Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 147. Bukan Keluarga Cemara


__ADS_3

" Syukur! Wek!" Ledek Asti geli.


Bibir Leon jadi mengkerut.


Ternyata si Akbar bukan sekutu baginya. Padahal mereka sama-sama laki- laki. Bahkan kalau dibawa ke proyek saja, bayi itu kesenangan saat diajak menaiki beberapa alat berat yang digunakan untuk membendung anak sungai di ujung kaki bukit sana.


Paginya, Asti sudah menyiapkan semua keperluan untuk Leon. Pakaian kerjanya sudah tergantung rapi di di ujung pintu lemari. Karena bekerja di lapangan, biasanya Leon hanya memilih kemeja lengan pendek atau t-shirt berkerah, dengan bawahan celana parka atau celana bahan dengan kualitas yang bagus.


Setelah lama bekerja di berbagai proyek pembangunan di Jakarta dan daerah di sekitarnya, Leon tidak pernah betah berlama-lama duduk manis di kursi di ruang kantornya yang sejuk karena memakai AC.


Ada banyak skill dan metode pembangunan terbaru saat ini untuk menyelesaikan berbagai macam proyek. Dimulai dari sistem cakar ayam untuk tanah gambut atau tanah rawa. Cara pemasangan dengan tiang pondasi bangunan seperti itulah diciptakan. Sampai pemasangan paku bumi yang tidak lagi mengeluarkan suara keras dan bising, karena mesinnya sudah lebih modern.


" Mas, aku izin ke bank sekalian mampir ke desa, ya?" Lapor Asti.


" Iya!" Jawab Leon pelan, sambil memakai kaos kakinya.


" Nanti makan siang disiapkan oleh Mbak Ning, nggak apa-apa kan?"


Kembali wajah Leon jadi kurang bersemangat. Apalagi Akbar belum juga bangun saat dia akan berangkat bekerja pagi ini.


"'Nggak menginap di rumah Pak Sarno kan ?"


" Tergantung!"


" Apa, sih? Pakai tergantung segala." Jawab Leon tambah bete.


"'Tergantung urusannya bisa selesai cepat nggak hari ini...."


"'Apa, panen kacangnya kurang bagus?"


Asti terdiam." Sejak, orang tua Dania tidak lagi membantu di sawah. Beberapa petani lain juga ikutan nggak mau kerja di sana Padahal sudah mau panen besok!"


" Apa, mereka menyebar fitnah lagi?"

__ADS_1


" Nggak tahu, tuh! Tetapi Lek No kekurangan orang untuk mencabut tanaman kacang. Kalau nggak, hasil panen jadi kurang bagus!"


" Memangnya perlu berapa orang?"


" Lima sampai sepuluh orang saja. Sebenarnya lebih banyak orang, juga lebih bagus, sih ...." Mata Asti menatap suaminya agak lama, karena kurang yakin. " Jangan - jangan, Mas mau mengerahkan pekerja yang di proyek, ya?"


" Nggak! Aku mau tanya Pak RT, apa ada yang mau ikut panen di sawah Pak No besok. Jangan lupa, Bu Ratih suruh masak yang banyak dan enak...."


Tanpa sadar karena ide cemerlang suaminya itu. Asti memeluk pria itu dengan erat dan memberinya ciuman rasa terima kasih di kedua pipinya. Adegan itu sempat dilihat Mbak Ning yang akan menyajikan sarapan di meja makan.


" Duh, kayak Adegan Romeo dan Juliet saja. Masih pagi, ini !" Tegur Mbak Ning geli.


" Ayo Mbak Ning besok kita piknik ke rumah Lek No di desa! Biar Joko yang jaga rumah!" Ajak Pak Leon semangat. Karena sudah mendapat vitamin pagi yang mencerahkan di hari kerjanya yang panjang, nanti!


" Boleh, boleh Mas. Sesekali Mbak Ning bisa keluar rumah, nih. Mau refreshing!" katanya penuh gaya.


Benar saja keesokan paginya ada serombongan tetangga Asti datang di depan rumah Joglo di desa. Mereka terdiri dari para bapak dan ibu yang datang ke sana dengan menggunakan dua mobil bak terbuka.


Tampaknya tawaran Pak Leon kemarin cukup menarik. Sebab sebagian dari mereka juga dulunya berasal dari keluarga petani. Apalagi ini hanya pekerjaan sambilan dengan upah yang cukup.


Para pria akan mencabut tanaman kacang tanah yang sudah tampak tua. Karena daunnya sudah menguning. Para ibu- ibu akan mengumpulkan tanaman itu dan menumpuknya di pinggiran sawah yang lebih teduh. Sebab setiap di pinggiran sawah Asti , ditanami pohon peneduh seperti pohon pisang, singkong, dan berbagai bunga- bunga yang warnanya terang dan cantik.


Para Ibu akan memisahkan kacang tanah itu dari batang dan akarnya. Ada yang dengan mencabut dengan tangan atau dipotong dengan pisau. polong kacang tanah itu segera dikumpulkan di wadah besar dari anyaman bambu. atau karung bekas yang dihamparkan seperti tikar agar kacang tanah itu tidak berhamburan kemana-mana.


Semua batang pohon tua itu dimasukan ke dalam lubang yang sudah disiapkan di pojok sawah, yang ada di dekat hutan bambu. Katanya semua sisa tanaman itu bisa dimanfaatkan untuk pupuk hijau, dengan cara ditimbun dengan tanah.


Para pemanen dadakan itu bersuka cita dengan pekerjaan itu. Karena setiap pohon kacang yang telah dicabut akarnya, dipenuhi dengan polong kacang tanah yang banyak dan besar- besar. Berarti tanah di sini sangat subur.


