Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 127. Menengok Calon Bapak Mertua


__ADS_3

Sementara orang-orang di rumah Asti mulai mempersiapkan segala hal itu untuk acara pernikahan itu. Walaupun hanya sekedar acara syukuran saja! Tetap saja nama baik keluarga harus dipertahankan. Jangan sampai mereka mendapati sajian makanan yang kurang enak di lidah atau sambutan yang tidak ramah dari pihak tuan rumah.


Hal itu yang akan nanti dibicarakan oleh para tamu yang akan datang setelah acara selesai. Bahan ghibah itulah yang paling sering disampaikan ibu- ibu di desa dalam bergaul antar tetangga. Bulek Ratih dan Bu Haji Anissa sudah sering memberikan kajian soal tersebut.


Memang kali ini, Asti hanya mencari praktisnya saja. Apalagi dia tidak mau terlalu merepotkan para tetangga dengan acara masak-memasak, dengan segala adat dan pemberian itu. Sebab Asti hanya ingin menikah secara sederhana saja. Dia selalu berdoa agar pernikahannya kali ini akan berjalan lebih langgeng.


Justru Joko yang berinisiatif untuk menyiapkan tempat yang lebih lapang di lantai atas rumah Asti. Biasanya untuk para kerabat yang bermalam di rumah ini. Dengan cara menata semua barang di ruang tv agar lebih mepet ke arah dinding. Dia juga membawa sebagian tikar plastik yang merupakan inventaris di rumahnya keluarganya di desa.


Tetap saja, Ninuk menolak kamarnya diacak- acak oleh si Masnya itu. Dia berhak mendapatkan perlakuan istimewa itu di rumah Asti, karena dialah sepupunya yang paling loyal selama ini.


Apalagi kamar itu ditata oleh tangan terampil Mbak Almira yang juga menyukai gaya tatanan kamar di drama- drama Korea kesukaannya. Jadilah kamar Ninuk bertema girly dengan warna lembut dan natural.


Di gudang belakang rumah, sudah bertumpuk kardus - kardus berisi air mineral dalam bentuk kemasan gelas. Juga berbagai keperluan lain seperti tissue, sendok plastik dan wadah minum plastik. Walaupun nanti mereka menggunakan katering tetapi tidak ada salahnya menyiapkan cadangan minuman dan makanan untuk mengantisipasi tamu yang datang karena hanya mengundang secara lisan. Kecuali kerabat Pak Leon, dan beberapa kenalan Asti yang tinggal jauh dari tempat ini. Mereka diberi undangan secara Virtual lewat WA saja.


Bagi keluarga Bulek Ratih, tidak akan ada sisa makanan yang akan terbuang. Sebab mereka akan membagikan makanan itu tidak hanya untuk tetangga di kanan- kiri rumah. Juga untuk orang yang lewat di dekat ruko sana. Ataupun dibawa ke beberapa masjid yang ada di daerah ini.


Kebetulan rumah Asti letaknya juga cukup sangat strategis, tepat di dekat simpang tiga yang sangat ramai. Karena daerah itu terus berkembang pesat dengan pembangunannya, sebagai daerah utama penyangga kota- kota di timur perbatasan dua provinsi besar di Jawa.


" Ini sudah dibayar, Mbak?" tanya Mbak Ning ketika datang pesanan berupa sovenir untuk tamu undangan.


"'Sudah sepertinya! " Jawab Asti kurang yakin. Malah Pak supir yang menyerahkan nota pembayaran yang sudah bercap lunas.


Pegawai dari toko itu membawa mobil boks dan mau diminta tolong untuk membawa dus - dus itu masuk ke dalam rumah. Untuk sementara kamar untuk tidur Mbak Ning dan Bu Jum pindah ke lantai atas. Sedangkan kamar itu digunakan untuk menyimpan barang- barang penting seperti sovenir, dan perlengkapan pesta lainnya.


