Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 131. Kebersamaan yang Indah


__ADS_3

Acara pernikahan Asti kali ini sepertinya menjadi ajang acara beramah tamah. Pak Leon terus mendampingi keluarga besarnya yang ada di ruang tengah dan ruang tamu untuk menikmati hidangan. Tak peduli mereka harus bolak- balik keluar rumah untuk mengambil makanan yang tersaji cukup banyak variasinya di tenda samping.


Ternyata menu makanan yang disajikan cukup memenuhi selera mereka. Apalagi berbagai cemilan, kue- kue dan es dawet yang disediakan pada gubuk- gubuk itu sangat menarik dengan citra rasa asli makanan di daerah itu yang berbeda dengan daerah lain.


Keluarga besar dari pihak pengantin laki-laki itu merupakan keluarga inti dari Leon dan kerabat dari kedua orang tuanya. Di sana ada Ibu Anggun dengan kedua anak perempuan sekaligus suami mereka. Sedangkan sang cucu hanya dibawa yang paling kecil saja. Gadis kecil itu anaknya Mbak Mesya yang berusia 7 tahun. Merekalah yang ditampung di kamar kost, paviliun milik Pak RT.


Lain halnya dengan kerabat Leon yang ramai- ramai menginap di rumah salah satu keluarga mereka di pinggiran kota Solo. Yang jarak tempuhnya hampir mencapai 30 menit lebih bila mengunakan kendaraan roda empat. Kecuali jika jalan penghubung itu tidak mengalami kemacetan di jam tertentu dan hari tertentu.


Saat itu terlihat tamu- tamu undangan lainnya mulai berdatangan. Setelah sebelumnya ada konvoi kendaraan yang diarahkan oleh Mas Yanto untuk parkir di lahan kosong di sebelah kanan rumah Asti.


Wajah Asti sangat gembira sekaligus terharu ketika melihat kedatangan rombongan itu. Di antara mereka ternyata ada Ibu Anggita, Ibu Imelda juga Mbok Bayah.Tak ketinggalan Eyang Uti dan duo kembar, Tarra dan Torro.


Mereka juga datang bersama para ibu tetangga dan ibu yang tergabung dalam organisasi para istri abdi negara itu. Para wanita itu tetap mendukung dan berteman baik dengan Asti. Walaupun Asti sudah mengundurkan diri setelah perceraiannya dengan Satrio tuntas di Pengadilan Agama setempat.


Dalam sekejap Asti sudah dipeluk sana-sini oleh rombongan ibu- ibu heboh itu. Ada yang menciumi pipinya penuh rasa rindu. Sampai air mata Mbok Bayah menetes haru karena Asti telah menikah lagi. Terlihat pancaran kebahagiaan di wajah Asti yang terlihat semakin cantik di siang hari itu.


" Dek, sini Dek!" Panggil Ninuk pada Akbar yang masih dalam gendongan Bu Jum. " Ada Mas kembar, Dek!"


Akbar patuh dengan permintaan sang tante dan mau turun dari gendongan pengasuhnya. Justru Ibu Anggita yang gemas saat melihat Akbar berjalan mendekati ibunya. Bayi gemoy itu dituntun Ninuk.


" Ini Akbar, Asti? Ya, ampun gantengnya, dan jalannya sudah lancar lagi!" seru wanita itu keras. Segera digendongnya bayi lucu itu yang hari ini memakai kemeja kotak-kotak biru dengan celana panjang denim dan sepatu kets biru. Sangat bergaya.


Kedua pipi gembul Akbar diciumi Ibu Anggita penuh rasa sayang. Akbar hanya tersenyum manis saat ditimang wanita cantik itu dengan penuh rasa sayang.


Tiba- tiba datanglah Leon dari dalam rumah. Seketika kehadiran pria itu membuat para ibu- ibu itu terpana, suara ribut mereka berhenti seketika. Malah ada seruan yang keluar dari bibir mereka untuk menyebutkan nama- nama aktor tanah air kesayangan, yang katanya hampir mirip dengan wajah suami baru Asti.


" Chiko Jerikho!"


" Nikolas Saputra!"

__ADS_1


" Jefri Nicol!"


Mata para wanita itu semakin melotot ketika pria itu memeluk bahu Asti dengan mesra. Ada rasa kagum juga tak percaya kalau pria tampan dan mapan inilah yang menikahi Asti.


Aura Leon tampak semakin mempesona, walaupun sudah melepaskan jas pernikahan yang tadi dikenakannya saat ijab kabul. Pria itu tersenyum memperkenalkan dirinya , sambil menyalami satu- persatu tamu undangan yang sebagian besar merupakan para kaum hawa yang dulunya adalah teman dan tetangga Asti semasa menjadi istri seorang Satrio!


" Leon!" Jawab pria itu.


Sampai ada seorang pria tampan lain yang baru datang menepuk bahu Leon dengan kuatnya. Dia datang bersama Ibu Safitri Wicaksono, yang juga merupakan istri dari pimpinan tertinggi dari tempat dinas Satrio sekarang.


Kedua pria tampan yang hampir seumuran itu bertatapan. Lalu berseru hampir bersamaan.


" Leon?"


" Mas Harry!"


Mereka tidak saja saling tos dengan telapak tangan. Tetapi berpelukan dengan hangat. Sampai acara temu kangen itu terpotong oleh ucapan Asti.


" Jangan takut, Asti! Justru saya yang mencontek undanganmu untuk Ibu Anggita. Saya selalu mendoakan untuk kebaikan hidupmu selama ini! Tetapi saya juga punya kejutan untukmu. Ternyata menantu saya merupakan sahabat dan tetangga Leon dan keluarganya saat tinggal di Semarang!"


