
Di rumah Asti hanya duduk - duduk di ruang tengah atau di taman, setelah keluar dari kamarnya. Leon melarang keras Asti menyentuh pekerjaan apa pun di rumah ini. Pria itu mengandalkan bantuan Bu Jum dan Mbak Ning. Sekaligus menjaga istrinya.
Asti mau nggak mau menyetujuinya permintaan Leon itu. Daripada dia harus bed rest dan tinggal di rumah sakit? Lebih baik dia beristirahat di rumah, lebih nyaman. Juga tidak harus menghadapi jarum suntik yang agak menakutkan baginya.
Bila di rumah dia masih bisa mengawasi pekerjaan Mbak Ning yang sedang masak, atau melihat Bu Jum menggurus Akbar. Bisa juga mengobrol dengan kedua wanita itu yang dianggapnya sebagai bagian dari keluarganya. Bukan seorang ART lagi.
" Mas Leon, aku nggak buat laporan keuangan rumah tangga dulu, ya?" pinta Asti pelan. Leon hanya mengiyakan, sambil menatap wajah Asti yang mulai berisi.
Kepala Asti masih sering pusing kalau digunakan untuk menunduk agak lama. Padahal obat-obatan yang diberikan Dokter Eva telah habis diminumnya dalam tiga hari ini.
" Nggak apa - apa soal laporan itu. Masih sering pusing?"
" Sedikit, tetapi kalau berbaring terus di kamar juga bosan... " bisiknya lemah.
Leon mengusap kepala Asti lembut. Sebisa mungkin Asti sekarang hanya memakai kerudung instan yang berbahan kaos yang ringan saja. Dia melupakan dulu kerudung anggun dan pasmina cantik yang harus dirapikan dengan jarum pentul, bros ataupun bros dagu. Semua itu membuat kepalanya bertambah berat dan pusing. Sedangkan di kamar tidurnya dia tak memakai hijab. Membiarkan rambutnya panjangnya terurai sebahu atau di konde sekenanya.
" Mau di beliin makanan apa? Kamu nggak ngidam pengen apa, begitu?" Tanya Leon cemas.
Asti hanya menggeleng lemah. Pria itu menarik tubuh Asti dalam pelukannya. Dulu Asti selalu berusaha meredam rasa ngidam, saat kehamilan Akbar. Apalagi Satrio jarang ada di rumah karena tugasnya. Sehingga dia hanya menangis ketika ngidam mau makan sate ayam di malam hari tidak keturutan. Apalagi kalau mau ngidam yang aneh- aneh bakal nangis bombai seharian karena tidak orang yang pergi untuk membelikannya.
Kehamilan Asti sudah memasuki Minggu ke sepuluh. Bersamaan dengan bergulirnya kasus Dania yang maju ke persidangan di pengadilan negeri di kota kabupaten. Bulek Ratih dan Lek No sudah tidak peduli dengan permasalahan persidangan itu. Kini mereka lebih fokus untuk mempersiapkan lahan sawah untuk ditanami padi pada musim tanam berikutnya.
Kang Kasat dan Kang Slamet sedang mengolah tanah sawah mereka dengan menggunakan dua traktor. Benda modern itu dapat disewa di sebuah toko penyewaan alat pertanian di dekat kantor kelurahan. Pekerjaan itu menjadi lebih ringan dan hanya dibantu oleh beberapa tenaga pria saja untuk membalikkan tanah sawah itu. Pekerja yang lain akan menebar pupuk kandang dan pupuk hijau.
__ADS_1
Kadang Mbak Isni menggunakan motor untuk membawakan makan siang untuk pekerja itu di sawah. Karena mereka hanya terdiri dari sepuluh orang pekerja saja. Kalau Lek No lebih suka kembali ke rumah, selain makan siang dia juga dapat shalat dhuhur berjamaah di musholla depan rumah.
Satu dua orang tetangga masih menyampaikan berita tentang kelanjutan jalannya persidangan pembobolan toko itu. Sampai Bu Aisyah malah membawa berita terbaru ke rumah Bulek Ratih. Sebab suaminya bekerja di gedung pengadilan di kabupaten.
Ternyata Novelita yang ada dibalik kasus kejahatan itu bermula. Wanita yang sudah menjadi kekasih Jago sejak setahun yang lalu itu tak berani mengelak. Ketika banyak bukti yang telah menyudutkannya. Wanita yang sedang hamil tujuh bulan itu harus merasakan dinginnya lantai penjara, karena dia dijatuhi hukuman 2 tahun penjara. Sedangkan Dania dan beberapa anak buah jago yang lainnya menerima hukuman dari 3 sampai 4 tahun. Tergantung besar dan kecilnya peranan mereka pada peristiwa pembobol toko di pasar kecamatan itu.
Dania dituduh menjadi penadah barang curian tersebut, karena menampung sebagian besar hasil jarahan rokok dan menjualnya ke beberapa toko atau warung di daerah lain.
" Terimakasih atas informasi Bu Aisyah. Sampai jauh- jauh mau mampir ke rumah ini!"
" Nggak apa -apa . Bu Sarno... Lagipula saya dengar Mbak Asti lagi hamil lagi, ya? Kapan - kapan nanti saya mampir ke rumahnya yang ada di Simpangan."
