Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 270. Rencana ke Desa Sendang Mulyo


__ADS_3

Warung Tenda mulai ramai didatangi pembeli, setelah lewat azan Magrib. Ardi menyingkir ke bangku yang ada di dalam halaman samping rumah Asti. Rumah besar berlantai dua itu tampak indah, berpadu serasi dengan bangunan ruko di depannya. Diterangi dengan berbagai lampu ndi sudut yang tepat. Sehingga semua terlihat terang, bersih dan nyaman.


Matanya terus mengawasi orang- orang yang datang dan makan di sana. Warung itu dibuat ala jajanan food street di kota - kota besar di Indonesia. Hanya saja sebagian besar dapur dan tempat mengolah makanannya dibangun di bagian belakang rumah Asti yang cukup lebar. Bangunan itu terpisah dari bagian pengunjung yang diberi tenda terpal dan penyangga baja. Di halaman ruko itulah terdapat meja dan kursi untuk para pengunjung makan di sana.


Meja dan kursinya itu berbentuk memajang. Kayunya dari jati Belanda, jadi lebih kokoh dan kuat. Tetapi lebih ringan untuk dipindah-pindahkan. Bagian belakang itu terdiri dari dapur, sebuah kamar tidur dan kamar mandi untuk pengunjung.


Seluruh area dapur dan masak itu diberi lantai beton dengan variasi pecahan keramik bergaris agar tidak licin. Juga mudah dibersihkan setelah warung akan dibuka dan ditutup. Pintu pagar juga dibuka hanya khusus untuk pekerja warung tenda, lewat. Sebab bagian di selatan tempat itu adalah halaman samping rumah Asti. Tempat Om Ardi duduk sekarang. Di halaman itu disediakan seperangkat kursi kayu yang nyaman. Juga pohon buah cangkokan dalam pot- pot drum besar untuk menjaga privasi rumah Asti dengan satu pintu belakang di sampingnya.


Dapur untuk Warung Tenda itu dibangun secara permanen, dengan atap rangka dari baja yang tinggi. Dindingnya merupakan tembok pembatas rumah Asti dengan kebun kosong di belakang. Sedangkan, sebagian pembatas antara area dapur dan tempat para pengunjung makan di sana, berupa pagar besi yang dapat dilipat, sehingga mudah dibuka tutup. Pagar itu juga menjadi batas rumah Asti dengan halaman ruko.


Terlihat dapur itu ditata layaknya dapur yang ada di sebuah restoran besar ataupun dapur di hotel. Seperti adanya wastafel untuk cuci tangan, dekat meja kompor. Terdapat rak piring baja bersusun di atas bak cuci piring dengan dua kran air yang menggunakan gagang yang dapat ditarik dan diputar kedudukannya.


Tidak jauh dari bak cuci piring, ada meja kokoh dari baja dengan dua kompor yang letaknya agak berjauhan. Sehingga Mas Danu dapat mengolah berbagai masakan, juga dapat dibantu oleh pekerja yang lain. Berbagai bahan masakan, seperti sayuran, bumbu dalam berbagai kemasan botol di tata di dalam kaca etalase di dekat meja rajang kecil, juga untuk meletakkan hasil masakan. Agak jauh diletakkan cooler dan kulkas berisi minuman dan bahan baku masakan yang masih belum ataupun yang sudah diolah seperti suwiran ayam, bakso dan udang.


" Mau coba olahan masakan chef Danu, Om?" ledek Leon yang baru saja keluar dari dalam rumah setelah membawa masuk kedua anaknya tadi. Mereka harus tidur, karena hari sudah lebih dari pukul 20.00.


" Apa kita dari pagi tadi tidak makan masakan chef Danu, ya?" ucap pria itu lagi. Usianya mungkin lebih tua empat atau tiga tahun di atas usia Leon. Namun hidupnya yang mengalami kesulitan dengan salah satu kakinya yang cacat itu tidak membuatnya menjadi lelaki yang putus asa dan minder. Malah karena rasa ikhlas dan penuh syukur itu, wajah Ardi menjadi lebih muda usianya.


