Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 269. Ketika Om Ardi di Rumah Asti


__ADS_3

Berbagai koper, tas besar berisi pakaian dan kardus - kardus berisi oleh- oleh berupa makanan ditumpuk di sudut ruang besar dekat dapur. Mereka semua segera masuk ke dalam rumah untuk segera dapat melepaskan lelah. Duduk bersantai untuk meluruskan kedua kaki, yang banyak duduk dan ditekuk selama dalam perjalanan kembali pulang.


Mas Danu, dan kakak perempuannya Mas Kancil sudah menyajikan makan siang di meja makan. Sementara Mas Kancil membuatkan teh manis panas untuk mereka. Putri mengendong Qani untuk dimandikan dengan air hangat, sebelum bayi itu tidur kembali. Sebab Bu Jum sudah membawakan termos berisi air panas yang diambilnya dari dapur.


Akbar akan dimandikan juga. Sementara Mbak Ning sedang menyiapkan sebuah kamar di lantai atas untuk Om Ardi beristirahat selama akan tinggal di rumah ini. Para pria ngobrol dan beristirahat di ruang tamu sambil minum teh manis hangat dan makan gorengan pisang dan bakwan yang dibuat Mas Danu.


Kata para pegawai di Warung Tenda, tanpa tangisan Qani dan teriakan Akbar. Rumah besar itu menjadi sangat sepi. Mereka sangat merindukan suara kedua balita lucu itu.


" Ayo, Om. Silakan istirahat dulu di kamar atas!" Ujar Asti sambil membawakan tas besar berisi pakaian milik adik Ibunya itu.


" Asti, aku memang invalid, tetapi tidak akan selemah itu, sampai tidak bisa membawa tasnya sendiri!" ujar Ardi mengingatkan Asti.


" Maaf, Om. Asti hanya ingin membantu. Selama tidur di mobil kan, Om kurang nyaman. Asti pilihkan kamar yang ada kamar mandinya di dalam, ya!"


" Terserah... Asalkan tidak memberatkan tuan rumah saja!" ujar pria itu sedikit sungkan.


Sesampainya di kamar atas, Asti langsung membuka tirai jendela di kamar itu.Juga menggeser sedikit jendela itu agar udara dan cahaya matahari dapat masuk ke dalam kamar itu sehingga ruangan itu lebih terang dan nyaman. Terutama dari pohon-pohon besar yang tumbuh di samping kanan dan belakang rumah itu.


Kebanyakan kamar - kamar di lantai dua di rumah Asti ini hanya menggunakan kipas angin, bila udara terasa panas. Walaupun tempat tinggal mereka ini berada di di dataran rendah, namun sehari- hari udaranya tidak terlalu panas. Bila dibandingkan rumah tinggal yang ada yang ada di dataran rendah dekat pantai Utara Jawa. Cuaca di sana lebih menyengat.


Mungkin bisa disebutkan daerah mereka itu beriklim sedang. Jadi tidak terlalu panas kalau di siang hari. Hanya agak dingin di pagi hari, apalagi kalau menjelang musim kemarau panjang . Mungkin saja karena masyarakat di daerah ini masih menjaga kelestariannya lingkungannya, dengan menanam banyak pohon. Sebab di sekitar jalan simpangan , banyak pohon besar ditanam sebagai peneduh jalan. Ada hutan jati yang tumbuh subur di antara bukit - bukit terjal bebatuan. Atau hutan bambu yang tumbuh hampir di setiap desa, setia tahun bertambah besar dan meluas.


Bahkan ada beberapa orang yang mengusahakan tanah kosongnya yang tidak subur ditanami pohon jati. Pohon itu selain dimanfaatkan kayunya sebagai tanaman keras, daunnya juga dimanfaatkan untuk pengganti daun pisang sebagai pembungkus makanan. Ada yang direbus untuk mewarnai sayur gudeg agar berwarna coklat. Juga dimanfaatkan dan beberapa industri rakyat sebagai pembungkus tempe.


