
Perubahan sikap Satrio itu juga dirasakan oleh Lek No dan Bulek Ratih. Pria itu masih bersikap sopan dengan pasangan suami istri itu yang dianggap seperti mertua baginya. Satrio masih mau pamit dan menyalami orang tua Ninuk itu ketika akan kembali ke kota malam ini. Tanpa Asti dan si bayi, Akbar tentunya.
Bulek Ratih membawakan banyak oleh-oleh untuk keluarga Mbok Bayah yang tinggal di seberang kompleks perumahan. Mulai dari sekarung beras berisi 20 kg, kelapa dan pisang hasil kebun. Sampai beberapa bahan makanan mentah yang banyak dibawakan para tetangga sebagai pemberian untuk melengkapi acara akikahan Akbar.
Ninuk masuk ke kamar Asti setelah menyelesaikan sholat Isya. Dia seperti mau membicarakan sesuatu yang penting.
" Mbak aku boleh ngomong, nggak?" tanya gadis remaja itu perlahan.
" Mau ngomong. Ngomong aja, Nuk! Mengapa ragu- ragu?"
" Tapi Mbak Asti jangan marah, lho. Serius!"
" Apa sih, Ninuk. Jangan suka main rahasia! " Ujar Asti tidak suka.
" Mbak merasa, nggak. Kalau sikap Mas Satrio sekarang banyak berubah?"
"Merasakan, sih. Ninuk. Tetapi kata orang, ya. Begitulah! Kehidupan orang berumah tangga itu ada pasang-surutnya. Kecuali kamu baca novel roman remaja yang selalu happy ending kan?" kata Asti.
Hanya perkataannya itu seperti menghibur dirinya sendiri. Ini Kehidupannya! Ini rumah tangga yang harus dia jalani bersama Satrio. Segala suka dan dukanya akan dia terima dengan sabar dan tabah.
" Begini, Mbak! Aku pernah lihat Mas Satrio akrab dengan seorang perawat yang bekerja di rumah sakit, tempat Mbak Asti dirawat ketika melahirkan dulu."
Mata Asti berkaca- kaca. Ya, Allah! Baru mendengar sepenggal cerita Ninuk saja, dadanya terasa menyesak juga perih .
" Ninuk melihat Mas Satrio duduk di kantin belakang rumah sakit. Bukan cuma sekali itu. saja, Mbak!"
Gadis remaja itu membuka hapenya dan memperlihatkan foto- foto yang pernah diambilnya tersebut secara sembunyi-sembunyi. Walaupun terlihat kalau di foto itu mereka tampak ngobrol seperti biasa. Namun pandangan perawat muda yang berseragam hijau toska itu terlihat sangat mesra dan penuh perhatian kepada Satrio.
"Waktu itu, Ninuk mengantar makan malam untuk Pak Cahyadi dan Mas Satrio yang menjaga Mbak Asti di ruang perawatan. Pakde langsung makan. Tetapi Mas Satrio nggak, kelihatan. Pakde juga bilang kalau Mas Satrio datang ke kamar Mbak Asti seringnya sudah agak malam."
Yah, Asti sangat mengenal selera Pak Cahyadi, si bapak mertua. Yang lebih suka makan masakan istrinya. Padahal di kantin rumah sakit , tersedia berbagai makanan dan masakan.Tetapi bapak mertuanya kurang berselera dengan makanan di sana.
"Padahal Ninuk sebelum masuk ke kamar Mbak Asti, sudah melihat Mas Satrio di sana. Begitu mau balik ke rumah, mereka sudah nggak di sana! Apa Mas Satrio nganterin cewek itu pulang, ya. Mbak?"
" Ya, sudahlah, Ninuk. Nggak usah dipikirin lagi. Tetapi mbak minta tolong, kamu jangan ngomongin masalah ini pada siapa pun, Ya. Mbak akan tanya dulu baik - baik sama Mas Satrio. Dia pasti marah kalau kita tuduh tanpa ada bukti. Apalagi cuma foto biasa seperti itu, bisa diamuk aku nanti dan dituduh cuma mencari masalah!"
Raut wajah Ninuk jadi sedih. " Nggak apa- apa, Mbak! Cuma Mbak Asti waspada aja. Pelakor kan sekarang merajalela! Ada di mana- mana...."
" Sst, sudahlah! Pokoknya, kamu fokus dulu sama UN kamu. Mau kuliah, nggak?"
__ADS_1
"Ya, mau lah... Tetapi boleh, kan. Ninuk cari kampus yang dekat di daerah ini saja?"
"Kenapa? Kamu nggak yakin diterima kuliah di kampus negeri ? Jangan malas belajar, Nuk!"
"Ninuk hanya mau jagain Mbak Asti saja! Jadi nggak mau kuliah di tempat yang jauh. Kasihan sama Mbak Asti, kalau Mas Satrio benar- benar selingkuh..."
" Sudahlah! sekarang kamu fokus dengan dirimu dan kepentinganmu saja dulu."
" Tapi Ninuk nggak rela, Mbak disakitin sama Mas Satrio!"
" Sekarang fokus sama ujianmu. Nanti pikirkan baik- baik pilihan jurusan dan kampus yang dituju! Kecuali, "
" Kecuali apa, Mbak?
"Kecuali, kamu diterima di kampus di luar Pulau Jawa. Ongkosnya mahal. Kalau nggak naik pesawat terbang, ya naik kapal laut."
