
Asti hanya duduk-duduk saja setelah menikmati makan siang di sebuah cafe, bersama Leon dan Om Ardi. Dia tidak ikut rombongan keluarganya kali ini karena akan menunggu kedatangan Pak Yusuf di kota Malang.
Ninuk sudah bersiap membawa Rombongan itu untuk menuju ke tempat kunjungan wisata berikutnya. Yaitu ke Museum Angkut yang masih berada di kota Batu, Malang.
Tentunya setelah semua anggota rombongan tadi telah mengikuti wisata di pagi hari mengunjungi perkebunan apel di sebelah ah perkampungan penduduk.
Pohon-pohon apel yang ditanam di sana tumbuh tidak terlalu tinggi. Jadi para pengunjung dapat memetik dan memakan buah apel sepuasnya dari dahan dan tangkai yang lebih rendah.
Bulek Ratih selain sibuk mencicip beberapa buah apel, juga sibuk memilih dan memetik buah apel yang lebih besar dan dimasukan ke dalam kantong kresek. Pihak pengelola kebun apel itu yang menyediakan kantong kresek itu, agar buah itu nanti dapat dibawa pulang pengunjung sebagai tanda mata atau oleh - oleh. Tentu setelah ditimbang, dan ditentukan harga yang harus mereka bayar.m
Jalan masuk ke kebun apel itu pun terletak di gang sempit, di sela- sela pagar rumah penduduk yang dekat dengan jalan raya utama. Perkebunan apel itu berada di belakang pemukiman penduduk di desa tersebut yang cukup padat. Bahkan letak perkebunan itu juga berada di tanah yang tidak rata ketinggiannya.
Selain itu, para penduduk di sana juga menanam tanaman hias. Hampir di setiap pekarangan rumah penduduk dijual berbagai tanaman hias yang cantik dalam kantong-kantong polibag.
Ninuk pun sudah bete melihat mata ibunya berkilauan melihat bunga- bunga cantik itu. Sebab dia tahu, biasanya bunga itu hanya dapat tumbuh di iklim yang sejuk. Karena bibit bunga itu diimpor dari luar negeri, yang mempunyai empat musim.
Buah apel khas Malang ini rasanya sedikit lebih asam dan segar dibandingkan buah apel merah yang biasanya banyak dijual di beberapa swalayan atau toko buah. Kalau tidak salah apel impor itu banyak didatangkan dari negara Australia. Kecuali buah apel Malang yang berwarna hijau dengan bentuk lebih menyerupai tabung. Buah itu lebih manis dibandingkan apel yang berbentuk bulat.
Kali ini, Akbar mau ikut dengan keluarga Ninuk. Sebab anak itu juga sangat tertarik untuk melihat berbagai jenis kendaraan yang menjadi icon wisata di meseum itu. Termasuk Joko dan Pak Cakra yang akan mengawal rombongan itu.
Jadilah Leon nanti yang akan membawa sendiri mobil Pajero-nya itu. Mereka bermaksud ke ruko dan tempat usaha Om Ardian yang ada di kota Malang. Sebelumnya Om Ardi mengajak keluarga itu berkeliling kota Batu sebentar untuk merasakan keindahan kota, dengan berbagai tempat wisata terbaru. Juga merasakan udaranya sangat sejuk di kota itu.
Mobil itu dengan cepat kembali ke kota Malang. Di ruko itulah yang menjadi tempat usaha dia, pak Yusuf, dengan beberapa temannya dulu, yang tinggal di satu pondokan di Surabaya. Selain itu mereka juga membuka usaha konveksi untuk pembuatan T-shirt, jaket Hoodie dan celana kargo untuk anak muda bergaya masa kini. Sedang pembuatan sablon dilakukan di lantai atas ruko.
Di lantai bawah ruko berlantai tiga itu menjadi toko sekaligus ruang pamer. Barang- - barang itu dikhususkan untuk kebutuhan untuk kaum pria muda dan remaja. Semua barang itu tidak hanya terpajang rapi di rak- rak kayu, juga digantung di ruang toko yang ditata dengan bergaya industrialis.
Berbagai kebutuhan anak-anak muda dan segala perlengkapannya di jual di sana. Dari segala macam topi, T-shirt bergambar unik, menarik dan lucu. Ada juga Celana cargo dan Hoodie kekinian yang juga dijual di sana.
" Kalau masalah sewa ruko, nginap di villa atau hotel malah lebih murah di kota Malang daripada di Batu, Leon !" ujar Om Ardi menjelaskan.
" Masa? Bukannya Malang itu kota terbesar kedua setelah Surabaya, juga, Om ?" tanya Leon.
__ADS_1
" Yah, sejak semakin banyaknya objek wisata yang baru yang didirikan di Batu, kota itu semakin banyak didatangi wisatawan. Sehingga menjadi lebih komersial segalanya, jadi sedikit mahal. Kami juga banyak mendapatkan orderan di kota itu!"
