Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 21. Fakta yang Mulai Terungkap


__ADS_3

Kembali ke rumah dinas ini lagi adalah kewajiban Asti sebagai istri dari seorang Satrio Wibowo. Untuk sementara ada ibu paruh baya saudara jauh Mbah Sanjaya yang akan menemani dan menjaga Asti saat Satrio bekerja.


Wanita itu tinggal di rumah Pak Sanjaya bersama kerabat yang lainnya.Dia masih bersaudara dengan istri Pak Sanjaya. Sebab suaminya sudah meninggal.


Bude Prapti untungnya bisa naik motor matik, jadi mereka sering belanja ke pasar untuk membeli berbagai sayur dan buah yang lebih segar. Tentu saja dengan seizin Satrio, asal Asti yang membonceng.


Terkadang mereka menerima kunjungan Ibu Anggita yang mengaji atau hanya sekedar membawa si kembar jalan- jalan sore di jalan depan rumah. Asti sesekali keluar dan menyapa para ibu tetangga lainnya. Tetapi dia tetap merahasiakan kehamilannya, agak malas kalau dapat omongan dan nasehat dari wanita yang merasa sok tahu hanya karena mereka sudah punya anak lebih dulu.


Di rumah Bude Ayu kembali diadakan acara tahlilan untuk memperingati kematiannya yang ke


40 hari . Dua hari sebelumnya, Asti sudah menginap di rumah itu bersama Bude Prapti. Segala macam kebutuhan sudah dicicil Bulek Prapti seminggu sebelumnya dari membeli dus untuk nasi kotak, kantong plastik berbagai ukuran sampai kantong kresek.


Siang tadi Asti mendatangi rumah Bulek Ratih. Di sana juga ada Bude Prapti yang sibuk mengupas bawang merah. Segala macam belanjaan di letakkan di atas meja besar di dapur wanita itu.


" Sini, Asti. Tadi Bulek beli nasi Yu Yemi, untukmu!"


Ada senyum di wajah Asti bila ingat Yu Yemi dan cerita tentang pasar. Hanya ada berita tentang toko Bu Haji Anwar yang banyak menerima pesanan seiring banyaknya orang yang tertarik dengan kegiatan umroh. Sebab berhaji itu kalau menunggu giliran bisa berangkat paling cepat lima tahunan mendatang!


Tak lama, ibu- ibu dari beberapa rumah terdekat datang. Asti hanya kebagian melipat kardus- kardus untuk nasi dan kue itu dengan bantuan strapless. Ada ibu- ibu yang memasak di dapur berbicara dengan berbisik- bisik takut terdengar oleh Asti.


Hampir semua tetangga di sini ikut merasakan kesedihan Asti karena kematian Bude Ayu. Tetapi Bu Haji Anissa terus mengingatkan sebagian warga di desa itu agar memberi Asti ketenangan. Apalagi Asti sedang hamil muda. Usia kandungan Asti baru 8 Minggu masih muda dan rentan.


" Sehat Mbak Asti? " tegur ibu Hesti yang baru datang dan masuk dapur Bulek Ratih.


" Sehat, Bu. Berkat doanya."


Para ibu itu bekerja sambil ngobrol banyak. Berbagai sayuran sudah dibersihkan dan dipisahkan dari kresek tersebut. Berbagai macam bumbu sudah diulek dan disimpan ke wadah- wadah plastik. Kulkas dua pintu di rumah utama sudah dipindahkan ke dapur ini yang telah diperluas Lek No dengan membobol tembok pemisah dengan sebelah gudang.

__ADS_1


Keesokan harinya para ibu yang datang untuk rewang semakin banyak. Berbagai bau masakan yang ada di dapur itu malah membuat Asti mual. Dia segera menyingkir sambil mengucapkan maaf, kembali ke kamarnya di rumah utama.


" Asti tidak boleh dikasih tahu soal siapa yang merampok Bude Ayu?" Tanya seorang ibu yang dipanggil Watun.


" Jangan.Tun. Kasihan..."


Bulek Ratih faham akan keingintahuan masyarakat atas perkembangan kasus itu. Tetapi dari keterangan Pak Haji Anwar, Bude Ayu mengalami sesak napas karena ditekan kuat lehernya setelah para perampok memaksa wanita tua itu menunjukkan simpanan hartanya.


Tak ada barang berharga di rumah itu, kecuali dompet Bude yang hanya berisi uang satu juta rupiah. Padahal orang- orang itu mendengar kalau Bude Ayu menerima puluhan juta rupiah dari borongan panen kelapa di kebunnya. Tak ada perhiasan emas puluhan gram, kecuali cincin emas 4 gram yang melingkar di jari wanita tua itu. Cincin emas dengan inisial nama ibunya, Sri.


Selebihnya Pak Haji Anwar, Lek No dan beberapa aparat desa terus membantu Pak Herlambang mengusut kasus itu.


Satrio juga tidak memberitahu Asti soal keterlibatan keluarga Mbak Nanik di desa Sendang Ranti. Hampir dua Minggu kemudian rumah Pak Junaidi digrebek oleh puluhan polisi. Ada beberapa orang yang ditangkap termasuk satu orang yang mencurigakan karena dia menyerupai sosok Mas Timbul.


