
Suasana di rumah kediaman Pak Prayoga sangat ramai. Kebanyakan para ART dan para supir ngobrol di teras halaman belakang. Mereka sudah mandi dan bersiap pergi meninggalkan tempat itu.
Akbar duduk diapit Lek No dan Bulek Ratih. Sedangkan Qani digendong Ninuk. Leon dan Pak Cakra sudah melakukan reservasi di sebuah restoran yang menjadi tempat mereka semua berkumpul di malam nanti.
" Ayok, kita berangkat!" ajak Pak Prayoga memberi aba-aba. Beliau sudah mengganti seragam dinasnya itu dengan memakai pakaian yang lebih santai. Berupa t-shirt hitam dan celana jeans biru. Tak lupa menyandang tas bahu kecil yang harganya juga tidak sekecil bentuk tas selempang dari kulit berwarna hitam.
Rombongan keluarga besar itu terbagi atas tiga jenis kendaraan beroda empat. Pada mobil Elf, memuat hampir semua anggota keluarga Asti. Di dalam Pajero ada Pak Cakra, Joko dan Mas Topan. Sementara di sebuah Fortuner yang dikemudikan oleh Pak Prayoga sendiri kali ini tanpa supir . Duduk di samping beliau adalah Ibu Hernani yang duduk anggunnya.
Perjalanan menuju ke restoran itu hanya menempuh waktu tak sampai 30 menit saja. Rombongan itu segera memenuhi meja pojok yang dipilih sendiri oleh Pak Prayoga agar mereka lebih bercengkrama di sana. Tanpa mengganggu pengunjung yang lain.
Tinggal menunggu kedatangan Mas Adam David dan seorang pria muda yang bernama Bakti. Pria itu selain sebagai supir, merangkap juga sebagai pengawalnya pribadinya. Mereka selalu meledeknya dengan menyebutnya ajudan. Sebagai bahan banyolan di antara anggota keluarga besar Basuki Murti. Karena diantara mereka, tidak mengikuti jejak sang ayah atau bapak mertua yang menjadi ABRI atau tentara.
Tak berapa lama terlihat rombongan Pak Sampurno datang. Mereka tidak hanya datang bertiga, tetapi berempat!
Semua menatap sosok wanita lain, yang berjalan di samping Mbak Nindya, yang merasa tampil paling memukau di sore itu. Siapa lagi kalau bukan, Tante Dian?
" Waduh, ada burung merak lepas dari kurungannya ini!" Bisik Pak Cakra kepada Joko dan Topan.
Kedua orang yang diajak ngobrol, hanya menahan tawa. Sebab Pak Cakra baru mengenal sikap dan tabiat wanita itu saat mereka bepergian satu mobil dulu, ketika diajak kota Madiun. Tanpa sadar pria itu meraba cincin kawinnya, sebagai ikatan suci dengan wanita yang kini dengan setia menunggunya. Tetapi Tante Dia itu seperti tidak mempedulikannya arti cincin nikah itu, sebab terus mengincar sosok, Leon Narendra Murti. Atau pria lainnya.
Memang si Tante yang satu itu, berpenampilan paling wah, di antara para wanita dan gadis yang ada dalam rombongan di sana. Padahal ada Ibu Sarita dan Ibu Hernani, yang merupakan istri pejabat di daerah ini. Kebanyakan semua orang yang hadir di sana, berpakaian lebih santai dari keseharian mereka.Termasuk Ibu Hernani dan Ibu Sarita yang mengenakan gaun batik biasa. Sebab acara mereka adalah kumpul - kumpul bersama keluarga dengan kekerabatan dari pendahulu mereka yang merupakan keturunan Winangun.
Lain halnya dengan Mbak Dian itu, yang tampil dengan gaun berwarna merah darah, dengan leher berkerah Sabrina. Sehingga memperlihatkan leher, pundak dan sedikit belahan dadanya yang sedikit membusung itu. Sebab dia bertubuh montok.
Panjang gaun pun hanya setinggi di atas lututnya itu. Gaun itu berpotongan pas badan dari bahan beludru. Belum lagi sandal tingginya yang bersol tebal. Yang membuat mereka kaget, Tante Dian berdandan ke salon dengan menata rambutnya dengan Curly besar ala boneka Barbie. Rambut itu juga dicat dengan warna yang lebih sedikit terang dari yang biasanya, agak coklat muda, seperti brunert.