Dia belajar banyak dari orang-orang baik di sekelilingnya yang selalu mengulurkan tangan untuk membantunya , tanpa pamrih. Bahkan saat dia dan kakaknya tinggal jauh dari keluarga di perantauan, banyak tetangga dan teman yang menganggapnya sebagai saudara sendiri.


Sedikitnya dia juga belajar berwirausaha sambil menyelesaikan pendidikannya di pesantren... Mungkin karena usianya yang lebih tua dua tahun dari teman sebayanya , membuat Ardi lebih matang dan mudah menyerap semua pelajaran di pesantren tersebut.


" Ini semua, milik Asti?" bisik Ardi. kepada Leon. Sambil mengamati rumah yang bagus juga empat ruko yang terletak tepat di depan jalan raya simpangan yang paling ramai.

__ADS_1


" Iya... Saya yang numpang hidup di sini, Om!" jawab Leon cengengesan.


" Asti itu perempuan mandiri. Mungkinkah pengalaman pernikahan yang menyedihkan itu membuatnya jadi tegas, kuat dan bersikap obyektif." Ucap Leon lagi.


" Lalu, kalau semua ini punya keponakan saya...Apa yang kamu berikan kepada istrimu itu, Leon?"


Leon tergagap. " Saya berusaha membiayai semua keperluan rumah tangga ini, Om. Dari kebutuhan dapur, makan sehari - hari, mengaji tiga ART. Juga membayar tagihan listrik!"


" Maaf, Leon ... Bukan maksud saya merendahkan peranmu sebagai seorang suami.."


Telapak tangan Leon menepuk bahu paman dari istrinya itu. " Tenang, Om! Saya juga berharap rumah tangga saya dengan Asti langgeng sampai seumur hidup. Kalau pun sampai kami bercerai, saya tetap menerima Akbar seperti anak kandung saya sendiri... Tetapi Joko sudah mendapatkan amanah, dari Asti, kalau dia yang menjadi wali Akbar dan mendapatkan tiga perempat baginya dari semua peninggalan warisan Winangun yang ada di desa!"


" Sudah tercatat di notaris itu?" tanya Ardi lagi.


"Sudah Om. Malah seperempat peninggalan warisan Winangun itu diberikan kepada Joko dan Ninuk, yang dianggap sebagai adiknya sendiri oleh Asti ...Dia melakukan hal itu setelah dicampakkan oleh suami pertamanya yang kepincut dengan perempuan muda lain. Tetapi lewat kekuatan magic... Jadi Asti tidak mendapat harta gono-gini. Malah Akbar tidak diakui sebagai anak kandungnya oleh si mantan!".


" Iya, Om. Dari cerita Pakde Muin! Beliau yang diminta oleh almarhumah Bude Ayu untuk melacak jejak Pak Yusuf dan Om di Surabaya."


" Siapa, Pakde Muin itu, Leon? Para Pegawai di ruko sampai ketakutan ketika beliau datang ke Malang dan menanyakan keberadaan kami!"


Leon berpikir agak lama. " Kalau dalam hubungan kekerabatan, Pakde Muin adalah adik sepupu Mbak Putri, Neneknya Asti. Mantan mertua perempuan Asti adalah anak sulung Mbak Sanjaya, kakak laki - laki dari Mbah Putri! Sebenarnya, Mbah Sanjaya dulu bermaksud menjodohkan Asti dengan salah satu cucunya, agar hubungan persaudaraan mereka menjadi lebih dekat. Tetapi Bu Widya malah mengajukan Satrio, anak bungsunya... Bude Ayu menerima perjodohan itu, untuk Asti. Karena berpikir pemuda itu sudah punya pekerjaan tetap dan dapat bertanggung jawab. Justru karena perceraiannya dengan Asti, membuat hubungan kekeluargaan di antara anak-anak Mbah Sanjaya menjadi runyam."