" Om, anggaplah rumah ini seperti rumah sendiri! Sebab semua ini memang milik Asti pribadi. Dibangun dari bagian warisan Winangun. Malah rumah ini sudah berdiri sebelum Asti menikah dengan Leon!" kata Asti.

__ADS_1


Mata Pria itu mengerjab. "'Mungkin inilah yang dulu disebutkan oleh Nenek Hera!"


"'Nenek Hera memang ngomong apa, Om?"


" Keluarga Jaffar dan Winangun akan selalu dimudahkan dalam ikhtiar dan usaha mereka. Selama ini, kami selalu bersabar menghadapi segala cobaan hidup yang sangat berat. Kita akan senantiasa bersyukur dari segala rezeki dan limpahan keberkahan Allah!"


" Amin.... Iya, Om! Sekarang saja, Asti sudah sangat bersyukur karena Om dan Pakde Yusuf hidup cukup baik di Surabaya. Walaupun Om banyak mengalami kesulitan hidup di sana. "


Asti sudah menyiapkannya segalanya di kamar itu. Termasuk teko dan gelas air minum. Agar pria itu tidak turun naik tangga bila membutuhkan sesuatu di laut bawah.


" Rumah kamu bagus! Jadi ini dibangun dengan uang warisan Winangun?"


Asti mengangguk. " Tentu! Mungkin orang yang Om suruh untuk memantau kehidupan saya, tidak mendapatkan cerita kehidupan saya secara lengkap. Hanya mendengar dari cerita dari orang lain saja... Kapan - kapan saya akan menceritakan semuanya, mungkin kalau kita mampir ke desa Sendang Mulyo. Di sana ada Lek No dan Bulek Ratih yang menjadi saksi sejak Asti bayi sampai sekarang. Merekalah lebih berperan menjadi orang tua yang sesungguhnya buat Asti, Om!"


Asti menatap wajah pria itu yang sudah kelihatan letih. " Sekarang Om istirahat dulu! Kalau perlu sesuatu, telpon Asti, Om. Jangan sungkan! Asti merasa nggak direpotkan juga, kok! Karena ada ART yang akan membantu Asti menggurus rumah ini!"


Pak Sugeng dan Mas Aji sudah menyelesaikan makan siang mereka makan, bersama Bulek Ratih dan Lek No. Dibantu Ninuk, mereka sudah memisahkan tas berisi pakaian dan kardus yang berisi oleh-oleh yang akan dibawa pulang ke rumah.


" Ninuk ikut ke Sendang Mulyo, Mbak! Sore nanti langsung kembali ke kota dan kuliah di Senin pagi!"


" Yang rajin dan sungguh - sungguh kuliahnya, Nuk! "


" Iya, Mbak!" Dia segera menyalami Asti . Pak Sugeng dan Mas Aji akan mengantarkan mereka pulang dengan Mobil Elf itu. Sementara Mas Yanto ikut membantu membawakan barang-barang milik mereka ke dalam Elf. Pak Cakra sudah mentransfer sisa uang sewa mobil itu.


Mereka segera pamit, untuk mengembalikan mobil itu ke pemiliknya. Bosnya itu tinggalnya tepat di seberang desa Sendang Waru. Alias di. desa Tirtomoyo. Di sanalah bos Pak Sugeng tinggal, selain mempunyai beberapa toko mebel , beliau juga mengusahakan b rental kendaraan. Pria itu mempunyai armada truk dan mobil niaga yang dapat disewa oleh para petani dari beberapa desa di sekitarnya.

__ADS_1


Lek No sering menyewa truk dari bos Pak Sugeng itu untuk mengangkut hasil panen kelapa dan padi. Sayangnya, Asti belum mempunyai. cukup dana untuk membeli truk seperti itu. Kalau untuk membeli mobil bak terbuka seken dia mampu. Tetapi Lek No menolak. Sebab masih ada mobil bak terbuka Wak sudah jelek. Tetapi Avanza milik Joko sudah cukup membantu bilamana mereka ada perlu untuk bepergian jauh. Seperti menghadiri acara kondangan dari kerabat yang jauh. Atau membawa beberapa tetangga untuk acara pengajian di desa lain.


