
Ninuk malah asyik ngobrol dengan Nindya. Mereka jadi akrab hanya dalam hitungan menit saja. Karena sama - sama dipertemukan dalam ikatan persaudaraan. Seketika itu juga, Nindya bersedia menjadi guide untuk acara mereka berkeliling kota Madiun di hari ini.
" Ayo, sekarang aku yang antar keluarga ini untuk berkeliling kota. Besok, besok aku sudah kerja. Pulang ke rumah sudah sangat sore!" Begitu alasan yang disampaikan Nindya di hadapan mereka semua
" Apa kita ini tidak merepotkan Mbak Nindya. Kata Om Sam, pekerjaan Mbak cukup berat. Kadang Sabtu juga masih masuk kerja. Jadi di hari Minggu baru bisa sedikit santai dan beristirahat..." Tolak Asti tahu diri.
Sesaat dia melihat Tantenya Nindya itu yang kalem dan tak banyak bicara. Tetapi matanya menyiratkan ketidaksukaan pada semua orang di sini. Sebab sesekali Asti masih melihat pandangan mencemooh dari mulutvwanita itu ketika melihat tingkah laku kedua anaknya saat bermain. Atau banyolan konyol para ART terhadap para supir yang mereka ajak ngobrol di depan taman.
Di depan halaman resort ada dudukan dari beton yang memisahkan taman dengan teras. Di depan itu banyak ditanami bunga- bunga cantik yang ditanam di sana,. Bunga yang hanya dapat tumbuh di cuaca yang tidak terlalu panas dan kering. Jadi bunga - bunga itu sangat menarik perhatian mereka.
Leon sendiri segera menghilang bersama Mas Topan, di lantai atas. Sejak dia melihat kehadiran tantenya Nindya itu. Joko dan Pak Cakra mengecek semua persiapan untuk hari Senin mendatang, agar tidak ada kendala yang terjadi di lapangan.
" Ayo, Mbak Asti, semuanya. Mumpung belum terlalu siang, biar nggak panas di jalan!" ajak Nindya lagi.
" Ya, sudah! Ayo kita jalan! Leon, Topan, ayok turun!" panggil Lek No itu dari bawah tangga. Sebab sejak kemarin mereka sudah berencana untuk keliling kota juga. Karena kedatangan anak Pak Sampurno ini, dipikirnya acara mereka akan batal. Padahal waktu mereka tinggal di penginapan ini, agak cukup lama sampai Rabu mendatang.
Pak Cakra dan Joko akhirnya ikut juga. Sedangkan Topan memilih tinggal untuk beristirahat, setelah begadang dua malam sebelumnya . Mereka berusaha menghilangkan suntuk karena sudah bekerja keras untuk mempersiapkan semuanya.
Perjalanan keliling Kota Madiun menggunakan dua kendaraan saja. Yaitu mobil Elf dan mobil baru yang dibawa oleh Mbak Nindya tadi. Katanya mobil itu hadiah ulang tahunnya sekaligus syukuran dari kedua orangtuanya, saat dia diterima bekerja di bank yang cukup bonafid di kota itu.
Sementara Pajero milik Leon di tinggal dulu di parkiran depan gedung hotel. Sekarang di dalam mobil milik Nindya, ada Joko yang akan memegang kemudinya. Tampaknya si sulung, anaknya Bu Ratih itu cukup tertarik dengan tampilan mobil itu. Gagah tetapi juga keren.
Pak Cakra juga ikut di mobil itu. Dia santai saja , ketika duduk di samping Mbak Dian itu. Mungkin belum mendengar banyak tentang si Tantenya Mbak Nindya itu. Sebab wanita itu menolak dipanggil Bulek! Untuk panggilan orang Jawa pada umumnya. Kata wanita itu panggilan itu kurang keren, sebab dia terbiasa berada di lingkungan yang intelektual dan berbau Inggris.
Perjalanan mereka segera didahului oleh Mobil Suzuki Xpander itu yang memimpin, dengan Nindya sebagai penunjuk jalan. Walaupun mereka mengira di resort pinggiran kota, tak sampai tiga puluh menit, kedua kendaraan itu sudah beriringan memasuki wilayah kota Madiun.
