
Asti masih membaca setiap catatan yang ditempelkan oleh Ibu Anggita pada setiap perlengkapan bayi tersebut. Maklum tidak ada kotak pembungkusnya lagi jadi tidak ada petunjuk cara penggunaannya.
Sekarang Satrio yang membantu memilah barang- barang tersebut setelah bertanya pada google. Ada beberapa barang yang penggunaanya mungkin setelah bayinya agak besar sedikit, seperti perlengkapan makan, alat pencuci botol susu elektrik, pompa asi sampai mainan bayi yang beraneka macam. Barang- barang yang cukup banyak itu dimasukan ke dalam dua dus besar dan disimpan di atas lemari pakaian. Kedua kardus itu pun ditutupi terpal plastik besar agar terhindar dari debu.
Kemarin, di hari minggu mereka telah berbelanja baju - baju bayi di sebuah toko perlengkapan bayi di kota. Toko ini terbilang yang terlengkap dan terbesar di sana. Bude Prapti terbelalak matanya karena melihat harga barang- barang serupa yang diberikan oleh Ibu Anggita kepada Asti. Barang itu merupakan merk terbaik yang ada di toko ini . Seperti bouncer dan stroller. Tetapi harganya nggak main - main.
" Waduh, Asti. Dorongan untuk bayimu itu, di sini harganya jutaan.." Bisik Bude Prapti lagi "Bude pikir, Keluarga Pak Sanjaya adalah orang paling kaya di daerah kita. Nggak tahu nya. Ada yang lebih sultan, ya ...."
Ucapan Bude Prapti hanya mendapat jawaban dari Satrio dengan lirikan sinis. Sebab Ibu Anggita tidak sayang memberikan barang- barang berharga mahal itu kepada Asti. Belum lagi dulu si ibu itu juga harus membeli masing- masing-masing barang itu juga harus sepasang, karena anaknya kembar. Hitung saja! berapa budget yang harus dikeluarkan keluarga Pak Sadewo itu untuk persiapan kelahiran bayinya dan pembelian barang- barang tersebut.
" Alhamdulillah aja, Bude. Rejekinya si Dedek bayi..." Ujar Asti santai.
" Lumayan kan? mengurangi pembelian kebutuhan bayi.." Tambah Satrio kalem .
"Iya juga, sih! Tetapi nanti bapaknya si jabang bayi ini kan harus menyiapkan uang lagi untuk membeli dua ekor kambing untuk akikahan." Jawab Asti sambil tersenyum meledek.
List yang ditulis Asti berdasarkan petunjuk Ibu Anggita ternyata cukup membantu juga. Karena kedua pramuniaga toko "Anak Ku" itu dengan cepat menyiapkan barang yang diperlukan Asti. Kebanyakan barang yang dibeli Asti adalah berbagai jenis pakaian bayi yang terdiri dari atasan, bawahan, kaos dalam. Asti membelinya masing- masing dua lusin.
Sementara Bude Prapti malah terus berkeliling toko yang cukup besar itu untuk memilih handuk, perlak, selimut juga jaket bayi. Pokoknya Asti hanya ingin beberapa kain yang nanti menempel di tubuh bayinya nyaman dan mudah menyerap keringat. Dia sangat mempercayai pilihan Bude Prapti yang dulu juga menggurus cucu-cucu Pak Sanjaya.
Dengan konyolnya Satrio mengambil bola mainan yang terbuat dari bulu halus. Lalu dimasukan ke dalam troli yang sedang di dorong oleh si Bude. Setelah melihat mainan yang dipilih Satrio, Si Bude malah berkomentar.
__ADS_1
" Asti kalau bayimu sudah lahir nanti pasti disuruh Satrio keliling lapangan kalau rewel."
Mata Asti terbelalak melihat mainan bola yang hampir sama ukurannya dengan bola sepak plastik yang sering dimainkan anak- anak di depan rumahnya.
" Lihat dong, Mas. Ini mainan untuk anak berusia tiga tahun ke atas!"
Wajah Satrio jadi bete mendengar teguran istrinya. Tetapi mengembalikan lagi bola itu ke rak semula.
Pulang dari berbelanja, mereka mampir makan siang di sebuah warung di pinggir jalan yang menyediakan menu sate ayam dan sate kambing. Bude Prapti dan Asti memilih makan dengan sate ayam, sedangkan Satrio asyik menikmati seporsi tongseng kambing lengkap dengan nasi dan segelas es teh manis.
