Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 258. Keponakan Tersayang


__ADS_3

" Ini Nastiti Anjani, kan?" Tanya pria itu dengan suara yang mulai tidak stabil alias bergetar.


Telunjuk tangan kanan pria itu mengarah ke Asti yang masih memandanginya dengan takjub akan kehadiran pria asing itu yang jauh dari perkiraannya semula.


" Iya, dia Nastiti Anjani... Orang- orang lebih sering memanggilnya Asti!" jelas Leon.


" Kamu suaminya... Bukan yang bernama Satrio Wibowo itu kan ?"


" Bukan! Saya Leon Narendra Murti, suami Asti yang sekarang! Kami menikah sudah lebih dari setahun yang lalu. Si bayi lucu ini anak saya dengan Asti!" ujar Leon sedikit bangga.


" Syukurlah! Akhirnya Kak Emilia dapat tenang di alam sana... Anak tunggalnya dapat hidup sejahtera, tidak kekurangan sesuatu apapun!" bisik pria itu melemah.


Mereka terdiam. " Maaf, apa Anda Pak Yusuf, kakak tirinya Ibu Emilia?" tanya Leon berhati-hati.


" Saya adik Emilia, nama saya Rahardian Mohammad Jaffar... Biasa dipanggil Ardi. Sudah sejak sebulan ini Kak Yusuf harus bolak-balik ke rumah sakit di Surabaya. Bapak mertuanya harus menjalani cuci darah, karena sakit ginjalnya yang sudah mulai parah. Keluarga beliaulah yang dulu menolong kami dahulu ketika kembali ke Surabaya!"


" Om Ardi?" bisik Asti tercekat tak percaya!


Pria itu mungkin terpaut usia dari dirinya lebih dari sepuluh tahun. Samar Asti mendengar keterangan Pakde Muin, kalau adik bungsunya Emilia yang terselamatkan dalam musibah kebakaran itu. Tetapi mengapa wajahnya terlihat masih sangat muda. Malah sekilas seumuran dengan Joko, yang baru berusia 25 tahun.


Pria itu tidak ragu-ragu lagi berdiri mendekati bangku tempat Asti duduk. Dipeluknya erat-erat, wanita cantik berhijab rapat itu yang merupakan keponakannya. Satu- satunya anak dari keturunan Emilia, kakak perempuannya. Mereka berdua menangis agak lama.


" Maafkan saya, Pakde Muin. Asisten saya terpaksa menempatkan Pakde dan kerabat di sini! Rumah Kak Yusuf di kota Malang sudah terjual. Sebagian uangnya digunakan untuk biaya berobat Pak Kromo. Di sini kami hanya ada ruko untuk usaha. Juga untuk pendistribusian barang- barang hasil cetakan sablonan kami yang siap dipasarkan. Sebenarnya Keluarga Kak Yusuf sudah tinggal di Surabaya lagi sejak setahun yang lalu. Mereka harus menjaga ayah mertuanya yang hidup sendirian di kota itu!"


Lalu mengalir cerita dari Om Ardi itu jalan kehidupan mereka setelah kembali ke Surabaya, hampir dua puluh empat tahun yang lalu. Waktu itu berita kepergian Emilia belum terlalu santer beritanya didengar oleh mereka dan saudara lainnya. Mereka masih bertahan tinggal di penampungan sementara di sudut kota Banjarmasin. Mereka hanya mengetahui kalau Emilia sudah kembali ke tanah Jawa bersama dengan seorang pria yang mengaku kerabat dekat bapak mertuanya, Pak Harjo Winangun. Sebab wanita itu juga harus meninggalkan bayinya di rumah mertuanya. Bayi yang baru genap berumur 2 bulan.


Pak Yusuf yang pada waktu itu masih muda, hanya fokus dengan perawatan kedua adiknya yang mengalami luka parah dalam akibat peristiwa kebakaran itu. Nenek Sami telah meninggal dunia dalam peristiwa itu. Wanita tua itu paru- parunya sudah dipenuhi asap, karena berusaha menyelamatkan kedua cucunya yang tertidur lelap saat rumah mereka terbakar. Sehingga beliau mengalami sesak nafas yang hebat sebelum wafat, setempat mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit.

