
Kesehatan Pak Basuki Murti berangsur -angsur mulai pulih...
Setiap pagi, dia l banyak bercerita dengan Lek No tentang tugasnya yang terkadang di tempatkan di daerah pelosok dan terpencil. Sedangkan Lek No senang bercerita tentang cara dia mengolah sawah dan kebun dari peninggalan warisan kakek Asti.
Di sana juga ada Qani yang merangkak lucu di ruangan keluarga yang cukup luas itu. Sampai ada sebuah sepeda roda tiga yang dibawakan Dimas dari rumah Mbak Mesya. Walaupun bukan barang baru, namun sepeda yang dulunya milik Hanum itu adalah barang yang berkualitas dan berharga mahal. Sehingga terlihat masih bagus.
Keriuhan bayi dan balita itu yang ber main di ruangan itu tidak mengganggu kedua kakek yang masih asyik ngobrol. Sesekali mata mereka tetap mengawasi kedua cucunya itu agar tetap bermain dengan aman.
Terlihat sejak kemarin Leon, Dimas dan Joko sibuk berkumpul di ruang kerja milik Pak Murti, di ruang dekat tangga. Sebagian besar, pekerjaan Leon sudah dapat dijalankan oleh kedua asistennya itu dengan cermat di kantornya di Desa Sidodadi.
Asti yang selalu menyiapkan kopi dan makanan kecil itu untuk mereka... Sedangkan Mbak Siti dan Bulek Ratih mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Mbak Tia sudah membersihkan beberapa ruangan di lantai atas dengan sapu dan ember berisi air pel. Joko dan Dimas yang sekarang tidur di kamar di lantai atas. Bertukar dengan Leon dan Asti yang menggunakan satu kamar di antara tiga kamar lainnya yang tersedia di paviliun.
" Masak apa, Lek?" tanya Asti sambil menyiapkan nasi tim untuk Qani. Tadi Mbak Siti yang berbelanja sedikit sayuran hijau dan bumbu di pasar tradisional terdekat dari wilayah ini... Mungkin karena di wilayah ini kebanyakan adalah resort, vila atau tempat untuk peristirahatan jadi pasar tradisionalnya pun tidak terlalu besar dan selengkap di beberapa daerah lain dengan pemukiman yang lebih padat penduduknya.
" Kita buat gado-gado, saja! ... Mbak Siti sudah tahu resepnya, ini makanan kesukaan Pak Murti!" kata Bulek Ratih.
Berbagai sayuran mulai dibersihkan dan dipotong - potong. Ada bayam, kangkung, tauge juga kubis. Tambahannya jagung manis yang yang nanti akan diiris dari ujungnya untuk diambil bijinya saja. Selain itu ada tambahan berupa potongan dari tahu dan tempe goreng. Mbak Siti juga merebus telur yang cukup banyak hampir setengah kilo. Nanti telur itu akan ditambahkan setelah gado - gado siap disajikan.
Hari itu semua anggota keluarga di rumah itu menikmati sajian yang bernama gado - gado Betawi. Masakan itu yang sudah dicampurkan dalam satu wadah besar. Bulek Ratih masih sempat membuat lontong... Wanita itu dengan cermat memperhatikan cara Mbak Siti mengolah masakan yang merupakan makanan khas dari daerah Jakarta itu.
Maklum sebagian besar masa dinas Pak Basuki Murti adalah di Jakarta. Apalagi setelah beliau memegang sebuah jabatan yang cukup penting di kota itu, sampai beliau pensiun dan pindah ke Semarang.
" Mirip pecel, ya. Mbak Siti!" komentar Bulek Ratih. Hanya kalau sambel pecel tidak terlalu kental dan akan disiramkan ke bermacam sayuran yang sudah direbus. Kalau gado-gado semua dimasukan dalam satu wadah dan dicampur dengan bumbu berupa kacang tanah goreng yang diulek bersama cabe , garam , terasi, bawang putih juga gula merah. Agar bumbu ulekan itu menyatu ditambahkan potongan kentang goreng yang di ulek halus pada bumbu kacang itu agar bumbunya medok atau kental setelah diberi sedikit air perasan jeruk limau.
Bu Jum mencolek bahu Asti untuk memberi tahu wanita itu agar melihat wajah Tia yang mencemooh semua ucapan Bulek Ratih. Walaupun wanita itu agak jauh posisinya dari mereka, tetap saja dia mendengar percakapan mereka di dapur.
__ADS_1
Bulek Ratih sudah dua atau tiga kali ke Jakarta diajak oleh almarhumah Bude Ayu, untuk menemui kerabatnya yang tinggal di kebun Jeruk. Mereka juga sudah diajak ke berbagai tempat wisata di sana. Tak lupa mencoba berbagai makanan khas orang Jakarta... Terutama jajanan kaki lima yang kebanyakan terpengaruh oleh para penjualnya yang merupakan perantau dari berbagai daerah. Sehingga ada bermacam macam jajanan pilihan, dari seblak, sate Madura, ketoprak Cirebon dan bubur ayam Sukabumi.
Malah ada restoran yang disebut rumah makan Padang, atau warteg alias warung Tegal!
" Kamu kenapa, Mbak Tia? kayak nggak suka, mendengar obrolan receh kita?" tanya Bu Jum sebal.
" Bulek Ratih ini jago masak ,lho! Tanya Bu Anggun yang pernah singgah ke rumahnya di desa... Jadi kalau ada menu dari daerah lain, pasti akan dicobanya. Apalagi kalau membuatnya mudah dan segala bumbu tersedia."