Pria itu baru menyadari kalau sejak tadi Asti terus mengamati cara dia makan." Mau?"
Sebuah sendok berisi nasi dan potongan daging dengan kuah kuning dan segar itu diangsurkan Satrio ke mulut Asti. " Kalau mau mencicipi sedikit, kata dokter boleh, kok!" bisiknya membujuk.
Kembali Satrio menyuapi Asti dengan makanan yang ada di piringnya. "Terima kasih!"
Ucapan itu membuat Satrio lega. Semakin hari wajah Asti semakin berseri. Justru aura kecantikan Asti muncul ketika mereka mengadakan acara nujuh bulanan pada waktu itu. Sampai Satrio sedikit cemburu dan tidak rela wajah Istrinya dipandangi para seniornya, saat mereka datang dari kantor untuk menghadiri undangannya.
Maklum wajah cantik Asti sangat berbeda dengan wajah wanita Jawa pada umumnya. Wajah Asti menurut cerita Bulek Ratih lebih mewarisi kecantikan Ibunya yang berasal dari tanah Banjarmasin, Kalimantan.
Jadi hidungnya agak mancung, alis matanya yang tebal dan hitam dengan kulit putih yang bersih dan terang. Menyerupai gadis -gadis dari wilayah di Asia Barat. Namun raut wajah Asti berasal dari ketampanan sang ayah yang telah almarhum, Bagas Prasetyo Winangun. Pria asli Jawa yang lahir dan dibesarkan di Desa Sendang Mulyo.
__ADS_1
Mereka kembali ke rumah setelah agak sore. Bude sempat membeli beberapa lauk matang untuk makan malam nanti. Sepertinya kedua wanita itu sudah tidak sanggup lagi memasak. Kaki - kaki mereka agak pegal karena lebih dari dua jam berjalan dan berkeliling di toko berlantai tiga itu untuk mencari keperluan si Dedek bayi.
"Langsung mandi, Asti. Pakai air hangat saja, karena sudah sore!"
Mungkin di minggu - minggu mendatang Asti akan merindukan perhatian Satrio. Karena suaminya akan mengikuti pelatihan di Surabaya. Tanpa sadar, Asti mengusapnya - usap perutnya. Takut bayinya lahir saat Satrio masih bertugas dan tak bisa mendampinginya saat kelahiran putra pertama mereka.
Semalaman beberapa kali Satrio terbangun karena tidur Asti yang gelisah di sampingnya. Banyak nasehat yang selalu disampaikan oleh Ibu dan kakak perempuannya kepada Satrio agar dia banyak bersabar karena istrinya sedang hamil.
Pagi harinya Asti dan Bude Prapti beraktivitas seperti biasa, menyiapkan Satrio sarapan dan sedikit cemilan untuk dibawa ke kantor.
" Kamu sehat- sehat aja, Yang? " tanya Satrio sambil menikmati sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
" Baik- baik aja, Kok. Cuma kaki agak pegel aja."
" Sehat terus, ya? Besok aku sudah harus dinas ke luar kota. Mudah- mudahan si Dedek masih mau nunggu papanya pulang !"
Kini, Asti menikmati kesunyian rumah ini setelah kepergian Satrio menunaikan tugasnya. Sesekali Bude Prapti menemani Asti berjalan-jalan di jalan depan rumah sekaligus menunggu Pak sayur datang dengan motornya . Para Ibu juga akan menegur Asti dengan ramah. Termasuk Eyang Putri dan Ibu Anggita. Bahkan Bude Prapti juga dilarang oleh Satrio untuk berbelanja ke pasar dengan membawa motor dan memboncengkan Asti lagi. Agak berbahaya juga nantinya.
Kesibukan Asti sehari-hari adalah menyiapkan semua keperluan bayinya. Sebuah lemari kayu berwarna putih dengan sistem bongkar pasang sekarang sudah dipenuhi beberapa potong pakaian bayinya.
Terkadang Asti sangat bahagia saat membelai pakaian bayinya yang kecil, lembut dan lucu. Terkadang dia juga agak cemas, kalau bayi ini lahir namun Satrio masih belum bisa pulang karena tugasnya.
__ADS_1