" Hey, masih mual? " Bisik Satrio saat mendatangi istrinya itu yang masih terbaring di atas kasur, di kamarnya.


Menurut wanita yang sudah melahirkan tiga kali dan mengurus cucu- cucu dari kakeknya itu, kehamilan Asti tidak terlalu memberatkan.


Wanita itu tidak pernah merepotkan suaminya untuk memenuhi rasa ngidamnya seperti minta yang aneh- aneh. Tidak pernah membangunkan suaminya tengah malam hanya untuk makan atau jajanan di luar rumah. Tidak pernah meminta Satrio manjat pohon mangga tetangga, hanya karena mau makan buah mangga muda yang asam.


Hanya itu saja sering mual karena mencium bau yang kurang dia suka, seperti masakan !


Segelas air wedang jahe hangat disodorkan Satrio agar diminum Asti untuk meredakan rasa mualnya. Untung kamar ini sudah dipasang AC sejak seminggu sebelum dia menikahi Asti. Karena rumah tua, ventilasi di kamar ini kurang memadai dan membuat kamar Asti agak pengap dan panas.


Acara tahlilan sudah dimulai. Asti hanya duduk di depan kamar, sebab ibu- ibu sejak sore sibuk mengatur kotak- kotak nasi berkat. Lek No mengundang hampir seluruh tetangga desa yang terdiri dari 70 kepala keluarga.


Setelah pembacaan Yasin selesai, berbagai makanan di piring- piring mulai disajikan. Gelas berisi kopi atau teh pun di sediakan dalam baki-baki plastik besar.

__ADS_1


Pak RT pun memberitahu sebuah informasi ketika para bapak itu telah menikmati panganan dan minuman yang disediakan.


" Bapak- bapak saya akan menyampaikan sesuatu agar warga kita tenang, aman dan tentram setelah berita ini!"


Bapak- bapak itu terdiam karena melihat Satrio yang juga duduk di sebelah Pak RT dan Pak Haji Anwar.


"Mas Timbul sudah ditangkap di sebuah rumah di desa Sendang Ranti. Tetapi yang merampok Rumah Bude Ayu adalah Zasman adiknya Mbak Nanik. Kita tidak tahu apakah lelaki itu menikahi Tina atau Dian, anak Mbah Rayi."


Suara - suara bapak- bapak bergumam. Mereka mulai memahami sedikit demi sedikit rangkaian cerita itu.


" Perempuan yang dilihat Agus, anak Pak Ton di rumah Bu Condro benar si Timbul. Dia datang menengok ibunya dengan menyamar menggunakan pakaian perempuan. Tetapi orang- orang yang datang ke rumah Bude Ayu ini adalah komplotan Zasman. "


"Saat digrebek di dekat sungai di perbatasan Ngawi, Zasman sempat melawan dan ditembak petugas. Tetapi sampai di rumah sakit Zasman tidak tertolong. Dia meninggal. Timbul di penjara di Semarang karena kejahatannya banyak dilakukan di kota itu seperti jambret dan begal"


Bulek Ratih terduduk lemas.Sampai dia mulai mendekati ruang tempat bapak- bapak terkumpul


" Maaf, Pak RT. Mbak Dian yang tinggal di rumah Mbah Rayi! Mbak Dian pernah mampir ke rumah sewaktu ada borongan kelapa di kebun. Dia tanya- tanya macam - macam. Karena saya nggak ngerti tak suruh nanya bapaknya Ninuk."


Semua kaget. Termasuk Pak Haji Anwar." Bukannya Dian tinggal di Yogya dan kerja di kafe temannya yang di dekat Malioboro?"


Bulek Ratih tambah bingung." Sudah lama cerai katanya, Pak. Dia nikah sama Zasman sudah lebih dari 3 tahun dan punya anak satu."


Besoknya datanglah beberapa mobil patroli polisi ke desa . Rombongan mobil itu mendatangi rumah Mbah Rayi yang ada di ujung desa. Benar, di sana ada Mbak Dian dan anak perempuan yang masih balita.


Wanita itu tampak pasrah setelah dia dinaikkan ke mobil patroli. Ada banyak barang yang dapat dijadikan bukti dari kejahatan suami istri itu. Tampak tas besar yang berat diangkat beberapa petugas. Isi tas itu berbagai benda tajam sampai perkakas seperti parang, pisau besar sampai linggis.


Mobil itu meninggalkan desa diiringi puluhan pasang mata para penonton yang sebagian merupakan warga desa setempat. Ada umpatan juga beberapa kata ucapan tak percaya. Rumah setengah bata dan tampak kumuh itu ternyata dijadikan sarang dan persembunyian kelompok Zasman selama ini. Kelompok begal yang sadis sampai menganiaya korban dan membunuhnya kalau melawan.

__ADS_1


Kali ini Asti kembali ke kota dengan tenang. Di sisinya ada suami yang selalu menjaga dan melindunginya. Ada juga Bude Prapti yang menjaganya penuh kasih sayang. Dia hanya berharap dapat menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Satrio sesuai dengan ajaran agamanya. Rumah tangga yang diridhoi Allah.


__ADS_2