Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 37. Adat dan Kebiasaan Setempat


__ADS_3

Bantuan dari Mbok Bayah sangat terasa bagi Asti, karena tinggal di kota ini sendirian tanpa sanak saudara. Jadi dia hanya dapat meminta pada wanita itu yang masih sehat dan gesit di usianya yang mencapai 60 tahun. Satrio pun mulai kembali disibukkan dengan berbagai aktivitas pekerjaannya di kantor.


Sementara di desa, Lek No dan istrinya mulai menyiapkan berbagai keperluan untuk akikahan Akbar. Mulai dari membeli dua ekor kambing, sampai mengundang semua tetangga yang tinggal di desa tersebut.


" Mbok Bayah ikut, ya, ke Desa Sendang Mulyo! Biar kenal sama keluarga dan tetangga saya di sana."


" Boleh, ya. Mbak? " tanya wanita itu berharap - harap cemas.


" Ya, boleh! Siapa yang melarang!" Ujar Asti gemas.


Sejak bekerja di rumah ini, Mbok Bayah mengganti panggilan Ibu pada Asti menjadi Mbak. Sebab dia melihat kalau Asti masih sangat muda dalam usia dan pengalaman hidup.


"Terus, yang ibu- ibu kerja di sini bagaimana?"


" Oh, Bude Prapti? Dia masih kerabatnya Pak Satrio, Mbok! Mungkin tidak kerja di sini! Lagi repot ngurusin pernikahan anak laki- lakinya yang bungsu ."


Wanita tua itu cukup handal menggurus Akbar itu. Dia hanya sekilas diberi tahu oleh Ibu Anggita tentang seorang Ibu muda yang memerlukan pertolongan untuk membantu menggurus bayinya yang baru lahir.


Sampai Asti meneruskan penjelasannya. " Rumah Bude Prapti di Sendang Ranti. Tetapi pernikahan anaknya itu nanti dilaksanakan di rumah pengantin perempuan, di Madiun. Papanya Akbar melarang saya datang ke sana sebagai undangan. Selain itu, Akbar masih terlalu kecil dibawa berpergian jauh, Mbok!"


Sorenya, Satrio membawa Istri, anak dan Mbok Bayah pergi ke desa Sendang Mulyo. Mungkin ini acara bepergian untuk bayinya yang pertama kali. Jadi Asti agak kerepotan juga mempersiapkan semua keperluan Akbar.


Di sinilah, peran Mbok Bayah yang sesungguhnya. Wanita itu dengan teliti mengatur semua pakaian untuk Akbar dan segala perlengkapan bayi dengan cermat.


Tadi, Satrio sudah memasukan ke bagasi, tiga tas berisi pakaian. Satu tas keperluan bayi dan stroller untuk Akbar. Kepergian mereka dilakukan di sore hari setelah Satrio pulang dari kantornya. Sebab Satrio besok masih masuk kerja. Pria itu mengajukan izin hanya pada hari akikahan putranya berlangsung, yaitu di hari Sabtu.


Dua hari sebelum acara dilaksanakan, seperti kebiasaan masyarakat di desa Sendang Mulyo, para tetangga berbondong- bondong datang ke rumah joglo ini untuk membantu Bulek Ratih memasak berbagai sajian. Sebelum masuk ke dapur, para ibu itu bertemu dengan Akbar yang sedang digendong oleh Mbok Bayah.


Mereka kagum dengan wajah tampan Akbar dan tubuhnya yang semakin membulat. Karena gemas, Bulek Prapti mengendong cucunya dan diperlihatkan pada para ibu yang sedang bekerja di dapur.

__ADS_1


Bayi itu menatapi wajah- wajah ibu Itu dengan pandangan heran. Sampai Bulek Ratih bersuara lucu seakan dia itu Akbar, untuk menyapa fans barunya itu.