Ini hanya sebagai tanda mata saja! Sebab Asti sangat menghargai kehadiran tamu dari pihak keluarga Leon yang tinggal di Semarang, Pekalongan dan Jakarta.


" Sudah? Ada berapa semuanya Mbak Ning?"

__ADS_1


Sovenir itu sudah ada dalam dus-dus. Sejak awal lamaran dan permintaan Asti hanya berpesta sederhana saja, Pak Leon sudah mencari di internet tentang Sovenir yang layak, yang dapat diberikan untuk kerabat dan tamu yang datang. Setelah ada kesepakatan dengan Asti , pria itu memesan dari sebuah toko yang merupakan sebuah UMKM dari kota sebelah.


Mereka mampu menyediakan sovenir pernikahan dari berbagai bahan kayu, kulit dan hasil kerajinan tangan lain. Terutama dengan memanfaatkan limbah .


Asti dan Pak Leon memilih hiasan berupa kipas berbentuk seperti gunungan untuk acara pembukaan pertunjukan wayang kulit. Kipas itu terbuat dari kulit domba atau sapi.


Di kipas itu dituliskan ucapan terima kasih, lengkap dengan tanggal dan nama kedua mempelai. Pak Leon hanya memesan dua ratus buah saja. Sisanya adalah dompet dan tas dari bahan limbah yang didaur ulang, akan diberikan kepada para semua tamu yang datang ke pesta mereka.


Dari kemarin Asti sibuk mengurus katering. Dibantu Bu Ani, mereka mengatur menu yang sesuai dan cocok untuk santapan siang bagi para tamu.


Pihak katering akan menyiapkan dua jenis nasi, yaitu nasi putih dan nasi goreng. Sayurnya ada soto ayam dan cap cay. Lauknya terdiri dari gurami asam manis, sate ayam sampai empal gepuk, sambal dan kerupuk udang.


Nanti para ibu tetangga akan menyiapkan berbagai makanan di gubuk - gubuk. Seperti kue jajanan pasar, es dawet , puding dan beberapa jajanan seperti somay, pecel, sampai bakso bening.


" Mau ditransfer lagi?" tanya Pak Leon. Saat Asti mengirim foto kepada calon suaminya itu bukti tanda pelunasan untuk pesanan katering.


" Yang... Papa minta bertemu dengan calon mantu dan cucunya!" Lapor Pak Leon sore itu. Setelah pria itu pulang dari proyek, mandi, berganti pakaian santai dan datang ke rumah Asti.


" Kami harus segera pergi ke Semarang?" tanya Asti ragu- ragu.


Dulu ada pantangan yang melarang calon pengantin untuk bepergian jauh. Namun atas nasehat Pak Haji Anwar, mereka akan pergi menengok ayah Pak Leon yang masih dirawat di rumah sakit untuk pemulihan dari operasi Jantungnya dua minggu yang lalu.


Bahkan saat Pak Leon bertamu di rumah pun, Asti akan membuka pintu rumah samping lebar- lebar. Sebab takut mengundang gosip atau fitnah karena seringnya Pak Leon datang ke rumahnya. Tetapi Pak Leon tidak mempunyai keluarga di sini. Sedangkan Asti perlu berunding dengan lelaki itu untuk mengurus berbagai hal. Jadi tiap sore mereka bertemu setelah pria itu dan kedua asisten pulang bekerja.


Usul Pak Leon itu pun ditanggapi dengan baik oleh Bulek Ratih. Mereka akan ke Semarang besok sore. Tetapi Hanya Bulek Ratih, Bu Jum dan Akbar saja yang akan berangkat. Lek No masih sibuk dengan bertani kacang tanah. Sedangkan Joko akan berjaga di rumah, juga berjualan.


Tiba- tiba saja Ninuk pulang ke rumah Asti. Setelah mendengar rencana kepergian kakak sepupu dan ibunya itu ke Semarang, dia bersikeras untuk ikut.

