
Benar saja, Satrio sudah mengajukan perceraian mereka di KUA setempat. Ibu Imelda yang terus memantau hal tersebut. Mereka sudah dua kali menyambangi rumah baru Asti di daerah persimpangan tiga.
Akbar malah semakin aktif. Bayi berumur 6 bulan itu dijaga seorang perempuan dewasa. Ternyata hampir semua orang yang bekerja di rumah Asti masih ada hubungan famili dengannya. Dari Mbak Ning yang pengurus rumah, Bu Jum yang momong Akbar sampai seorang bapak paruh baya yang menjaga rumah sekaligus merawat tanaman hias dan pohon buah cangkokan yang mulai tumbuh.
" Rumah ini bagus dan nyaman, Asti!" Puji Ibu Anggita. Juga disetujui Oleh Ibu Imelda. Besok adalah sidang perceraian pertama mereka.
" Apa yang kamu tuntut?"
" Hak asuh anak sepenuhnya. Kalau ada bisa nggak, Bu. Ganti akte kelahiran bayi saya, sekaligus ganti nama ayahnya!"
Tadinya Ibu Anggita menganggap ucapan Asti serius. Eh, wanita itu mulai tertawa. Seorang wanita memang paling sakit hati, kalau suaminya mempertanyakan keabsahan seorang anak yang dilahirkannya.
Memangnya Asti seperti Satrio yang pandai bersilat lidah untuk menutupi hubungannya dengan Zahra! Mulai dari sikap tak pedulinya, menuduh Asti sering membawa lelaki ke rumah, sampai membuka fakta baru, tidak mengakui Akbar sebagai anaknya.
Lihat saja nanti, Asti selama ini hanya diam agar Satrio dan Zahra itu menyadari kalau apa yang mereka perbuat salah. Ternyata bangkai yang ditutupi lama- lama akan tercium juga bau busuknya.
" Sabar, Mbak! Saya sudah menyiapkan semuanya...."
" Terima kasih, Bu. Tanpa bantuan Ibu Imelda dan Ibu Anggita, mungkin Asti sudah hancur!" ujarnya sambil bergantian memeluk kedua wanita itu penuh terima kasih.
Mereka menikmati menu makan siang yang sangat nikmat. Mbak Ning menyiapkan sego pecel, lengkap dengan sayuran segar yang direbus, sambal kacang yang kaya bumbu dan kental. Kerupuk rambak dan gendar, yaitu dari nasi yang ditumbuk halus dan diberi obat bernama bleng. Sehingga berbentuk kenyal. Gendar ini menyerupai lontong karena berbahan nasi. Hanya gendar ini dipotong kecil-kecil, sebagai ganti nasi.
Mereka duduk- duduk di teras samping, setelah selesai makan siang. Hawa sejuk dari pohon- pohon besar yang tumbuh di kebun tetangga sebelah memberi kenyamanan di siang yang cukup terik.
Sedangkan taman di teras samping itu baru saja selesai pengerjaannya kemarin. Di sana dibuat kolam ikan kecil, dengan gemericik air terjun buatan pada tembok pagar di atasnya. Berbagai tanaman hias tumbuh di sepanjang tembok tinggi tersebut .
"Rumah ini cepat juga selesainya, ya. Sepertinya baru dengar dibangun beberapa bulan yang lalu, begitu."
"Mungkin lebih muda satu bulan dari usia Akbar!" Jelas Asti kepada ibu Anggita.
Mereka tadi mengadakan room tour ke lantai dua. Ruangan di lantai dua terdiri dari empat kamar tidur yang luas dan nyaman. Dua kamar mandi. Juga ruangan luas yang bisa digunakan untuk nonton tv atau pertemuan keluarga. Lengkap dengan balkonnya.
Sepenuhnya rumah itu dibangun dengan mengutamakan kenyamanan. Rumah itu mempunyai atap yang tinggi dan jendela kaca besar dan banyak bukaan. Selain hemat listrik karena terang di siang hari dan tak perlu AC agar ruangannya menjadi dingin.
