Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 80. Ujian Hidup Selalu Datang


__ADS_3

" Alhamdulillah!! " Seru Asti di sambut Pak Leon ketika mobil itu sudah sampai di depan rumah. Tak sampai dua jam saja, mobil itu bergerak dengan sangat cepat, membelah arus lalu lintas dari luar kota Yogyakarta, Klaten, dan Surakarta sampai ke daerah ini yang secara umum ada di tengah peta Jawa Tengah, namun sedikit berbatasan dengan Jawa Timur.


Akbar kembali masuk dalam pelukan lelaki itu ketika turun dari mobil. Mas Yanto yang membuka pintu pagar depan lebar - lebar karena tahu, mobil Asti belum juga datang.


Segala barang keperluan Akbar sudah dikeluarkan Asti dari mobil milik Pak Leon dibantu Mbak Ning dan Pak Cakra yang diangkut sampai ke ruang tengah. Tak sampai sepuluh menit kemudian, mobil Honda Jazz Asti datang. Mobil itu parkir di sebelah mobil Pak Leon.


Di ruang tengah sudah digelar oleh Bu Jum tikar untuk duduk-duduk. Sebentar lagi waktunya Magrib. Akbar menolak masuk kamar untuk diganti baju bepergian yang dipakainya. Padahal sudah dibujuk oleh pengasuhnya itu dengan seribu cara. Juga tak berhasil.


Hari ini Akbar menuntut seluruh perhatian Pak Leon kepadanya. Konyolnya Pak Leon menanggapi, seakan-akan pria itu merelakan semua waktu dan perhatiannya hanya untuk bayi laki- laki berusia hampir 14 bulan itu.


" Mari, Pak! "' kata Mbak Ning yang sudah menyeduh tiga gelas kopi. Akbar masih duduk di pelukan lelaki itu. Walaupun bayi itu juga tidak menolak ketika digendong Pak Cakra. Mereka minum kopi itu di taman samping.


Setelah Azan Magrib berkumandang, para pria itu sholat berjamaah di ruang sholat. Saat para lelaki itu bergantian wudhu di kamar mandi dan memulai persiapan untuk sholat. Barulah Asti dapat membujuk Akbar untuk masuk kamar dan mengganti semua pakaiannya.


" Dedek mau mandi atau di lap saja?" tanya Asti lembut.


" Yap..." jawab Akbar lucu.


Tetap saja Asti memandikan bayinya itu sebentar. Tanpa membasahi kepalanya. Di kamar itu Bu Jum pun sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Akbar. Setelan baju tidur bergambar kartun kesukaannya.


" Kalau Mbak Ning sudah siap dengan masakannya, tolong minta mereka makan duluan saja, Bu!"


" Iya, Mbak!" jawab Bu Jum meninggalkan kamar Asti.


Ruang tengah sudah ramai karena Ninuk dan Bulek Ratih juga sudah mandi dan sholat , sudah turun dari kamar di lantai atas. Mereka semua berkumpul di ruang tengah. Akbar sangat senang ketika Ninuk datang ke kamar ini dan menunjukkan baju tidurnya yang baru.


Ninuk segera membawa Akbar keluar kamar utama itu, agar Asti dapat menyelesaikan keperluan pribadinya.


Di kamarnya Asti mandi, berwudhu dan sholat Maghrib. Wanita itu melanjutkan dengan membaca Alquran walaupun satu ayat pun, dilakukannya setiap hari.


Sementara Ninuk menjaga dan bermain dengan Akbar. Bulek Ratih membantu Mbak Ning menyiapkan makan malam.


Lamat- lamat suara merdu Asti saat mengaji itu terdengar dari ruang makan. Pak Leon dan kedua temannya duduk bersama Mbak Ning, dan Bulek Ratih menikmati makan malam yang sangat sederhana.


Pembantu rumah tangga Asti itu sudah menyediakan sayur lodeh kacang panjang dengan lauk ikan mas goreng, bakwan tauge dan sambal bajak yang ditambahi suwiran daging sapi.