__ADS_1


Adiknya yang lebih besar mengalami luka bakar yang sedikit saja. Tetapi adik bungsunya tulang kakinya hancur tertimpa bangunan yang runtuh karena dimakan api. Malah kakak Rahadian yaitu Jamal Abdillah, meninggal seminggu kemudian juga mengalami luka dalam.


Hampir dua bulan, Ardi menjalani perawatan paska operasi tulang kakinya. Para kerabat bergotong royong membangun kembali pemukiman mereka yang ada di belakang pertokoan besar itu. Sampai mereka mendapatkan berita tentang kebenaran Jaffar dan istri yang mengalami penganiayaan di dekat pelabuhan. Pihak keluarga membawanya ke kampung asal mereka untuk menolong Pak Jaffar yang terluka parah. Ternyata dia kejadian itu terjadi hampir bersamaan waktunya.


Peristiwa itu seperti sejarah kelam bagi keluarga besar Jaffar di sana. Segala musibah datang beruntung. Ada yang menyebut kejadian itu akibat dendam pada Pak Jaffar. Lebih banyak lagi, karena ada yang tidak suka karena Jaffar menolak sekelompok pedagang yang melakukan kecurangan dengan membeli barang dari pasar gelap dan dijual sangat mereka.


Pedagang itu malah meminta bantuan preman pasar itu yang mempunyai banyak anak buah yang sering bertindak kasar dan main hakim sendiri. Pemimpin keluarga besar Jaffar, meminta Yusuf membawa adiknya kembali ke Surabaya agar mendapatkan pengobatan dan perawatan yang lebih baik.


Hampir 5 bulan, Yusuf bolak - balik ke rumah sakit untuk pengobatan Ardi, setelah mendapat tindakan operasi. Kaki kanannya tetap tidak bisa kembali seperti semula. Tulangnya diberi penguat. Sampai menjalani terapi dan berjalan agak pincang setelah tidak memakai tongkat berbulan - bulan kemudian.


" Apa ada orang yang memberitahukan kemana Emilia pergi?" tanya Pak Muin.


" Tidak ada, sampai Tante Hera, sepupu ayah yang menemukan tas pakaian Kak Emilia di sebuah bangunan surau yang sudah lama kosong dan terbengkalai ... Wanita itu mulai bertanya kepada orang - orang yang pernah dimintai tolong mengantar Orang Jawa itu berangkat ke bandara... Pria bernama Kushari Juwono itu katanya hanya berangkat sendirian..."


Mereka semua terdiam. Ada rasa tak percaya juga cemas. Termasuk Pakde Muin. Sebab zaman itu alat komunikasi masih terbatas. Pelacakan tentang orang hilang pun belum secanggih sekarang.


Pak Muin menatap prihatin kepada pria yang merupakan paman dari Asti. Kalau dihitung, usia pria itu lebih dari 35 tahun... Sedangkan Yusuf Maulana Jaffar mungkin lebih dari 47 tahun usianya.


" Saya akan ikut menginap di sini!" Bisik Paman Asti itu ragu. " Apa Pak Kushari dan kakaknya itu masih mempunyai kekuasaan di daerah sana ? Sebab dia sering mendatangi tempat usaha Kak Yusuf yang ada di depan Mall. Dia mengancam kami, dengan urusan Kak Emilia yang meninggalkan bayinya, di desa Sendang Mulyo. Katanya keluarga Pak Winangun sangat marah dan memutuskan hubungan kekerabatan di antara kami!"


" Nggak benar ucapan Kushari itu! Kamu juga salah kalau menganggap Juwono bersaudara itu sangat berkuasa! Justru dia menyembunyikan fakta tentang keberadaan kalian, karena takut terbongkar segala kebusukan dari tindakannya itu," jawab Pak Muin tegas.


" Maksud, Bapak?"


" Mereka selalu berusaha memperkaya diri sendiri dengan segala tindakan mereka yang curang. Padahal Pak Harjo Winangun sudah beberapa kali menitipkan sejumlah uang yang nominalnya cukup besar untuk membiayai operasi kakimu! Sebagian laporan yang dibuat lelaki yang bernama Kushari itu benar kalau keluargamu tertimpa musibah di sana. Tetapi dia tak berani terus -terang menyampaikan berita kepergian Emilia dari kampung halamannya karena perbuatannya!"


