Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 70. Yang Tak Patut Dikenang


__ADS_3

Akbar sepanjang pagi ini cukup nyaman bersama Bude Prapti. Namun Asti sudah memberitahu wanita itu, kalau dia belum bisa menerimanya bekerja kembali di rumah ini. Sebab dia sudah memperkerjakan Bu Jum dan Mbak Ning. Takut tak bisa membayar tenaga mereka dengan upah yang layak.


Mas Yanto lebih banyak berada di depan sebagai juru parkir di ruko, yang semakin ramai setiap harinya. Pak Roh sering diminta bantuan dari orang lain, yang memerlukan tenaga nya. Dari bersih- bersih, membuang sampah, sampai membantu Joko di warungnya. Itulah tambahan rezeki bagi mereka.


Dulu sekali, Pak Roh yang menjaga tanah milik Bude Ayu ini atas permintaan Pak Rahmat Sodiq. Pria itu membuat gubuk kecil di dalam lahan yang cukup luas itu dengan pagar berupa bambu dan tanaman petai cina atau Lamtoro Gung. Pak Roh menanami lahan itu dengan berbagai jenis tanaman pisang, singkong dan beberapa sayuran lain yang dapat dijualnya ke tetangga terdekat atau pedagang yang akan dijual lagi ke pasar.


Sebagian tanah milik keluarga besar Pak Sodiq, yang berupa sawah dan tegalan sudah dibeli oleh perusahaan Pak Leon. Keadaan tanah di desa Sumberejo itu mirip dengan tanah yang ada di desa Asti. Kering dan tandus, karena tidak ada aliran sungai yang dapat mengairi sawah-sawah mereka. Sisa tanah keluarga itu masih ada di samping dan belakang rumah Asti yang sekarang.


" Sudah siap, Bude?" tanya Asti. Sebab dia melihat wanita paruh baya itu agak enggan meninggalkan rumahnya. Padahal dia bersikeras untuk ikut bekerja di rumah Asti, walaupun dibayar dengan upah yang minim. Mana berani Asti melakukan hal tersebut!


Mbah Kakung Harjo Winangun selalu mengingatkan Asti, untuk selalu menghargai orang lain. Apalagi orang yang bekerja dengan kita. Kita harus membayar hasil keringat dan kerja mereka dengan upah yang layak.


Bu Jum sudah duduk di belakang bersama Akbar. Sebuah car seat milik si kembar kini sering dipakai Akbar, saat mereka bepergian dengan mobilnya ini.


Ternyata rumah Bude Prapti letaknya agak berjauhan dari rumah Mbah Sanjaya. Rumah sederhana itu ada di ujung desa. Namun ada jalan pintas yang lebih cepat menuju rumah Mbak Sanjaya. Yaitu melewati jalan setapak saja. Sebab gang itu sangat sempit dan hanya cukup dilewati dengan berjalan kaki. Jalan itu menjadi jarak antar rumah warga yang memasang pagar tinggi untuk menunjukkan batas rumah, juga kehidupan mereka yang sudah sangat sukses.


" Jaga kesehatan, Bude. Ya! Kalau ada apa- apa, jangan segan mampir ke rumah."


Air mata wanita itu menetes lagi. Dia hanya diam ketika dipeluk Asti erat- erat. Hampir sembilan bulan lebih , Asti dijaga dan diurus oleh wanita itu dengan setulus hati.


" Aku doakan, semoga kamu diberi jodoh kembali dengan lelaki yang lebih baik segalanya daripada Satrio. Lebih tahu agama, menghargai dan menghormatimu sebagai istri dan mencintai sepenuh hati. Juga dapat menerima Akbar seperti anaknya sendiri."


Asti hanya mengaminkan dalam hati, sambil pamit. Akbar malah duduk terdiam saja di kursinya . Asti mulai mengemudikan mobilnya untuk berbalik keluar dari halaman rumah Bude Prapti yang sangat sederhana itu.


Sampai Asti mulai menyadari kalau dari tadi, ada motor sport hitam yang terus membuntuti di belakang mobilnya. Asti santai saja! Mungkin orang-orang suruhan dari Satrio? atau Zahra?

__ADS_1


Mereka akhirnya menuju pasar kecamatan. Tanpa mempedulikan pria si penguntit itu. Ternyata Akbar lebih menyukai suasana pasar yang ramai dan penuh orang. Bayi itu minta berjalan ke sana ke mari di depan toko dengan riangnya dipegangi oleh Bu Jum dan Asti secara bergantian.


Toko ramai juga, walaupun bukan di akhir pekan. Bergantian, Dania dan Asti makan. Sebab satu dua pembeli masih berbelanja di tokonya. Sampai menjelang Dhuhur.


Asti menyuapi Akbar makan siang. Bu Jum membeli makan dan dimakan di toko. Takut Asti kerepotan mengurus Akbar saat ada pembeli.


" Mbak Asti, Sepertinya Dania naksir Mas Joko, deh!"


Asti memandang Bu Jum kurang yakin. " Masa sih, Bu Jum?"


Dia memang sering melihat Dania main ke Warung Tenda setiap sore. Walaupun Joko baik orangnya tetapi sepupu Asti itu lebih tertarik pada Mbak Almira.