Semua anggota Pak Sampurno itu menyalami Leon dan Istrinya.
Lucunya, malah Tante Dian segera berbalik arah. Padahal di depannya, Asti sedang dipeluk dan diciumi Ibu Ibu Sarita dan Nindya . Mereka cukup senang dan lega, melihat Asti lebih ceria, dan lebih sehat dari hari - hari yang kemarinnya.
Leon dibantu Ninuk, mulai menuliskan pesanan setiap orang yang dibebaskan memilih menu pilihan Mereka. Siang tadi , Pak Ndaru yang merekomendasikan restoran ini, yang merupakan milik rekan bisnisnya juga. Sebuah usaha kuliner kekinian, yang menyajikan masakan ala Jawa Timuran, yang disajikan secara lebih modern dengan konsep suasana yang nyaman dengan taman yang ditatap apik.
" Siapa yang pesan soto, rawon atau ayam bakar?" Begitu suara Ninuk yang berjalan mengelilingi setiap orang di meja besar itu... Dia dibantu oleh seorang pelayan restoran yang menuliskan permintaan menu itu.
Tak sampai sepuluh menit, berbagai pesanan itu terhidang di depan meja besar itu. Justru Para ART dan supir memilih meja tersendiri, yang lebih kecil di samping meja besar. Tempat para kerabat Asti itu duduk mengeliling meja- meja kayu yang sudah disatukan, oleh para pekerja di restoran ini atas inisiatif dan permintaan Leon.
__ADS_1
Ada empat belas orang dewasa mengelilingi meja besar itu. Juga dua balita yang duduk di kursi khusus untuk mereka di sebelah Asti dan Leon.
" Saya hanya berniat untuk menyampaikan rasa terima kasih, pada Keluarga Pak Sampurno dan keluarga Pak Prayoga karena banyak dibantu dalam urusan lahan di desa Sumber Sari. Terimakasih banyak."
" Sama-sama Leon!" ujar Pak Sampurno dan Pak Prayoga hampir bersamaan.
Tak lama datang Mas Adam David dengan ajudannya itu. Kehadiran kedua pria yang tampaknya hampir sebaya itu agak menyilaukan mata Tante Dian. Yang tampa sadar membuatnya tersenyum sangat lebar. Katanya dalam hati, tidak salah dia berdandan all out hari ini! Karena dia berada di antara para pria tampan, mapan dan yang salah satunya akan menjadi pria di masa depannya kelak! Itulah harapannya.
" Assalamualaikum!" sapa Mas Adam ramah. Dia menyalami semua orang kecuali para wanita. Setelah dia cukup mempelajari, kalau wanita berhijab seperti Asti, Ninuk dan Bulek Ratih tidak menerima jabatan tangan dari pria lain. Apalagi ketiga ART Asti pun juga berhijab walaupun lebih sederhana dengan kerudung biasa, yang tidak terlalu tertutup dan panjang.
Tentu pria yang dikenalkan Leon kepada keluarga Pak Sampurno sebagai kakak iparnya itu mendapat sambutan yang hangat dan ramah.
" Mas Adam ada hubungan dengan Hairil David, pengusaha otomotif di Surabaya?" tanya Pak Sampurno tiba - tiba.
" Itu Om saya, adik Papa saya, Pak!" jelas Mas Adam ramah.
Pak Sampurno tertawa bahagia. "Jadi inilah direktur utama, perusahaan properti Abadi Murti itu yang ada di Semarang itu?"
Leon menepuk bahu kakak iparnya dengan bangga. " Ya, ini dia orangnya. Di sampingnya adalah sahabat sekaligus tangan kanannya!" Tambah Leon lagi, sambil menepuk bahu Bakti dengan akrabnya.
Ninuk segera berdiri dan memanggil pelayan di restoran itu untuk mencatat pesanan dari Pak Adam dan asistennya.
" Bagaimana Ninuk? Lancar kuliahnya?" tanya pria itu ramah.
" Lancar Mas, berkat doanya!" ucap Ninuk sopan.
