Untuk kue- kue kita pesan ke Ibunya Putri saja. Tiga atau empat jenis kue basah. Nanti untuk makan malam, sate saja, Mbak! Gampang tetapi pantes disuguhkan. Bagaimana?"
" Bisa itu! Kita buat sate berapa tusuk, Bu?"
"'Variasi saja,Mbak! Sate ayam dan sate kambing masing - masing 200 tusuk. Kalau Bu Ratih sempat, masak tongseng juga boleh. Nanti kita buat lontong 20 buah yang agak besar. Cukup itu, Mbak!"
Asti menghitung total harga kue basah yang akan dipesan. Untuk sate, nanti akan dikerjakan oleh Bu Ani dibantu para ibu tetangga lain. Sebab mereka juga harus menyiapkan acar, sambal juga kerupuk untuk pelengkapnya.
Segera Asti menyerahkan enam lembar seratus ribuan. Sementara untuk kue, dia titip untuk Ibunya Putri dua ratus ribu rupiah.
Bulek Ratih juga akan menyiapkan tongseng daging kambing untuk melengkapi sajian untuk malam nanti.
Hari- hari menjelang lamaran, hati Asti kebat- kebit. Sebenarnya dia belum terlalu mengenal keseluruhan sikap dan watak Pak Leon. Mereka terlahir dari keluarga yang bertolak belakang.
Pak Leon Narendra Murti terlahir dari keluarga kalangan atas, dengan pangkat ayahnya seorang pensiunan jenderal di sebuah kesatuan TNI RI. Ibunya adalah wanita yang tangguh dalam berbisnis, yang diikuti oleh kedua kakak perempuannya. Tentu keluarga mereka berpendidikan tinggi, dengan materi yang selalu berkelimpahan.
Bukan seperti Asti, yang lahir dan besar di desa, yang berasal dari keluarga petani. Hanya saja, Asti dan Joko berbisnis setelah merasakan masa susah saat meninggalnya Mbah Harjo. Sawah mereka tidak bisa dikerjakan secara maksimal karena ada perjanjian lisan, yang harus diselesaikan oleh almarhumah Bude Ayu. Sawah itu sebagian dikerjakan orang lain dengan sistem bagi hasil. Hal Itu terjadi karena hutang budi almarhum Pak Harjo Winangun dengan mantan kades tetangga saat membuka hutan bambu.
Tampaknya, Bulek Ratih dapat merasakan kebimbangan Asti. Semua orang pasti mengira Asti adalah wanita beruntung karena dilamar Pak Leon! Justru Asti takut, kalau dirinya bukanlah perempuan yang pantas untuk mendampingi pria sehebat Pak Leon!
" Serahkanlah semua kembali kepada Allah SWT, Asti! Bukankah ini semua jawaban dari doamu? Menikahlah karena ibadah, mudahan-mudahan pria ini jodohmu sampai akhir hayat."
"Apa Asti kelihatan banget ragu- ragu, ya? Tolong doakan Asti, Bulek! Agar rencana ini berjalan baik, dan Pak Leon adalah jodoh yang tepat untuk Asti!"
__ADS_1
Dipeluknya tubuh Asti yang mulai menangis tergugu. Dulu Asti kuat menghadapi segala rintangan dan kesulitan hidup karena ada Bude Ayu yang mendukungnya. Setelah pernikahannya hancur, Asti berusaha tegar dan kuat di hadapan keluarga Bulek Ratih. Tetapi dia menjilati sendiri luka dan sakit hatinya itu. Walaupun belum sembuh benar. Rasa sakit hati masih ada!
Akbar mulai anteng karena Bulek Ratih sudah menginap sejak Kamis siang. Wanita itu berusaha agar rumah ini tampak rapi dan layak untuk menerima banyak tamu. Walaupun sebagian sajian sudah dipesan kepada ibu- ibu tetangga yang juga tergabung dalam organisasi PKK di kelurahan setempat.
" Kamu dandan yang rapi, Asti. Hargai niat baik Pak Leon. Juga muliakan tamu yang hadir nanti!"