Kehebohan itu bukan saja membuat para tetangga Asti yang mendengarnya yang ada di sana menjadi iri. Justru semakin hormat! Apalagi ketika mereka melihat berbagai jenis mobil yang datang dan parkir di samping rumah Asti.


Kendaraan itu semuanya bagus- bagus dan masih terlihat baru dan terbaik di kelasnya. Mobil - mobil itulah yang membawa rombongan itu datang ke pesta sederhana yang digelar Asti siang ini


" Tante Anggun!" panggil menantu Ibu Safitri ketika melihat ibunya Leon datang menyalami tamu Asti .


" Kamu Harry Erlangga?"


Wah, tambah heboh lagi. Sebab Ibu Anggun dan besannya ibu Safitri itu selama ini hidup bertetangga di Semarang. Asti mendampingi mereka untuk memilih makanan yang tersedia. Mereka bebas memilih sajian utama ataupun yang tersaji di gubuk-gubuk sebagai pembuka atau menutup makanan utama.

__ADS_1


Tentu saja para tamu itu menarik perhatian para tetangga Asti yang juga hadir sebagai tamu undangan. Apalagi di sana juga hadir Bu Dian dan suaminya. Wajah Bu Dian semakin tak sedap dipandang mata. Matanya sedikit melotot melihat serombongan ibu-ibu itu yang disambut lebih ramah dan hangat oleh Asti dan suami barunya itu.


Tentu saja, Ibu Dian sudah berjanji untuk bersikap baik- baik saat diajak suaminya untuk datang ke acara ini. Walaupun sudah gatal mulutnya untuk mencela dan mengkritik cara Asti menikah dengan gaya baru ini. Maklum keinginan kaum muda sekarang, menurutnya agak nyeleneh....


Tak mengundang para tetangga untuk rewang atau bantu- bantu di dapur untuk menyiapkan segala hidangan pesta. Tidak memakai jasa orang untuk mendekor pelaminan ataupun menghias rumah ini agak terlihat lebih ramai dan lebih meriah sebagai mana orang kampung mengadakan hajatan di rumahnya. Walaupun rumah Asti ini sudah cukup besar dan bagus di antara para rumah tetangga yang lainnya, yang ada di sini. Maklum Orang Kaya Baru, pikirnya semakin sinis.


Apalagi rumah ini sepi - sepi saja. Tak ada musik yang dipasang dengan speaker besar dan keras! Ini bukan pesta! Tetapi lebih mirip acara pengajian!


Katanya orang kaya? Masa menyewa sound sistem saja tidak mampu? Apa dia dan suaminya juga tidak mampu untuk mendatangkan orkes organ tunggal dengan sedikitnya dua biduan untuk bernyanyi dan memeriahkan acara.


Oleh karena, ukuran sebuah pesta orang kaya di daerah ini, adalah mengundang pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan dalang paling top pada saat ini. Bisa juga mengundang orkes campur sari yang jam pentasnya sudah tingkat nasional!


***


Penampilan para tamu kehormatan Asti itu sangat bersahaja. Pakaian mereka tidak terlalu mencolok baik model maupun warnanya. Tetapi gaun batik, brokat dan yang lainnya itu dibeli dari butik - butik ternama yang ada di kotanya itu. Mereka pun melengkapi penampilannya itu dengan tas tangan, sepatu dan perhiasan yang serasi.


Ninuk , Bulek Ratih dan Lek No sudah berdiri di pintu pagar depan untuk menyambut para tamu sejak acara ijab kabul selesai. Mas Yanto dan para anak muda yang lainnya mengatur kendaraan para tamu Dari kendaraan roda dua yang ditempatkan di samping ruko, Sampai roda empat yang telah disiapkan lahan parkirnya di kebun kosong yang luasnya mencapai ribuan meter, di samping kanan rumah Asti..


Di barisan belakang ada Mbak Ning, Mbak Asni dan Mbak Mar, siap mengatasi apa pun. Mereka duduk-duduk dan ngobrol sambil menikmati berbagai makanan. Sebab semua urusan makanan, cucian piring sudah diatur masing- masing oleh petugas dari pihak katering.


Para tetangga juga makan di tenda di lahan samping rumah Asti yang cukup teduh karena banyak pepohonan. Apalagi di sana mereka bisa melihat deretan mobil - mobil mahal yang merupakan mobil yang digunakan oleh keluarga Pak Leon dan kerabatnya yang datang ke acara tersebut. Juga para tamu lainnya.


Asti tetap menyalami para tetangga di desanya yang datang, dengan ramah. Mereka bebas memilih makanan yang disediakan.


Yah... begitulah pesta pernikahan yang diinginkan Asti. Dia dapat menyambut tamu dengan lebih leluasa. Tampa harus turun dan naik panggung pelaminan.


Lagipula semua orang yang datang tampak gembira dan antusias. Begitu juga dengan sinar bahagia di wajah- wajah Keluarga Lek No, Juga orang -orang yang bekerja di rumahnya ini.


Pak Leon masih menemani ngobrol menantunya Ibu Safitri itu sambil menikmati hidangan di sudut teras rumah. Pria itu juga masih menimang Akbar yang mulai mengantuk karena jam tidurnya terlewat. Tetapi anak itu tetap menolak untuk dan bawa masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sampai Pak Leon menyerahkan Akbar pada Bu Jum setelah melihat Akbar tertidur lelap di pelukannya. Beberapa hari terakhir ini, Akbar jadi manja dan caper sekali pada pria itu. Mungkin bayi itu telah merasakan kasih sayang yang diberikan pak Leon kepadanya sangat tulus.


__ADS_2