
Asti menyelinap masuk ke dalam rumah. Sepertinya dia tidak punya nyali lagi untuk mencari tahu siapa pasangan pria dan wanita yang tadi naik mobil Fortuner milik Satrio Wibowo itu.
Kesibukannya menggurus Qani, menghilangkan sejenak rasa was-was yang mengharu biru hatinya. Dibantu Bu Jum, Qani digantikan baju yang bersih. Sebab bajunya sudah basah kuyup oleh air susu muntahannya.
" Adek mau minum susu lagi, nggak?" tanya Bu Jum.
Bayi itu mengangguk tanda cukup banyak yang air susu yang dikeluarkan tadi saat dibawa ibunya ke mini market. Jadi bayi itu masih haus. Penuh rasa sayang Asti memeluk bayi mungil itu. Takut dia tak enak badan. Tadi Bu Jum juga sempat mengusapkan minyak telon di perut dan dadanya untuk memberi rasa hangat. Sebelum memakaikan baju gantinya.
Bayi itu berbaring tenang dan nyaman setelah diberikan susu formula lagi. Dari luar terdengar langkah kaki Akbar masuk ke dalam kamar ini.
" Ibu?" Panggil anak laki-laki itu.
Akbar naik ke ranjang itu setelah melepaskan alas kakinya di keset depan pintu kamar. Leon sengaja menggunakan lantai parket dari bahan lembaran kayu untuk membuat kamar ini tetap hangat dan nyaman saat kedua anaknya bermain di lantai.
" Akbar sudah sekolahnya?" tanya Asti. Padahal anaknya itu hanya bermain sebentar di halaman sekolah Paud itu. Tetapi Asti menyebutkan anaknya sudah sekolah, agar timbul rasa keberanian yang tinggi untuk berada di lingkungan masyarakat yang lebih luas selain di rumah.
Hampir setiap pagi Akbar diantar Mbak Putri pergi bermain ke sana hanya untuk melihat anak-anak yang usianya lebih tua dua atau tiga tahun di atas Akbar, bermain dan belajar di Paud itu. Nyatanya Akbar juga cepat bosan... Anak itu hanya bertahan di sekolah itu hanya satu atau sampai dua jam saja dan langsung minta pulang.
" Sudah, Bu!" ujar Akbar senang
Mata bulat Qani ikut mendengarkan celotehan si kakak yang diperbolehkan oleh salah satu guru pengajar di sana untuk mencoba berbagai permainan sederhana yang ada di halaman Paud tersebut... Ada perosotan pendek dari bahan plastik tebal, tangga dengan jalinan tambang, ayunan di sebuah batang pohon besar, juga ban bekas motor yang berjajar untuk kegiatan melompat - lompat.
Terdengar ketukan lembut di pintu depan kamar. Saat dipersilakan masuk, Putri datang sambil membawakan baju ganti untuk Akbar. T-shirt dan kaos dalamnya basah oleh keringat. Tanda Akbar cukup banyak mengeluarkan tenaga dan energi saat bermain di halaman sekolahan itu.
" Mbak Asti, sepertinya ada yang mencari, deh!"
__ADS_1
" Siapa, Put?" tanya Asti kurang yakin.
" Ada seorang pria berpakaian aneh bertanya - tanya di depan rumah Pak Sembodo... Katanya mencari Mbak Asti, sekolah diantar Bu Ani ke rumah ini."
Asti terbangun... Malas sekali kalau dia harus menjumpai orang yang disebut oleh si Putri tadi. Apalagi kalau pria yang mencarinya tadi, masih terkait hubungan kekeluargaan dari salah satu anggota keluarga Satrio.
Bila menyebutkan nama pria yang merupakan ayah biologisnya Akbar, anaknya itu, Asti mulai timbul sedikit emosi. Betapa lelaki itu tidak peduli dengan keberadaan Akbar, yang juga tidak diakuinya sebagai anak kandungnya sendiri itu. Lelaki yang katanya lulusan sarjana jurusan teknik informatika di sebuah kampus terkenal di kotanya itu, kata orang sudah tergila - gila dengan pesona Zahra. Bahkan Pria itu dengan mudahnya dipengaruhinya oleh wanita muda itu. Sehingga dalam sekejap dia mampu melupakan statusnya sebagai seorang pria yang sudah mempunya anak dan istri.
Sekarang baru Asti menyadari kalau tingkah laku Satrio yang jauh dari logika dan akal sehat pikiran manusia normal itu adalah karena perbuatan Zahra. Tentu semua itu didukung oleh kedua orang tua Zahra dan neneknya. Betapa mudahnya hati Satrio berpaling.
Racun Zahra dengan ramuan jampi - jampi, ilmu pelet dan sebangsanya, buatan dari sang nenek yang konon terkenal sebagai dukun atau paranormal di kampungnya itu ternyata sangat manjur. Bahkan Satrio secara tegas menolak tes DNA yang disampaikan Asti. Untuk membuktikan kalau Akbar adalah benar anaknya Satrio. Juga untuk menepis kabar miring yang tidak sedap akan sikap Satrio itu. Sekolah- olah dirinya adalah seorang perempuan yang tidak baik dan bukan istri yang setia. Apalagi biayanya untuk tes DNA yang akan dikeluarkan juga sangat besar, mencapai puluhan juta.
