Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 95. Isu Pembobolan Toko


__ADS_3

Bu Jum selama dalam perjalanan kembali pulang ke rumah hanya terdiam. Mereka sangat tidak menyangka kalau Dania bertindak di luar batas. Akbar masih terlelap di car seat, sehingga harus digotong dengan sangat hati- hati.


" Puspita, makan dulu! Biar nanti kalau sampai di rumah bisa langsung istirahat." Pinta Asti.


Bersama Bu Jum , Puspita makan di meja makan. Tadi mereka tutup toko agak lebih siang. Sebab Asti mulai merasa kelelahan. Dia harus mengajarkan banyak hal kepada Puspita tentang menjalankan usaha itu. Tetapi memang benar juga kata orang. Puspita sangat mudah menyerap semua penjelasan Asti. Sebab memang pendidikan Puspita lebih tinggi dari Dania. Puspita lulus SMK di kota kabupaten sebelah.


Tak lama Mas Firman datang dengan motornya. Dia adalah kakak kandung Puspita. Pegawai Joko di warung tenda itu sangat bersyukur ada pekerjaan untuk adiknya di toko Asti. Gadis manis itu sudah menganggur sejak lulus SMK tahun lalu. Kedua orangtuanya tidak mengizinkan adik bungsunya itu merantau bersama teman lainnya ke Jakarta atau ke kota besar lainnya untuk mencari lowongan pekerjaan.


" Mbak Asti, biar besok saya langsung berangkat ke pasar saja, diantar Mas Firman!" Pamit Puspita sambil menyalami semua orang sebelum meninggalkan rumah itu.


Joko masuk dari pintu samping. Ada satu orang anak buahnya yang sedang memblender bumbu untuk berbagai masakan, di halaman samping.


" Gimana Dania tadi?" tanyanya mau tahu.


" Baju- bajuku dipakainya untuk pamer di tempat dia belajar! Aneh itu anak, nggak tahu baju mahal itu disangkanya murah apa! Pantas Bu Nur agak curiga melihat Dania pakai hijab bagus dan Tunik mahal yang selalu dipakainya saat dia belajar di balai Kecamatan. Jadi Bu Nur kirim foto - foto itu ke aku!"


Tentu saja Joko mengenal Bu Nur, mantan wali kelasnya saat dia kelas 6 SD. Sekarang beliau sudah menjabat menjadi kepala sekolah di sana. Tentu dia tahu, harga baju yang dipakai Dania sangat berbeda dengan yang dijual di toko Asti. Padahal Asti yang menitipkan Dania untuk belajar di sini. Apa iya gaji penjaga toko pakaian sangat besar sehingga dapat membeli blus tunik yang harganya di atas satu juta rupiah itu?


" Ternyata Puspita dulu satu sekolah dengan Dania sewaktu mereka bersekolah di SMP!" Jelas Asti.


" Sebenarnya banyak teman teman yang satu sekolah dengan Dania di yang Juga anak tetangga kita di desa Sendang Mulyo. Hanya Dania saja yang bebal otaknya nggak mau melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK. Padahal orang tuanya juga mau bekerja keras untuk membiayai sekolahnya itu..." Kata Joko tegas.


" Sudahlah... Biar Dania sendiri nanti yang memberi tahu permasalahan ini ke orang tuanya.Jangan sampai dia bekerja lagi di tokomu! Yang penting jaga kesehatan dan kewarasan pikiranmu!"


Itulah nasehat Joko. Pemuda itu berbalik menuju pintu samping untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mempersiapkan berbagai bahan makanan, bumbu dan sayuran segar yang harus dicuci bersih.


Akbar tampaknya sudah mandi sore. Dia muncul dari kamar tidur utama bersama Bu Jum. Sekarang anak itu sedang menyukai memakai sepatu barunya yang bermotif loreng seperti tentara. Jadi hampir setiap sore hanya sepatu itu yang dipilihnya untuk dipakai. Padahal Asti sudah membeli dua pasang sepatu lain untuk dipakainya secara bergantian.

__ADS_1


" Anak Ibu mau makan sore?"


" Iyah" jawabnya cepat. Bu Jum sudah memasangkan celemek plastik kecil di lehernya. Agar baju bagusnya yang tadi dipilih Akbar tidak kotor atau basah terkena tumpahan makanannya.


Joko agak gelisah sejak sore hari. Beruntungnya hari itu bukan Malam Minggu atau Malam Sabtu. Jadi tak terlalu banyak orang yang datang dan makan di Warung Tenda.


Sampai mereka dikejutkan dengan kedatangan dua sepeda motor jenis trail yang berisi masing-masing membawa pembonceng.


" Mas, permisi... Kami bisa bertemu dengan Joko Laksono, ya?" Tanya seorang pria yang di lehernya ada tato bermotif duri.


