
Ternyata Pak Basuki merasakan kenyamanan tinggal di rumah Asti itu. Rumah yang dibangun Asti ini cukup besar dengan bergaya modern. Tetapi di dalam rumah itu tidak kehilangan kehangatan ikatan kekeluargaannya... Maklum orang- orang yang bekerja di rumahnya itu masih ada hubungan kekerabatan. Dari Bu Jum yang masih berkerabat dengan Bulek Ratih , Mbak Ning dengan Mas Yanto . Belum lagi Puspita yang adiknya Firman, yang kini dipercaya Asti mengelola toko pakaiannya.
Tidak terasa kedua mertuanya itu sudah tinggal seminggu di rumah Asti. Setiap pagi keduanya membawa cucu-cucunya berjalan-jalan pagi ke arah proyek perumahan... Tubuh Pak Basuki Murti pun semakin sehat dan kuat... Apalagi dia selalu makan makanan sehat dan diet ketat, yang diawasi oleh istri dan menantunya itu.
Asti sedih, ketika Mama Anggun mengutarakan niatnya untuk kembali ke Semarang... Sebab di Ibukota provinsi Jawa Tengah itu, wanita yang masih tampak awet muda itu punya kelompok pertemanan yang sudah lama ditinggalkannya. Dari pergaulan umum di lingkungan rumah, grup arisan sampai teman - teman berbisnisnya.
Bulek Ratih yang repot membuat berbagai makanan untuk dibawa pulang besannya sebagai oleh-oleh. Dua hari sebelumnya, wanita itu sudah menyiapkan segalanya dibantu para tetangga. Mereka membuat nasi tiwul, sambal kacang dan beberapa makanan lainnya. Makanan berupa bahan mentah yang dapat disimpan cukup lama seperti rengginang, kerupuk gendar dan hasil kebun seperti beras ketan.
"Kakak, Adek! Eyang Uti dan Eyang Kakung mau balik ke Semarang... Jangan sedih, ya!" Ucap Leon sore itu.
Akbar sudah tertunduk sedih... Dia selama ini diperlukan sama dengan Qani cucu mereka. Tanpa ada perbedaan kalau dia hanyalah cucu tiri saja.
Qani malah menangis sedih di pelukan Leon... Dibujuk Ibu Anggun pun tidak mempan. Sampai harus diambil oleh Asti dan cukup lama ditenangkan di dalam kamar.
Bu Jum dan Mbak Ning membantu mengepak pakaian dan barang-barang milik mertua majikan mereka itu sore itu. Termasuk mengepak bermacam-macam oleh -oleh yang kemarin Asti beli di pasar. Di sana ada penjual khusus kue tradisional. Berbagai makanan itu akan tahan dua atau tiga hari disimpan di suhu ruangan dan tidak basi.
Sampai bayi mungil itu tertidur di sebelah Asti, dan dipindahkan ke boksnya. Qani kecil ini juga sudah pandai menuntut perhatian kepada kedua kakek-neneknya. Karena selalu mau ikut segala kegiatan yang dilakukan keduanya. Termasuk datang ke kantor ayahnya di kompleks perumahan itu.
Pagi hari, barang - barang itu sudah diangkat Imron, supir pribadi ayah Pak Leon. Dibantu Mas Yanto segala koper dan kardus oleh-oleh disusun rapi di bagasi. Sementara kedua orang tua Leon sedang menikmati sarapan bersama Leon dan Joko di dalam rumah.
Mbak Ning sudah menyiapkan teh panas tawar yang dimasukkan dalam tumbler khusus yang suhunya tetap tidak berubah selama berjam-jam di dalam perjalanan nanti. Teh khusus itu untuk Pak Basuki yang ketagihan dengan racikan teh tubruk Mbak Ning selama beliau tinggal di sini.
Mereka juga mengantar kepergian Pak Basuki dan Ibu Anggun yang meninggalkan rumah itu pada pukul 08.00. Leon berkali-kali memeluk tubuh ayahnya yang mulai duduk di bangku tengah. Air mata pria itu berlinang. Kesembuhan buat ayahnya adalah melihat Qani, cucunya tumbuh sehat dan bertambah pintar.
__ADS_1
" Ayah, Akbar mau Ikut Eyang Kakung!" ucapnya.
" Bulan depan, ya? Kita jalan -jalan ke Yogyakarta dan ketemu Eyang Kakung dan Eyang Uti lagi, di sana." bujuk Leon.
