Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 48. Sebuah Keputusan


__ADS_3

Pada selembar kertas yang diberikan Joko sebulan lalu tertera sebuah alamat rumah. Hampir tiga minggu, kertas itu tersimpan dalam dompet Asti.


" Ini alamat rumah Zahra, mereka baru pindah ke sini dua minggu yang lalu. Terserah mau kamu apakan dengan alamat itu. Tolong pikirkan segalanya, baik buruknya kamu yang harus putuskan karena ini menyangkut kehidupanmu!"


Itu pesan dari Joko yang menjadi bahan renungannya selama ini. Terkadang Asti sangat bingung dan putus asa dengan nasib yang mempermainkan hidupnya. Sering juga dia sangat marah dengan tingkah laku Satrio yang ternyata sangat layak disebut dengan berbagai umpatan nama hewan. Dari nama hewan pengerat sampai nama hewan primata, yang masuk dalam teori Charles Darwin.


Tampaknya dia hanya dapat mengadukan segala sakit hati, kecewa dan marahnya itu dengan sholat tahajud. Asti selalu meminta diberi kekuatan dalam mengambil keputusan yang tepat karena permasalahan ini.


Langkah yang diambilnya adalah : pertama, dia akan meminta Mbok Bayah tidak bekerja lagi di rumahnya. Sebab Walaupun dia punya uang di rekeningnya sendiri. Namun Satrio sudah dua bulan ini tak memberinya uang belanja. Takutnya Satrio seperti memberi uji nyali karena membuat anak dan istrinya mati.


Tindakan ini tentu mengejutkan Mbak Bayah. Apalagi Asti langsung memberinya upah dua bulan gaji. Layaknya pesangon.


" Mbak Asti, ini benar uang buat si Mbok?"


" Iya, Mbok. Rumah ini akan sering ditinggal, Mbok. Terima kasih ya sudah merawat Akbar dari lahir sampai sudah sebesar ini."


Memang, selama sebulan ini Asti sering bolak - balik dari kota ke rumah yang sudah selesai hampir selesai dibangun. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, kurang lebih 45 atau 50 menit dengan naik motor. Namun resikonya agak berat karena dia harus membawa Akbar dengan mengendong bayinya di depan. Bayinya akan terkena terik matahari, debu dan asap kendaraan.


Diam- diam dia sudah memindahkan separuh dari pakaiannya dari rumah dinas Satrio ke lemari yang ada di rumah barunya. Tentu dibantu Joko yang hanya datang dua kali saja, barang- barang Asti dan Akbar terangkut semua.


Kamar tidur utama di rumah baru Asti, sudah ditata oleh Mbak Almira Jayanti. Gadis cantik itu dulu yang diperkenalkan Mas Adam sebagai tunangannya. Dia baru lulus dari sebuah kampus yang memberinya kemampuan untuk menata ruangan.


Sekarang beberapa ruang di lantai satu, di rumah baru Asti itu sudah mempunyai perabot yang sesuai dengan keinginan Asti. Perabot yang simpel, modern dan tampak menyatu dalam gaya rumahnya yang minimalis modern.


Kedua, dia harus meminta pertolongan seseorang. Terutama orang itu yang punya pangkat dan kedudukan yang lebih tinggi dari Satrio. Siapa lagi kalau bukan Pak Sadewa ? Suami Ibu Anggita.


Susah payah Asti memikirkan hal itu. Tak mungkin dia langsung ngomong soal Satrio tanpa bukti. Mungkin dia bisa berdiskusi dulu dengan Ibu Anggita. Sayangnya Ibu Anggita sangat sibuk dan susah ditemui akhir-akhir ini.


Yah, sejak si kembar dimasukan ke dalam play group. Walaupun masuknya hanya seminggu tiga kali. Tetap saja, Asti harus merepotkan wanita itu, yang selama ini saya dah sangat baik padanya.


Sampai Asti memberanikan diri untuk meneleponnya.


" Ada apa, Bu Satrio?" tanya Ibu Anggita.


Padahal Asti hanya sekali memencet tanda panggil di nomor wanita cantik dan ramah itu. Ternyata sudah terhubung.


" Saya mau minta tolong, Bu kalau nggak merepotkan. Bisa Asti datang ke rumah Ibu. Atau...."

__ADS_1


"' Mbak Asti, aku yang datang ke rumahmu sekarang. Mumpung si kembar lagi istirahat di kamarnya!"


Tak lama terdengar suara wanita itu memberi salam di depan pintu rumahnya. Asti sudah mempersilakan wanita itu masuk, lalu menutup pintunya.


Sambil menyediakan teh manis hangat dan camilan, mereka berbicara di ruang tengah. Takut ada tetangga kepo dengan urusan pelik seperti ini.


" Satrio berselingkuh, Bu Anggita!"


Ucapan pelan itu membuat wanita cantik itu terpekik. " Jadi bener gosip ini?"


"'Maksud Ibu Anggita gosip apa, ya?"


" Itu, Jeng Inneke sering sesumbar kalau umur pernikahan Mbak Asti dan Satrio nggak bakal lama!"


Mata Asti mengerjab. Dia harus kuat." Apa yang harus saya lakukan, Bu?"


