Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 57. Kehadiran Satrio


__ADS_3

Sebenarnya Joko sudah mempunyai kamar sendiri yang disiapkan Asti di lantai dua rumahnya. Namun Joko lebih sering tidur di bangunan sementara di halaman belakang rumah, bersama temannya itu. Sebab dua orang pegawainya juga beristirahat di sana. Setelah menutup warung di malam hari. Walaupun Joko sangat mengenal orang- orang yang bekerja dengannya di Warung Tenda dengan baik. Namun dia sangat menjaga nama baik Asti juga keamanan sepupu.


Jadi sebisa mungkin, rumah Asti tetap aman dengan pintu samping rumah yang tertutup dan anak buahnya tidak sembarang masuk rumah Asti tanpa pengawasan darinya.


Kedua pegawai di warung tendanya, memilih tidur di bangunan sementara karena mereka sudah sangat lelah bekerja. Apalagi harus menembus gelapnya malam untuk mencapai rumah dengan jarak yang jauh, dengan rasa lelah dan mengantuk akan sangat berbahaya. Jadilah mereka tidur di sana. Walaupun tempatnya sederhana, namun cukup untuk istirahat dan sekedar mengusir rasa lelah.


" Mas Joko, sepertinya ada orang yang sedang mengawasi rumah Mbak Asti, deh!" Ujar Firman memberi tahu.


Dia memang salah satu pegawai yang lebih sering pulang- pergi, karena jarak rumahnya tak sampai tiga km dari warung Tenda tempat dia bekerja.


" Info dari siapa itu, Fir?"


" Ibu yang punya warung nasi di seberang, sana!"


" Dia sebutin ciri- ciri orangnya , nggak?"


" Kata ibu itu sih, mulanya dia agak takut. Orang itu seperti petugas atau intel begitu! Sebab dalam sebulan ini, sudah datang ke warungnya dua atau tiga kali. Sampai anak laki- lakinya yang kelas enam SD, kemarin iseng mengambil fotonya!"


Pegawainya itu segera mengutak-atik hapenya. Lalu mengklik sesuatu. Dia memperlihatkan foto itu kepada Joko. Seorang pria muda yang sedang duduk di warung dan menikmati sepiring nasi yang sudah dipesannya.


Joko tertegun ketika melihat foto itu yang menampilkan sosok wajah Satrio Wibowo. Mau ngapain dia mengawasi ruko dan rumah Asti? Mengapa dia masih mengusik hidup Asti yang sudah dihancurkan nya?


" Ini mantan suami Asti!"


" Dia ini, Satrio ? Yang dulu diintai anak anak- alun- alun Cadas Randu, ya?" kata Firman tak percaya.


" Kamu kenal Bambang?"


" Kenal banget! Pacarnya kan tetangga di depan rumahku. Apa nanti dia tak suruh mampir ke sini kalau main ke rumah Shafira, ya ?"


" Boleh, tuh! Suruh dia mencoba menu warung tenda, atas permintaan Joko. Begitu !"


Sabtu sore berikutnya, pengunjung sangat ramai sejak warung tenda baru dibuka pada pukul 16.00. Namun Joko mengenali Bambang dan kawan-kawannya. Mereka ini dulu yang menjaga Ninuk, saat adiknya mencari informasi keberadaan Zahra, selingkuhan Satrio.


" Ke halaman rumah sebelah, saja. Yuk! Di sana ada Ninuk sekalian kenal dengan sepupuku, Asti!" Ujar Joko sambil membawa ketiga temannya itu masuk lewat pintu belakang.


Di sana ada bangku dari kayu yang berjejer rapi dengan meja panjang. Biasanya di bangku inilah keluarganya dan Asti berkumpul.


Ninuk kaget melihat kedatangan Mas Bambang, dan konconya itu lewat pintu belakang rumah Mbak Asti.

__ADS_1


" Ninuk, ya? Aku pangling, to!" tanya teman Bambang yang lain.


Ninuk yang sudah berhijab hanya menjawab salam teman-teman kakaknya itu dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di dada


" Iya. saya Ninuk. Mas."


