
Tampaknya Mbak Almira terlihat cukup bahagia menikah dengan suaminya ini yang merupakan seorang tentara. Sebab pria yang dipanggil Mas Pram itu, tampak lebih dewasa dan cukup sabar untuk bersikap ngemong terhadap Almira.
Mereka menikmati hidangan makan siang itu dengan sangat nikmat. Walaupun dengan sajian makanan yang sangat sederhana, masakan yang biasa dimasak orang desa.
Bahkan kini, kedua asisten Pak Leon juga sudah mulai terbiasa di rumah Asti ini dengan melayani diri sendiri. Mereka pun mengambil minuman dingin di dalam kulkas yang ada di ruang tengah. Kadang juga di lemari pendingin itu sudah disediakan potongan berbagai buah di wadah. Mereka tinggal ambil saja. Asti menyiapkan itu sebagai pencuci mulut. Sengaja disimpan di kulkas , agar buah itu tetap dingin dan segar.
Udara semakin terasa panas dan menyengat di sekitar lokasi proyek pembangunan perumahan itu. Untuk para pekerja di lapangan, Pak Leon sudah membangun rumah bedeng yang terbuat dari bangunan semi permanen. Letaknya di ujung utara lokasi proyek. Bedeng itu terdiri dari dua bangunan yang memanjang dengan banyak kamar- kamar.
Di sanalah para pekerja yang gajinya dibayar perminggu itu istirahat, makan dan tidur. Sengaja bedeng itu dibuat jauh agak jauh dari pemukiman penduduk di desa Sidodadi, sebagai langkah antisipasi.
Sedangkan untuk rumah contoh, sudah dibangun beberapa buah. Masing masing disesuaikan dengan tipe rumah dan luas rumah. Umumnya rumah dengan ukuran tanah yang lebih sedikit dibuat dua model. Ada yang satu lantai dan dua lantai bergaya minimalis.
Sedangkan rumah dengan luas tanah yang lebih besar, nanti lokasinya dibuat lebih dekat dengan gerbang pintu masuk utama komplek perumahan itu. Tentu dengan model rumah yang juga berbeda pula. Masing- masing blok diberi nama yang berasal dari beberapa taman yang ada di seluruh dunia.
Beberapa rumah contoh itu sudah dibangun dan ditata rapi lengkap diisi dengan perabot dan pernak-pernik lainnya, layaknya rumah yang sudah siap dihuni. Semua diupayakan untuk menarik minat para pembeli. Diharapkan juga menjadi contoh penataan ruangan yang pandai memanfaatkan sisa ruang dengan gaya dan fleksibel untuk para penghuni rumah itu kelak.
Biasanya akan ada pengantar khusus sekaligus guide dari kantor pemasaran yang akan membawa para pengunjung dan peminat datang ke sana. Pihak humas kantor pemasaran juga menyediakan kendaraan tersendiri saat mengadakan kunjungan ke langsung lokasi pembangunan tersebut. Ramainya kedatangan pengunjung yang akan mengadakan survey lokasi itu biasa di hari Sabtu dan Minggu.
Ada sebuah rumah minimalis berlantai dua yang dijadikan Leon sebagai kantornya. Rumah itu jaraknya yang terdekat dari jalan utama di desa Sidodadi. Jalan itulah yang melewati depan rumah Asti.
Di sanalah Leon dan anak buahnya bekerja. Sebab kantor itu sudah beroperasi beberapa bulan setelah proyek perumahan itu dipasarkan.
Kantor itu sudah dilengkapi dengan segala sarana dan prasarana yang memadai. Bahkan ada telah disiapkan pelataran parkir luas dan ruang tunggu yang nyaman di lobi dalam kantor. Sementara Leon berkantor di lantai atas dengan perlengkapan kantor serba modern, dari jaringan listrik, komputer dan WiFi.
Tampaknya Mbak Almira masih ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Asti. Alias dia mau curhat. Dulu mereka sangat dekat dan akrab. Sebab Mbak Almira tertantang untuk menata rumah baru milik Asti dengan gaya yang lebih modern. Gaya yang jarang digunakan rumah di daerah Jawa ini. Kecuali rumah di perkotaan.