Terlihat toko itu semakin ramai dipenuhi oleh kedatangan para kawula muda. Para pembeli jarang datang sendirian ke toko itu. Mereka biasanya membawa sahabat, teman atau pasangannya. Sehingga toko selalu dipenuhi pengunjung. Nama toko itu juga meniru gaya toko T-shirt dari usaha sejenis yang dulu terkenal di di Bali, Yogyakarta dan Bandung.
Om Ardi segera membawa tamunya itu ke lantai atas. Di lantai dua itu sepertinya lebih menyerupai tempat menerima tamu sekaligus merupakan ruang kerja Ardi. Sebab di sana lebih lapang, walaupun ada kamar mandi yang tertutup dan sebuah tempat istirahat yang diberi sekat. Di sana juga disediakan seperangkat sofa untuk para tamu duduk. Selain ada meja kerja lengkap dengan peralatan kantor yang modern karena ada laptop, wifi dan sambungan telepon paralel.
Di ruangan itu juga di pasang rak tempel penuh contoh - contoh hasil kerja mereka. Juga ada lemari- lemari besar dan tinggi tanpa penutup. Setiap rak dipenuhi berbagai tumpukan kaos-kaos yang siap diantar ke pemesannya.
Qani duduk manis di pelukan ibunya. Sementara Leon ngobrol dengan paman dari istrinya itu. Karena sangat tertarik dengan cara kerja mereka yang sangat kreatif. Seseorang pekerja wanita datang membawakan mereka minuman dan makanan yang dibeli dari gerai makanan yang ada di ruko sebelah.
" Ini semacam basecamp juga bengkel anak- anak untuk membuat sablonan di lantai tiga. Kalau mau tidur tinggal gelar tikar saja! Untuk makan sehari-hari tinggal beli di warung nasi yang ada di belakang ruko!" ujar Pria itu menjelaskan keadaan mereka di sini.
Ardi juga tak banyak tahu tentang nasib kakaknya Emilia. Sebab saat itu usianya anak-anak. Dia juga mengalami luka parah dan harus menjalani beberapa kali operasi pada kedua kakinya. Setelah itu harus menjalani terapi yang cukup lama. Hanya sekali saja Ibunya berkunjung dari Banjarmasin untuk menengok keadaan mereka yang sudah menetap lama di Surabaya, hampir 5 tahun berikutnya.
Wajah cantik ibunya itu dalam beberapa tahun saja sudah terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. Sebab wanita itu harus menerima segala kesedihan dan penderitaan dalam hidupnya. Kesulitan ekonomi dalam keluarganya dapat dia terima dengan lapang dada. Tetapi kehilangan kedua anak kandungnya sekaligus, juga meninggal sang ibu mertuanya yang baik dan menyayanginya dalam musibah itu.Ternyata menjadi pukulan yang sangat berat. Kedatangannya itupun hanya diantar oleh Tante Hera. Sebab Pak Jaffar sudah sering sakit-sakitan akibat penganiayaan itu.
Hampir dua tahun lebih Ardi tidak sekolah secara formal. Karena lamanya perawatan yang harus dia jalani. Sehingga dia tinggal di rumah Pak Kromo Jati, dan diberi tambahan pelajaran oleh lelaki itu yang mantan guru ngaji untuk mengejar ketinggalannya pelajarannya. Beliau selain seorang ustadz, juga mempunyai toko buku besar yang lokasinya ada di depan sebuah sekolah swasta terkenal.
Pada usianya yang hampir 30 tahun lebih, barulah Yusuf menikah. Itupun dijodohkan dengan anak bungsu Pak Kromo Jati. Setelah beliau mengamati kalau pemuda yang berasal dari Kalimantan Selatan itu adalah pria sopan, pekerja keras dan sangat taat dengan agamanya. Juga sangat bertanggung jawab pada kehidupan adiknya Rahardian Mohammad Jaffar.
Keduanya berbicara lebih pelan lagi ketika melihat Asti tertidur dengan memeluk bayinya. Pria itu mengambil selembar selimut. Lalu dibentangkan di atas tubuh Asti.
" Dia sering sakit-sakitan setelah mendengar pengakuan Pakde Kerto beberapa waktu yang lalu!" Kata Leon memberitahu pria itu, setelah mereka duduk agak menjauh dari sofa itu agak pembicaraan mereka tak mengganggu istirahat Asti dan bayinya.
" Ternyata Asti sewaktu kecil juga mendengar rencana jahat lelaki itu, ketika Mbah Winangun dan Bude Ayu mencari kalian di Surabaya. Waktu itu ada tetangga yang melihat Pak Yusuf berjualan di depan mall itu. Setelah kembali ke desa, pria itu segera memberi tahu Pak Winangun!"
" Saya juga sudah mendengar hal itu! Pak Kushari sebelumnya menyogok seorang preman yang berkuasa di wilayah itu untuk mengusir Kak Yusuf dari lapak jualannya. Padahal kami sesama pendatang di Surabaya sudah menjalin ikatan layaknya seperti saudara karena berada di tanah perantauan! Tak peduli pedagang besar dan kecil. Di sana bermacam-macam suku dari seluruh Indonesia bercampur baur, ditambah pedagang dari keturunan Cina dan Arab. Kami satu tujuan yaitu sama-sama mencari nafkah dan mendapatkan penghidupan yang lebih baik!"