Barulah saat digendong Asti, Si Akbar menangis. Entah takut karena berhadapan dengan banyak orang atau kena cubitan di pipinya yang gembul oleh seorang ibu yang iseng


Acara masak- masak itu akan dilanjutkan besok pagi, karena hari sudah sore. Bulek Ratih, dibantu Ninuk dan Mbok Bayah merapikan ruang dapur yang tampak masih berantakan.


Pagi harinya di halaman belakang rumah, Lek No dan Joko sudah menenteng dua ekor kambing dari rumah seorang tetangga. Penyembelihan dua kambing itu akikahan Akbar akan dilakukan oleh Pak Haji Anwar.


Banyak anak- anak kecil yang datang dan melihat pemotongan hewan tersebut. Termasuk Akbar. Awalnya bayi yang baru berusia 21 hari itu tertarik dengan suara- suara yang dikeluarkan dari kambing tersebut. Lama- kelamaan mata Akbar terpejam, karena udara di belakang rumah sangat sejuk dengan banyaknya pohon- pohon besar yang tumbuh di sana.


Setelah kedua ekor kambing dipotong, Pak Haji Anwar dibantu beberapa pria mulai menguliti kulitnya. Pekerjaan itu memang harus dipegang oleh orang yang ahli.


Lek No dan para bapak yang lain, mulai memotong - motong daging itu dengan pisau yang besar dan tajam. Sementaranya Joko dan anak-anak muda yang lain, membawa bagian dari isi perut kambing ke kamar mandi mushola untuk dibersihkan .


Nanti Bulek Ratih dan Ibu Haji Anissa yang akan mengolah daging itu menjadi masakan yang disebut gule kambing. Sementara para ibu mulai menyiapkan bumbunya. Di sana sudah disediakan seember besar santan yang diambil dari puluhan buah kelapa yang sudah diparut dan diperas dengan air.


Setelah masakan matang, para ibu itu akan membawanya ke ruang tengah. Di sana ada Ibu - ibu yang bertugas membungkus berbagai masakan dengan dimasukannya ke dalam plastik - plastik kecil transparan. Makanan ini nanti menjadi bagian dari isi nasi kotak atau berkat yang akan dibawa pulang oleh para tamu yang diundang pada acara akikahan Akbar.


Akbar tampak tenang ketika dia dibopong ayahnya, ke tengah acara setelah pengajian selesai. Pak Haji mulai menggunting sedikit rambut Akbar, bergantian dengan yang lain, termasuk lek No. Mereka juga mulai membacakan doa untuk si bayi agar diberi kesehatan, keselamatan juga dapat memuliakan orang tuanya.


" Sini, Mbak aku gendong! " Pinta Ninuk.Gesit.


Asti meminta Ninuk menidurkan anaknya itu di kamarnya. Di ruang dapur, para Ibu mulai menyiapkan masakan gule yang panas itu ke dalam piring- piring. Harum semerbak rempah-rempah tercium dari piring- piring itu yang mulai dibagikan kepada para undangan yang duduk bersila di lantai. Tak lupa, Bulek Ratih mengangkat satu wadah aluminium besar berisi nasi. Tambahannya adalah satu mangkok sambal tomat dan satu wadah acar timun dan wortel buatan Asti.


Para tamu menikmati hidangan olahan Bulek Ratih yang memang sangat terkenal kelezatannya. Satrio malah masuk ke dapur meminta tambah satu piring gule kambing itu untuk dirinya. Sengaja Satrio tidak memakai nasi untuk merasakan  nikmatnya masakan olahan Bulek Ratih yang menjadi ciri khas masakan di desa ini.


Para tamu pulang setelah selesai menikmati sepiring nasi gule. Mereka juga membawa nasi dalam kotak yang dimasukan ke dalam kantong kresek dengan beberapa tambahan kue yang tadi jadi teman  minum teh dan kopi, untuk keluarga yang sudah menunggu di rumah .


