Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 176. Kedatangan Mertua Asti


__ADS_3

Sebuah mobil Alphard telah memasuki garasi rumah Asti menjelang pukul 15.00. Kedatangan kedua orang tuanya itu di sore ini sangat membahagiakan hati Leon yang sudah menunggu mereka dengan harap-harap cemas.


" Assalamualaikum!" salam keduanya ketika melihat anak, menantu dan para cucu menyambutnya kedatangan mereka di depan rumah itu.


"Walaikum Salam!" Jawab Asti dan Leon hampir bersamaan.


Leon malah sudah memeluk tubuh sang ayah yang baru turun dari mobil itu. Tubuh pria tua itu sudah tampak berisi dibandingkan ketika mereka bertemu terakhir dulu. Walau cara berjalan sang ayah masih agak timpang. Tanpa disadarinya air matanya meleleh. Selama beliau sakit dan menjalani pemulihan kesehatan, Leon hanya bisa mengirimkan doa kesembuhan dari jauh.


Si Nenek yang masih cantik itu mengendong si bayi yang ada di pelukan Asti. Qani tidak menolak ketika dipeluk dan diciumi sang nenek dengan penuh rasa haru... Mereka digiring masuk ke dalam rumah dan beristirahat di ruang tengah.


Sementara barang - barang bawaan diangkat oleh Leon dan Pak Imron supir mereka... Mbak Mesya nanti menyusul karena mereka juga akan datang bersama keluarganya.


Kedua orang tua Leon disambut Lek No, Bulek Ratih , Joko dan Ninuk. yang merupakan bagian dari keluarga Asti... Mereka beristirahat sejenak setelah minum teh hangat dengan sedikit gula.


Akbar dan Qani tak mau jauh dari Eyang Uti mereka yang cantik, lembut dan terawat itu... Sesekali Mamanya Leon itu mencium pipi gembul Qani, karena sudah terobati rasa rindu pada bayi perempuan itu.


" Papa Istirahat, Ma?" tanya Leon kepada sang Mama ketika melihat ibunya bercengkrama hanya dengan kedua cucunya. Bulek Ratih pamit ke dapur. Sedangkan Lek No ke warung tenda karena ada orang yang mencarinya. Sampai mereka menyadari ada sesuatu yang penting terjadi di sana.


" Ada apa, Pak No?" tanya Leon hati-hati.


Di sisi Pak No ada seorang pria yang seusia dengan pamannya Asti itu, Namun pria tampan itu tampak sangat berwibawa.

__ADS_1


" Ini Pak Darmaji Hendardi, Pak Kepala desa sebelah, tepatnya desa Sendang Waru ... Tetapi masih berkerabat dengan Mbah Harjo Winangun..." ujar Lek No memperkenalkan lelaki itu kepada menantunya.


Leon menyalami pria itu dengan takzim. Ternyata satu demi satu orang - orang yang mempunyai kedudukan dan pangkat tinggi di daerah ini juga berkerabat dengan almarhum Kakek Asti mulai menunjukkan jati dirinya....


" Sini, Leon! Pak Darmaji punya suatu berita, dan ini agak riskan juga untuk didengar...." Kata Lek No ragu-ragu.


" Warga desa sudah lama gerah dengan keluarga kedua istri dan anak - anak dari almarhum Pak Kushari, mantan suami Bude Ayu ... Kemarin soal si bungsu yang hamil duluan dengan si Jago... Walaupun sudah menikah siri. Kini ada omongan, kalau ada anak Pak Karto menuntut pembagian berupa sawah, yang dahulu dikerjakan oleh ayah mereka. Kata mereka itu menjadi warisan keluarga mereka sejak Bude Ayu meninggal..." Ujar lelaki itu menjelaskan permasalahan yang sedang ramai itu.


"Kok, jadi rumit begini, toh. Pak? Tanya Lek No... " Di mana-mana, kalau suami meninggal yang ditanya warisan apa yang diberi kan untuk anak istrinya? Ini malah mengungkit peninggalan Winangun. Yang sudah ada sejak dulu, sebelum pernikahan Pak Kushari dan Bude Ayu dilaksanakan!"


" Kamu punya perjanjian tertulisnya, Sarno?"


" Sepertinya Asti yang pegang itu, Pak! Ketika perjanjian bagi hasil sawah yang di ujung desa tidak diperpanjang lagi!"


" Sepertinya lengkap, deh. Pak! Malah ada dua saksi yang lain. Pak Haji Anwar dan Pak Mukidi!" Jawab Lek No yakin.


Tampaknya pada masa sekarang segala perjanjian memang harus dilakukan secara resmi juga dibuat dokumen dan surat - surat yang menyatakan keabsahan. Padahal dulu, para orang tua mereka sering mengadakan suatu perjanjian s secara lisan. Yang paling parah adalah persoalan yang berhubungan dengan tanah dan warisan. Terkadang hal itu bisa memutuskan hubungan tali keluarga dan persaudaraan. Apalagi bila berhubungan dengan warisan.


