Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 123. Menyergap Si Penguntit


__ADS_3

Joko membawa mobilnya menuju jalan raya ke tengah kota. Dia akan menjumpai Mas Barep dan Bambang yang menetap di sebuah rumah yang berdekatan dengan kompleks perumahan elite yang ada di kota ini.


Firman tampak asyik menikmati pemandangan kota dengan jalan dan pemukiman warganya lebih rapi dan teratur. Kendaraan yang melintas pun di atur secara dua arah, dalam dua lajur jalan yang dibatasi oleh pembatas dari beton. Para pengemudi pun masih mematuhi berbagai aturan dan tata tertib lalu lintas.


Mobil memasuki sebuah kampung kecil tepat di belakang kompleks. Di depan sebuah rumah semi permanen itulah mereka berhenti. Dari luar tampak aneka jenis motor yang sudah dimodifikasi berjejer di teras yang beratap asbes dan tiang bambu.


" Assalamualaikum!" Seru Joko.


Ada seseorang dengan pandangan waspada menatap kedatangan mereka. " Walaikum Salam! Mas Joko, ya? Mari masuk. Silahkan!" suara pemuda itu terdengar agak lega.


Firman melihat sebuah rumah hunian yang cukup bersih. Padahal dulu dia mengira para anak gang motor itu hampir identik dengan anak- anak liar yang malas bekerja, suka meminta uang kepada pedagang dengan memaksa dan suka membuat onar!


Mereka duduk di tikar. Beberapa anak motor lainnya sedang menjemur pakaian. " Saya, Totok . Mas. Tadi Mas Barep mau nunggu di rumah Yu Reni. Tetapi mereka ada keperluan sebentar."


Tak lama ada anak buah Mas Bambang yang membawa baki berisi kopi. Padahal di rumah Ibu Anggita pun mereka juga sudah disuguhkan kopi.


" Kamu Jono, ya?"


" Iya, Mas."


" Tolong bisa antarkan temanku ini cari warung nasi terdekat di sini! Di rumah ini ada berapa orang?"


" Sepuluh kalau dihitung sama Mas Joko dan temannya ini! "


" Ya, sudah. Kamu beli nasi campur sepuluh bungkus. Kalau ada gorengan dan kerupuk beli saja!"


Joko memberikan tiga lembar seratus ribuan pada lelaki yang bernama Jono itu. Firman agak ngeri juga dibonceng Jono dengan motor besar yang penuh dengan aksesoris dan berbagai variasi cat di motor itu. Belum lagi suara lantang motor itu saat membelah jalan raya kota.


Suara motor yang lebih keras lagi terdengar hampir bersamaan datang memasuki jalan samping. Tampak Mas Barep dan Bambang turun dari tunggangannya itu. Mereka sangat senang karena Joko mau berkunjung ke markas mereka.


" Apa kabar, Mas?" Sapa mereka hampir bersamaan. Tubuh Joko dipeluk bergantian oleh kedua saudara sepupu itu penuh rasa persaudaraan.


" Sudah dapat informasinya?"


" Sedikit lagi! " ujar Joko." Dia sepupunya Zahra, Ryan. Pemuda yang selama ini menjadi supir yang mengantar Satrio ke kantor."


" Jadi mantannya Asti itu pincang?"


" Kata Bu Anggita , Satrio menolak di operasi kembali agar penyambungan tulangan di kakinya lebih sempurna..."

__ADS_1


" Uang dari mana lagi, dia? " Ejek Mas Barep. " Bayinya saja memerlukan biaya besar untuk operasi di kepalanya. Belum lagi ada ibu mertua dan pembantu rumah tangga. Zahra pun juga sudah tidak bekerja lagi... Kena karma mereka!"


" Sebenarnya dalam agama kita tidak ada karma, Mas !" jelas Joko " Tetapi apa yang mereka lakukan, itulah yang akan mereka dapatkan!"


