Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 251.Sikap dan Watak orang di Kelurahan Sumber Sari


__ADS_3

Kedatangan keluarga Asti, diterimanya Leon di halaman depan kelurahan... Sebelumnya, Ninuk mengajak rombongannya berputar sedikit ke arah kota Madiun. Mereka menikmati wisata jalan - jalan pagi, di kota itu dari arah sisi yang berbeda.


Lek No mendapat telepon dari Pakde Muin. Pria itu dan istrinya sekarang ini sedang berada di rumah Pak Yusuf Jaffar... Ternyata Pria yang merupakan kakak tirinya Emilia itu sudah lebih dari 7 tahun menetap di kota Batu. Mereka mempunyai usaha konveksi dan sablon t- shirt.


Pria itu mengundang Asti dan keluarganya untuk datang ke kota itu selain mengunjunginya juga berwisata di kotanya itu. Ninuk segera membuka tablet pintarnya itu dan segera menyusun acara jalan-jalan dan wisata yang cukup beragam ditawarkan di daerah yang terkenal dengan udaranya yang sejuk itu.


Air mata Asti berlinangan mendengar kabar yang disampaikan oleh Lek No itu. Dalam pelukan Leon, Asti tergugu, menahan segala rasa, di antara kesedihan yang membelenggunya


" Ya, sudah sayang! Apa pesan Pakde Muin tadi? Kamu harus menjaga kesehatanmu....Di sana saudara ibumu menunggu.." bisik Leon.


Qani menatap ibunya yang tadi menangis. Bayi itu malah menempel erat pada Leon. " Ibu apa?" tanya lucu.


Leon gemas, dan mengecup kedua pipi bayinya yang mulai gembul. Ternyata dalam perjalanan liburan kali ini , Qani mau makan apapun yang diberikan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dari potongan buah, kue-kue sampai gorengan.


" Mau gendong ibu, Nak?" tanya Asti. Sebab sejak kemarin bayinya itu diasuh Bu Jum


" Mau!" ucap anak itu. Qani akhirnya masuk dalam pelukan ibunya. Setelah tadi berpindah - pindah dari gendongan Bu Jum dan Bulek Ratih.


" Ini, kakinya buat jalan, ya! Nanti ayah belikan sepatu baru!" ujar Leon mengusap - usap telapak kaki kecil Qani.


Bayi perempuan itu hanya tersenyum manis... Leon mengusap kepalanya. Sejak Asti melahirkan Qani keadaan tubuhnya semakin ringkih. Beban hatinya ternyata cukup berat... Apa advis dari Dokter Dewi itu akan dilakukannya, untuk membawa Asti ke psikiater? Dokter Dewi bisa merasakannya kalau sakitnya istri Pak Leon itu karena beban pikiran yang sangat berat.


Tampaknya keimanan dan kerajinan Asti beribadah membuatnya menjadi wanita yang tabah, sabar dan tawakal. Walaupun Asti tidak terlihat mengalami depresi atau berhalusinasi. Tetapi gangguan pencernaannya semakin parah, bukan hanya karena mengalami maag saja.. Tetapi juga asam lambung yang kronis.


Setelah acara makan siang diumumkan , Leon mengajak anggota rombongan keluarganya ke rumah Bu Camat. Sebab Wanita itu sudah menyuruh para ART di rumahnya itu masak enak dan banyak.


Nanti Leon berencana untuk membalas jasa atas bantuan Pak Lurah dan para aparat di desa ini, dengan cara yang lain. Bukan bentuk nominal uang atau materi. Tetapi merenovasi bangunan lama dari kantor kelurahan yang letaknya di belakang kantor kelurahan yang baru. Nanti gedung itu dapat digunakan untuk menampung kegiatan Ibu PKK, remaja dan masyarakat. Juga dengan memperbaiki lapangan olah raga di sana. Jadi tidak becek ketika hujan dan kurang memadai penerangannya.