Dalam hitungan jam saja, sudah terkumpul beberapa karung kacang tanah. Karung- karung itu diikat ujungnya, dan dinaikkan ke dalam mobil bak terbuka milik Lek No. Mereka membawanya ke gudang di belakang rumah joglo.


Mobil- mobil itu bolak- balik dari sawah menuju jalan ke rumah Asti. Lek No yang membawa mobil itu, juga ada Pak Sambodo dan seorang bapak yang lain yang juga ikut mengerahkan mobilnya.


Terakhir mereka juga mencabut puluhan pohon singkong yang sudah cukup umur untuk dipanen atas permintaan Lek No. Semua pohon singkong itu diikat menjadi satu. Karena batang singkong itu akan dijadikan bibit baru. Sedangkan hasil singkong segera dinaikkan ke mobil Pak Sembodo.

__ADS_1


Di dalam rumah joglo itu, dapurnya sudah dipenuhi berbagai bau masakan. Di sana ada Asti, Mbak Ning , Mbak Asni dan Mbak Mar. Mereka bahu- membahu membuat makanan yang mudah disajikan dan terasa enak untuk makan siang para petani itu.


Bulek Ratih dibantu dua ibu tetangga mulai mengatur makanan yang diletakkan di meja besar di samping rumah. Di sana juga ada puluhan tumpukan piring dan sebuah termos besar berisi es teh manis


Benar saja, pada pukul 11.00 lebih, rombongan pemetik kacang tanah sudah berdatangan. Mereka pulang ke rumah Joglo untuk beristirahat, dan makan siang .


Sebagian dari para bapak itu mencuci kaki dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi mushola, yang letaknya ada di depan jalan rumah Joglo. Kamar mandi itu sudah rapi direnovasi tahun lalu. Sementara para ibu menggunakan kamar mandi di rumah Joglo dan rumah sebelahnya secara bergantian.


Ternyata pekerjaan panen itu sudah mereka selesaikan hari ini. Pak Sambodo hampir membawa seluruh warga di desa Sidodadi untuk acara panen raya di desa Sendang Mulyo.


Asti membantu menyerahkan piring-piring kepada tetangganya itu untuk makan siang. Di meja besar itu ada dua macam sayur di panci besar, ada sayur sop dengan ceker ayam dan sayur lodeh campur yang harumnya semerbak. Lauknya ayam, tahu dan tempe goreng. Di situ juga disiapkan lalapan timun dan rebusan sayuran berupa daun singkong, kakung dan daun pepaya. Sambel tomat disediakan dalam dua mangkuk besar dengan kerupuk gendar dalam plastik besar.


Acara makan siang itu semakin ramai karena ada puluhan orang yang bekerja membantu di sawah hari itu. Mereka makan sambil bercerita dengan gembira. Apalagi mereka berasal dari desa yang berbeda, sehingga sambil menikmati makan siang. Para pemanen itu saling berkenalan dan berbincang dengan akrab.


Hasil panen kacang tanah dari puluhan hektar sawah itu terlihat menggunung di gudang belakang.


Dari kejauhan terdengar suara mobil Pak Leon datang yang juga sangat dihapal oleh Akbar. Bayi itu berseru kesenangan ketika melihat para penumpangnya turun satu persatu dari mobil yang cukup bagus itu.


Di sana tidak hanya ada Pak Leon, dan dua asistennya...Malah ada Joko , Firman serta sang sopir, Dimas. Tentu saja, kehadiran para pria muda dan tampan itu sangat menarik perhatian para ibu yang berasal dari tetangga Bulek Ratih.


Justru Bulek Ratih yang senang menyambut mereka. Disuruhnya menantu , anak dan tamunya itu bergabung untuk makan siang bersama - sama dengan para tetangga lainnya. Ini lebih mirip makan di sebuah ajang pesta syukuran rakyat.


"Siapa, Dek?" tanya Lek No, sengaja meledek bayi itu. Sambil menunjuk sosok Leon yang paling menonjol... Sebab Leon bertubuh tinggi, dengan kulit bersih dan wajah yang tampan.


" Ayah Akbar!" jawab bayi itu lucu.


Jawaban bocah laki-laki itu membuat beberapa ibu di sana cukup terharu. Di saat Akbar mulai pandai berkata-kata, dia mendapatkan kasih sayang seorang ayah seutuhnya dari Pak Leon.


Apalagi mereka melihat Pak Leon terus mengendong Akbar setelah selesai makan. Sesekali pria itu juga ngobrol dengan para tetangga, untuk beramah tamah. Termasuk menjawab pertanyaan iseng dari para ibu- ibu tetangga Bulek Ratih yang rasa ingin tahunya sangat besar.


" Ngapain, bawa rombongan. Pasti kamu nggak mau masak, ya?" tuduh Asti pada Joko.


" Aku tanya Mbak Mar, persediaan makanan di sini cukup, nggak? Mbak Mar bilang masak cukup banyak. Yah, daripada nunggu Mas Danu datang kelamaan, kubawa saja mereka ke sini!"

__ADS_1


Bulek Ratih tertawa geli mendengar alasan anaknya yang terasa masuk akal, karena kemalasannya. Katanya Mas Danu sedang ada urusan di kelurahan dekat rumahnya. Jadi dia akan ke warung menjelang sore saja. Sedangkan warung nasi yang paling dekat dengan sekitar rumah Asti hanyalah warung nasi Mbah Peyek.


Akhirnya mereka menyetujui usul Joko untuk menyusul Asti ke desa. Perjalanan itu hanya memerlukan waktu tak sampai 20 menit saja. Beruntungnya, sekarang mereka sangat menikmati masakan olahan Bulek Ratih yang disebut mereka bisa menggoyang lidah!


__ADS_2