" Betul itu! Anak kandung ditolak keberadaannya. Tidak dinafkahi dengan layak! Sekarang punya bayi yang mengalami kelainan, harus sering kontrol ke rumah sakit dan harus menjalani operasi... Itu belum seberapa dari rasa sakit hatinya Asti dengan perselingkuhan yang mereka lakukan."


Ucapan Bambang itu membuat Joko menghela nafas panjang. " Sekarang apa tujuan Zahra atau Satrio mengamati rumah Asti... Aneh kan? sudah mengalami kesulitan seperti ini bukannya bertobat, malah cari perkara!"


" Si penguntit itu benar dari rumah Satrio? Sebab kami nggak berani masuk ke kompleks sana, Bro? Terlalu beresiko."


" Eh, sebentar! Aku pernah membuka medsos dari Ryan itu, deh! Dia pamer motor baru itu di Facebook..."


Tak lama Barep, memperlihatkan foto- foto pemuda itu di sebuah akun FB dengan nama Ryan zo. Wajah pemuda itu sebenarnya biasa-biasa saja. Tapi tongkrongan motornya yang harganya cukup merogoh kocek yang agak dalam juga itu membuatnya tampil keren! Cukup menjadi daya pikat untuk beberapa cewek yang nyangkut dan mau berfoto dengannya berlatar belakang motor tersebut.


" Bagaimana ini, Bro?" tanya Bambang.


" Begini... Kami sudah membuat portal di samping ruko. Biar kami sergap di sana... Tolong kalian pantau Ryan dari rumah Yu Reni! Kan nggak mungkin kami harus menunggu setiap hari kedatangan Ryan ke sana?"


" Oh, begitu... Oke! Nanti kami tempatkan satu orang di kampung depan kompleks itu. Satu lagi di dekat jembatan batas luar kota."


" Terimakasih kasih banyak atas bantuannya. Saya takut saja, Ryan diutus untuk mengacaukan hari pernikahan Asti."


" Maksudnya, Mbak Asti mau menikah lagi? Aduh, patah hatiku, Rek!" gurau Bambang sedih. " Aku ini apalah, ya apalah..."


" Sorry, Bro! Perceraian itu cukup menjadi pelajaran pahit bagi Asti. Pak Leon pun memerlukan waktu berbulan- bulan sampai Asti mau membuka hatinya..."


" Pak Leon itu yang punya proyek pembangunan perumahan di kampung belakang rumah Asti, kan?" tanya Barep.


" Betul itu..."


" Wah, Mbak Asti membuang si sontoloyo Satrio malah dapat pengusaha besar. Calon sultan dia?"


" Kok, kamu tahu tentang Pak Leon?" tanya Joko agak sedikit kepo.


" Di warungmu itu rame, Bro. Cewek - cewek ngomongin Leon... Yah, tipe suami Idaman para wanita muda zaman sekarang, tampaknya ...."


Tak lama Jono masuk sambil memarkir motornya agak di luar pagar rumah. Kedua pria itu menggotong dua kantong kresek besar berisi makanan dan minuman


" Wah, kita dapat rezeki besar teman - teman. Ayok, makan siang!" ujar Jono gembira.

__ADS_1


Bungkusan nasi dikeluarkan dari kantong kresek dan dijejer di atas tikar. Minuman ditumpuk di ujung ruangan. Totok membawa baskom plastik berisi air untuk cuci tangan. Beberapa anak buah Bambang berkumpul di sana, lalu mengambil bungkusan nasi dan minuman es teh yang dibungkus plastik transparan.


Mereka pamit setelah makan bersama siang itu selesai. Bambang semakin terharu karena mereka juga diundang pada acara pernikahan Asti. Bahkan diminta pertolongan untuk menjaga keamanan di malam harinya juga dua malam sebelumnya.