Mereka berkeliling di pusat kota dengan jalan - jalan utamanya sangat bersih, rapi, dan lebar. Suasana kota pun tidak terlalu panas, walaupun berada di dataran rendah. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan beberapa kota-kota lainnya. Terutama kota yang berada wilayah pantai Utara atau Selatan Pulau Jawa dengan udaranya yang kering, panas dan menyengat.
__ADS_1
Mbak Nidya mengusulkan mereka untuk singgah di alun-alun kota Madiun yang tertata cantik. Selain itu, di sana banyak tersedianya berbagai fasilitas wisata murah meriah dan banyak tempat berfoto yang menarik.
Di keempat sisi alun-alun itu ada sarana dan prasarana yang lengkap. Seperti adanya masjid agung yang megah. Di sisi lain, ada sebuah mall atau plaza, berbagai gedung perkantoran sampai pertokoan yang menjual berbagai macam kebutuhan. Dari makanan, kebutuhan sehari-hari sampai berbagai suvenir atau cendera mata , ciri khas kota itu.
Asti masih terduduk di depan halaman Masjid Agung, beristirahat sejenak setelah melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Bulek Ratih ikut menemani. Wanita sangat kelelahan kalau harus mengikuti semua kemauan Ninuk. Mereka tadi sudah mengelilingi alun -alun yang cukup luas itu. Sedangkan Leon akan pergi dengan Pak Cakra, karena ada satu keperluan.
" Yang, makan di dekat sini, saja! Nanti biar mereka semua berkumpul juga, setelah puas berkeliling di alun - alun itu." perintah nya. Sebelum Leon pergi dan menitipkan Akbar pada Asti pada Bulek Ratih yang masih duduk santai di sana.
Lek No dan dua supir Elf yang menjaga rombongan Ninuk dari jauh untuk keamanan . Sebab mereka sibuk berfoto-foto di taman yang menawarkan berbagai tempat yang menarik. Mulai dari bentuk gerbangnya yang unik, taman yang dipenuhi payung warna-warni sampai ada sebuah patung yang merupakan tokoh nasional yang berjasa pada kota tersebut.
" Mbak Asti nggak ikut ke sini?" tanya Nidya pelan kepada Ninuk. Setelah mereka istirahat di sebuah pendopo khusus untuk pengunjung.
" Mbak Asti sebenarnya baru sembuh dari sakitnya sejak seminggu yang lalu ... Jadi dia mau ikut ke sini , hanya untuk melihat pekerjaan Mas Leon besok!"
" Oh, soal pembebasan lahan yang dibeli pihak pengembang, 'Abadi Murti', ya?" tanya Nindya.
Dari jauh terlihat Tante Dian sedang ber-selfie sendirian, di beberapa sudut alun - alun. Mana betah keluarga Asti dan para ART dekat dengan wanita itu. Apalagi wajahnya terlihat sangat angkuh. Tak ada upaya dari dirinya untuk berbaur kepada mereka. Atau bersikap ramah pada orang yang lebih tua, seperti kepada Lek No sekalipun.
Kalaupun dia tidak suka dengan Asti dan keluarganya, mengapa dia masih mau ikut acara jalan - jalan bersama mereka? Padahal Mbak Nindya justru bersikap terbuka, ramah dan asyik diajak ngobrol. Walaupun sebenarnya Nindya itulah yang terlahir dari keluarga yang kaya dan terhormat.
Acara foto-foto itu berpindah dari gerbang alun- alun sampai di depan patung besar. Mbak Ning , Putri dan Bu Jum bergantian berfoto di sana. Katanya untuk kenang-kenangan!
Nampaknya Lek No menyakini kalau mereka akan kembali lagi ke kota ini lagi. Sebab ada rencana Leon untuk melibatkan Joko dan Mas Adam dalam proses pembangunan perumahan di desa Sumber Sari itu. Proyek besar itu akan menjadi tanggung jawabnya Mas Rayhan. Suaminya Mbak Alya, kakak perempuan Leon.
Leon ternyata menemui beberapa anggota staf kelurahan dari desa Sumber Sari. Ternyata mereka menuntut janji untuk ditraktir makan di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari alun- alun kota. Di sebuah restoran terbesar di wilayah itulah, beberapa anggota staf kelurahan Sumber Sari sudah berkumpul di sana.