Ucapan Bu Jum dijawab dengan tatapan mata tajam Mbak Tia yang semakin mendelik. Tanpa sadar Bu Jum mengikuti langkah ART yang serasa menjadi orang kesayangannya di keluarga ini yang melangkah ke halaman belakang.
" Jadi orang itu jangan terlalu tinggi menilai diri sendir, Mbak Tia. Dimana - mana, babu ya tetap babu?Walaupun bekerja di negara Singapura! Aku juga sering dibawa majikanku Singapura, Mbak Tia! Ya, cuma untuk jalan-jalan !"
Mbak Tia melengos, matanya menatap ke arah lain tanda dia tak mau menanggapi ucapan Bu Jum itu " Jangan berharap terlalu tinggi untuk bisa menggoda Pak Leon... Orang secantik Mbak Almira aja, Pak Leon menolak! Apalagi kamu yang kalau berdandan kayak orang mau main dagelan! Kasihan kamu ya, Tia! Bermimpi di siang bolong!"
"'Bu Jum darimana aja?" tanya Asti bingung. Tadi dia melihat Bu Jum membawa kaleng dan botol susu Qani ke dapur. Asti hanya melongok sebentar dari pintu, tetapi di dapur kosong tidak ada orang.
Qani segera mendekati Bu Jum yang sedang membawakan botol susunya. Biasanya Qani sudah akan tidur setelah menghabiskan setengah botol dari susu tersebut.
Lek No dan Bulek Ratih sudah membawa kedua anak Asti itu untuk kembali ke paviliun.
" Istirahat saja Bu Jum! Temani Akbar tidur di kamar sebelah, ya! Kalau Keadaan Pak Murti semakin baik, rasanya kita bisa pulang lebih dulu. Biar Dimas yang mengemudikan Inova yang akan membawa kita pulang!"
" Besok kita pulang, Mbak? "
" Iya, seenak-enaknya rumah mertua lebih enak di rumah sendiri. Bu Jum!" keluh Asti tanpa sadar. Sambil memandangi rumah megah berlantai du di depan mereka. Rumah yang memperlihatkan kemakmuran hidup dari keluarga Basuki Murti.
__ADS_1
" Iya, Mbak! Apalagi di sini ada seorang ART yang merasa dirinya akan menjadi pemilik dari semua kemewahan dan kekayaan ini!"
Asti tertawa sumbang. " Biar saja, Bu Jum. Bukan urusan kita! Biar Mas Leon menggurus masalah Mbak Tia itu!"
Setelah anak-anak tertidur, Asti dan Bu Jum mulai mengisi koper dan tas mereka dengan tumpukan pakaian bersih. Beberapa hari lalu Asti sempat berbelanja di sebuah toko pakaian, untuk tambahan baju salinan. Karena sewaktu pergi ke Semarang mereka hanya membawa baju secukupnya. Sebab mengira mereka tidak akan terlalu lama berada tinggal di sini.
Jadilah dia membeli beberapa buah gamis dan daster batik hijab untuk salin. Bu Jum juga dibelikannya 3 daster batik untuk ganti. Jadi mereka tidak lagi harus mencuci pakaian harian itu, setelah kering lalu dipakai kembali.
Lain halnya untuk pakaian Qani, mereka membawa cukup banyak baju ganti. Tetapi Asti juga membeli beberapa t-shirt untuk tambahan pakaian rumahan yang akan dipakai suaminya itu.
" Kamu jadi pulang?" bisik Leon malam itu. Qani sudah tertidur lelap di ranjang kecil khusus untuk bayi.
" Iya, Mas! Sudah sepuluh hari di sini...Papa juga sudah cukup sehat kan? "
Leon memeluk Istrinya itu dengan lembut. Dia tahu, istrinya itu punya usaha yang harus dipantau dengan cermat... Apabila usaha masih diharapkan menghasilkan keuntungan yang cukup lumayan. Tentu si pemilik usaha harus selalu memantaunya.
" Nggak mau lihat drama yang dibuat Mbak Tia besok siang?" bisik lelaki itu lagi.
" Itu urusan Mas Leon dan Mama! Aku nggak menyangka aja, ada pembantu rumah tangga seberani itu!"
Tadi sore Joko memberitahu beberapa rekaman CCTV yang dapat dipulihkan kembali. Terutama melacak siapa orang yang telah mengambil perhiasan Ibu Anggun yang hilang dari kamarnya. Ternyata Mbak Tia yang melakukannya dengan mematikan CCTV di depan kamar tidur utama. Tetapi perempuan itu tidak tahu kalau di beberapa ruangan juga ada CCTV yang dipasang dengan agak tersamar terutama di koridor ruangan, belakang rumah, dari dapur sampai ke kamar para ART.
Ibu Anggun sampai memeriksa berulang -ulang berbagai perhiasan yang hilang di laci penyimpanan. Dari setiap setnya, tidak diambil semua. Biasanya yang diambil berupa giwang atau cincin saja. Sebab barang-barang itu limited edition. Perhiasan yang umumnya terdiri dari emas itu dipesan khusus di toko emas langganan mereka di Kota Semarang. Pak Basuki Murti atau anak-anaknya lebih sering memberinya berbagai perhiasan buatan toko itu untuk hadiah ulang tahun atau perayaan anniversary pernikahan mereka yang sudah mencapai 40 tahun.
Bu Jum meminta agar Asti menangguhkan kepulangan mereka di keesokan harinya. Sebab mereka sedang merencanakan penjebakan untuk Mbak Tia. Banyak informasi segera didapat dari agen penyalur tempat awal Mbak Tia ditampung.
__ADS_1