
Asti terbangun dari pingsannya setelah dia berbaring di ruang UGD. Ada tancapan jarum infus di pergelangan lengan kanannya. Di sisi ranjang itu ada berbagai kabel yang terhubung dengan perutnya.
Lamat-lamat dia mendengar percakapan suara Leon dan suara pria lain yang lebih berwibawa. Tampaknya keadaan Asti sangat serius. Sampai sebuah suntikan menembus pinggul kirinya.
Selama dalam penanganan dokter itu, Asti mulai tersadar. Namun tak bisa bergerak atau bicara. Ada berbagai selang yang memonitor keadaan tubuhnya. Juga rasa sakit yang menyengat di perutnya yang buncit. Dalam keadaan seperti itu, Asti memejamkan matanya berkali -kali. Antara menahan rasa sakit akibat nyeri itu, bersamaan dengan sakit hatinya yang lebih parah karena permainan dua makhluk manusia itu dengan dirinya dan kehidupan makhluk kecil bernama bayi di rahimnya.
Apa ini yang diinginkan Mbak Almira? Agar dia mengalami keguguran dan kehilangan bayinya. Sehingga dia diceraikan oleh Leon... Tentu dengan mudahnya wanita muda yang penuh ambisi itu bercerai dengan suaminya, dan menggaet perhatian Leon!
Atau Leon sengaja berdiam diri, agar dia dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan perceraian mereka? Tetapi sudah lama juga Asti berbicara dengan Ibu Imelda. Segala harta kekayaan miliknya akan diberikan pada Akbar, sebagai ahli warisnya lewat kuasa hukumnya, seorang pengacara sekelas Ibu Imelda, S.H.
Asti menyebutkan nama Joko dan keluarga Lek No sebagai wali yang sah untuk mengasuh Akbar nanti. Mereka yang akan mengelola seluruh hartanya ini. Termasuk pesan kepada mereka untuk menyekolahkan Akbar ke sebuah pesantren, apabila umurnya tidak panjang karena dia mengalami kesulitan untuk melahirkan secara normal di kehamilan keduanya ini.
Bidan Irna yang membicarakan itu secara hati - hati kepada Asti dalam pemeriksaan berikutnya. Asti sudah berbulan -bulan tidak terlalu memperhatikan kesehatan tubuhnya lagi. Makan sekedarnya, tidak lagi berobat ke dokter kandungan dan minum vitaminnya. Semua dia lakukan untuk mengirit biaya pengeluaran rumah tangga. Sebab dia harus bersiap-siap, bila Leon menceraikan, dan dia tidak mendapatkan biaya rumah tangga yang cukup besar lagi, yang selama ini diberikan Leon sebagai biaya rumah tangga.
Leon sudah semakin susah diajak menemaninya periksa ke dokter Eva dengan alasan pekerjaan yang cukup banyak di kantornya. Juga alasan - alasan yang membuat Asti merasa ditolak dan tidak diinginkan lagi oleh lelaki itu. Mungkin kehadiran Almira lebih memberinya kenyamanan dan kegairahan hidup.
" Tolong dokter, selamatkan istri dan anak saya!"
Suara Leon terdengar parau dan putus asa. Waktu berjalan dengan sangat lambat. Mereka mulai memasangkan selang oksigen ketika Asti tersengal-sengal untuk bernapas.
Asti berusaha menahan air mata ini. Sungguh dia tak menyangka kalau Leon dapat berkata seperti itu. Mungkin karena suaminya dan Almira adalah orang-orang mengecap berpendidikan tinggi.. Sehingga mampu bersikap baik di depan umum ataupun di dalam keluarganya.
Bulek Ratih makin kacau balau melihat keadaan Asti yang tidak berdaya... Dari kaca di pintu ruang ICU, setelah para dokter menempatkan Asti sana.
Wanita itu datang menjelang pukul 21.00 dijemput Joko. Kini dia semakin terlihat putus asa. Sampai ada sosok Leon duduk di depan ruang tunggu itu.
__ADS_1
" Bu Ratih, maafkan saya! Saya tidak dapat menjaga Asti dengan baik selama ini..." ujar Leon parau.