" Gampang, Bu! Kita cari bukti perselingkuhan Pak Satrio. Kalau ibu mau bercerai bisa dilaporkan ke kantor. Tetapi kalau masih mau mempertahankan pernikahan, pelakor itu bisa kita hajar."


Kertas berisi alamat itu segera Asti perlihatkan kepada Ibu Anggita. Walaupun sama- sama pendatang baru di kota ini, karena mengikuti tugas suami.


Tampaknya Ibu Anggita sangat paham dengan lika-liku berbagai jalan dan tempat di kota ini. Sebab Ibu Anggita sering keluar rumah dengan mobil pribadinya yang masih baru. Setidaknya wanita itu tahu seluk beluk lokasi rumah yang ditempati Zahra.


" Kurang tahu, Bu. Mungkin ngontrak!"


Wanita itu menggenggam erat kedua telapak tangan Asti dengan sangat erat. "Jangan takut, Asti! Saya akan bantu masalah ini."


Tanpa sadar Asti menangis tanpa suara. Bahunya berguncang - guncang .Dia sudah hampir tiga bulan ini menahan semua beban itu.


" Saya mau bercerai saja, Bu! Sudah sangat lelah lahir - batin dengan perlakuan Satrio selama ini."


" Jangan menyerah begitu saja, Mbak Asti. Ayok, besok kita datangi alamat itu saja. Kalau di sana ada Satrio langsung kita libas. Tetapi kalau hanya ada si perempuan itu saja, kita korek keterangan sampai sejauh mana hubungan mereka itu. Kita harus merekamnya agar dijadikan bukti fisik di pengadilan."


"Kok, ibu faham soal seperti ini?"


Wanita itu tersenyum malu. "Dulu saya pernah membantu kakak sepupu yang sama keadaannya seperti Mbak Asti! Kita cari tim yang solid mencari fakta dan data. Si pelakor itu mundur, karena semua harta benda itu milik istri dan anak- anaknya kalau mereka bercerai."


"Ibu Anggita juga lulusan sekolah hukum, kah?"

__ADS_1


" Saya lebih ke hukum perdata, Mbak Asti. Karena bantu urus perusahaan papa di Yogyakarta. Tetapi masih ada teman yang jadi pengacara. Nanti saya minta satu orang yang paling handal untuk menggurus masalah ini."


" Terima kasih banyak, Bu!"


" Mbak Asti kita besok jalan jam 09.00 saja. Si kembar biar dijaga Mbak Sari dan Eyang Uti."


Ketika mereka berjalan sampai keluar rumah, tiba- tiba wanita itu menarik napas lega.


" Ada apa, Bu?"


" Sepertinya di dalam rumahmu itu ada hawa yang nggak enak, ya. Saya merasa sesak dan gelap gitu."


" Masa sih , Bu?"


" Pokoknya, Mbak Asti jangan putus berdoa. Hanya pertolongan Allah saja yang dapat membantumu menyelesaikan semua persoalan ini."


Keesokkan harinya, Asti sudah mempersiapkan keberangkatan terutama dengan Akbar. Wajah bayinya agak tirus sedikit, karena pikiran Asti terus bercabang- cabang sejak sebulan ini, jadi turut berpengaruh ke bayinya juga.


Mobil city car Ibu Anggita yang berwarna putih bersih itu sudah berada di depan rumah. Wanita itu memberi kode dengan membunyikan klakson dua kali.


Asti sudah keluar dengan Akbar yang sudah digendongnya. Ada satu tas bayi yang telah dibawa. Hape full baterai juga dengan kuota internet. Dia agak lebih bersemangat sedikit.


Ibu Anggita mengemudikan mobilnya itu dengan cermat. Jalan menuju ke tengah kota mulai memadat. Sampai mereka di dekat alun- alun kota lalu berbelok mengambil jalan ke arah kiri. Dari balik taman dan kehijauan daun- daun tampak gapura nama perumahan elite itu berdiri megah.


Di pintu masuk, Ibu Anggita memperlihatkan identitas dirinya, sebelum dipersilakan masuk oleh petugas yang berjaga di sana.


" Jangan bingung, Mbak. Pak Sadewo pernah mau menyewa rumah di sini, sewaktu kembar masih bayi. Tempat ini mudah menjangkau ke mana- mana terutama ke rumah sakit."


Deg, dada Asti seperti dipukul benda kuat yang membuatnya sakit. Yah, jarak rumah sakit tempat Zahra bekerja lebih dekat di jangkau dari rumah ini.


" Cuma itu, Mbak. Sewanya perbulannya saja mahal sekali. Mending sewa apartemen di Yogyakarta saja! "


" Ini jalan Taman Firdaus III, Bu!" Jelas Asti. Mereka terlewat sedikit.


Saat mulai berbalik, Ibu Anggita melihat plang yang bertulis ketua Rukun Tetangga RT 001/RW 02.


Wanita menghentikan mobilnya di jalur kiri, agar lebih leluasa kalau ada mobil lain yang masuk ke jalan ini.

__ADS_1


" Kita tanya di rumah pak RT ini, sekaligus mencari informasi tentang status hubungan wanita itu dengan Pak Satrio!"


__ADS_2