Waduh ada sinetron berjudul apalagi ini. Cinta yang Tak Berbalas? atau Cinta Bertepuk Sebelah Tangan?


Justru Asti yang pusing kalau Dania tidak fokus di toko. Pantas sejak lama, Dania ingin ikut kerja di warung tenda. Tetapi Joko lebih suka memperkerjakan pegawai laki-laki. Karena banyak faktor, selain mereka berjualan di malam hari, para pegawainya pria itu mudah beradaptasi dengan keadaan di sekitarnya.


" Ah, Nggak mungkin lah, Mbak. Kan cuma Mbak Asti yang mau nerima aku kerja di sini, walaupun cuma lulusan SMP!" Kata Dania kebingungan.


" Yang fokus kalau kerja, Dania! Kamu masih punya dua adik yang masih sekolah. Kamu mau membantu mereka terus kan?"


" Iyalah, Mbak... Setidaknya mereka punya Ijazah SMA atau SMK, begitu.."


" Ajari mereka juga tanggung jawab, Dania! Kalau kamu bertemu lelaki yang baik, mencintai kamu dan mau menerima semua kekuranganmu . Nah itulah jodohmu. Jangan mengejar perhatian lelaki yang hanya menganggap kamu sebagai teman atau saudara!"


Ucapan Asti itu membuat Dania kaget. Dia menatap Asti agak tidak percaya! Apa Mbak Asti tahu kalau dia tertarik dengan sepupunya itu?

__ADS_1


Dania menatap kepergian Mbak Asti bersama Akbar dan Bu Jum. Tanpa sadar dia bergumam. Mbak Asti yang muda dan cantik saja bisa diselingkuhi suaminya. Apalagi dia yang hanya gadis desa yang miskin dengan pendidikan minim.


Sesampainya di rumah, Asti beristirahat di rumah. Bukan bermakna mengecilkan perjuangan Dania untuk merebut perhatian Joko. Asti juga belum berani berbicara atau menyampaikan fakta pada Joko. Tentang Mbak Almira yang semakin dekat saja dengan Pak Leon.


Justru dari ceritanya Bu Ani, istri pak RT itu! Asti baru mengetahui, kalau yang menginap di rumahnya itu bukan hanya Pak Leon. Tetapi juga dua asisten lainnya. Malah Pak Sembodo juga sudah memagari rumahnya dengan pagar yang cukup kokoh.


Pagar dari separuh bata yang diplester rapi itu dan di atasnya diberi besi BRC . Agar beberapa mobil tamunya yang harganya cukup mahal itu aman dan jauh dari incaran orang yang berniat mencuri.


"'Tumben, Dania sudah dua hari ini absen! " Cetus Firman. Yang disambut dengan siulan dan tawa geli para pegawai Joko yang lainnya.


Mereka sangat suka nongkrong, di teras belakang. Sebelum memulai persiapan untuk membuka warung sore nanti. Di sini , selain sejuk, juga masih bisa memantau keadaan jalan raya yang cukup ramai di depannya.


Bahkan Joko sering meminta anak buahnya ikut makan di dalam rumah Asti. Karena Mbak Ning masak cukup banyak untuk mereka.


Joko dan Asti punya pemikiran yang sama. Lebih baik para pekerja di rumahnya atau di Warung Tenda makan seadanya, di rumah. Daripada membeli di warung, jadi mereka lebih bisa berhemat dari gaji yang tidak terlalu besar.


Sebenarnya Dania mempunyai wajah yang manis. Hanya saja, cara gadis itu bersikap dan berpakaian agak sedikit norak! Padahal sudah bekerja cukup lama pada Asti. Sudah lebih dari setahun yang lalu.


Sebenarnya sosok Asti dapat menjadi contoh para kaum remaja dan ibu- ibu yang belajar berhijab.


Hijab yang Asti gunakan sehari - hari berkesan simpel, sederhana, dan nyaman.


Dia sering memakai tunik panjang, dengan bawahan rok lebar atau celana kulot. Asti juga sering memakai sepatu sandal, karena dituntut berpakaian rapi, tetapi dapat bergerak ke mana pun dengan naik motor atau mengendarai mobilnya.


Bukan seperti Dania yang masih berpakaian tanpa memperhatikan model dan motif nya. Kadang dia mengenakan hijab dengan warna dan motif yang tabrakan. Kadang malah seperti pelangi berwarna- warni. Maklum kalau di desa itu mereka suka warna yang terang dan berani, motif bunga yang besar, ramai dan cerah.

__ADS_1


Apalagi Dania juga gadis muda yang agak keras kepala. Susah diberitahu oleh siapapun, termasuk kedua orang tuanya. Jadi Ninuk pun kurang akrab bila bertemu dengan anak sepupu ibunya itu.


Kini yang tampil paling keren adalah, Ninuk. Dia memakai sedikit make-up yang natural untuk ke kampus. Semua skin care dan alat - alat kecantikan itu pemberian Mbak Asti.Walaupun tidak secantik mamanya Akbar itu, rasa rendah diri Ninuk agak berkurang bila bersanding di samping Mbak Asti. Namun dia sangat menghormatinya, sebab Asti yang telah membayar semua biaya kuliah dan kostnya di kota.


__ADS_2