" Sudahlah, Nak Leon... Jangan memperlihatkan wajah tak bersalah kamu itu di depan saya. Kalau memang kamu tidak mencintai Asti lagi, jangan menyakiti hatinya. Mendatangkan Almira dalam kehidupan rumah tangga kalian itu seperti menaburkan luka di hati Asti yang belum tertutup dengan rapi selama ini !"
" Demi Allah dan Rasulullah, Bu Ratih, saya tidak pernah berhubungan dengan Almira! Saya tidak pernah berselingkuh ataupun mengkhianati Asti!"
" Mengapa kamu membiarkan Almira melakukan kekacauan kepada Asti ? Kalau kamu memang pernah ada satu janji hati dengan wanita muda itu seharusnya kamu jangan melamar Asti! Pernikahan inilah yang mulai saya ragukan. Saya kecewa dengan sikapmu yang tidak tegas terhadap Almira!"
Bu Ratih menjauhi Leon. Wanita itu menjauhi ruang tunggu dan menangis di sana dalam diam. Dia tahu Asti sangat menderita sekarang. Kebaikan hatinya, rasa persaudaraan dan kekagumannya, telah dimanfaatkan Almira sebaliknya untuk kepentingan dirinya sendiri.
Bu Jum yang sering melaporkan hal itu kepada Bulek Ratih. Tetapi hati Asti yang rapuh, seperti dipukul sangat kuat dengan kenyataan itu.
Sungguh semua orang di rumah itu sangat terkejut ketika Almira melakukan hal sekeji itu. Bermuka dua di hadapan mereka. Ternyata dia sudah lama menyukai Leon Narendra Murti... Pria tampan, yang sangat mapan, sebagai calon suami idaman untuk masa depannya. Tetapi sayangnya saat itu dia masih bertunangan dengan Mas Adam. Tetapi Almira mulai menyadari pria "duren" itu menyukai Mbak Asti yang memang sangat cantik, tetapi kuper dan sangat sederhana. Tidak sesuai dengan jumlah uang simpanannya yang sangat banyak. Sebab dengan uang itu, membuat janda muda beranak satu itu mampu membangun rumah tinggal yang besar, bagus dan modern. Juga 4 buah ruko besar di depan jalan raya Simpangan .
" Ada apa Leon?" tanya Suara kakak iparnya itu parau karena terbangun dari tidurnya.
" Mas, Asti terperdaya oleh Almira... Sekarang dia masuk rumah sakit, karena mengalami komplikasi pada kandungannya. Almira berbicara pada Asti , seolah- olah kami masih berhubungan erat dan berselingkuh..."
" Ya, sudah! Nanti kami datang ke sana bersama Mbakmu... Leon bersikap tegas itu perlu. Jangan kasih kesempatan Almira berbuat semaunya. Anak istrimu yang jadi korban, Keluargamu akan hancur!"
Lelaki itu berjalan gontai. Dulu dia hanya dekat dengan Almira karena gadis itu menerima tawaran untuk mendekor both dari perusahaannya. Almira menyanggupi dan segera berangkat ke Semarang dengan menerima kontrak kerja selama dua bulan untuk berada dan tinggal di Semarang.
Pihak perusahaan pun menyewakan sebuah apartemen untuk Almira, yang jaraknya sangat dekat dengan gedung tempat pameran perumahan itu diadakan... Bahkan Almira dapat meminta bantuan teamnya, yang terdiri dari beberapa pria muda yang kreatif dan berpandangan maju. Bahkan mereka selalu menolong Almira dengan memberikan banyak bantuan jika dia memerlukan sesuatu. Malah Almira sering menelepon Leon hanya karena membutuhkan sesuatu yang kadang tak masuk akal. Telpon itu juga cukup menganggu Leon, yang banyak melobi beberapa perusahaan besar, dan pejabat yang terkait.
Sedikit demi sedikit Leon menjauh. Gerah juga! Mas Pandu pun sudah mengamati gerak - gerik Almira. Terlihat jelas, kalau gadis itu sangat percaya diri dengan kemampuan dan ijazah yang dimiliknya. Ijazah yang berhasil diraihnya secara cum laude, dari sebuah kampus terbaik di Pulau Jawa ini.
