Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 125. Pendirian Zahra


__ADS_3

Sebenarnya, Mbak Ning juga mendengar kegaduhan itu di halaman samping rumah. Namun selama ini dia hanya tutup mulut. Sebab dia tahu, Joko akan bertindak dengan segala cara karena merasa bertanggung jawab untuk melindungi semua anggota keluarganya ini.


Mobil Asti memasuki halaman, menjelang pukul 15.00. Di halaman samping Joko duduk - duduk bersama Nardi dan pegawai warung tenda lainnya, ngobrol santai. Seakan tidak pernah terjadi peristiwa apa pun di siang tadi, di tempat itu.


" Assalamualaikum!" Salam Asti saat membuka pintu depan. Rumah ini agak sepi. Mungkin Akbar masih tidur atau bermain di lantai atas dengan Bu Jum.


" Walaikum Salam!" Jawab Mbak Ning.


Wanita itu segera mengambil alih dua kantong kresek yang dibawa Asti. Biasanya kantong itu berisi belanjaan ataupun makanan yang dibeli Asti dari beberapa pedagang yang membawa dagangannya sepeda atau pun hanya mengelar dagangannya dengan karung goni di emperan toko. Sekedar mendapatkan sedikit rezeki dengan menjual sedikit dari hasil kebunnya di rumahnya.


Begitulah, setiap melihat orang yang sudah berusia tua atau melihat orang yang sedang kesusahan, Asti selalu merasa iba. Padahal mereka hanyalah orang desa yang sederhana dan jujur. Mereka membutuhkan uang untuk membeli beras atau memberi ongkos anaknya ke sekolah.


Jadilah Asti membeli dagangan bapak atau ibu penjual itu. Agar mereka juga dapat pulang ke rumah sambil membawa sedikit uang untuk membeli kebutuhan rumah tangga.


" Mbak, persediaan buah masih cukup banyak di kulkas! Jangan bilang kalau Mbak Asti kasihan melihat penjualnya sudah tua atau jualan masih banyak karena nggak laku?"


" Kasihan, Mbak Ning... Si Ibu itu mungkin datang dari desa yang sangat pelosok dengan sepedanya, jadi sudah agak siang sampai di pasar... Hanya sedikit buah yang dibawanya laku terjual. Padahal jualannya masih banyak. Apalagi Sirsak itu sepertinya matang pohon... Bagus loh, untuk orang yang punya tekanan darah tinggi ketika minuman jus sirsak!"


" Benarkah itu, Mbak?" tanya Mbak Ning kurang yakin.


" Lihat aja, di internet. Buah- buahan tertentu itu sebenarnya bisa menjadi obat atau herbal kalau dikonsumsi dengan benar!"


Akhirnya Mbak Ning memindahkan tiga buah sirsak itu ke meja dapur. Dia melihat di halaman samping, Joko dan pegawai masih sibuk mempersiapkan barang dagangan untuk warung tenda yang akan dibuka nanti sore.


Segera dipotongnya buah sirsak yang paling matang, lalu menyiapkan blender dengan sedikit gula pasir dan es batu. Dia menyiapkan minuman dari jus buah sirsak itu sampai lima gelas.


Berita yang disampaikan Joko siang tadi, cukup membuat Bu Anggita gusar. Sayangnya, menurut Ibu Imelda pengacara yang dulu mengurus perceraian Asti, kalau mereka tidak bisa memperkarakan masalah penguntit ini ke jalur hukum. Sebab bukti dan alibinya masih sangat lemah.

__ADS_1


Kelompok anak motor yang menjegal Ryan, juga sudah meninggalkan kota itu dengan menyebar ke beberapa tempat di daerah lain. Mereka sudah cukup puas, melihat pemuda sombong itu tergolek di rumah sakit mengalami luka- luka di kaki dan tangannya yang cukup parah.


Yang paling mengenaskan adalah nasib motor beat yang rusak parah karena menabrak tiang beton yang terpasang di sepanjang jalan menunju jembatan besi untuk pengaman. Sebab sungai besar itu kalau sudah musim penghujan airnya akal meluap dan meluber sampai ke jalan raya di kedua sisi jembatan besar itu.