Tentu saja Pak Lurah Acmad Sudiro sangat bersuka cita dengan niat baik Pak Leon Narendra Murti itu. Sudah sejak awal Pak Sampurno menekankan agar balas jasa Leon adalah dengan membangun fasilitas yang bermanfaat buat masyarakat di desa itu. Terutama dalam bidang kemasyarakatan dan kegiatan kepemudaan, dalam melengkapi sarana olahraga.


Ninuk mulai sebal dengan sikap Mbak Wati yang menurutnya over acting itu. Mentang -mentang di sini banyak pria muda dan mapan, dari tadi perempuan muda yang sebaya usia dengannya itu bolak - balik mirip setrikaan saja. Mendengar Omelan Ninuk, Asti tergelak juga. Sampai Asti memperhatikan penampilan gadis itu.

__ADS_1


Sayang sekali, kalau gadis desa yang seharusnya lebih bersikap rendah hati, santun, dan menghargai orang lain itu sirna akibat perubahan zaman juga.


" Cewek resek!" umpat Ninuk kesal.


Acara makan siang di ruang besar ini secara prasmanan alias mengambil makan di meja makan itu sendiri - sendiri. Malah Mbak Wati justru kelihatan repot membawakan gelas - gelas air mineral di meja di hadapan keluarga Pak Leon.


" Sudah Mbak Wati, nggak perlu repot! Kami bisa kok, ambil sendiri!" tegur Bulek Ratih cepat.


Wanita muda itu tersenyum kecut. Dia menatap Asti tadi sebentar. Mana Asti peduli! Perempuan muda itu saja tidak mau meminta maaf atas sikapnya yang kurang ajar dan suka merendahkan orang lain.


Kini dia semakin takut, seperti sedang beruji nyali ... Setelah beberapa kerabat Asti muncul di sana. Ternyata mereka bukanlah orang sembarangan! Dari Pak Sampurno, seorang pejabat pemerintahan di Pemda kota Madiun, yang juga sangat mengenal wilayah desa ini... Juga ada Pak Prayoga Pratama Wijanarko, yang menjabat sebagai Camat, di wilayah ini. Belum lagi anak - anak keturunan dari kedua pria hebat itu, yang juga sebagai kerabat Asti terdekat.


Sejak kemarin, Bulek Ratih sudah mulai mengamati gadis yang bernama Wati itu. Wanita itu lebih suka Joko menahan diri dulu, apabila Si Wati ini berniat mendekati anak laki-lakinya itu. Sebab Joko banyak berubah dalam 4 bulan terakhir ini, sejak membantu urusan pekerjaan Leon, di kantor.


Joko mulai berpakaian setelan kerja yang rapi. Rajin memangkas rambutnya setiap sebulan sekali. Dia juga mempunyai hape mahal dengan gambar apel digigit separuh itu. Belum lagi usaha warung tendanya yang semakin terkenal. Kemarin mereka mempekerjakan lagi dua pria muda untuk diperbantukan di warung tenda.


" Kalau Wati cari perhatian sama Mas Topan, bolehlah! " Bisik Ninuk kepada ibunya. " Kalau dia suka sama Mas Joko, lihat dulu tesnya , berat nggak, Bu? Apalagi naksir Mas Leon , bakal tak seret ke polsek setempat! Mainannya suka sama laki orang!"


" Pokoknya yang nggak norak dan nggak kampungan seperti itu! Aih, lebay banget, gayanya, deh. Jadi eneg, Bu!"


" Ucapanmu itu, Ninuk ! Kita juga orang kampung, Nak !" ujar Bulek Ratih sabar.


" Kita orang kampung yang bermartabat, Bu! Orang punya adab dan sopan santun. Juga menghargai orang lain, menambah nilai pada diri kita, walaupun nggak perlu sekolah tinggi, yang penting mempelajari agama kita dulu, itu dasar dan pokoknya sebagai manusia..."


" Wuih, tinggi banget filosofi kamu, Ninuk .. .Sudah cocok sebagai mahasiswa, nih!"