" Baru kamar Ninuk saja yang diberi perabot. Nanti pelan - pelan saya akan melengkapi kamar - kamar yang lain yang ada di atas."
__ADS_1
"Ruko di depan jalan juga, punya Mbak Asti?" tanya Bu Imelda.
" Iya, rencananya baru dibangun dua ruko dulu, dari empat ruko..."
"Apa Satrio tahu soal tanah, rumah dan ruko ini, Mbak Asti?" tanya Ibu pengacara itu lagi.
" Dia tahu dan nggak mau tahu! Ini semua warisan dari Bude dan Nenek saya, Bu."
" Gila ya Satrio! Membuang semua ini demi pelacur kecil itu!" ujar Wanita itu menggelengkan kepalanya.
Mereka tak menyangka Asti mempunyai rumah besar dan ruko di depan perempatan jalan yang letaknya sangat strategis. Satrio akan menyesal bilamana mengetahui semua hal ini nantinya.
"Bu, apa saya bisa dibantu untuk menggurus perjanjian sewa-menyewa ruko misalnya. Sebab sudah banyak yang pesan."
" Biar nanti teman saya yang akan mengatur. Bagus Mbak Asti! Kita memang harus melek hukum biar tidak mudah ditipu atau diperdayai orang yang punya kedudukan yang lebih kuat."
Sambil mengendong Akbar, Asti mengantar tamunya pulang sampai di depan jalan raya.
Mas Adam yang mengusulkan agar Asti membangun rumahnya di bagian tanah yang paling belakang. Tanah itu diapit dua jalan raya, di bagian timur yang merupakan jalan raya utama di daerah persimpangan yang sangat ramai. Di selatan ada jalan tembus menuju ke perkampungan dan desa sampai ke arah baratnya.
Di depan rumah Asti ada jalan raya yang juga sudah dicor dan dapat dilalui oleh sedikitnya dua kendaraan roda empat. Karena jalan itu menjadi pintu utama dari sebuah kawasan perumahan yang baru saja dibuka dan dipasarkan. Perumahan tingkat menengah itu dibangun oleh sebuah perusahaan properti yang cukup terkenal di Jawa tengah.
Sedangkan di sepanjang jalan penghubung itu adalah pemukiman penduduk desa. Mereka juga mulai membuka berbagai usaha di depan jalan itu. Dari warung kecil- kecilan. yang menjual rokok, bensin eceran sampai menjual minuman.
Di belakang ruko yang dibangun itu adalah halaman rumah Asti. Ruko itu menghadap ke arah timur . Di sisi kiri ruko ada sisa lahan yang akan digunakan Joko untuk menjual berbagai masakan seperti mie goreng, nasi goreng atau mie tek- tek di warung tenda itu. Jajanan ala street food di kota- kota besar di Indonesia.
Semua keluarga bersikeras mengantar dan mendampingi Asti saat menghadiri sidang perceraiannya pertamanya dengan Satrio. Setelah dua minggu ini, Asti lebih banyak tafakur, berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Ibu Imelda duduk tegak di sampingnya bagai batu karang, siap untuk melindungi wanita lemah lembut itu dari intimidasi Satrio. Pria itu yang mendapat izin langsung dari Pak Sadewo, untuk bisa datang ke persidangan ini.
Asti menolak mediasi. Sebab Joko sudah menyerahkan rekaman ikrar talak yang diucapkan Satrio.
Semua orang yang hadir di sana dan sudah lama mengenal Asti juga terkejut dengan cara wanita beranak satu itu bersikap. Tegas, tanpa kompromi. Hilang sudah sikap lembut, ramah tamah dan sabar yang dulu dimilikinya. Satrio telah mengubahnya karena segala derita dan sakit hati itu yang dialami wanita itu dalam pernikahan mereka.