"Eh, kalau kuliah di Bali atau lombok, bagaimana?"
Kesal, Asti menarik konde cepol ala Ninuk. "Yakin, kalau kamu mau kuliah di sana? Jangan-jangan kamu malah keluyuran ngejar-ngejar turis bule. Bukannya belajar ..."
"Aduh, Mbak Asti sakit, Ih!' Karena Asti menarik konde itu agak kuat, sampai terlepas. Wajah Ninuk jadi memberengut kesal.
Segera Asti membuka pintu kamar sambil meminta Bulek Ratih masuk.
"Itu Ninuk, Bulek. Mau kuliah di Bali. Memang turis mana yang mau sama wajah lugu kayak Ninuk begini?"
"Jangan salah, Mbak? Justru orang bule suka sama gadis dengan warna kulit sawo matang kayak aku. Katanya eksotis ...."
"Eksotis apaan? sawo busuk dan dekil, iya." Jelas Asti tersenyum mengejek.
'Ngapain kamu mau kuliah, di Bali?" tanya Bulek Ratih juga ikut bingung. Sebab yang dia tahu pelajaran bahasa Inggris Ninuk selama di sekolah SMP dan SMA nilainya jeblok.
"Baru seandainya ,Bu ...."
"Baru menghayal aja, kenapa kamu berdua pada ribut, sih?"
Tak tahan, Asti tertawa geli mendengar omelan wanita itu .
"Daripada dia kuliah di Pulau Kalimatan, atau di Pulau Sulawesi, Bulek, Tak larung pakai rakit dari bambu, kapok!"
__ADS_1
"Benar, Asti,! Nanti dia suka pulang-pulang melulu ke rumah. Memang nggak pake ongkos itu kalau kampusnya jauh. Sekarang dia ngekost aja selalu pulang, kalau uang bulanan sudah nggak cukup. Kebanyakan dipake buat jajan!"
Tiba-tiba, bulek Ratih menarik tangan Ninuk yang mau pindah ke kamar yang dulu dipakai Bude Ayu almarhumah.
" Eh, kamu mau kemana?"
"Tidurlah, di kamar sama ibu!"
jawabnya santai.
"Nggak bisa! Di sana ada Akbar. Nanti kamu ganggu lagi! Mau disuruh gendong tengah malam kalau cucuku itu bangun dan menangis?"
"Mbak Asti, nggak apa- apa itu si Akbar sama Ibu?"
"Biar .... Tidur sama Mbahnya, kok. Masak nggak boleh?"
"Ya, sudah! Aku tidur di rumah belakang aja. Tidur sama Mbak Asti nggak asyik. Disuruh tidur di bawah. Pakai karpet lagi, males...."
Bulek Ratih menatap Asti geli karena tingkah laku Ninuk." Manja! Kayak gitu mau jadi mahasiswi! Tinggal jauh di kota lain, apa nggak meriang si Ninuk nanti , ya. Asti?"
"Ya siapa lagi? Ninuk kan anaknya Bulek Ratih!"
Wanita itu kembali memeriksa keadaan jendela dan pintu rumah.
"Aman, Asti. Sana, istirahatlah!"
Di rumah belakang ada saudara- saudara Bulek Ratih yang sekarang tinggal di sana. Mereka adalah dua pasang suami istri, dan satu orang adik laki- laki dari keluarga tersebut.
Hampir empat bulan ini mereka tinggal di sana untuk membantu Lek No mengerjakan sawah dan menjaga kebun. Setiap pagi, kedua perempuan bersaudara itu akan membantu Bulek Ratih masak di dapur utama untuk sarapan semua orang.
Setelah itu Lek No dan Joko bersama tiga pekerja laki- laki berangkat ke sawah dengan menggunakan mobil bak terbuka. Di bak itu ada tumpukan pupuk urea, satu galon air putih, juga termos kopi dan berbagai peralatan pertanian.
Pekerjaan bertani itu adalah pekerjaan yang sangat berat. Mereka para petani bukan hanya sibuk di saat musim tanam dan panen saja. Tetapi setiap hari harus rajin mengawasi petak - petak sawah yang mulai ditanami padi.
Mereka harus memeriksa persediaan air di sawah yang baru ditanam padi itu, agar tidak kekeringan. Segala rumput liar atau yang disebut gulma harus dicabut agar padi muda tumbuh baik. Belum lagi pemberian pupuk yang harus diatur juga dengan penyemprotan hama padi.
Lek No telah mengambil alih sawah yang dulu digunakan para petani lain dengan sistem bagi hasil. Almarhumah Bude Ayu terpaksa melakukan hal itu karena desakan keadaan. Beberapa bagian dari sawah itu pun dijualnya untuk membelikan Asti toko di pasar, agar keponakannya itu mempunyai kesibukan di luar rumah.
Kini, Lek No memikul tanggung jawab besar yang telah diberikan Asti sepenuhnya. Perlahan -lahan dalam beberapa tahun belakangan ini, hasil panen kelapa dari kebun mereka menjadi incaran para pedagang lain dan diborong besar- besaran. Hasil panen padi pun melimpah dengan kualitas yang terbaik. Semua itu menjadi berkah tersendiri bagi anak, cucu dan cicit keturunan Winangun. Di tanah yang penuh perjuangan ini.
__ADS_1