Leon menelan ludahnya. Sebab dia harus menceritakan ini dengan jujur. Sebab kepergian Pakde Muin berhubungan dengan keadaan mantan mertua Asti. " Om, mantan ibu mertuanya Asti itu sekarang sakit parah dan dirawat di rumah sakit! Kehidupan mantan Asti itu dengan istri barunya itu juga bermasalah. Setelah dia mendapatkan kecelakaan yang sangat fatal sampai sebelah kakinya luka parah.. Jadi dia memilih ditugaskan ke Purwokerto... Ibu Widya juga bercerai dengan suaminya , karena selalu membela anaknya itu si Satrio itu salah. Padahal anaknya itu sudah mengkhianati pernikahannya dengan Asti. Juga menzolimi mantan istri dan anaknya itu. Bahkan harta Ibu Widya juga sudah ludes terjual untuk membiayai pengobatan kaki Satrio dan cucu perempuannya itu!"

__ADS_1


Om Ardi hanya terdiam. Mereka baru masuk ke dalam rumah setelah para pekerja Warung Tenda mulai beberes untuk menutup warung itu karena hari sudah malam. Hampir pukul 22.00.


****


Pagi hari langit tampak bersih. Ternyata di lingkungan wilayah ini, letak masjid cukup jauh juga. Adanya di perkampungan seberang jalan simpangan. Mungkin jaraknya lebih dari 1 Km dari rumah ini. Makanya Asti membuat mushola kecil untuk keluarganya di dalam rumahnya itu. Cukuplah untuk 4 orang yang sholat berjamaah di sana.


" Jadi ke desa kan, Om?" tanya Leon setelah mereka selesai sarapan Mbak Ning telah menyiapkan nasi goreng juga nasi putih dengan lauk yang cukup lengkap seperti ayam goreng dan tumisan buncis tempe.


" Kan kamu mau berangkat ke kantor! Dahulukan urusan pekerjaanmu saja, Leon. Kapan - kapan saja, saya mampir ke desa!" ujar laki- laki itu.


"'Lho Asti bisa antar, Om. Dia sudah biasa kemana-mana... Anak-anak juga sangat senang dibawa ke desa... Mungkin sekalian dia memantau tokonya yang di ada pasar kecamatan !"


Om Ardi agak bingung. " Kita naik apa kalau ke desa sambil bawa anak - anak?"


Leon tersenyum." Asti bisa menyetir mobil sendiri, Om. Karena kalau bawa Qani juga harus bawa pengasuhnya. Makanya saya membelikan mobil yang agak besar untuk dapat mengangkut mereka!"


Benar saja, anak-anak sudah rapi setelah sarapan dan mandi. Bu Jum menyiapkan car seat untuk Qani di mobil Inova. Sementara Putri memasuk barang-barang keperluan Akbar dan Qani , seperti botol susu, pampers, tisu basah juga beberapa pakaian untuk ganti keduanya.


" Akbar , duduk di belakang sama Dedek dan Bu Jum, ya! Kakek Ardi biar duduk di depan!"


" Iya, Bu" Jawab Akbar patuh.


Asti segera membawa Inova itu keluar dari garasi depan. Lagi- lagi Mas Yanto sibuk membantu agar mobil itu dapat berjalan dengan aman keluar dari rumah dan menyeberang di jalan simpangan itu.

__ADS_1


Mobil bergerak ke arah timur. Lalu lintas di jalan simpang itu masih ramai lancar, setelah jam sekolah sudah lewat lebih dua jam yang lalu. Sekarang sudah pukul 09.00.


Ramainya kendaraan yang lewat di pagi tadi, biasanya didominasi oleh para pelajar yang diantar orang ke sekolah. Ada juga murid - murid pelajar di SMP dan SMK yang membawa motor sendiri ke sekolah. Sebab di sekitar kecamatan ada sebuah sekolah SMP negeri terbaik di wilayah mereka, karena prestasi murid - muridnya dalam bidang akademik dan olah raga. Bahkan pernah mewakili wilayah kabupaten pada lomba Porseni Pelajar tingkat provinsi tahun lalu. Itulah tempat Asti bersekolah dulu, sebelum dia melanjutkan pendidikan di SMK yang jaraknya lebih jauh lagi, di ujung perbatasan dengan kabupaten tetangga.


__ADS_2