Wanita yang menjadi kader PKK di kelurahan itu mulai menyalakan mesin motor maticnya. Tadi Bulek Ratih membawakannya getuk, kacang tanah dan kerupuk karak buatannya sebagai oleh-oleh. Bu Aisyah memang wanita yang lincah dan supel itu.
" Wes aku sudah berumur, lho! Biar yang muda- muda saja yang aktif. Biar ada peremajaan di kadernya. Nggak ada Joko atau Ninuk. Mana bisa aku buat laporan atau proposal, Bu Aisyah... Kata Ninuk, aku ini gaptek. Bisanya cuma main hape aja. Paling WA sama telepon. Yang lain , blas. Nggak tahu. ... Ha, ha, ha."
Mbak Isni dan Mbak Mar masih berdiri di dekat pintu ruang depan saat Bulek Ratih masuk. " Aduh ada yang kepo ini!" Ledeknya sambil melenggang masuk ke dalam dapur.
Kedua perempuan yang terikat persaudaraan karena pernikahan mereka itu tersenyum malu. Sebab dengan mudahnya orang datang ke rumah ini memberi informasi yang penting dan paling akurat. Jadi bukan gosip atau hoax semata.
" Dania masuk penjara, dong?" tanya Mbak Mar.
" Ya, iya dong. Masak mau masuk sekolah? Semua sudah ada balasannya dari Gusti Allah. Si Novelita yang mengusulkan pembobolan itu. Sebab dia membutuhkan banyak uang untuk biaya menikah dengan Jago. Juga persiapan kelahiran anak mereka. Sedangkan Dania semasih bekerja di toko Asti, sudah disuruh Novelita untuk mengawasi keadaan di sekitar pasar. Tentunya juga mengawasi para petugas jaga pasar di di sana. Bahkan Dania juga memberikan cara dengan memberi tahu celah untuk membobol toko itu dari kunci yang agak rusak dari gembok toko yang sudah lama dan berkarat!"
__ADS_1
" Hebat ya, peranan Novelita dan Dania dalam pembobolan toko sembako itu. Apa ini yang disebut kemajuan dan menaikkan derajat wanita?" ujar Mbak Mar sinis.
" Hus, ya. Beda , dong! Kalau bertindak kriminal, artinya perempuan ini sudah terperdaya oleh keinginan dan kesempitan berpikir!" balas Mbak Isni.
***
Keadaan di warung tenda cukup tenang ... Apalagi Bu Jum dan Mbak Ning sudah beritahu oleh Firman dengan hasil keputusan di pengadilan kemarin. Mereka sangat berhati- hati membicarakan hal itu, takut didengar Mbak Asti.
Leon yang mulai kerepotan mencari merek susu ibu hamil yang disukai Asti. Susu rasa vanilla itu ada dalam beberapa sampel pemberian dokter Eva. Susu hamil dengan merek yang disukai Asti itu jarang ada dijual di toko atau swalayan kecil di daerah pinggiran seperti ini. Pria itu harus membelinya sampai ke kota yang jaraknya lebih jauh dari rumah mereka. Sebagai persediaan, Leon membeli 4 dus susu itu dengan ukuran 400 gram tiap dusnya.
Ternyata baru dua kali diminum, bau susu itu sudah membuat Asti mual hebat dengan hebatnya. Sampai Bu Jum menyingkirkan toples susu yang terbuat dari kaca itu. Padahal isi susu itu baru dituang dari satu dus. Masih ada 3 dus susu yang lain tersimpan rapi pada lemari dapur.
Pak Leon yang mendapat laporan dari Bu Jum terduduk lemas saat pulang kerja. Rasanya sia- sia dia pergi jauh untuk membeli semua susu itu yang harganya hampir mencapai 500 ribu rupiah.
" Jadi semua susu ini mubazir, Bu Jum?"
" Iya, Pak Leon...Daripada Mbak Asti dehidrasi karena muntah muntah terus. Nanti harus diopname lagi di rumah sakit. Sabar , ya. Pak Leon..."
Dua asistennya yang mendengar laporan itu tertawa geli. Padahal mereka ikut mencari susu ibu hamil itu di sebuah swalayan besar di kota.
Keadaan Asti mulai membaik, setelah kehamilan memasuki minggu ke 12. Dia sudah tertinggal jauh dari berbagai berita informasi terkini dan gosip yang berseliweran di sekeliling kehidupan orang - orang di rumahnya.
Sesekali dia masih menerima kehadiran Puspita dan Ningrum di rumahnya untuk memberi laporan hasil penjualan toko, dalam setiap minggunya. Kadang mereka juga bertemu dengan Ninuk yang setiap Sabtu dan Minggu menginap di rumah Asti. Mereka menjadi akrab dan ngobrol seru sampai malam.
__ADS_1
Gadis manja itu kini mulai dapat bertanggung jawab dengan berbagai tugas kuliah, ujian dan nilai IPK di setiap semesternya. Dia senang mendampingi Mbak Asti yang terlihat lebih berisi tubuhnya, berpipi chubby karena kehamilannya. Kedua orang tuanya pun bergantian datang dan menginap di rumah Asti.