Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 245. Di Kelurahan Sumber Sari


__ADS_3

" Sebenarnya, kalau malam hari di tempat ini, lebih ramai lagi!" Jelas Nindya. " Taman akan diterangi lampu berwarna -warni. Malah ada pasar malam juga."


" Kapan - kapan saja, Mbak. Kami akan ke sini lagi" Jawab Lek No bijak. " Terimakasih banget, sudah direpotkan!"


" Nggak apa-apa, Pakde! Nidya senang kalau punya banyak kerabat dan saudara. Apalagi mau mampir ke rumah!"


" Salam, Buat Ibu dan Bapak di rumah, ya! Mudah-mudahan, Pak Sampurno bisa datang ke Sumber Sari!"


" Assalamualaikum!" Seru Nindya pamit, setelah menyalami semua orang. Eh, si Mbak Dian juga ikut-ikutan. Walaupun Asti yakin, dia melakukan hal itu dengan tidak ikhlas.


Mereka berpisah di tempat parkiran. Sebab jarak tempat tinggal Pak Sampurno, ayah Mbak Nindya itu dengan lokasi alun-alun kota ini tidak terlalu jauh lagi. Jadi, Joko dan Pak Cakra bergabung di dalam mobil Elf itu.


Kasihan juga, kalau tadi Mbak Nindya ikut kembali mengantar ke penginapan, hanya untuk membawa untuk membawa Joko dan Pak Cakra pulang. Padahal jarak tempuhnya menjadi dua kali lebih jauh, dan dua kali lebih lama waktunya. Sedangkan hari sudah sore menjelang malam.


Setelah sampai penginapan, mereka langsung bersih-bersih dan mandi. Sayangnya, di penginapan ini tidak tersedia sarana mushola. Sehingga mereka agak kesulitan mengadakan sholat berjamaah, karena ruangan tamu dan ruang keluarga di resort sangat sempit. Selain itu, pihak pengelola resort banyak menempatkan banyak perabot rumah tangga yang terbuat dari kayu jati yang cukup berat untuk dipindahkan.


" Putri, Tolong jemuran handuk yang di luar, nanti dibawa masuk ke dalam, ya!" perintah Bu Jum.


"'Siap, Bu Jum!"


Kemarin ada dua jemuran handuk lembab yang lupa dimasukkan ke dalam ruangan di lantai dua. Jemuran itu dibiarkan di balkon semalaman. Ternyata handuk itu milik Akbar dan Ninuk. Paginya mereka dikejutkan, setelah melihat handuk itu bukanya kering, malah seperti babat yang berat dan basah, karena terkena udara di luar yang sangat dingin dan lembab.


Paginya, Leon dan anak buahnya sudah berpakaian rapi. Mereka akan menggunakan mobil Pajero Leon untuk berangkat ke kelurahan Sumber Sari. Rencananya pembayaran itu akan dilaksanakan pukul sembilan pagi, menunggu pihak bank yang akan membawa uang cash untuk transaksi pembayaran itu


Sistem pembayaran pun akan dilakukan dengan dua cara. Warga yang harga tanahnya dibawah lima ratus juta akan dibayar secara cash. Tetapi yang lahan miliknya sangat luas, dengan jumlah nominal milyaran, akan dibayar dengan cek. Jadi urusan mereka akan langsung ditangani oleh pihak bank pemerintah daerah setempat, yang bekerja sama dengan perusahaan " Abadi Murti".


Mereka sarapan dengan menu nasi goreng yang dipesan dari restoran hotel. Asti makan satu piring berdua dengan Akbar. Yang lain ada yang memesan menu bubur ayam. Mbak Ning dan Bu Jum membuatkan kopi untuk mereka . Tampak Joko , Mas Topan, dan Pak Cakra sudah turun dari lantai dua dengan segala perlengkapan tempurnya.


Qani mulai mewek saat sang ayah pamit. Sampai dibujuk agak lama oleh Leon, karena mereka nanti akan bertemu di kelurahan di siang hari saja. Leon masih menjaga kesehatan anak dan istrinya, agar tidak berada dalam kerumunan banyak orang. Biasanya dalam perisai serupa, ada sanak keluarga ikut juga. Sehingga diperkirakan akan banyak orang yang datang ke sana.


Hari sudah hampir pukul 10.00. Keluarga Asti sudah bersiap -siap masuk ke dalam Elf. Jarak penginapan dengan desa Sumber Sari tak sampai 10 km.


