Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 51. Pergi dengan Membawa Luka


__ADS_3

Hampir saja ucapan Joko yang kasar itu dibalas dengan pukulan keras dari Satrio yang sudah memasang kuda- kuda. Mana Joko takut? Dia sejak bersekolah di SMP sudah berlatih pencak silat di balai kelurahan. Bahkan dulu juga membantu pelatihnya untuk mengajari murid- murid SD yang tertarik dengan olahraga beladiri asli Indonesia itu.


" Joko!" Panggil Lek No.


" Biar Joko yang jelaskan, Pak!" kata Joko pelan tetapi jelas. " Ninuk yang awalnya melihat Satrio dekat dengan perawat itu, saat Asti masih dirawat di rumah sakit. Saya masih menyimpan foto-fotonya. Tetapi Asti saja yang selama ini diam. Eh, lelaki buaya ini terang- terangan membawa cewek selingkuhannya ini ke SPBU di kawasan perempatan."


" Ya, sudah Joko dibantu seorang teman mengawasi mereka. Asti sudah lama mendapat alamat tempat Satrio mengontrakkan rumah untuk perempuan binal itu." Perkataan Joko kata demi kata telah menghancurkan perasaan mereka.


" Kamu tetap menyangkal, Mas?" Ejek Asti . " Bahkan tetap menuduh aku yang membawa lelaki lain ke rumah ini, Pak! Tanpa bukti lagi! Bahkan yang nggak akan Asti terima dari penghinaan ini, Kamu tidak mengakui Akbar sebagai anakmu!"


Lek No dan Bulek Ratih kaget sambil berucap. Astagfirullah azim! Hampir bersamaan. Ternyata Asti benar! Hati dan pikiran Satrio sudah dipenuhi keburukan. Jadi tak mampu berpikir jernih. Sebab dia sendiri juga telah melakukan perbuatan yang melanggar ajaran agama dan kesusilaan.Malah menuduh Asti melakukan tindakan negatif lainnya.


Sebuah tamparan keras dilayangkan Pak Cahyadi ke pipi kanan Satrio. Akbar sampai menangis karena kaget mendengar suara tamparan keras dan ribut karena pertengkaran ini. Bulek Ratih segera mendiamkan dan membawa Akbar masuk ke dalam kamar.


" Sekarang ceraikan Asti di hadapan Bapak yang tidak pernah mau kamu hormati ini!"


Mata Satrio memerah karena menahan marah dan malu. Perlakuan Pak Cahyadi sungguh di luar perkiraan mereka.


Satrio perlahan mendekati Asti.


" Saya Satrio Wibowo dengan sadar menalak Nastiti Anjani binti Almarhum Bagas Prasetyo Winangun. Sejak ini dia bukan istri saya lagi dan tidak menjadi tanggung jawab saya lagi!"


" Terima kasih! " ujar Asti lega. Apalagi Joko sudah merekam ucapan dan gambar Satrio yang sedang mengucapkan ikrar talak itu.


" Satu lagi, Pak! Boleh Asti melakukannya?"


" Kamu mau apalagi? " jerit Ibu Widya lirih. Sejak tadi wanita itu diam saja karena menerima banyak kejutan yang terjadi. Sekarang dia menatap tajam wajah Asti, menantunya itu dengan kemarahan seorang ibu yang merasa anak kesayangannya dipermalukan.

__ADS_1


" Saya hanya mau mau bersumpah untuk mengembalikan kutukan itu terhadap keluarga Satrio, istri dan anak- anaknya yang akan dilahirkan kelak. Saya menolak tuduhan berselingkuh. Saya juga bersumpah, akan mengharamkan sepeserpun uang yang akan Satrio berikan untuk Akbar yang tidak diakui sebagai anak kandungnya."


Kitab suci itu diangkat ke atas dahi oleh Astri lalu diciumnya dua kali. Semua orang terkejut dengan ritual yang dilakukan oleh Asti.


Mereka terdiam. Apalagi saat mendengar Asti meminta Joko mengangkat dus, koper dan segala hal yang telah disiapkan oleh Asti dari dalam kamarnya. Lek No juga bergerak ikut membantu. Sehingga barang- barang itu sudah diangkut ke bagasi mobil Joko yang terparkir tepat di depan pintu.


"Pak, Bu, Asti mau keluar dari rumah mulai hari ini. Kalau Satrio dapat bekerja sama dengan baik, Asti tak menuntut apa pun. Tetapi Asti sudah menyerahkan semua urusan pada Ibu Imelda."


Ada dua lembar kertas yang diberikan Asti pada Pak Cahyadi."Ini kartu nama Ibu Imelda. Ini Alamat rumah Zahra Madia Utami."


Tanpa mengucapkan salam atau bersalaman kepada sepasang suami istri yang dulu sangat dia hormati itu, Asti keluar dari rumah itu. Rumah yang telah menyiksa perasaan batinnya selama berbulan- bulan dengan cara Satrio merendahkan dirinya juga berselingkuh dengan Zahra.


