
Ucapan Leon itu cukup mengejutkan para tamunya itu ... Belum tahu saja mereka kalau di ruang tamu ini, Pak Leon telah memasang CCTV dengan perekam suara yang paling canggih. Semua itu terhubung ke hape pribadinya.
Oleh karena itu, kalau para ART menerima tamu dengan orang yang belum di kenal dengan baik, tamu itu hanya ditempat di ruang ini saja. Kecuali kalau tamu yang datang itu masih ada hubungan kekerabatan, dengan yang tuan rumah, mereka akan ditempatkan di ruang keluarga atau di ruang makan dengan suasana yang lebih santai, nyaman dan akrab.
Pemasangan CCTV itu juga digunakan Pak Leon untuk memantau keberadaan anak-anaknya. Supaya keamanan dan keselamatan mereka tetap terjaga. Terutama dengan Qani, sejak bayi itu sudah pandai merangkak. Beberapa kali dia sering mencoba naik ke anak tangga menuju lantai atas, karena bil pintu pengamannya lupa ditutup.
" Tolong Mas Qosim bisa belajar menjadi pengusaha yang profesional! Bisnis, ya bisnis!"
Mata Pak Baihaki Sarman menatap Leon dengan pandangan tidak suka. Dengan cara Leon berbicara seperti itu, secara tidak langsung dia menyalahkan sikap calon menantunya.
" Pak Leon masih muda tetapi kok bersikap keras seperti ini, sih?"
" Tanya pada Mas Qosim, Pak? Kita belum mencapai keputusan final... Dari hasil pertemuan kemarin. Malah urusan jadi semakin ricuh oleh aksi spontan anak bapak yg terhormat itu! Dia mendatangi tempat pertemuan kami bersama dua sahabatnya. Lalu menyerang istri saya, dengan hinaan keji, saat mereka bertemu di musholla restoran itu.. Untuk apa anak Bapak melakukan itu, hanya karena membela teman baiknya bukan?"
" Maksud saya, apa Nak Leon terlalu to the poin, begitu?"
Leon tersenyum sinis." Ini bisnis, Pak! hitungan uangnya bukan dengan jumlahnya yang sedikit... Apa bapak mau rugi milyaran rupiah, karena kepentingan bapak gagal oleh kecerobohan putri bapak sendiri?"
Pria itu menggeleng lemah. Leon menatap wajah pria muda yang terlihat santun. Leon berkali-kali menghela nafasnya yang terasa berat. " Saya orang yang suka to the point, karena sudah bertahun -tahun terjun dalam bisnis seperti ini. Walaupun belum lama bergabung dalam perusahaan keluarga " Abadi Murti".
Jadi saya tetap bersikap profesional."
" Sebenarnya saya tertarik dengan beberapa produk dari pabrik yang dihasilkan Mas Qosim beberapa bulan yang lalu... Tetapi sejak itulah saya merasakan adanya satu keanehan... Setiap kita mengadakan pertemuan bisnis, selalu saja hadir tunangan anda dan teman baiknya itu ... Apa mereka ikut dilibatkan dalam kegiatan di perusahaan Mas Qosim?"
__ADS_1
" Nggak, Pak Leon! Tunangan saya mengelola Sekolah PAUD bersama Tante dan sepupunya... Saya hanya memberitahukan tentang jadwal pertemuan bisnis... Bila ada pertemuan di dekat kota Solo Biasanya saya menemui Nurwati."
Leon membuka sebuah map berisi berbagai laporan yang dikumpulkan Damar dalam beberapa waktu yang lalu. " Mas Qosim tahu, data dari laporan ini?"
Lagi -lagi pria itu menggeleng lemah. Tampaknya dia berhadapan dengan pria yang sudah bertahun-tahun malang melintang di perusahaan properti itu... Sebab segala hal yang berhubungan dengan bidang itu sangat dikuasainya.
" Laporan ini memperlihatkan, kalau produksi Mas Qosim tidak sebesar yang akan anda tawarkan kepada kami. Takutnya, target rumah yang saya harus saya bangun pun meleset... Ini tentang membangun sebuah kepercayaan , Mas!"
" Sebenarnya, saya sudah mempertimbangkan untuk memakai produk sejenis dari pabrik lain, yang target produknya sudah jelas di pasaran dengan harga yang kompetitif. Bagaimana Mas?"
" Tolong, Pak Leon... Kami sangat bergantung dengan kemurahan hati Anda!"
" Saya sebenarnya sangat menghargai berbagai produk asli dalam negeri dengan kualitas yang bagus... Apalagi dengan pemimpin usaha seorang muda seperti anda! Akan banyak melakukan inovasi .. Besok Senin kita bicarakan dengan Pak Cakra, di kantor saya! Kalau Andan mau melihat ke proyek tahap dua silahkan!"
" Tolong... saya tidak bisa menawarkan fasilitas menginap di rumah ini... Atau Mas Qosim bisa menentukan waktu pertemuan itu, di lain hari, mungkin?"
" Sekali lagi ini! Ini murni bisnis! Saya tidak suka melibatkan urusan pribadi di dalamnya! "
Wajah - wajah mereka terlihat lega. Namum bingung! Sebab mereka harus kembali ke kota asal mereka, dan harus kembali ke tempat ini di hati Senin pagi. Orang tua Nurwati bisa pulang ke rumah di Sukoharjo..Namun agak riskan buat Mas Qosim yang harus kembali ke Magelang!
" Apa di sini tidak ada losmen atau hotel yang dekat untuk tempat kami menginap, Pak Leon?" Tanya Ibu Atiek lebih sopan." Bukannya rumah ini sangat besar?"