__ADS_1
Memang itulah yang diinginkan Asti. Rumah yang dimilikinya itu akan dapat menampung semua sanak keluarganya berkunjung. Sedangkan di lantai atas ada banyak kamar, kamar mandi dan ruang bersantai. Ciri rumah zaman sekarang. Tetapi Asti ingin tata ruang yang lebih simpel, sederhana dan nyaman.
Jadilah Mbak Almira beralasan kepada suaminya, masih ingin bermain dengan Akbar, karena kangen. Oleh karena itu, nanti Mbak Almira akan menerima keputusan apapun yang akan diambil oleh suaminya itu.
Pak Leon akhirnya mengajak suami Mbak Almira kembali ke proyek. Tadi pasangan itu langsung datang menemuinya di kantor. Padahal Leon sudah membuka kantor pemasaran tersendiri untuk memasarkan rumah ini di sebuah ruko di dekat SPBU Sekarwangi.
" Aku tahu, Mas Leon sudah lama mencintai Mbak Asti!" kata Almira to the poin.
Saat itu mereka sedang duduk di taman . Setelah mencicipi beberapa makanan dan jajanan pasar yang sering dibeli oleh Asti . Akbar sedang bermain di sana, dijaga Bu Jum dengan waspada. Mereka semua terlihat sangat santai, karena taman itu teduh dengan adanya pohon - pohon besar di kebun samping.
" Ah, masa? Pak Leon baru melamar saya akhir bulan Januari lalu. Mungkin mendengar Mbak Almira akan menikah... Jadi banyak para bujangan yang kecewa dan patah hati!" Ledek Asti geli.
" Saya sudah lama tahu, kok! Ketika diajak kerja sama dengan Pak Leon untuk mengatur both miliknya di acara pameran perumahan di Semarang. Yang ditanyakan Pak Leon ke saya, ya tentang Mbak Asti saja."
Terdengar helaan nafas Mbak Almira yang berat ." Itu rencana awal kami , Mbak Asti! Tetapi Mas Adam harus patuh pada ketentuan di keluarga besarnya... Dia tidak boleh menikah lebih dahulu sebelum kakak perempuannya yang pertama menikah... Pantang adik laki laki melangkahi kakak perempuan. Sedangkan Mbak Ariani masih berkarier sebagai dosen di sebuah kampus. Bahkan dia sedang melanjutkan pendidikan dan harus fokus dengan disertasinya tahun ini!"
"'Sementara Bapak saya sudah tua dan sering sakit-sakitan. Jadi beliau takut tak cukup umur untuk menjadi wali saya dalam pernikahan nanti... Padahal sayalah anak perempuan satu- satunya, diantara empat anaknya ...Coba Mbak Asti bayangkan... Alangkah berdosanya saya bila tak bisa memenuhi keinginan beliau itu? Mungkin akan menjadi penyesalan bagi saya untuk seumur hidup."
Perempuan itu suara semakin parau. " Tampaknya Mas Adam juga mulai bimbang, karena kamu tidak bisa menikah dalam waktu setahun ini. Jadi kami putus baik - baik. Saya akhirnya terpaksa menerima perjodohan dari pihak keluarga. Nama Mas Pram yang disodorkan oleh, adik bapak. Pria itu juga sedang mencari istri untuk kedudukan yang baru di daerah ini. Keluarganya masih ada hubungan saudara dengan Bapak...Apalagi orang tuanya sudah lama merantau dan tinggal di Yogyakarta. Tak sampai 4 bulan, kedua pihak keluarga sudah menyiapkan acara pernikahan itu. Beginilah... Akhirnya kami menikah! Semoga saja, Mas Pram memang jodoh yang ditunjuk Allah untuk saya!"
Tanpa sadar, Asti memeluk Almira , Sebab Asti dari dulu sangat kagum dengan wanita muda ini yang tidak saja cantik, tetapi mandiri dan cerdas juga!