Semakin sore, orang yang datang ke toko semakin banyak. Ardi juga mengaji dua pramuniaga wanita di toko itu pakaian itu. Sementara pekerja pria tinggal di lantai ini dan bekerja menjaga toko sampai tutup pukul 20.00. Sedangkan para pekerja wanita tinggal di sebuah kontrakan yang ada di sebuah pemukiman di belakang ruko.
Menjelang Magrib, terdengar suara mobil memasuki halaman ruko depan. Ada seorang pria bertubuh tinggi besar keluar dari sebuah sebuah Inova lama dengan terburu-buru. Dari dalam mobil itu juga diikuti seorang wanita yang keluar dengan mengendong anak balita berusia 4 tahun. Anak laki-laki itu juga memakai baju ala santri, dengan setelan berwarna hijau dan kopiah kecil berwarna putih.
__ADS_1
" Assalamualaikum!" seru laki-laki terdengar menggema sampai ke lantai atas. Setelah itu, dia agak tergesa naik ke lantai atas. Karena diberitahu oleh seorang pekerja di toko itu. Suaranya langkah kakinya yang berat , menapaki tangga kayu itu.
Sejak kemarin adiknya Ardi terus menghubunginya. Termasuk berita adanya seorang pria yang terus mencarinya hampir seminggu yang lalu. Ternyata beliau adalah sanak-saudara dari Bagas Prasetyo Winangun, almarhum suami Emilia.
Foto- foto Asti, keluarga Sarno Winangun dan anak- anak dari keponakannya itu membuatnya terharu. Sehingga dia mengusahakan untuk datang menemui mereka di kota Malang ini.
Pria itu menatap takjub pada sosok Asti. Bayi Emilia yang ditinggalkannya adiknya saat Asti baru berumur 2 bulan... Ketika itu, dia terpaksa harus membawa ibu sang bayi itu, untuk mencari keberadaan anggota keluarga yang tercerai-berai dalam musibah kebakaran hebat itu.
Bertahun-tahun, segala kesedihan dan kepahitan itu kembali mengharu - biru hati dan perasaannya...Tangan siapakah yang telah mempermainkan nasib dan penderitaan keluarganya dan keluarga almarhum suami adiknya itu?
Sejak peristiwa itulah hidup mereka sudah dihancurkan sedemikian rupa tanpa bersisa. Tinggal kepedihan yang amat sangat bila untuk hanya untuk mengenangnya sesaat!
" Allahu Akbar!" Teriak lelaki itu.
Suara itu mengejutkan Qani yang terbangun dalam pelukan ibunya. Sekarang bayi dan ibunya masuk dalam sebuah pelukan seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang menangis tergugu dengan suara yang menyayat hati.
" Sudahlah, Kak! Qani jadi takut dan bingung itu!" Bujuk Ardi yang berjalan terseok-seok, berusaha menghampiri kakaknya yang masih terduduk memeluk Asti dengan segala duka lara itu.
" Qani? Ini anakmu, Ndok? Jadi bayi perempuan ini cucuku? Ya, Allah cantik sekali kamu , Nak!" bisik Yusuf gemetaran. Matanya sudah basah oleh airmata. Asti hanya dapat mengangguk dan tersenyum sedih.
Sambil berbicara lelaki itu berusaha menghapus air matanya yang membanjir. Saking kuatnya dia menghapus air mata dengan ujung lengan bajunya, wajahnya yang putih bersih jadi tampak memerah.
Leon tertegun. Pak Yusuf dan Om Ardi memiliki perawakan yang sama. Yaitu mereka bertubuh tinggi besar, wajah bersih juga tampan. Tentu dengan hidung yang mancung khas pria keturunan Arab. Tetapi cara bicara mereka lebih halus, walau ada logat medok arek Suroboyo- nya!
" Ini suami, Asti yang baru! Dia yang mengelola proyek pembangunan perumahan di dekat Desa Sidodadi!"
" Maaf, kami berusaha memantau kehidupan Asti dari jauh, lewat bantuan orang lain. Walaupun Pak Kushari sudah meninggal, namun masih ada kakaknya yang terus mengancam kami!" ucap laki- laki itu terus terang.
" Bagaimana kalau kita kembali ke Penginapan di Batu saja! Lho ada Mbak Sarah juga dan Hafiz juga !" Tegur Ardi kaget.
Wanita yang bernama Sarah itu berjalan mendekati mereka. Wanita itu hanya menutupi kepalanya dengan kerudung yang dipakai secara asal, sebab masih terlihat sisa rambut di ujung dahinya. Kata Ardi begitulah gaya berhijab wanita di lingkungan keluarga Pak Jati. Karena tinggal di kota besar, jadi lebih leluasa dan yang penting nyaman dipakai.
__ADS_1