Tadi siang di kelurahan mereka hanya sempat ngobrol sebentar dengan keluarga Lek No dan anak -anaknya. Pria itu maklum saat adik iparnya lebih nyaman tinggal di desa Sidodadi. Sebab Leon bersama dengan orang-orang yang bersikap sopan, ramah dan terbuka kepada orang lain. Apalagi mereka juga berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan terhormat di desa Sendang Mulyo itu.
Selesai makan para pria itu ngobrol banyak. Apalagi topik hangat tentang proyek pembangunan yang akan dilaksanakan di desa Sumber Sari tersebut.
" Kami berterima kasih banyak atas bantuan Pak Sampurno dan Pak Prayoga. Semoga kami dalam waktu yang dekat, segera dapat menyiapkan sarana dan infrastruktur terlebih dahulu!" ujar Mas Adam.
Sesekali Bu Hernani dan Ibu Sarita ikut berbicara juga. Sebab mereka juga ikut senang apabila proyek perumahan itu segera terwujud.
" Oh, bukan kamu, Leon yang memegang proyek di sini?"
__ADS_1
" Wah, kami juga baru dalam tahap pembangunan perumahan yang kedua, Pak! Niscaya Mas Reyhan juga mampu membuat proyek yang lebih bagus lagi. Mungkin saya akan melibatkan Joko dan satu asisten saya yang lainnya untuk membantu di sini!"
"O kalau Joko mau, biar dia tinggal di rumah saya saja!" sela Ibu Hernani. " Pantas Ndaru sudah menyiapkan rumah dan kantor di depan jalan desa sana , ya!"
" Iya, Bu. Untuk kantor administrasi sekaligus kantor pemasaran! Kalau memungkinkan saya akan mencari rumah siap huni untuk keluarga Mbak Alya!"
Leon sudah menerima kartu kredit yang diberikan oleh Pak Cakra untuk membayar semua pesanan makanan mereka.
" Kami sekalian pamit melanjutkan mau melanjutkan perjalanan ke kota Malang!" ucap Leon.
" Selamat jalan Nak Leon, Asti. Mas No dan Mbak Ratih!" seru Pak Sampurno.
Mereka sempat sholat Magrib di mushola restoran ini. Di depan restoran kembali mereka bersalaman dan berpamitan. Mas Adam dan ajudannya akan segera kembali ke Semarang. Sedangkan Leon dan keluarga Lek No akan melanjutkan perjalanan liburan mereka ke Malang.
Tiba- tiba Mbak Nindya datang memberikan boneka binatang berbulu yang besar dan lucu kepada Qani. " Ini buat dedek Qani yang cantik!" bisik Nindya sambil mencolek pipi chubby bayi itu. Mata Qani terbelalak mendapat boneka lucu itu.
" Bilang apa , Dek. dengan aunty Nindya?" tanya Leon lembut.
" Asih!" bisik Qani terbata-bata.
" Thanks Aunty! " jelas Leon.
" Your welcome!" bisik Nindya terharu. Tadi dia asyik ngobrol dengan Ninuk, Putri dan Mas Joko.
Boneka itu terus dipeluk Qani. Padahal besar dan tingginya boneka hampir sama dengan tubuh bayi itu. Nindya memberikan boneka bantal dengan karakter seperti sebuah kartun Thomas yang berbentuk kereta kepada Akbar.
" Bismillah!" Doa Lek No ketika mobil Elf yang dikemudikan Pak Sugeng meninggalkan pelataran parkiran restoran itu. Doa itu juga ditambahkan Asti dengan membaca beberapa surat pendek lainnya. Meminta diberi keselamatan kepada Allah SWT, selama menempuh perjalanan panjang itu.
Mereka menikmati pemandangan kota Madiun di waktu malam, sedangkan mobil itu terus bergerak menuju ke arah timur kota.
" Sekuatnya ya, Mas Sugeng! Nanti kita akan cari masjid atau SPBU untuk beristirahat! Untuk sholat Isya!"
" Iya, Pak No!"
Leon duduk di samping Asti bersama Qani dan Akbar . Dibelakang mereka ada Ninuk, Lek No dan Bulek Ratih. Di kursi belakangnya lagi ada Putri, Mbak Ning dan Bu Jum. Di Sisi mereka ada tas keperluan bayi, makanan cemilan dan tumpukan kardus air mineral.
__ADS_1