Seperti di desa ini, yang mempunyai keunikan tersendiri, karena terletak pada tinggi di antara perbukitan. Sehingga udaranya lebih sejuk dan dingin dibandingkan dengan desa lain yang ada di sekelilingnya.

__ADS_1


Banyak pengusaha yang memanfaatkan lahan di sini untuk mendirikannya hotel l, vila , resort atau wisma untuk menginap. Tempat itu banyak didatangi orang kota untuk berlibur, sebagai pelepas lelah dan suntuk.


Mobil Elf mulai memasuki halaman gedung kelurahan yang tampaknya masih baru. .Pak Sugeng si sopir, dipandu oleh seorang petugas satpol PP, untuk memarkir kendaraannya di belakang gedung kelurahan. Di sana ada lahan seperti bekas lapangan sepak bola yang tidak terurus.


Di halaman depan, sudah sudah dipenuhi barisan motor-motor yang parkir. Banyak orang berkumpul di sana. Ada yang duduk-duduk bergerombol di bawah pohon. Banyak lagi yang berkerumun di lobi depan kantor Sebagian lagi sudah mendapatkan nomor antrian , dan menunggu di suatu tempat untuk dipanggil.


Pihak kelurahan juga sudah menyiapkan barisan keamanan dari aparat kepolisian, hansip dan pemuda setempat, yang mengenakan atribut tertentu. Agar pembayaran tanah itu berlangsung aman dan lancar.


Asti dan rombongan segera diantar ke bagian tengah gedung kelurahan yang mempunyai lahan terbuka, seperti taman. Mereka ditempatkan di sebuah ruangan yang jauh dari kerumunan orang.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh beberapa pegawai wanita. Mereka duduk-duduk di depan teras dengan taman yang rimbun. Di sebelahnya, ruang makan umum. Sebab di sana ada meja besar dengan tumpukan air mineral, gelas-gelas berisi kopi panas dan tumpukan piring berisi kue-kue tradisional.


" Mari, Bapak -Ibu , silahkan dicoba kue-kue buatan para ibu PKK dari desa ini!" Ujar seorang wanita berhijab panjang dan memakai kacamata tebal. Ibu Sumirah nama beliau yang menjadi pimpinan ibu-ibu itu


Bulek Ratih mencicipi kue -kue yang dibungkus daun pisang. Akhirnya Mbak Ning , Bu Jum dan Putri mengikuti juga. Sedangkan Akbar memilih snack yang dibawakan putri dalam tas punggungnya. Leon datang untuk menemui mereka. Qani segera menempel di dada ayahnya, dan tak mau lepas.


Pak Sugeng dan Mas Aji , malah izin keluar. Mereka mau melihat keadaan di sekeliling kelurahan itu.


Asti sudah menyiapkan susu untuk Qani. Takut bayi itu akan menggangu kesibukan Leon bekerja di dalam ruangan yang lain . Malah Leon ada di belakang meja Pak Candra, sambil menimang Qani. Dia mengawasi jalannya pembayaran itu.


" Eh, Ibu mau ngapain!" tegur seorang wanita muda yang menggunakan seragam staf kelurahan ini. Kedua tangannya menghadang langkah Asti yang mau masuk ke dalam ruangan itu.


" Memangnya kalau orang lain, nggak bisa masuk ke sana, Mbak?" tanyanya lugu.


" Kalau nggak ada kepentingannya, ya di larang masuk ! Ibu silahkan menunggu di luar nggak bisa sabar, sih! Memang suaminya dapat duit banyak, ya? Takut nggak dibagi," kata wanita muda itu agak ketus. Sambil menatap Asti dari atas kepala sampai ke sandalnya untuk memberi penilaian.


Mata Asti memandang kepada pada wanita muda itu. Sepertinya perempuan belia ini baru lulus sekolah, magang atau bekerja sebagai tenaga honor di kelurahan ini. Sayangnya, walaupun usianya masih muda, dia tidak bersikap sopan kepada orang lain. Mulutnya itu, seharusnya bisa dijaga untuk tidak berkata ketus. Padahal dia bertugas sebagai di kantor yang melayani semua kepentingan orang banyak, dari segala lapisan masyarakat.


Dari luar, terdengar suara tangis Qani... Asti melihat Leon agak kesusahan untuk membujuknya. Bayi itu sedang haus. Makanya Asti membawakan botol susunya yang ukurannya lebih banyak lagi.


" Maaf, Mbak! " Panggil Asti, segera disodorkan botol susu itu, sambil membaca papan nama yang tertera di baju seragam itu. " Mm, Mbak Wati, ya? Bisa minta tolong memberikan botol susu ini pada bayi saya yang ada di dalam ruangan tadi. Terimakasih!" ujar Asti langsung ngeloyor pergi.