Sedangkan di tempat lain, Bulek Ratih memesan bakso dua mangkok. Sementara Asti sibuk menyiapkan susu untuk Qani yang mulai mengantuk. Akbar duduk tenang di sisi ibunya meminum teh botol dengan sedikit es. Qani duduk nyaman di stroller, merasakan tiupan angin semilir dari sela-sela pohon rimbun yang menjadi peneduh di tempat itu.
__ADS_1
Mereka duduk lesehan dengan tikar sebagai alasnya. Sambil menikmati bakso yang cukup lezat itu, mereka menunggu yang lain untuk bergabung. Joko segera menemui mereka. Dia membiarkan Nindya bersama rombongan Ninuk. Adiknya itu mirip bola bekel yang bergerak kemana pun tanpa rasa lelah. Sedangkan yang dapat mengimbangi hanyalah Putri dan Nidya, karena masih berusia muda.
" Nuk, suruh Bapak, Pak Sugeng dan Mas Aji makan di sini!" perintah Joko, setelah menelpon nomor hape adiknya itu. Tadi Joko sudah memberi tanda keberadaan mereka pada adiknya itu. Benar saja, tak lama Lek No dan kedua supir itu ikut bergabung. Mereka memilih menu makan siang yang berbeda.
" Nak Leon kemana, Joko?" tanya Pak Sugeng.
" Di restoran seberang, Pak. Di sana ada staf dari kelurahan yang minta ditraktir makan di sana ... Padahal soal pembayaran lahan saja baru dimulai besok! " kata Joko sambil nyengir.
Asti menoleh mendengar kata-kata Joko. " Apa masih ada orang yang seperti itu, ya? Kerjaan belum tuntas sudah minta upah duluan!"
" Yah, ada saja... Walaupun di desa kecil sekalipun. Mental seperti itu susah dibuang!" Samber Lek No.
Joko mengambil Qani dari stroller, dia senang melihat bayi itu tenang dan tidak rewel.
" Letakkan lagi di strollernya aja, Joko. Nanti dia juga tidur..."
" Biar saja, aku masih kangen ini, sama boneka cantikku ini !" ujar Joko gemas sambil mengecupi pipi dan dahi Qani. Hampir seminggu dia tidak bertemu dengan bayi yang menggemaskan itu. Dia jadi kangen juga. Padahal dia hanya seorang paman atau Om, bagi Qani.
Pantas saja, Mas Leon selalu gelisah ketika harus meninggalkan keluarganya dengan waktu yang agak lama, untuk urusan nego pembebasan lahan itu. Apalagi mereka juga harus menghadapi gangguan dari Dian Larasati Marwoto. Rupanya adik ipar Pak Sampurno itu juga tertarik pada sosok Leon. Padahal jelas-jelas, Om Sampurno sudah memberi tahu, kalau Leon adalah suami keponakannya.
Oleh karena itu, Leon segera menjauhinya.Termasuk memberi alasan yang paling masuk akal untuk tidak tinggal di rumah Om Sampurno lebih lama lagi . Mereka segera pindah ke sebuah hotel yang paling dekat lokasinya dari desa Sumber Sari. Walaupun hotel itu hanya sekelas hotel melati. Yang penting dia bisa fokus pada urusan tanah dan lahan agar dapat di negosiasikan pembeliannya. Bersama team pengacara yang sudah disiapkan dari kantor pusat.
Hampir satu jam kemudian, kelompok Ninuk bergabung. Mbak Dian tidak menyukai ide duduk lesehan di dekat warung tenda itu.
Padahal makanan yang dijual di warung - warung dengan tenda itu itu cukup variatif dan enak di lidah. Harganya juga tidak memberatkan kantong.
Putri menikmati nasi gule campur, Bu Jum dan Mbak Ning menikmati soto ayam Madiun. Sedangkan Nidya memesan dua mangkok bakso komplit untuk dirinya dan si Tante yang wajahnya sudah mulai tak sedap dipandang. Mbak Dian gelisah, karena Leon selalu menghindarinya.
__ADS_1
Para pria lain, memilih makanan yang agak berat, seperti nasi lengkap dengan lauk pauk dan sayur. Selesai makan, para supir ditemani Lek No mencari bangku di sudut taman untuk merokok dan melepas lelah.