Putri dan Bu Jum sudah beristirahat di kamar anak bersama Akbar. Sementara Asti dan Mbak Ning, ngobrol di dapur bersama Mbak Pariyem, nama kakak sulung Mas Kancil itu.


Wanita itu berniat kembali ke desa setelah tugasnya menjaga rumah Asti selesai. Leon sudah menawarkan kepada suami Mbak Pariyem untuk menjadi supir pribadinya. Sebab Mas Tunggul dapat mengemudikan mobil. Para asisten Leon sekarang lebih fokus untuk menggurus berbagai kegiatan di kantor. Mulai dari persiapan surat-surat untuk tanah di Madiun, juga melanjutkan pembangunan perumahan tahap selanjutnya di desa Sidodadi sini.


Leon memerlukan supir yang akan mengantar dia bepergian untuk berbagai macam urusan, termasuk melakukan perjalanan ke beberapa kota, seperti ke Semarang atau ke Madiun.


" Ini makanan masih banyak, Mbak Asti!" jelas Mbak Ning.


" Tolong bungkus untuk dibawa pulang kakaknya Mas Kancil saja, Mbak Ning!" ujar Asti.


Mbak Ning mengeluarkan plastik pembungkus transparan untuk membungkus sayur dan lauk. Tadi semua orang sudah makan siang. Asti juga menyelipkan beberapa oleh - oleh , termasuk kripik buah khas Malang ke dalam kantong kresek itu. Suami istri itu sudah pamit pulang sambil membawa kantong kresek itu dan sedikit uang tambahan dari Asti.


Mungkin kalau bangunan tambahan rumah di samping dapat segera dikerjakan, Asti ingin memperkejakan pasangan suami isteri itu di rumahnya ini. Sayangnya, pembangunan itu agak tertunda karena Leon menfokuskan untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dari lahan baru di daerah Madiun itu.


Sore hari anak -anak sudah bangun, makan dan mandi. Akbar duduk-duduk dengan Om Ardi di salah satu tenda yang ada di halaman ruko. Ternyata dia banyak bertanya kepada kakek mudanya itu tentang berbagai jenis kendaraan yang melintas di jalan simpangan itu. Om Ardi ternyata juga sangat menyukai kendaraan, termasuk ikut menjadi anggota komunitas pencinta bus di ibukota Jawa Timur itu.


Qani ikut bergabung saat dimasukan ke dalam stroller oleh Bu Jum. Mungkin tempat inilah yang membuat mereka betah. Tidak terlalu sepi juga walaupun tinggal di desa. Tepatnya di pinggiran. Sebab jalan simpang itu menjadi sangat ramai dan menjadi jalan utama yang sangat penting sebagai daerah lintas ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, melalui Jalur Tengah.


" Akbar mau dibeliin kue?" tanya Om Ardi. Setelah dia melihat ada mini market di antara 4 ruko besar berlantai dua dan tiga itu.


" Toko itu kan punya Ibu, Kek!" ujar Akbar tenang.


" Ah, masa?" tanya Pria itu. Walaupun secara sekilas dia menyadari kalau Asti mewarisi darah kemandirian dari ibunya, alias Neneknya, Sarifah. Bagi Ardi mereka adalah keturunan wanita yang bermental baja, mandiri dan tabah!

__ADS_1


" Iya, Pak! Selain empat ruko itu, mini market itu juga milik Mbak Asti... Kalau Bapak perlu sesuatu, biar ambil saja di sana. Nanti dimasukan ke rekening Mbak Asti!" ujar Bu Jum menjelaskan.


Ada senyum kebanggaan di bibir pria berusia di bawah 40 tahun itu. Keponakannya hidup jauh dari tekanan dua bersaudara Juwono itu.Tinggal satu keinginannya, melihat Pakde Kerto! Lelaki itu dan saudaranya telah memberi mereka kehidupan yang pahit dan menyedikan dengan berbagai upaya jahat untuk menguntungkan dirinya sendiri.


__ADS_2