" Nuk, kamu siapin minum, sana! Aku mau menyuruh Danu masakin menu yang paling disukai pengunjung di warung tenda ini!" kata Joko.


" Silakan! " ujar Ninuk yang sudah mengeluarkan sebuah jar kaca bening yang berisi minuman es sirup . Juga gelas dan sepiring besar bakwan jagung.


Ketiga pria itu menikmati duduk di teras samping yang sejuk. Karena bangunan dua lantai di sebelahnya, telah menghalangi cahaya matahari sore. Di sisi kiri dan kanannya, teras itu banyak ditanami pohon dalam pot- pot cantik dan beberapa pohon cangkok yang sudah rimbun.


Mereka jarang sekali jalan sampai ke daerah ini, kalau tidak diundang oleh Joko. Tak lama, Asti keluar dengan mengendong Akbar yang sudah mandi sore. Bayi sudah berdandan rapi dengan wangi minyak telon dan bedak bayi.


Halaman samping ini cukup luas. Bagian depan di beri kanopi untuk garasi yang memuat tiga mobil lebih.


" Mbak Asti, ya?"


Panggil Bambang. Pria itu tertegun saat melihat wajah cantik mantan istri Satrio yang juga masih muda. Hijab sederhana yang membungkus kepala dan tubuhnya malah membuatnya terlihat santun dan lembut.


"'Iya, Assalamualaikum!"


Di sana ada Pak Roh dan Mas Yanto yang akan menjaga Akbar. Daripada ke halaman ruko yang saat ini penuh pengunjung. Maklumlah menjelang malam mingguan.


Tak lama datang dua pegawai Warung Tenda membawa baki berisi makanan berupa nasi goreng bumbu Tek Tek dan Soto Simpang tiga, racikan Danu, si tukang masak kenamaan.


Dari arah warung ada Lek No yang datang dengan membawa panci- panci berisi masakan Bulek Ratih.Tengkleng hasil olahannya dengan bumbu khasnya yang cukup terkenal itu. Mereka membawa masakan itu langsung dari desa Sendang Mulyo dengan mobil bak terbuka milik Lek No. Dia juga dibantu oleh Lek Paijo.


" Waduh, ini makanan terenak yang kamu nikmati hari ini! "seru Bambang tertawa.


Mereka tak berani merokok setelah diberi pengertian oleh Joko. Sebab, Akbar agak rentang dengan asap rokok sejak baru lahir.


"Aku masih meminta bantuanmu, Mbang! Satrio mulai berkeliaran ke daerah ini!"


Mursidi menatap Joko," Bukannya lelaki itu sudah menikahi selingkuhan nya? Baru menyesal kan sekarang, membuang anak dan istrinya untuk diganti sama permen nano- nano itu. Kapok mu kapan, Lur!"


Sohib Bambang itu menjelaskan rincian pernikahan di rumah kontrakan Zahra yang dulu itu. Ada orang tua dari kedua belah pihak. Bahkan mereka menikah pada hari persidangan pertama perceraiannya dengan Asti dengan Satrio.


" Pasangan itu masih tinggal di sana?"

__ADS_1


" Sepertinya mereka tinggal di rumah dinas Satrio, deh! . Sebab Pak RT sudah melarang mereka untuk memperpanjang sewa kontrakan rumah itu. Tak lama ada istri atasan Satrio dan seorang perempuan lain yang melaporkan kalau mereka belum menikah secara resmi"


" Apa itu Bu Anggita dan Ibu Imelda, ya?" Kata Ninuk tiba- tiba." Nanti biar ku suruh Mbak Asti menanyakan hal tersebut."


" Sepupumu itu ternyata masih muda dan lebih cantik dari perempuan selingkuhan Satrio, kok! Bodoh sekali Satrio itu...." ujar Bambang berkomentar.


" Kata pak Ustadz, kalau iman nggak sejalan dengan Imin, ya begitulah! Pasti Zahra lebih mengincar lelaki yang memberinya materi lebih, tak peduli jika menjadi orang ketiga dalam pernikahan perempuan lain " Jelas Mas Barep yang paling kalem dari trio rusuh itu.