Asti juga terkejut, ketika dipanggil Leon untuk bergabung di halaman samping... Pak Kades Darmaji Hendardi juga agak sungkan ketika dipersilakan masuk ke dalam rumah Asti. Setelah mendengar kedatangan mertua keponakannya itu yang baru datang dari kota Semarang. Tentu itu perjalanan yang sangat jauh, dan mereka lelah dan perlu beristirahat.


Asti menghampiri si Om, sambil mencium tangganya dengan takzim. Pria ini yang menjaga dirinya dan keluarganya dari jauh. Sebab kesibukan beliau juga banyak, selain memimpin warga di desa tetangganya. Pak Darmaji dan adik-adik punya usaha pemotongan kayu jati juga menjual berbagai rangka jendela, daun pintu dan beberapa bagian rumah dengan olahan dari kayu jati tersebut.

__ADS_1


" Kamu dan keluarga sehat Asti?"


" Sehat Om... Bulek Ika juga baru dari sini kemarin!"


" Iya, dia kangen Akbar kan?" Lelaki itu tersenyum. " Anak kami cuma dua orang. Yang satu sudah berkeluarga. Tetapi mereka tinggal di Jakarta. Jadi hanya pulang setiap libur lebaran saja!" ujarnya lagi pelan.


Pak Darmaji pun mulai menerangkan permasalahan itu, yang diajukan oleh anak- anak Pakde Karto. Mereka merasa tidak diperlakukan secara adil setelah perjanjian bagi hasil sawah itu diputuskan. Ternyata surat-surat perjanjian itu ada di kantor kelurahan setempat dan aslinya ada di kamar Asti di rumah Joglo... Pak Darmaji sudah menolak permintaan anak-anak Pak Karto itu sebelumnya. Apalagi mereka tinggal di depan rumahnya dan menjadi bagian dari warga desanya. Pria itu maju lebih dahulu membela kepentingan Asti dan warisan Winangun.


Setelah berbincang sebentar Pria itu pamit. Dia menolak ketika ditawarkan mencoba menu dari warung tenda. Setelah pria itu pergi, Asti melihat rasa geram di wajah Lek No dengan munculnya peristiwa itu.


" Agak aneh, ya? Masak ada orang mengakui tanah warisan orang lain. Mana sawahnya di kampung orang lagi! ... Seumur-umur, sawah di desa Sendang Mulyo itu hampir semuanya milik Keluarga Winangun. Ada beberapa hektar, milik orang lain, tetap saja mereka warga Sendang Mulyo. Kecuali yang dibeli oleh Mas Tomo, adik iparnya Pak Darmaji untuk membeli ruko Asti di Pasar Kecamatan. Ada surat-surat sertifikat tanahnya, lengkap!"


" Apa ada provokator yang menggerakkan anak-anak almarhum Kushari untuk menuntut harta Bude Ayu, Lek?" tanya Asti masih agak bingung.


" Mungkin! Tolong Asti...minta bantuan dari kantornya Ibu Imelda... Kali ini, tidak ada seorang pun yang boleh menggugat warisan Winangun tersebut... Apalagi hanya orang lain yang tidak ada kepentingannya..."


Kehadiran Bapak Basuki Murti dan Ibu Anggun membuat rumah Asti semakin semarak. Leon membuat video saat ayahnya mengendong Qani... Walaupun belum terlalu mengenal sang kakek.Tetapi bayi perempuan itu terdiam dan tidak menangis saat digendong lelaki tua itu.


Setelah azan Magrib, rombongan Keluarga Mbak Mesya datang. Wanita itu membawa suami dan anak perempuannya... Mereka juga menerima di tempatkan pada kamar di lantai atas... Di sebuah kamar paling besar dengan dua tempat tidur yang saling bersisian.


Mereka makan malam bersama. Sambil menikmati masakan khas olahan tangan Bulek Ratih. Ternyata Pak Basuki pernah meninjau daerah ini dan tinggal di keluarga mantan suami Bude Ayu, kira-kira 6 tahun yang lalu.

__ADS_1


Dari sanalah, tercetus niat Pak Rahmat Sidiq menjual sebagian kebun dan sawah milik keluarganya yang ada di perbatasan desa Sidodadi... Banyak anggota keluarganya yang jarang kembali ke kampung ini setelah bertahun-tahun pergi merantau ke daerah lain. Jadi rumah, sawah dan kebun itu terbengkalai...Tanah milik keluarga Pak Rahmat itulah yang dibeli oleh perusahaan Abadi Murti dan dijadikan lokasi pembangunan perumahan tingkat menengah tersebut. Yang sekarang menjadi Perumahan Griya Sentosa Sekarwangi .


__ADS_2