Kembali para penghuni di kompleks itu mendengar kegaduhan yang berasal dari rumah dinas Satrio. Di sana ada banyak petugas polisi yang datang mengurus soal kecelakaan Ryan. Walaupun pemuda yang merupakan sepupu Zahra itu yang masih terbaring tak berdaya di rumah sakit kecil luar kota itu.


Tentu saja Sutarjo menuntut ganti rugi kepada Zahra, karena motornya rusak parah. Kalau pun diperbaiki di bengkel, biaya perbaikannya akan sangat mahal. Lebih gampang kalau dibelikan motor beat baru walaupun hanya motor second.


Zahra pura- pura tidak mengetahui apa pun ketika ditanyai beberapa hal oleh para petugas yang menangani masalah tersebut. Sebab Sutarjo dan Ryan memang kedapatan bertukaran kendaraan motor. Padahal semua kejadian itu atas inisiatifnya dari Zahra sendiri.


Lihatlah, Satrio terseok- seok turun dari Fortuner miliknya setelah melihat keadaan Ryan yang terluka dan dirawat di luar kota. Tadinya dia tak percaya, ketika mendengar dari seseorang yang menolong Ryan dalam musibah itu. Tempat Jatuhnya Ryan persis di tempat dia juga mengalami peristiwa yang sama, hampir 10 bulan yang lalu.


" Zahra, apa kamu terlibat dengan perkara Ryan dan Sutarjo ini?"


" Apaan sih, Mas? Main tuduh saja! Masak nggak percaya dengan istri sendiri!" ujar Zahra kesal. Sebab dia takut Satrio marah karena dia telah membayar Tarjo untuk melakukan penguntitan.


" Ya, sudah... Kamu telepon keluargamu di Wates untuk ngurus Ryan di rumah sakit! Aku kan harus harus bekerja! Kamu juga harus mengurus Putri Anindya!"


Pria muda itu sudah DO dua kali di kampus yang berbeda di Yogyakarta. Dia kurang tekun dalam belajar. Namun juga kurang pandai bergaul. Jadi Ryan terpaksa ikut ke rumah Zahra yang telah menikah dengan Satrio, karena menganggur. Sedangkan keluarga itu memerlukan sopir. Walaupun hanya menikah siri, tetapi keluarga besar mereka sudah sangat bangga dengan pencapaian tertinggi Zahra dalam mengangkat derajat keluarganya!


Tak ada lagi tetangga di rumah neneknya yang berani menghujat lagi. Rumah itu ada di ujung desa, seolah menjadi saksi kalau selama ini, keluarga mereka selalu dikucilkan para tetangga... Semua itu bermula dengan aktifitas sang nenek yang sering menolong orang- orang yang datang ke rumahnya itu.


Kebanyakan dari mereka meminta diberi jimat untuk mendapatkan kenaikan jabatan di kantor, banyak penggemar kalau dia seorang artis atau biduan tingkat kampung sampai pedagang agar jualannya laris . Semua orang-orang itu akan memberi imbalan yang pantas untuk si Mbah. Apalagi kalau jimatnya itu manjur, makin sering saja orang itu datang.


Ibunya Zahra hanya pasrah saja, ketika anaknya memperkenalkan Satrio. Mereka akhirnya menggelar pertunangan sederhana. Walaupun neneknya sudah tahu status Satrio sudah mempunyai anak dan istri.


Sang Nenek faham, kalau cucunya Zahra sudah terpesona dengan ketampanan dan kegagahan Satrio. Pria yang ditemuinya pertama kali di kantin rumah sakit. Dalam balutan seragam polisinya, wajah cemas dan putus asa Satrio menjadi suatu tantangan bagi Zahra untuk menghiburnya sekaligus menaklukkan hatinya.

__ADS_1


Hubungan mereka semakin dekat. Sampaikan Satrio bertunangan dan melamar Zahra kepada orang tuanya di kampung. Sebagai orang desa, kedua Orang tua Zahra kagum karena Satrio bukan hanya seorang abdi negara dengan pangkat cukup tinggi, juga mengendarai mobil bagus. Jadi lamarannya pria itu diterima.


Begitulah tingkah laku manusia, yang terlalu tinggi menilai dirinya sendiri. Zahra segera masuk menjadi anggota organisasi para istri di kantor Satrio. Setelah pernikahan mereka dilaporkan ke kantor dengan banyak syarat yang harus dipenuhi.