" Bu! " tegur suaminya cepat. " Kita bukan tamu yang diundang untuk datang ke rumah ini!"
__ADS_1
Wanita itu menatap wajah suaminya dengan kecewa. Dia tak menyangka akan sikap tegas Leon dan ketidak pedulian Asti. Niat mereka semula adalah meminta maaf kepada keluarga Pak Leon. Mungkinkah dia tidak suka dengan cara Asti yang menegur anaknya, lalu muncullah rasa antipati terhadap Leon! Mungkin dalam gambaran di pikirannya, seharusnya Asti banyak, setelah dinikahi Pak Leon. Wanita kampung yang sederhana itu terlihat hidup makmur, dengan kemudahan hidup layaknya seorang wanita kota!
Malah dari tadi terkesan Asti juga sangat tak peduli. Mereka hanya disediakan makanan cemilan yang tidak mengenyangkan. Padahal jam makan siang sudah lewat hampir 30 menit yang lalu.
" Maaf, saya juga ada keperluan untuk mengundang tamu yang di rumah ini ..." ucap Leon, secara tidak langsung mengusir kehadiran mereka. Bagi lelaki itu tidak terlalu rugi melepaskan kerja sama itu. Buat apa bersikap baik pada orang yang meremehkan istrinya?
Asti berdiri menuju pintu pembatas ruang tamu dan ruang tengah. Tiba- tiba Ibu Atiek berjalan menghampiri si tuan rumah itu
" Mbak Asti kok nggak ada bagus-bagusnya, ya! Cara Mbak menerima kami sebagai tamu, Di sini. Kami ini datang dari jauh, lho! Dari Magelang! Sudah sejak sebelum Subuh sudah memulai perjalanan!"
" Apa Maksud ibu bicara seperti ini?" tantang Asti santai. Dalam hati padahal sih, dia tak peduli!
" Ya, tawari kami makan siang, kek! atau istirahat untuk menginap! Kami sudah dari pagi berjalan ke tempat ini.. . Mana ini kampung adanya di pelosok banget! Nggak ada warung nasi yang baik, apalagi nggak tersedia losmen atau hotel untuk menginap! Huh,"
" Kami tidak mengundang Ibu, Bapak dan Mbak Nur untuk datang ke rumah ini yang letaknya di pelosok kampung! Bukannya Mas Qosim seharusnya menemui Pak Leon dan berbicara bisnis di kantor suami saya?"
" Maaf, Mbak!" Ucap Mas Qosim berupaya menahan kedua wanita yang akan kembali bersitegang! Tampaknya pria muda menyadari, kalau kedatangan mereka sudah mulai menganggu istri Pak Leon itu. Dia meminta kedua Orang tua Nur mengalah!
Pak Leon menghampiri istrinya. Dia menunggunya itikad baik mereka untuk pergi." Sebelumnya, saya sudah merasa sangat kecewa saat karena Anak anda, Bu Atiek! Tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan kepada istri saya!Apalagi ibu juga tidak menghargai Asti.... Saya maklum kalau Ibu dan Mbak Nur lebih mempercayai ucapan Almira. Silakan! Tetapi perhatikan lebih video Almira itu yang dulu viral...! Saya masih ada kopian, ya! Bahkan Mas Qosim pun sudah mendapatkannya!"
" Jadi perlu saya jelaskan kembali! Rumah ini milik istri saya. Dibangun oleh Asti dari tanah milik warisan keluarganya, saat dia masih menikah dengan suami pertamanya dulu. Bahkan Almira juga yang diminta untuk menata seluruh ruangan di sini, dari lantai satu dan lantai dua. Jadi, silakan hitung sendiri berapa ratus juta yang Asti keluarkan untuk membangun ini semua, berserta empat ruko di depan sana! Kalau Ibu dan Bapak tidak percaya, tanya Pak Sembodo, dia Pak RT di sini! Beliau-beliau tahu riwayat tanah ini... Mereka Juga mengenal keluarga Winangun. Beliau adalah kakek Asti, yang mempunyai lahan sawah dan kebunnya yang luasnya separuh dari luas wilayah desa tempat kelahiran beliau di desa Sendang Mulyo!"
Mereka semua terdiam. " Kalau Pak Baihaki mau lebih tahu lagi, atasan Bapak di kantor itu pun adalah sepupu Papa saya! Pak Adityawarman Ramlan!"
__ADS_1
Wajah Pak Baihaki terdiam. Tentu dia mengenal kepala dinas di kantor tersebut. Sebab beliau masih bertugas sampai saat ini , karena mendapatkan jabatan itu dalam usia muda. Pria itu mencapai kedudukan yang sekarang karena prestasi kerjanya yang bagus ditambah lulus pendidikan S2 di luar negeri.
" Seharusnya saya tidak perlu mengajarkan sopan santun kepada orang yang lebih tua dari saya. Asti sudah tidak respect dengan Mbak Nur... Sekarang Ibu pun membela anak ibu berbuat yang salah! Jadi kalau Asti tidak melayani tamunya dengan baik , terserah dia dong! Ini rumahnya. Dia berhak mengusir tamu tak diundang seperti Ibu yang terus menyerang istri saya dengan kata-kata hinaan... Istri saya tidak kuliah dan bergelar sarjana, Bu! Jadi anak Anda tidak mau meminta maaf! Dia tidak kecewa... Semoga anda jangan salah langkah dan selalu membela Almira. Berbaik hati dan menolong orang yang sedang kesusahan itu baik. Tetapi anda jangan terjebak dan bodoh menghadapi kelicikan Almira."