" Hey, Iya! Waktu adikku ke sana, juga mendengar kalau Zahra itu sebenarnya adalah play girl. Dia sering jadi sumber pertengkaran para staf pria dan perawat pria. Karena suka mencari perhatian pada para lelaki di sana yang sering menimbulkan salah pengertian!" Ucap Mukidi.


" Mungkin yang diincarnya adalah para dokter muda yang banyak magang di rumah sakit itu! Namun karena sudah mendapatkan segalanya dari Satrio. Jadi Zahra mau saja disuruh oleh lelaki itu mengundurkan diri dari rumah sakit itu. Satrio merasa hubungan mereka sudan mulai diketahui orang lain, dan bersikap lebih waspada!"


"Tolong awasi, Satrio! Nanti aku panggil Pak Andang!" Ujar Joko berbisik penuh rahasia.


" Dia bukan orang yang mudah digertak, Bro! Bapakmu aja, yang mengawasi? Dia tak mungkin berani mempertaruhkan harga diri , jabatan dan pekerjaannya itu ...." ujar Barep yang paling paham dengan permasalahan itu.


" Sebenarnya, aku masih belum puas, kalau belum menghajar mukanya yang sombong dan suka meremehkan orang lain itu!"


Mereka termenung. Barep yang tadi berkomentar karena sangat tahu bagaimana sikap Joko yang selama ini, banyak diam dan bersabar menghadapi suami sepupunya itu. Dia hanya ingin Asti yang bertindak sendiri untuk memutuskan perkara itu. Sampai harus diyakinkan Ibu Anggita dan Ibu Imelda untuk bercerai.


" Nanti aku tanya Ipong! Dia memang pernah lihat Satrio keluar dari kantornya memakai motor temannya. Satrio juga sering ke arah keluar kota tanpa memakai seragamnya."


Joko sudah terbiasa menghadapi keadaan genting seperti ini. Hanya saja dia terlalu malas bersikap baik pada cucu Mbah Sanjaya yang satu ini. Sudah banyak informasi yang terkumpul tentang catatan hitam keluarga Pak Cahyadi Wibowo. Yang selama ini dinilai orang baik dan cemerlang!


 


Satrio masih menikmati sepiring nasi dengan lauk ayam goreng dan semangkok kecil sup sayuran dan sambal tomat. Masakan yang rasanya hampir mirip dengan olahan tangan Asti. Namun sudah lama dia tak pernah merasakan masakan sederhana tetapi nikmat itu lagi. Sejak dia berhubungan dengan Zahra hampir enam bulan yang lalu.


Mereka berdua, suka bertemu sebelum Satrio masuk kantor. Untuk jajan sarapan dengan membeli bubur atau nasi pecel dari para pedagang yang banyak berjualan di pinggir jalan raya di kota ini. Kadang bertemu lagi di sore atau malam hari setelah Zahra pulang kerja shif sore.


Tiba- tiba datang sosok lelaki yang duduk di sebelah kursi panjangnya itu, cukup membuat Satrio terkejut. Lek No. Ayah angkat Asti.


" Selesaikan makan mu! Nanti aku tunggu di rumah Asti !" Ujar laki- laki itu pelan namun tegas. Segera dia meninggal bangku kayu panjang itu dan keluar dan meninggalkan warung nasi itu.


Tampaknya, Lek No telah mendapat informasi tentang kehadirannya di sekitar wilayah ini. Apalagi setelah banyak orang- orang di daerah mulai mengenal Asti dan keluarga Lek No.


Setelah tanah warisan Bude Ayu yang lebih dari dua puluh tahun itu terbengkalai. Ternyata dimiliki Oleh Asti, keponakan Ibu Ayu Sulaksmi. Tak sampai setahun ini, di tanah yang cukup luas dan letaknya sangat strategis itu berdiri rumah berlantai dua, dan ruko megah di pinggir jalan simpang tiga.


Tak lama, Satrio keluar dari warung sederhana itu setelah membayar harga sepiring nasi dan segelas kopi. Lelaki itu menaiki motornya, sejenis motor besar yang selalu dikendarai Hamdani, rekan seprofesinya. Mereka suka tukar pinjam kendaraan akhir-akhir ini Atas keinginan dari Satrio juga.

__ADS_1


__ADS_2