Sepertinya Bulek Ratih dapat mengatur acara tersebut. Wanita itu ingin acara dilaksanakan di ruang tamu dan teras depan sebagai malam silaturahmi. Bulek Ratih tidak memaksa Pak Leon membawa orang tuanya untuk melamar Asti malam itu. Setelah mengetahui keadaan ayahnya yang masih sakit.
Mas Yanto mendapat pesan menyewa kursi plastik tambahan untuk duduk para tamu. Sedangkan, sajian makanan akan disiapkan di meja besar dan dilakukan secara prasmanan.
Lek No sudah mengundang Pak Haji Anwar Sa'id dan beberapa sesepuh desa Sendang Mulyo untuk datang ke rumah ini setelah selesai Magrib. Justru kabar baiknya datang dari Pak Leon. Ibu dan kakaknya akan ikut datang ke rumah ini sekaligus mengenal Asti dan keluarganya.
Sejak Sabtu pagi, Ninuk sudah membantu segala persiapan. Sebab Bulek Ratih melarang Asti ke pasar dulu, takut dia kelelahan. Apalagi Puspita adalah pegawai yang rajin dan jujur , dapat dipercaya.
Di rumah Bu Ani, para ibu- ibu sudah siap mengolah berbagai bahan masakan. Kemarin mereka telah membeli daging kambing dan 5 ekor ayam potong.
Sekarang ada ibu- ibu itu yang memotong daging itu kecil- kecil berbentuk dadu dan ditusuk dengan tusukan sate. Untuk sate ayam, dagingnya ditusuk dengan tusukan bambu yang lebih kecil bentuknya dibandingkan untuk daging kambing. Dua orang ibu yang lain sedang membuat acar timun dan wortel.
Sementara di halaman belakang, ada Ibu-ibu yang sedang merebus lontong. Sebelum mereka semua mulai acara masak, Ibu Ani sudah menyiapkan sarapan berupa bubur sambel tumpang hasil masakan Bulek Ratih.
" Nanti Bu Ani buatnya agak lebih saja, biar ibu- ibu yang masak di sini ikut merasakan juga satenya!" pesan Bu Ratih bijaksana.
Apalagi mereka juga masih punya sisa tulangan dari kambing dan ayam. Kalau tulang kambing dapat dimasak gulai. Sedangkan tulang ayam, akan dibagi- bagi kepada para ibu yang sudah membantu masak. Biar tulang ayam itu dapat dimasak di rumah masing-masing untuk menjadi kaldu sup atau kuah soto.
Persiapan masakan sudah hampir selesai. Sejak dua jam lalu, wangi bakaran sate itu memenuhi dapur di rumah Bu Ani yang cukup luas itu. Seperti pesan Bu Ratih, setiap para ibu makan sore dengan beberapa potong sate ayam dan kambing dengan nasi putih yang hangat.
Setelah selesai, ada ibu- ibu yang membantu merapikan dapur Bu RT agar bersih seperti sedia kala. Sedangkan Bu Ani dan dua orang ibu sudah datang ke rumah Asti. Mereka ikut menata berbagai makanan itu di atas meja. Bau harum menyeruak dari masakan yang sudah terhidang di sana.
Akbar juga sangat menikmati dua tusuk sate ayam dan kuah sup sayur yang dibuat Asti untuk anaknya makan sore.
__ADS_1
Mereka kagum melihat Asti hanya berdandan sendiri untuk acara lamaran itu. Dia tampil rapi tetapi tidak berlebihan. Selebihnya wanita itu memasrahkan apa yang terjadi selanjutnya.
Kalau Pak Leon adalah jodoh yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa, Asti akan meniti jalan takdir itu. Kembali dia berserah diri kepadanya Allah. Cukup pengalaman pernikahannya dengan Satrio itu mengharu- biru hatinya hampir setahun belakangan ini. Kini dia akan membuka lembaran baru dengan hati yang ikhlas dan berserah diri.