Banyak para bapak yang masih berada di depan rumah joglo itu. Terutama  anak buah pak Haji Anwar. Sebagian dari mereka malah membantu Lek No merapikan ruangan itu menjadi rapi seperti semula. Seperti menggulung tikar dan karpet, juga mengembalikan kursi tamu ke dalam rumah.

__ADS_1


Ninuk mengumpulkan sisa makanan dan sampah ke dalam keranjang bambu.


Sejak sore tadi, justru yang paling sibuk adalah anak Lek No,  Joko Adi.  Pria muda itu kembali ke desa ini seminggu yang lalu. Setelah kontrak kerjanya dengan sebuah perusahaan elektronik di Semarang tidak diperpanjang.


" Mbak aku sama Mbok Yah tidur di rumah belakang ya! " Ujar Ninuk.


Rencana besok siang Lek No dan Satrio akan membawa Akbar ke Pak Sahuri, pria yang mempunyai toko cukur rambut di dekat pasar.  Benar saja, setelah mereka pulang , penampilan Akbar yang kepalanya di botak menjadi tawaan para keluarga.Bayi mungil itu pun ikut tertawa-tawa dan digendong bergantian oleh Lek No, Bulek Ratih dan Ninuk.


Terkadang Asti juga bingung,  karena anak laki - lakinya ini sangat betah tinggal di desa ini. Jarang menangis, walaupun popoknya sudah penuh dan basah, tidurnya pun akan nyenyak semalaman.


" Jelas, dia anak keturunan trah Winangun!" Ledek Joko ketika Asti tanpa sadar mengungkapkan keheranannya.


Bayi laki- laki itu kembali  tersenyum manis. Bahkan mulai tertidur lelap di pelukan Asti. Padahal sejak tadi Ninuk mengelus- elus kepala mungilnya yang pelontos.


" Asti, tinggal di sini saja dulu sampai beberapa hari! Surat tanahmu sudah selesai. Pak Haji Anwar juga sudah mendapatkan  seorang arsitek dan pemborong bangunan profesional." Suara Lek No mengingatkan.


" Mas, boleh nggak aku nginap di sini agak lama?" tanya Asti meminta Izin pada Satrio dengan hati-hati.


" Terserah...! " Jawab Satrio seperti tidak peduli.


Dia sudah sangat kecewa setelah kedua orang tuanya tidak bisa datang ke acara ini. Hipertensi Pak Cahyadi kambuh, sehingga agak sulit memaksakan diri, mengemudikan mobil dengan jarak yang sangat jauh untuk datang ke desa Sendang Mulyo . Walaupun acara ini sangat penting, yaitu akikahan cucu mereka.


" Ya, sudah. Nanti sore Mas Satrio dan Mbok Bayah balik ke kota! Nanti kalau aku pulang, bisa minta diantar Joko saja. Biar nggak merepotkan Mas karena banyak pekerjaan di kantor."


Tiba- tiba saja, ada keinginan dalam hati Asti untuk segera mewujudkan impiannya. Mempunyai rumah dan tempat usaha yang berdekatan. Apalagi kalau dia mengingat , tanah yang akan dia bangun itu adalah pemberian Bude Ayu. Berarti dia juga harus berjuang untuk masa depan putranya.


Selama menikah dengan Satrio, baru kali inilah Asti menemukan sisi buruknya. Kalau marah atau kecewa terhadap sesuatu, Satrio akan berbicara dengan kasar.


Bahkan sejak Akbar lahir, pria itu sudah jarang sekali membicarakan urusan kantor dan pekerjaannya dengan Asti.

__ADS_1


Terkadang Asti yang bingung dan putus asa menghadapi perubahan sikap Satrio yang sangat drastis. Padahal Usia pernikahan mereka baru mencapai 14 bulan dan sudah mempunyai bayi berusia 3 minggu. Namun, saat ini Satrio tampak tidak bahagia. Bahkan dia semakin tidak peduli dengan segala urusan Asti, kecuali di hadapan kerabat dan saudaranya.


__ADS_2