__ADS_1


Hampir saja dia kena cubit oleh Joko. Takut mengganggu kuliahnya karena sering izin. Setelah Ninuk berjanji kepada kakaknya itu kalau dia sudah menyelesaikan semua tugas - tugas dan ujian di kampusnya... Walaupun Joko tetap ngomel saja! Mana akan menjadi dewasa si Ninuk kalau manja seperti ini!


Persiapan segera dilakukan di pagi hari. Asti menggunakan koper besar untuk memuat pakaiannya dan pakaian Akbar. Bu Jum membawa tas kecil. Begitu juga dengan Bulek Ratih dan Ninuk mereka hanya menyiapkan tas berisi pakaian ganti dan perlengkapan mandi untuk dua atau tiga hari ke depan.


Pak Cakra menyewa sebuah Elf, lengkap dengan supirnya yang akan mengantar mereka sampai tujuan dan kembali ke rumah. Sebab di proyek ada kegiatan utama untuk menyelesaikan fasilitas jalan dan jembatan. Pak Leon meminta Dimas yang ikut pergi bersamanya.


Para pria itu mulai mengatur penempatan bawaan dan penumpang. Di jok tengah ada Bulek Ratih dan Ninuk , di belakangnya Bu Jum dan car seat Akbar. Sementara di belakang Pak Leon dengan Asti.


Mereka membawa baby car seat agar Akbar duduk nyaman di sana. Benda itu dibelikan Pak Leon setelah dia tadinya berencana untuk membawa Asti dan Akbar ke Semarang setelah acara pernikahan mereka selesai.


Tumpukan koper dan tas kabin milik Bulek Ratih dan Ninuk diletakkan di paling belakang. Juga digunakan Pak Leon untuk menjulurkan kakinya yang panjang. Agar cukup beristirahat.


Perjalanan selama lebih dari 5 jam itu harus berhenti dua kali di pinggir jalan raya. Mereka beristirahat untuk makan siang sekaligus sholat Dzuhur di masjid yang ada di seberang restoran.


Selama perjalanan itu, Akbar tampak nyaman digendong dan dibawa- bawa Pak Leon kemana pun. Bu Jum jadi lebih santai. Sebab dia hanya menyiapkan susu dan makanan untuk bayi gemoy itu.


" Mau jalan? Kaki Akbar pegal? " tanya Pak Leon dengan penuh kasih sayang.


Bayi itu tertawa- tawa saat dikejar Pak Leon yang berlarian di dekat tempat parkir. Asti hanya merasa bersyukur kalau pria yang akan menikahinya itu menerima Akbar sebagai putranya nanti dengan sepenuh hati.


Begitu juga ketika mereka harus berhenti setelah Adzan Ashar. Kali ini mereka memasuki halaman masjid yang sangat besar dan luas. Akbar digendong Dimas saat menuju tempat sholat untuk pria. Padahal Bu Jum sedang tidak sholat. Jadilah wanita itu duduk di depan sebuah warung yang berjualan di dekat pelataran parkir masjid sambil menikmati segelas teh manis hangat.


Mereka menikmati jajanan yang banyak ditawarkan oleh para pedagang yang berjualan di gerobak atau lapak. Pak supir dan Dimas malah menikmati semangkok mie instan rebus dengan telur dan cabe rawit. Tanpa sadar Asti mengambil sepotong kue yang disodorkan Pak Leon. Padahal Bulek Ratih dan Ninuk banyak membeli berbagai makanan dan gorengan khas di daerah itu.


" Enak?" tanya Pria itu menatap wajah teduh calon istrinya yang polos tanpa ulasan makeup setelah berwudhu dan selesai sholat.


Kecantikan Asti selalu membuat mata Pak Leon terpana. Ada guratan khas di hidungnya yang mancung. Kata Bulek Ratih, Nastiti Anjani mewarisi kecantikan ibunya yang gadis asli Kalimantan Selatan dan ketampanan sang ayah, asli Jawa. Pemuda yang lahir dan dibesarkan dari Desa Sendang Mulyo.

__ADS_1


__ADS_2