Selama di dalam mobil, tak ada satu orang pun yang berbicara. Bulek Ratih pun hampir mati berdiri ketika Joko menceritakan perselingkuhan Satrio tiga hari yang lalu. Wanita itu sampai tak bisa berkata-kata, ketika mendengar Asti mau keluar dari rumah dinas Satrio dan minta cerai. Mereka semua selalu mendukung semua keputusan Asti, juga demi Akbar anaknya.


Kendaraan roda empat itu menembus jalan ke arah timur. Joko sudah membawa kunci rumah Asti yang baru. Seminggu ini, dia dibantu Mas Adam merapikan rumah Asti. Dari memasang pompa air, membeli lampu dan memasangnya untuk di beberapa ruangan di dua lantai rumah itu. Juga sudah memanggil Mbak Ning, saudara ibunya yang mau bekerja mengurus rumah itu.


Di depan pagar, ada Lek Yanto yang segera membuka pagar besi itu, ketika mobil Avanza hitam Joko berbelok di depan rumah berlantai dua itu dan membunyikan klaksonnya.


" Assalamu'alaikum!" Seru Asti lega.


Dia tersenyum ketika mendapat jawaban dari semua orang yang ikut masuk ke ruangan yang terang benderang, bersih dan nyaman.


"'Cah ganteng. Mau digendong Bulek, nggak ?" tawar Mbak Ning.


Akbar masih nyaman dalam pelukan Bulek Ratih. Dia menatap rumah itu dengan matanya yang berbinar dan mau tahu


" Ini rumah Akbar sekarang. Biar sementara Om Joko yang menjagamu. Mbah Kung No, dan Mbah Uti akan sesekali menengok mu." ujar Bulek Ratih sambil meletakkan Akbar pada kasur kecil di sudut ruangan itu.

__ADS_1


Di sinilah sekarang Asti berada bersama keluarganya. Terlindung dan aman. Joko masih mengawasi pembangunan empat ruko yang sudah naik bata di depan jalan sana.


" Nanti sekalian kita buat syukuran rumah baru juga selamatan ruko. Bagaimana Pak Pengawas?" ledek Asti


" Siap, Ibu Bos,!"


Mereka segera makan malam setelah selesai beribadah sholat Maghrib berjamaah. Di pojok ruangan itulah yang dijadikan mushola oleh Asti. Lantai itu dibangun agak tinggi. Dindingnya dicat hijau tua dengan lantai dilapisi karpet.


Meja makan minimalis dengan empat bangku itu ternyata tidak mampu menampung semua orang yang hadir. Sehingga mereka menggelar tikar di sebelah ruangan untuk duduk secara lesehan. Ruangan ini besar dan bentuknya memanjang yang akan digunakan Asti untuk ruang keluarga sekaligus untuk acara pengajian sekali waktu kelak.


" Biar Bulek Ratih yang menginap malam ini. Aku sama Joko pulang dulu!" Kata Lek No, sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.


Dua hari dua malam, Lek No gelisah karena anak asuhnya mendapat masalah dalam pernikahannya. Kini walaupun Asti bercerai, setidaknya dia bisa hidup tenang. Tindakan Satrio membawa wanita lain dalam kehidupan rumahtangganya dengan Asti sudah membuatnya marah dan kecewa.


Akbar sudah terlelap tidur di kamar utama. Dia tidur di dalam boks. Malam ini akan Asti tidur bersama Bulek Ratih. Sementara Mbak Ning tidur di kamar sebelah, yang rencananya akan dijadikan kamar tidur anak. Apabila Akbar sudah agak besar dan mau tidur sendiri.


Di luar masih terdengar suara kendaraan yang hilir mudik. Kamar Asti sudah diberi peredam berupa wallpaper tebal. Namun jalan raya di depan mereka semakin ramai saja dari tahun ke tahun karena pesatnya pembangunan di daerah ini.


Akbar hanya terbangun sekali. Dia kembali tidur lelap setelah pampers basahnya sudah diganti.


" Kok, ikut bangun, Lek?" tanya Asti melihat Bulek Ratih duduk di pinggir ranjang.


" Kamu sejak sholat tahajud tadi, kenapa nggak bisa tenang.?'


Asti memeluk erat tubuh Bulek Ratih yang tubuhnya mulai agak berisi. Wanita itu tak cemas lagi soal biaya kuliah Ninuk. Karena Asti sudah membayar uang kuliahnya, uang kost serta buku- buku yang cukup besar jumlahnya.


Mereka sekarang punya uang pegangan yang diberikan Asti, dalam rekening tabungan suaminya. Uang yang cukup untuk biaya hidup sehari-hari, juga untuk membayar upah para pekerja yang turut membantu mereka mengurus sawah dan kebun.

__ADS_1


Hasil panen padi bulan lalu sangat bagus dan melimpah hasilnya. Bahkan Joko sudah mendapatkan orang untuk memborong panen kelapa di kebun mereka besok.


Sayangnya keberkahan dan kemudahan hidup yang dialami Asti dan keluarga Lek No tidak sejalan dengan hancurnya rumah tangga Asti. Satu- satunya cucu pewaris keluarga Winangun.


__ADS_2