Ucapan Asti itu langsung disambut tawa geli Bu Ratih. " Eh, Ninuk selama ini kan cuma main-main di kampus , ya. Asti!"


" Enak aja, ibu ngomong begitu! Nih, rambut Ninuk jadi rontok setiap selesai ujian semesteran dan mid semester! Dipikir Ninuk cuma bengong apa, nggak pernah mikir atau belajar!"


Leon sebenarnya sudah siap membawa keluarganya ini makan di restoran di kota Madiun saja, bila makanan yang mereka sediakan itu tidak mencukupi. Tetapi dia agak sungkan menolak tawaran Ibu Hernani tadi

__ADS_1


Padahal lelaki itu sudah memberikan uang tiga juta rupiah untuk membiayai makan siang untuk semua.Terutama orang-orang , yang sudah membantu bertugas selama kegiatan pembayaran itu berlangsung.


 Pak Cakra pun sudah menyiapkan amplop khusus untuk Pak Lurah dari kas kantor, walaupun bukan dalam nominal yang besar. Setidaknya urusan ini menjadi lebih cepat, jadi biaya yang dikeluarkan itu jadi juga tidak semakin membengkak.


" Masih cukup , Bu Andar?" tanya Leon kepada sekretaris Pak Lurah itu.


 Wanita itu tersenyum... Dia yang menerima amplop uang makan itu, yang diberikan Pak Cakra Jumat siang, minggu lalu. Makanan di meja makan itu tinggal sedikit lagi. Asti menolak makan bersama mereka... Dua supir Elf sudah mengambil piring dan siap antri. Melihat gerak - gerik dari Mbak Wati itu, Ninuk mendekatinya


" Ini supir kami, yang membawa rombongan keluarga Pak Leon. Nggak boleh ikut makan, Mbak?" tanya Ninuk to the points.


" Eh, boleh, boleh!" ucapnya kaku dan ragu.


" Pak Leon tidak hanya membawa anak dan istrinya ke sini. Lihat di sana ada dua wanita yang momong anak beliau, satu ART yang juga menggurus rumahnya ikut! Jangan lupa saya keponakannya istri Pak Leon. Di sana juga kedua orang tua saya!"


" Kenapa, Nuk ?" tanya Pak Cakra mendekat.


" Sepertinya ada orang yang merasa punya hak istimewa untuk melarang orang lain untuk ikut makan! Ayo Pak Cakra, kita coba makan rujak cingur di dekat pom bensin waktu itu. Sepertinya panas - panas begini , butuh yang segar-segar ini!" Ucap Ninuk dengan suara yang agak kuat.


" Boleh , Pak Leon?" tanya Pak Cakra.


Mungkin dengan sedikit keluar dari suasana kantor kelurahan ini agak menghilang penatnya. Pria itu memperlihatkan kunci mobil milik bosnya itu.


" Ayo, Mbak Asti! Cari yang segar-segar, aja biar nafsu makan !"


" Nuk, ayo kita makan siang di rumah Pak Prayoga...Tadi Ibu Hernani sampai pamit dari sini untuk menyiapkan!" Cegah Leon.


" Terus, bagaimana dengan Pak Sugeng dan Mas Aji?"


" Biar mereka makan di sini! Nanti kita telepon untuk membawa mobil ke halaman rumah Pak Camat.... Setelah makan siang, kalian bisa bawa Asti jalan melipir sedikit ke kota Madiun biar jangan suntuk, ya!"


Satu - persatu mereka mulai keluar dari ruang makan itu. Termasuk Bu Jum dan Mbak Ning ...Tadi mereka sudah diberitahu untuk makan siang di rumah kerabatnya Mbak Asti itu.

__ADS_1


Mbak Ning dari kemarin juga nggak enak kalau ikut makan di kantor ini. Selain makanan yang disajikan terlalu sederhana, juga jumlah orang yang makan sangat banyak. Selain para pegawai dan staf kelurahan yang jumlahnya saja sudah lebih dari 20 orang. Ditambah petugas keamanan yang dikerahkan dari berbagai dinas setempat.


__ADS_2