Kendaraan roda empat berwarna merah itu terlihat gesit ketika melesat meninggalkan daerah perkotaan menuju luar kota. Tampak juga perbatasan yang ditandai aliran sungai yang agak besar. Mereka harus melintasi jembatan dari besi untuk melintasi di atas sungai itu. Sungai yang terkenal oleh alirannya yang tenang. Namun akan membawa banjir besar saat di musim penghujan. Musibah itu biasanya dialami penduduknya yang tinggal di pinggiran sungai yang bermuara di ujung Utara provinsi Jawa Timur.


Sisa perjalanan memperlihatkan beberapa perubahan yang nyata di daerah ini karena pesatnya pembangunan di sana. Hampir di sepanjang jalan terdapat toko, warung dan pusat keramaian.


Mobil mulai melewati simpangan tiga. Setelah tiba di dekat lampu merah, mereka berbelok ke kanan dekat ruko. Suasana di daerah ini hanya ramai pada jam tertentu. Yaitu pagi dan sore. Mobil berhenti sebentar, Firman turun dari pintu kiri mobil. Dia berlari untuk membukakan pagar di depan rumah Asti agar mobil itu dapat masuk garasi.


Barulah dua hari kemudian, Joko ditelepon oleh seseorang dengan nama panggilan Joy.


" Mas Joko, sasaran bergerak ke ke arah rumah Mbak Asti!"


Joko segera menemui Mas Yanto untuk bersiap - siap. Kalau si penguntit itu menggeber laju motor sportnya, mungkin perjalanan ke tempat ini dapat ditempuh dalam waktu 30 menit.


Di balik pagar sudah ada Joko, Nardi ketua pemuda kampung ini dan tiga pegawai Joko lainnya. Ada satu pemuda lainnya yang bersembunyi di depan rumah Ibu Atiek, yang membuka warung dengan menjual berbagai macam kantong dan wadah plastik.


Suara motor itu terdengar dari kejauhan. Dia bergerak lebih perlahan saat memasuki jalan di depan rumah Asti. Saat motor melaju ke arah barat, portal didorong oleh Mas Yanto dan anak muda yang lain. Mereka segera bersembunyi. Untuk mengantisipasi keadaan, portal segera digembok.


Tak lama, terdengar motor itu berbalik setelah berjalan ke arah barat kurang dari 1000 meter.


Tiba- tiba suara mesin motor berhenti.


Tepatnya setelah beberapa meter melewati pagar rumah Asti.


Pengendara motor itu berteriak kesal. " Sialan!"


Tentu saja, dia tak berani menerjang besi portal yang cukup kuat karena terbuat dari batangan besi utuh. Kalau dipaksakan untuk ditabrak pun mampu meremukkan body motor sport mahalnya itu.


Segera Joko bergerak ke tempat itu.


" Ada apa, Mas?" tanya Joko


" Ngapain, portal ini digembok?" tanya pria itu berang sambil turun dari motor. Si pengemudi motor itu masih mengunakan helm hitam dan masker penutup di wajahnya.


" Mas bukan warga sini kan. Mau cari apa?" tanya Joko sinis.


Mungkin karena merasa terganggu, akibat perjalanannya mendapat hambatan lelaki itu mendekati Joko yang berdiri tak jauh dari pintu pagar. Sebelum lelaki itu akan memukulnya, Joko cepat meringkusnya. Gerakan itu hampir tidak dapat diterka.Tubuh lelaki itu didorong masuk ke dalam halaman rumah Asti. Mas Yanto dan satu pemuda lainnya segera mendorong motor itu agar masuk ke halaman rumah Asti. Pagar rumah segera ditutup kembali. Suasana jalan itu kembali seperti sediakala. Sepi...

__ADS_1


Pemuda yang tadi membantu penyergapan itu kembali membuka gembok dan mendorong posisi besi portal kembali ke tempat semula. Sehingga jalan itu dapat dilalui kendaraan dengan leluasa.


Jalan kampung itu agak sepi menjelang pukul sebelas siang. Walaupun di depan ruko berbagai kendaraan besar dan kecil melintasi jalan penghubung antar kota itu yang cukup lebar dan beraspal mulus.


__ADS_2