" Iya, Mas. Akan saya panggilkan!" Jawab Mas Yanto hormat. Pria itu tahu tadi Joko masuk ke rumah Asti untuk sholat Isya di mushola kecil di ruang tengah.


Mas Danu yang sejak tadi duduk beristirahat di samping meja kasir langsung menghampiri keempat orang pria yang berpakaian gaya anak - anak geng motor.


Mulai dari atribut helm yang mereka pakai, jaket dan sepatu boot kanvas yang gaya. Namun gaya bicara mereka cukup sopan. Walaupun ada yang mengenakan tindik di telinga, bibir atau bertato di lehernya.


" Hey, Bro. Bagaimana kabarnya?" Sapa Joko hangat.


Anak sulung Lek No itu sangat pandai bergaul dengan pemuda sebayanya dari berbagai kalangan. Bahkan dia juga mengenal anak motor itu pun dengan baik. Padahal Sebagian orang takut dengan keberadaan anak-anak muda itu. Dengan tongkrongan yang bersuara memekakkan telinga.


Mereka dipersilahkan duduk di teras samping rumah Asti, yang lebih santai karena bangkunya lebih empuk dengan bantalan dan sandaran tangan. Juga jauh dari pengunjung Warung yang ada di antara mereka memandang dengan pandangan curiga.


" Mau mencoba masakan apa, nih ? Silakan !" Tawar Joko dengan ramah. Sambil menyerahkan kertas lembaran menu yang dilaminating.


Tak lama Chef Danu mulai sibuk dengan wajan besar dengan nyala api kompor yang bersuara khas. Joko telah menyerahkan menu yang harus disiapkan nya. Ada dua orang yang ingin mencoba nasi goreng komplit dan yang dua orang lagi ingin makan Mie Tek Tek Jos.


" Kemarin Mas Joko membicarakan Jago. Di mana anak itu sekarang nongkrongnya?"

__ADS_1


" Di alun-alun Kecamatan. Sepertinya dia bukan anak dari daerah sini. Karena saya belum mendapatkan informasi yang tepat tentang pemuda ini!" Jawab Joko, menyampaikan kecurigaannya.


" Apa anak itu mengusik keluargamu?"


" Belum, sih! Tetapi penjaga toko pakaian milik Asti, berpacaran dengan Jago sudah hampir 3 bulanan ini.."


"Wah, ini nggak bisa dibiarkan, Bro!" Sahut temannya yang biasa dipanggil Ijong.


Mereka selama ini berusaha mengubah pandangan negatif masyarakat tentang keberadaan kumpulan dari anak - anak muda geng motor. Sebagian dari mereka bahkan sudah mencari nafkah dengan mengerjakan pekerjaan halal.


" Kamu pernah dengar ada pembobolan beberapa ruko dan toko di sebuah daerah wilayah bagian Utara sana? " tanya sang pemimpin.


" Pernah,sih... Tetapi kalau soal ruko ini sepertinya cukup aman. Saya sudah menyiapkan keamanan ganda dari patroli Polsek, juga dari pihak lingkungan dari kelompok para pemuda di sini. Soal pasar, memang lain! Di sana ada penjaga malam, tetapi hanya dua orang. Jadi kurang memadai."


Penjelasan Joko terdengar masuk akal. Tetapi menjadikan salah satu dari gadis penjaga toko di pasar seorang pacar untuk mendapatkan informasi , atau mengandalkan kunci toko yang mereka pegang agak terasa agak janggal.


" Kita juga baru dengar kalau Jago itu berasal dari daerah di Timur Jawa sana!" bisik Fals kurang yakin. Pria yang mengepang rambutnya itu memang terlihat seperti seorang pemikir.


" Apa dia merupakan anak buah Mas Doyok, ya? Ada masalah besar di Madiun sana, sehingga timbul perpecahan. Mungkin itu akibat pemberontakan si Jago ini! Joko memangnya kamu tidak tahu nama aslinya si Jago itu?"


" Sejak berjualan, saya jarang bertemu dengan anak-anak yang suka ngumpul di alun- alun. Pak Hermawan masih memantau kalau keadaan di sana masih aman. Entah kalau sekarang..."


" Siapa Pak Hermawan?"


" Kepala Polsek setempat. Ada banyak pengaduan yang datang dari masyarakat tentang keberadaan anak muda yang semakin banyak saja berkumpul di ujung alun- alun dekat kantor Kecamatan. Masyarakat di sana takut akan memberi banyak dampak buruknya bagi lingkungan mereka."


Semua terdiam. Yang terdengar hanya bunyi sendok yang beradu dengan piring. Para teman Mas Barep itu sangat menghormati Joko. Mereka berhubungan baik karena ada beberapa lowongan pekerjaan non formal yang diberikan Joko kepada beberapa anak geng motor itu.

__ADS_1


__ADS_2