" Jadi pria itu ada dibalik kepergian Kak Emilia?"

__ADS_1


" Pasti itu! Sebab dia selalu melarang kalian menghubungi keluarga Pak Winangun kan? Apakah Kakakmu dapat dimintai tolong, karena ada Asti di sini...Dia hanya ingin mendapatkan kabar tentang kebenaran tentang ibunya... Walaupun berita itu bukanlah berita yang baik. Selama ini kami hanya menerka-nerka saja!"


Mata Ardi dapat melihat gurat kesedihan di wajah Asti. Gadis ini tumbuh tanpa adanya kasih sayang dari kedua orangtuanya... Sedangkan dia sendiri juga harus dijauhkan dari keberadaan orang tuanya yang di sebuah kampung nelayan. Sampai keadaan dinyatakan sudah pulih. Bahkan orang yang membakar perkampungan itu juga masih menjadi buronan oleh pihak yang berwajib. Tetapi keluarga besar Jaffar menyakini hukuman atas perbuatan mereka, langsung akan dibalas oleh Allah SWT!


" Biar Saya telepon dulu Kak Yusuf... Mudah- mudahan, dapat segera datang Ke Batu. Tanpa usahanya ini, niscaya kakak tidak bisa menghidupi keluarganya lagi. Beberapa usaha Bapak mertuanya telah diambil oleh anak laki-lakinya. Sedangkan Kak Yusuf hanya menantu saja kedudukannya, di keluarga itu Jati !"


" Apa Nak Ardi tinggal di kota ini?"


Pria itu tersenyum lembut. " Tidak, Saya dulu mondok di di pinggiran kota Surabaya. Saya berpindah -pindah untuk memantau usaha yang lain. Salah satunya membuat kaos sablon dan konveksi, di Sidoarjo. Kaos-kaos ala distro itu banyak dijual di toko-toko di daerah wisata...Juga membuka usaha fotokopi dan warnet!"


" Alhamdulillah!" ujar Lek No dan Joko hampir bersamaan.


" Apa masih ada orang-orang yang mengintimidasi dari keluarga Juwono itu datang ?"


" Sejak kami berpindah -pindah hampir sepuluh tahun ini, sudah tak ada kontak dengan Keluarga Juwono itu lagi. Tetapi beberapa teman sering memberi laporan tentang kedatangan Pak Kerto ke Surabaya untuk menanyakan alamat rumah kami, yang terbaru. Tetapi mereka semua bungkam!"


Mereka berjalan kembali menuju ke penginapan di gedung seberangnya. Pakde Muin mendaftarkan nama Rahardian untuk menginap di tempat ini. Pria itu mendapatkan kunci kamar yang berseberangan dengan kamar Pakde Muin di lantai dua.


" Pak, Kak Yusuf baru bisa berangkat malam nanti! Bapak mertuanya masih menjalani perawatan di rumah sakit dan akan dijaga salah satu anaknya... Istrinya masih harus beristirahat di rumah dengan satu anak kecil mereka yang masih balita!"


Akhirnya mereka jadi juga merencanakan jalan-jalan di kota Batu itu. Bulek Ratih ingin ke perkebunan buah apel di Malang. Agar dia dapat merasakan sendiri, sensasi saat memetik sendiri buah itu langsung dari pohonnya.


Sedang Ninuk berencana untuk mengunjungi museum Angkut menjelang siang hari untuk mengejar jam pertunjukan di sore harinya. Meseum itu yang paling terkenal di Kota Batu ini, diantara berbagai wisata lainnya yang cukup menarik.


Kalau Asti, Leon dan Om Ardi memilih beristirahat di sebuah kafe yang tak jauh dari depan meseum itu. Setelah pulang dari berkunjung ke kebun apel. Sebab mereka pernah mengunjungi museum itu beberapa waktu yang lalu. Untung Qani tidak takut dengan kakek barunya itu yang masih berusia muda itu, sehingga mau juga digendongnya. Bergantian dengan Leon, ayahnya.


Asti agak lega, kalau saudara ibunya dapat bertahan hidup sampai saat di Pulau Jawa. Apalagi intimidasi dari Juwono bersaudara itu membuat mereka harus menghindar dengan berpindah -pindah tempat tinggal.

__ADS_1


__ADS_2