Bahkan Asti hanya mengangguk sopan ketika berpapasan dengan kedua orang tua Satrio di parkiran gedung pengadilan itu . Setelah persidangan selesai.
__ADS_1
Sidang kedua dan ketiga Asti tidak hadir. Hanya Ibu Imelda saja sebagai pengacaranya yang mewakili. Benar kata Asti, Satrio banyak memutar balikkan fakta. Namun mata jahat Ibu Imelda itu selalu mengancam. Seperti perumpamaan " Lu jual gua beli!"
Benar saja, tak lama kemudian beredar secara luas, video Satrio dan selingkuhannya itu. Ternyata ada salah seorang dari cucu Pak Sanjaya yang merekam dengan hapenya saat dia melihat Satrio berjalan berdua dengan Zahra di depan mini market. Sampai tersebar juga sebuah video saat Satrio bertunangan dengan Zahra yang lokasinya ada di rumah perempuan itu di sebuah desa di daerah Wates, Yogyakarta.
Joko terlihat santai saja ketika Asti menanyakan perihal video itu. Tampaknya seluruh sanak saudara Satrio sudah mengetahui perselingkuhan itu. Karena disebar dari satu orang ke orang yang lain. Warga satu Desa Sendang Ranti heboh. Seheboh ketika mereka datang dalam acara pernikahan Satrio dan Asti yang baru terjadi setahun berlalu.
Hasil keputusan dan akte cerai sudah diambil Asti diantar Ibu Imelda dan Joko. Satrio sudah tak berani menatap Asti lagi. Tanpa Asti bertindak sudah ada orang lain yang menghukum Satrio.
Ibu Imelda terdiam. Asti sudah mentransfer biaya jasanya tanpa komentar. Tetapi menolak menerima jatah bulanan yang wajib dibayarkan Satrio untuk anaknya.
" Pakai nomor rekening ibu Imelda saja, ya!" Pinta Asti.
" Ini buat Akbar, Asti!" Tegas Ibu Imelda. Susah payah dia mengusahakan agar Satrio membayar biaya kebutuhan hidup putranya. Namun Asti tetep kekeh menolak.
" Insha Allah saya masih sanggup bekerja untuk memberi anak saya makan dan membiayai pendidikannya."
Persoalan itu disampaikan Ibu Imelda pada Ibu Anggita. Mereka ngobrol cukup lama di rumah dinas itu. Apalagi hampir dua bulan ini Ibu Imelda sibuk menggurus perceraian Asti.
"Nggak menyangka saja! Asti menjadi sepahit itu karena sakit hati dengan sikap Satrio!" kata Ibu Imelda prihatin.
"Memang belum rampung urusannya?"
" Sudah. Karena Asti tidak menuntut apa pun seperti ucapan semula. Dia hanya minta hak asuh sepenuh untuk putranya, Akbar!"
" Mungkin omongan Satrio yang meragukan Akbar sebagai anaknya kali, Mbak!"
" Mungkin? Kamu tahu mengapa Satrio sampai nggak percaya dengan Asti. Istrinya itu kalem, agamanya kuat, dan sangat menjaga harga dirinya. Masa dituduh selingkuh? Dasar Satrio sudah buta akal dan pikirannya!"
" Nggak tahu, Mbak. Pernah sih Eyang Uti dengar omongan Ibu Suparlan, yang mengatakan kalau wajah Akbar nggak mirip bapaknya!"
"Hanya dari omongan begitu, Satrio percaya? Aneh!"
" Waktu itu Satrio masih sering membawa bayi itu dengan stroller ke sini. Si kembar itu hampir setiap pagi ikut keliling kompleks ini, menemani si bayi itu berjemur matahari sebentar."
" Wajar bayi itu berubah- ubah wajahnya. Tetapi Akbar mewariskan semua yang ada pada ibunya. Dari kulit bersihnya, hidung juga mata.
__ADS_1
Tetapi semakin bayi itu tumbuh besar wajahnya malah mirip Satrio, kok?"