Wanita muda itu membawa titipan botol susu itu sambil berjalan melangkahkan kakinya, memasuki ruangan yang sangat khusus itu. Dia tertegun lama di sana... Di ruangan pembayaran itu terlihat banyak kesibukan. Justru dia melihat Pak Leon sedang memangku bayi perempuan yang mulai menangis.

__ADS_1


Tampa sadar, wajahnya sedikit memucat, bibirnya kelu. Botol susu yang diberikan Asti tadi, masih dalam genggamannya. Wanita tadi berbalik badan, berjalan menjauhi ruangan itu menuju ke lobi bagian belakang..


Dia berlari, mengejar Asti. " Bu, Bu! Maaf, ini untuk susu untuk anak Pak Leon, ya ?"


" Iya, tolong!" ujar Asti dengan wajah yang menahan marah.


" Yang! Mana botol susu Qani?" tegur Leon. Tiba-tiba saja Leon sudah berada di belakang mereka. Wanita itu menghadap ke arah Asti, sehingga tidak melihat kedatangannya Pak Leon.


" Sini!" Tanpa bicara lagi, Leon langsung mengambil botol susu yang ada di tangan staf kelurahan itu. Wanita terkejut, sampai wajahnya semakin pias dengan lutut gemetaran. Dia memandangi agak takut pada wajah Asti dan Leon bergantian.


Asti duduk di salah satu bangku di sana, setelah meraih Qani dalam pelukan Leon. Bukan hal mudah untuk dan membujuknya bayi itu yang sudah ngambek. Sejak dia sakit, bayinya yang sekarang menjadi lebih cengeng, manja dan aleman karena ada ayahnya.


Leon menyodorkan botol susu itu langsung ke mulut Qani. Anaknya mulai tenang. Leon mengusap-usap dahi putrinya yang basah oleh keringat. Tak lama Bu Jum muncul sambil membawa perlengkapan Qani.


" Dedek ikut Bu Jum aja, ya? Ayah mau kerja itu...Nanti adek ngamuk lagi, deh!" ujar Asti lembut.


Mata bayi itu menyorot sedih. Walaupun kehadirannya tidak diperlukan benar di sana. Tetapi Leon mau memberi support untuk Cakra, Joko dan Taufan... Mereka telah dibantu oleh para staf kelurahan, dan juga para pegawai dari bank, demi kelancaran pekerjaan yang cukup rumit dan melelahkan.


" Nanti kamu langsung masuk saja, kalau Qani mencari aku, " bisik Leon melihat mata anaknya itu mulai terpejam. Ternyata mengamuk dan menangis itu telah banyak menghabiskan separuh energinya dari bayi mungil itu.


Dari luar Bu Jum mendorong stroller yang diambil dari bagasi mobil Elf. Hati-hati, Asti menidurkan bayinya di situ. Bu Jum segera mendorong ke arah yang berbeda. Ternyata di teras samping ada bagian yang lebih sejuk dan lebih sepi. Sehingga mereka dapat duduk nyaman.


" Mbak Asti, ini Bu Yatmi Sudiro! Istri Pak Lurah Sumber Sari!" ujar Ninuk memperkenalkan wanita yang lebih tua lagi usianya dari wanita tadi yang menyambut kedatangan mereka. Asti berdiri dan menyambut wanita paruh baya itu. Mereka bersalaman dan berbicara berbasa-basi.


"'Saya, titip keluarga saya dulu, Bu Lurah! " ujar Leon setelah dia melihat semua anggota keluarganya duduk nyaman di sana.


" Silahkan, Pak!" ujar Ibu itu ramah.


Di sana ada pintu keluar, yang langsung menuju halaman belakang. Di luar, terlihat Lek No dan para supir duduk bangku di bawah pohon mangga yang sangat besar.


Ninuk keluar untuk membeli berbagai jajanan yang banyak dijajakan oleh pedagang di luar halaman kelurahan. Termasuk memesan bakso kepada penjual yang berjualan di dekat ayahnya berteduh.


Bakso itu dibawa dalam baki. Isinya ada tiga mangkok, lengkap dengan botol sambal dan saosnya...Tak lama Putri datang, juga membawa baki yang lain, dengan isi 3 mangkok beserta gelas es teh manis. Di luar Lek No dan para supir Elf juga sedang menikmati bakso khas tersebut, yang agak berbeda ramuannya dari daerah tempat asal mereka tinggal.

__ADS_1


.


__ADS_2