__ADS_1


Pak Leon terus memperhatikan Asti yang sibuk menyiapkan makan Akbar dengan nasi yang lebih lembek dan kuah sayur bening kacang panjang. Lauknya seperti perkedel dengan berbagai campuran sayuran dan daging ayam yang dihaluskan.


" Tante Ninuk , Bu Jum ayo makan juga!" Pinta Asti.


Akbar minta diajak Asti ke lantai dua sambil disuapi. Dibantu Bu Jum lampu- lampu utama di dua lantai rumah itu mulai dinyalakan. Terutama untuk lampu teras dan balkon atas agar terang.


" Asti dicari Mbok Bayah dari tadi! Sekarang dia nunggu di halaman belakang, ya!"


Suara Joko dan kehadirannya di lantai dua ini cukup mengejutkannya. Nasi Akbar di mangkuk tinggal sedikit lagi. Namun dia harus menemui wanita tua itu yang sudah jauh- jauh ke rumahnya ini untuk suatu kepentingan.


Cepat digendongnya Akbar turun ke lantai satu. Dia menitipkan Akbar pada Mbak Ning. Karena dia melihat Bu Jum sedang mencuci piring.


Justru Bulek Ratih dan Ninuk sudah ada di warung tenda ketika mendengar di sana ada Mbok Bayah .


" Mbak Asti, Apa kabarmu?"


Tanpa dapat ditahan, air mata wanita tua itu mengalir deras. Tentu dia sudah diberi tahu oleh Ibu Anggita letak rumahnya ini. Asti memeluk erat wanita itu yang dulu mengurusi Akbar yang masih berusia satu minggu sampai hampir tiga bulan lebih.


"' Mbok Bayah, ke sini dengan siapa?"


Asti justru melihat seorang pria muda yang sangat bersahaja. Beliau tampak alim karena berkopiah putih dengan baju Koko dan wajahnya sangat bersih.


" Sebenarnya itu Pak Ustadz Jauhari datang ingin membantu Mbak Asti. Bukan hanya masalah soal bau busuk yang dulu ada di rumah dinas Pak Satrio, Mbak!"


Agak ragu- ragu Asti, namun membawa Mbok Bayah dan Ustadz muda itu masuk ke dalam rumahnya. Segera saja Bu Jum langsung membawa Akbar pergi untuk menidurkan bayi itu di kamar tidur utama.


" Maaf, Mbak Asti. Baru sekarang Saya sempatkan untuk datang. Kalau mendengar cerita Mbok Bayah sebelumnya. Ada orang - orang yang berupaya menghancurkan rumah tangga Mbak Asti karena dendam masa lalu. Sedangkan wanita muda yang baru datang dalam hidup mantan suami Mbak Asti, berusaha menarik perhatiannya dengan menggunakan pelet."


" Astaghfirullah hal azim! " Seru Bulek Ratih dan Ninuk berbarengan.


Setelah mendengar penjelasan tersebut. Sungguh berita yang mengejutkan bagi mereka. Padahal mereka saat ini saja masih terus membenahinya ibadah agar layak saat pergi Umrah bulan depan.


Pak Ustad muda itu menyerahkan satu botol air mineral besar yang berisi satu liter yang masih bersegel rapat.


" Mbak Asti Kalau masih sering sulit tidur dan gelisah. Minumlah air ini sedikit di gelas bisa ditambah dengan air biasa, atau teh saat meminumnya. Air ini sudah saya bacakan doa. Semoga Mbak Asti selalu dalam lindungan Allah."

__ADS_1


Asti memandang bingung pada pria yang mengaku adik sepupu Ustadz Hanifah yang memimpin Majelis Taklim untuk pengajian ibu- Ibu.


" Apa benda aneh yang pernah saya temukan di rumah itu termasuk pelet juga, Pak Ustad?


" Asal Mbak Asti menemukan sesuatu yang aneh buang jauh dari rumah, lalu dibakar saja itu sudah cukup. "


"'Terima kasih, Pak Ustad."