__ADS_1
Pandu tersenyum miris. Orang boleh berbangga dengan pencapaian kita, Seperti pendidikan tinggi, kelimpahan materi atau apapun. Tetapi dalam lapangan pekerjaan seperti properti seperti ini, pengalaman bekerja lebih utama. Bahkan Leon yang lulusan kampus luar negeri pun harus mencari banyak pengalaman dengan bekerja di perusahaan properti besar di Jakarta untuk mengasah kemampuannya.
Menjelang dini hari, Asti dipindahkan ke ruang perawatan. Selang- selang masih menyelimuti tubuhnya. Bulek Ratih dan Mbak Ning yang berada di ruangan itu untuk menunggunya. Sementara dokter dan suster bergantian mengawasi keadaan Asti dengan mengamati selang infus dan sebuah botol lain berisi cairan kekuningan.
Joko dan Leon sedang di ruangan dokter yang sejak awal menangani sakitnya Asti beberapa jam yang lalu. Joko berkali-kali menatap Leon geram. Ternyata mereka harus menunggu keadaan Asti cukup stabil sampai esok hari. Sebab mereka akan melakukan tindakan darurat dengan melakukan operasi caesar. Sebab bayinya yang sudah berusia lebih 30 Minggu. Takut Asti mengalami kelahiran prematur. Kejadian itu nanti akan sangat membahayakan kesehatannya.
" Saya tidak percaya, kalau Almira akan memutar balikkan fakta tentang foto kami ," Ucap Leon menjelaskan awal mula kejadian.
" Maksud, Mas Leon?"
" Dia, suaminya dan saudara sepupunya sedang berada di kantor, untuk negosiasi pertukaran rumah. Tetapi saya tidak tahu, kalau Almira hanya mengirim foto yang ada saya dan dia... Itulah yang membuat Asti terpukul... Dia pikir saya dan Almira berselingkuh!"
Joko terdiam. " Saya sering dengar kalau Almira selalu curhat pada Asti. Tetapi menurut Mas Adam pernikahan dia baik-baik saja. Malah Mas Pram memperbolehkannya Istrinya bekerja, asal tidak melupakan tugas dan kewajiban sebagai istri.."
" Joko kamu percaya pada saya, kan? Saya sudah lama diingatkan oleh Mas Pandu, kalau Almira itu wanita ambisius... Saya sudah pernah menikah dengan wanita seperti itu selama tiga tahun. Tidak mungkin kan saya berselingkuh dengan wanita seperti itu lagi. Maukah kamu membantu, agar Almira membuka kedoknya dan menyingkirkan dia dari kehidupan pernikahan kami?"
" Saya sebenarnya masih ragu-ragu, Mas. Terutama dengan putusnya pertunangan Almira dengan Mas Adam itu karena alasan yang tak masuk akal yang dibuat Almira. Dia bermaksud menjerat Mas Leon. Mungkin karena Mas Leon menolak akhirnya dia mau juga dijodohkan dengan kerabatnya..."
" Apa kamu tidak kecewa dengan sikap Almira itu, Joko?"
Ada senyum sedih di sana." Awalnya saya kagum dengan wanita itu. Walaupun Almira dilahirkan dari keluarga sederhana namun berhasil mencapai prestasi tinggi dalam sekolah dan kuliahnya. Tetapi dia pernah bilang, kalau dia capek hidup susah. Capek diremehkan orang karena berasal dari desa, sering kurang diterima dalan pergaulan karena disebut kampungan..."
" Jadi , Almira hanya mau berhubungan dekat dengan pria- pria pilihannya. Pria mapan, sukses dengan pekerjaannya dan punya bermobil bagus.... Kalau saya, punya apa? Jadi saya hanya berada di garis belakang dan jadi pengamat."
"Dulu, saya juga kaget dengan alasan Almira, putus tunangan dengan Mas Adam.. Tentu Almira mengincarnya pria lain ... Jadi saat Mas Leon menolak, dia jadi banting setir, menerima perjodohan itu. Karena dia mau balikan dengan Mas Adam. Apalagi calon suaminya orang berpangkat, jabatannya tinggi dan hidup mapan ... kita selalu ngomongin sepak terjang Mbak Almira itu dengan pekerja lain di warung tenda..." ujar Joko mengeluarkan unek-uneknya. Terutama saat dia tidak pernah dilirik sedikit pun oleh Almira hanya karena gadis itu mengejar lelaki yang lebih mempunyai potensi terbaik untuk masa depannya.
__ADS_1