Mbak Almira sudah mengepakkan sayapnya dengan sangat tinggi, ketika dia berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai bangku kuliah. Padahal dia lahir dan besar di desa juga. Malah sudah meraih gelar sarjana. Bahkan akan mempunyai punya pekerjaan baik yang sesuai dengan ijazah dan keterampilan sebagai desainer interior.
Sayangnya, Wanita muda tak bisa menentang permintaan orang tuanya untuk menerima perjodohan itu. Apalagi Mbak Almira tidak punya keberanian untuk melanggar adat dan tradisi di dalam keluarganya itu.
__ADS_1
" Saat kita berkenalan dulu, saya melihat kalau Mbak Asti memendam rasa kecewa dan sakit hati akibat perselingkuhan suami...
Kalau sekarang, Mbak Asti tampak lebih tenang. Bahkan ada rona bahagia setelah menikah dengan Pak Leon..."
Mbak Almira menarik napas panjang. " Sebenarnya saya sedikit ngeri juga ketika dijodohkan dengan seorang tentara! Takut mengalami perceraian seperti Mbak Asti, karena pernah menikah dengan seorang abdi negara juga! Sebab mereka mempunyai tugas negara yang wajib didahulukan di antara, kepentingan yang lain!'
Wanita cantik itu memandangi Asti, lalu melanjutkan curahan hatinya yang paling dalam. " Jadi sebisa mungkin, saya akan tinggal bersama Mas Pram. Apalagi kami belum terlalu mengenal watak dan karakter masing-masing. Jadi kalau nanti tinggal berjauhan, Takut dia mudah berpaling kepada perempuan lain. Apalagi kalau saya lebih mementingkan karier saya! Bisa tambah amburadul sepertinya. Makanya, saya bekerja sebagai freelance saja di sebuah galeri di Yogyakarta. Bahkan tawaran bekerja di Jakarta saja saya tolak."
Ada senyum lembut terpulas di bibir Asti. " Mbak Almira, kita manusia itu punya jalan hidup masing-masing. Nggak ada yang sama! Itu sudah digariskan oleh Allah. Berdoa saja semoga Mbak Almira tidak mengalami diselingkuhi dan diceraikan suami seperti saya... Jalani semuanya dengan ikhlas atas kehendak Allah yang terjadi. Insya Allah hidup kita berkah, tenang dan sejahtera.."
Mata Wanita muda itu berkaca- berkaca. " Tuh, kan. Mendengar ucapan Mbak Asti, saya jadi tenang begitu..."
" Saya mendoakan semoga pernikahan Mbak Almira langgeng. Kalian terlihat sangat cocok dan serasi... Mungkin itu jodoh terbaik Mbak Almira yang sudah sangat berbakti kepada Orang tua!"
"'Mudah- mudahan kita jadi tetangga di tahun depan, ya. Mbak! Mas Pram akan ditempatkan di daerah ini, akhir November. Sementara ini kami tinggal di rumah Ibunya, di Yogyakarta."
Hampir dua jam mereka ngobrol bersama Mbak Ning dan Bu Jum ditemani es teh manis dan puding buah buatan Asti. Sampai Akbar duduk dipangkuan Ibunya.
" Kok, Akbar tambah ganteng, ya?" ledek Almira sambil menyentuh kedua pipi gembul Akbar.
" Ini baru saja sembuh dari sakit, Mbak!" Lapor Bu Jum." Kemarin kedua pipinya inibmasih agak kuyu dan tirus!"
" Itulah, namanya anak kecil. Sebentar sakit, sebentar sembuh. Kemarin sudah kempes ini pipi. Sekarang gembul lagi. Terimakasih, Bu Jum, ya. Yang sangat telaten mengurus Akbar!"
Asti menimang- nimang anaknya itu. Yang juga sedang digoda oleh Mbak Almira. Mereka menunggu kedatangan para suami kembali rumah ini. Anehnya, Leon dan Pak Pram malah jadi sangat akrab... Padahal mereka baru bertemu dan berkenalan siang tadi.
__ADS_1