Perempuan muda sangat berbangga diri dengan seragam para istri anggota itu. Namun sering bertindak semaunya sendiri. Dia jarang hadir dalam rapat dan kegiatan organisasi itu dengan berbagai alasan.


Sampai ada seorang ibu melihat Zahra membawa bayinya yang akan diperiksa di sebuah rumah sakit besar di kota. Anak Zahra mengalami kelainan pada perkembangan tubuhnya. Bayi perempuan itu harus mendapatkan tindakan operasi di kepalanya akibat mengalami Hidrosefalus.


Tentu saja banyak ibu- ibu itu merasakan prihatin setelah mendapat laporan itu. Pantas bayi itu selalu menangis saat di berada di rumah dan jarang dijemur saat baru lahir. Apalagi setelah usianya bertambah, keadaan kepalanya lebih besar dari bayi normal pada umumnya.


Ibu Anggita berusaha berbaik sangka dengan berbagai berita yang menimpa kehidupan rumah tangga Satrio dengan istri barunya ini. Namun kedatangannya pun tidak diterima baik oleh Zahra dan ibunya.


Wanita itu merasakan rumah yang dulu ditinggali Asti memang tidak terlalu besar. Tetapi rumah itu semakin kurang nyaman dihuni. Semua barang nampak berantakan dan tidak teratur. Kamar tamu dipenuhi barang - barang milik si bayi. Lantai berdebu dan berbau kurang sedap.


Dari kamar, si bayi terus menangis dijaga sang nenek. Zahra duduk santai berbicara sopan dengan Ibu Anggita. Selama ini, Satrio mewanti-wanti agar menghormati istri atasannya tersebut.


" Permisi, Mbak!" Seru Ibu Anggita buru- buru keluar dari rumah itu.


Percuma bukan? Dia memberikan pengarahan berbagai program dari organisasi mereka, kalau Zahra kurang menanggapi. Apa ada seorang tuan rumah menemui tamu dengan pakaian yang menurutnya ajaib? Blus tanpa lengan dengan celana jeans pendek. Apa benar Zahra itu pernah kuliah keperawatan sampai D2 kalau dia sangat tidak nyambung diajak ngomong hal yang penting walaupun hanya sebentar.


Keresahan Ibu Anggita juga dirasakan oleh Sang ibunda. Apalagi berita dari Joko tentang Zahra yang yang menyuruh seseorang untuk menguntit rumah Asti. Selama bercerai, Asti tak pernah mengusik kehidupan rumah tangga Zahra dan Satrio.


Sayangnya, dendam Zahra terhadap Asti melebihi tingginya gunung Lawu yang ada di Timur daerah itu.


Tiba-tiba saja kedua orang tua Satrio beda pendapat tentang perceraian itu! Pak Cahyadi lepas tangan. Lain halnya dengan ibu mertuanya, yang cepat tanggap melihat keadaan Zahra. Dia mengetahui selingkuhan anaknya itu hamil dan meminta Satrio bertanggung jawab. Mereka menikah dengan cepat sebelum putusan cerainya dengan Asti keluar dari Pengadilan Agama. Sebab bayi di perut Zahra sudah semakin membesar. Usia kandungan itu hampir mencapai 4 bulan.


Segala kesialan dan kesusahan mulai merundung kehidupan mereka setelah menikah. Mau nggak mau, Zahra menempati rumah dinas Satrio di kompleks itu. Tentu dengan segala pandangan negatif para ibu tetangga. Mereka semakin tidak menghormati dan menghargai kehadiran Zahra sebagai istri baru Satrio Wibowo.

__ADS_1


Saat baru masuk ke rumah ini, Zahra sudah berniat mengubah tatanan rumah ini yang terlihat biasa- biasa menurut pandanganya . Sebuah rumah dinas sederhana dengan ukuran 60 m persegi dengan tiga kamar tidur yang sempit, ruang tamu yang bergabung dengan keluarga, dapur dan kamar mandinya. Hanya tersisa sedikit halaman depan yang digunakan untuk parkir dan menjemur pakaian.


Sayangnya, perutnya yang sudah besar tak mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga apa pun. Sampai Satrio membayar tenaga ART untuk menolong Zahra. Kini ibunya pun datang dari kampung untuk mengurus bayinya Zahra.


__ADS_2