" Wanita muda itu banyak memakai benda pemikat yang membuat suami Mbak Asti berpaling. Tetapi beberapa pegangan wanita itu terlepas karena di kamar utama itulah Mbak Asti selalu beribadah dan mengaji."


" Maksud Pak Ustadz, wanita itu pernah datang ke rumah saya sebelum kami berpisah?"


" Seperti itu, Mbak. Hanya saja benda yang dipakai dalam tubuhnya merupakan warisan Neneknya dan susah dilepaskan. Itu agak berbahaya bagi hidupnya dan keturunannya kelak ..."


" Pak Ustad, apa kecelakaan keluarga Pak Suparlan ada kaitannya dengan hal itu " tanya Ninuk agak cemas.


" Ada syarat yang tidak terpenuhi dari perjanjian itu. Kalau setan sudah menagih janji dengan orang yang bersekutu dengannya, maka balasannya akan sangat menghancurkan!"


Air mata Bulek Ratih menetes juga. "Padahal kami sudah mencoba berbuat baik kepada pada orang lain, Pak Ustad!"


Pria itu tersenyum." Begitulah, Bu. Namanya kehidupan. Semakin kita berbuat baik kepada orang lain, semakin banyak juga orang yang membenci. Karena apa? Iri hati, dendam , sakit hati. Justru pada saat sekarang inilah, kita selalu meminta pertolongan dari Allah . Sebab di sekeliling Mbak Asti masih dipenuhi dendam masa lalu, dan kebencian .Pak Satrio pun bukan orang yang kurang kuat iman dan ibadahnya. Sehingga pelet itu dengan cepat mempengaruhi akal dan pikirannya!"


" Saya sangat berterima kasih. Karena Pak Ustadz Jauhari sudah sangat menjaga kami saat tinggal di sana."


" Ilmu saya masih rendah, Mbak. Jauh dari kata sempurna. Karena kesempurnaan itu milik Allah. Namun saya berusaha menolong Mbak Asti dengan sekuat kemampuan saya. Apalagi setelah mendengar cerita Mbok Bayah, tentang rumah yang berbau busuk itu. Tanda-tanda ada orang yang akan menghancurkan Mbak Asti dengan bantuan ilmu hitam."


Pria muda itu melihat ke sekelilingnya rumah Asti. Dia tersenyum manis. " Rumah ini sudah terlindungi dengan baik. Apa Mbak Asti benar masih ada keturunan dengan Pak Winangun?"


" Saya cucunya!"


" Alhamdulillah ... Saya telah membalas kebaikan hati beliau. Sebab dulu ayah saya juga berbisnis , namun kena tipu dan bangkrut. Atas kebaikan Pak Harjo Winangun, ayah mendapat bantuan modal dan bisa berdagang lagi."


Asti pernah mendengar cerita itu. Saat Kakeknya selalu membantu orang-orang yang dikenalnya dengan baik tanpa meminta imbalan. Beliau cukup senang bila orang yang dibantu dapat berusaha kembali untuk menopang kehidupan keluarganya.


" Mbok Bayah pernah menginap di desa Sendang Mulyo, kan? Saya teringat cerita ayah saya almarhum sewaktu saya masih kecil. Jadi kami, anak - anaknya sekarang di dorong untuk lebih ke pendidikan agama. Karena berdagang itu resikonya sangat besar."

__ADS_1


Mereka pamit ketika hari hampir pukul sepuluh malam. Asti hanya dapat memberikan uang dalam amplop kepada pria muda itu yang memimpin sebuah yayasan pendidikan Islam yang letaknya di perbatasan kota itu. Bahkan pria itu menolong dirinya tanpa pamrih.


Mobil Toyota kijang lama itu bergerak meninggalkan halaman ruko menembus kegelapan malam. Hati Asti semakin tenang. Dia sudah bertindak benar dengan semua kesulitannya selama ini.


__ADS_2