Apa Zahra yang menyuruh pria aneh itu untuk mencarinya di rumah ini? Apa ada kepentingan wanita jahat itu terus melakukan hal tersebut... Yang diyakini Asti, karena kuasa dan kebesaran Allah SWT, satu demi satu perbuatan Zahra yang keji itu sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Rumah tangga mereka yang dibangun di atas puing- puing kehancuran hati Asti, sekarang berjalan dengan segala kesulitan hidup keduanya yang terus datang bertubi - tubi.
Seperti yang selalu menjadi nasehat Ibu Haji Anissa kepada Asti. Agar dia belajar ikhlas dan menerima semua ujian hidupnya yang begitu berat dengan tawakal. Ternyata semua rasa pasrah dan ikhlas itu berbalas dengan kemudahan hidup yang didapatkan Asti. Dia diberi kelimpahan rezeki sehingga tanah warisan dari almarhumah Bude Ayu itu dapat dibangun rumah tinggal yang nyaman dan empat ruko untuk menyambung hidup.
Sekarang dia diberi juga diberi jodoh lagi dengan menikah dengan lelaki yang baik. Leon mampu menerima kehadiran Akbar dan memperlakukannya seperti layaknya anak kandungnya sendiri... Lelaki itu juga mau menerima dengan tangan terbuka semua keluarga Asti dan orang-orang yang sudah lama bekerja dengannya.
Sayangnya, tetap saja setiap ada orang yang menyebutkan nama Satrio, perasaan sakit hati itu masih ada di hati Asti. Seperti membuka luka lama. Walaupun telah diberi antiseptik dan diberi perban, bekas sayatan luka itu masih menimbulkan goresan panjang di kulitnya.
Benar saja lelaki berpenampilan aneh itu sudah duduk di kursi, di ruang tamu rumahnya... Dia diterima oleh Mbak Ning yang tadi sedang menyapu halaman depan...Bahkan ada Ibu Ani yang menemani kedatangan orang itu. Karena masih merasa agak curiga melihat penampilan lelaki itu. Yang tidak terlalu biasa, bagi orang-orang lainnya.
Bagi orang desa, berpakaian nyentrik yang seperti dipakai oleh Bapak ini, terlalu menimbulkan prasangka kurang baik. Aneh dan sedikit norak! Malah dia seperti ingin menunjukkan gaya berpakaian seorang detektif yang berasal dari daratan Inggris sana .
" Pak Muin, ini Mbak Asti... yang punya rumah ini!"
__ADS_1
" Asti, kamu lupa dengan sama aku Nduk? Aku Pakde Muin Supangat, masih keponakan Mbah Putrimu!"
Deg! Rasanya tidak percaya kalau lelaki itu masih ada hubungan sanak- saudara dengan keluarganya. Pria tersenyum lebar ketika melihat Putri membawakan minuman dan kue-kue.
" Dulu, si Ayu waktu singgah ke Purwokerto pernah meminta Pakde meneruskan pencarian keluarga Ibumu yang ada di Kalimantan Selatan.. Pakde belum sempat meneruskan, malah keburu mendengar kalau Bude Mu itu sudah meninggal...."
Lelaki meminta izin untuk minum air teh manis hangat di cangkir itu. Dia tampak lebih lega. " Kami sempat bertemu di rumahnya Widya di Purwokerto... Saat itu Pakde ada tugas khusus... Jadi harus segera kembali ke Jakarta!"
" Siapa perempuan yang tadi bersama Pakde di mobil?"
" Ya, ampun itu Bude kamu yang baru...!"
Lelaki itu terburu-buru keluar dari pintu depan rumahnya. Tentu dia bermaksud menemui perempuan itu diparkiran mobil di depan ruko. Padahal Asti mau memberitahukan, kalau ada jalan yang lebih dekat ke ruko itu melalui jalan samping di rumah ini. Cepat Mbak Ning berjalan ke belakang untuk membuka pintu penghubung dari besi itu.
"'Itu tadi benar masih kerabat Mbak Asti ?" bisik Ibu Ani tak percaya.
" Saya juga belum yakin, Bu? ... Tetapi beliau mengenal almarhumah Bude Ayu. Nama beliaulah yang saya gunakan untuk nama ruko di depan dan mini market..."
"O ala... Ya, sudah. Habis bapak itu menanyakan nama Mbak Asti dengan Nama Nastiti Anjani ... Mana saya, ngeh! kalau itu nama panjang Mbak Asti!"
"Nggak apa-apa, Bu Ani. Terimakasih atas semuanya... " Ucap Asti terharu.
Ibu Ani tersenyumlah lembut." Bapak yang suruh saya tetap waspada saat masih kerja di proyek... Kalau soal pagar mistik untuk keamanan di rumah ini, itu urusan Pak Ruh yang minta bantuan dari pemuka desa ini.... Soal kewaspadaan menghadapi orang- orang asing itu wajib, Mbak. Takut ada hil- hil yang mustahil..." ujarnya becanda.
Asti masih tertawa geli saat Bu Ani pamit pulang dengan cara wanita itu berbicara... Kadang dengan rumor berita masa kini, gosip artis atau apalah itu... Sementara Asti melihat kedatangan pria itu dengan wanita yang masih muda, mungkin lebih separuh dari usia laki-laki yang membahasakan dirinya sebagai Pakde. Yang Artinya dia berusia di atas ayahnya almarhum.
__ADS_1