Asti terdiam saat mobil Alphard itu sudah meninggalkan halaman rumahnya dan berbelok masuk jalan simpangan. Dia berharap akan bertemu semua sanak keluarga Leon di Kota Pelajar itu nanti. Karena dia tidak terlalu yakin akan diterima baik oleh kerabat lain dari kedua orang tua suaminya. Setelah mempelajari dengan seksama sikap dan tingkah laku mereka selama ini.
Keadaan anak-anak yang agak melow setelah mengantar kepergian kedua orang tuanya, membuat Leon bertahan di dalam rumah sampai hari agak siang. Padahal Joko sudah berangkat lebih dahulu ke kantor sejak beberapa jam yang lalu.
Joko sudah menyelesaikan separuh dari tumpukan pekerjaan yang diambilnya dari meja kerja Leon. Seharusnya, di sini ada seorang tenaga sekretaris terlatih dan profesional yang membantu Leon dengan pekerjaan ini. Namun peristiwa dengan Almira itu membuat Leon sekarang mempertimbangkan banyak hal... Apalagi menerima tenaga kerja wanita yang muda dan cantik, sebagai sekertaris. Takut rumah tangganya kembali terguncang dengan hebatnya.
Sampai Joko tertarik dengan sebuah kendaraan roda dua yang sudah berputar dua kali mengelilingi komplek perumahan ini. Dia terus memperhatikan motor itu yang ditumpangi dua orang, yang agak lama berhenti di jalan depan kantor ini.
Dari lantai atas, Joko melihat dari jendela kaca ruangan itu yang berwarna gelap. Sehingga orang - orang di bawah sana tidak tahu kalau mereka diawasi atau diperhatikan dari dalam. Yang membuat Joko curiga pada orang yang dibonceng di belakang itu seperti membawa sesuatu di depannya. Seperti tumpukan benda yang agak berat.
Terbiasa terlatih dengan hal-hal yang sedikit mencurigakan. Joko menghubungi Firman, Mas Danu dan Mas Yanto.
Si pengemudi motor itu bertanya pada salah seorang anak buah pak Sembodo yang sedang duduk di bangku taman setelah selesai bekerja dengan menyiram semua tanaman di area taman ini.
Motor itu berbalik, kembali ke jalan utama. Joko segera turun sambil membawa kunci mobilnya. Tetapi dia berusaha melakukan hal itu dengan sikap tenang. Takut menjadi perhatian para pekerja lain yang masih sibuk mengurus berbagai administrasi di lantai bawah.
" Mau kemana, Mas Joko?" sapa Ali, sambil berdiri dari bangku besi tempa yang berukir itu.
" Tadi tamu yang naik motor itu tanya apa, Ali?"
__ADS_1
" Tanya Mbak Asti dan Pak Leon, Mas?"
" Hanya itu?"
" Ya, saya jawab Pak Leon belum datang. Sebab dari pagi tadi, saya tidak melihat mobil Pak Leon ... Yang ada hanya ada mobil Mas Joko!"
Saking curiganya, Joko menelpon Mas Danu. Ternyata Pak Leon pergi membawa Mbak Asti dengan kedua anaknya beserta Bu Jum keluar rumah satu jam yang lalu. Sepertinya mereka bermaksud untuk menghibur kedua anaknya yang sangat sedih karena ditinggal Nenek dan Kakeknya.
" Prang! Prang!"
Suara keras, antara benturan benda dan kaca pecah itu telah memutuskan percakapan antara Mas Danu dan Joko di telepon tersebut. Semua orang yang berada di dalam rumah Asti itu berlarian ke arah sumber suara.
Tampak kaca jendela depan ruang tamu berhamburan di lantai teras rumah. Akibat lemparan batu itu, sebagian serpihan kaca itu terlempar ke lantai dan pot-pot tanaman hias. Sebab semua jendela kaca di sana menggunakan teralis besi yang rapat di dalamnya.
Dari teras depan tampak dua buah batu bata teronggok. Mbak Ning dan Putri sangat kaget. Mas Yanto sudah mendapatkan foto orang yang melempar batu itu juga nomor motor yang dipakai oleh kedua pelaku pelemparan yang bergerak meninggalkan depan rumah Asti dengan cepat.
Tak lama Joko muncul diantar Ali dengan motornya. Mas Danu segera menyalakan motornya.
" Mbak Ning, difoto dulu semua kerusakan ini sebelum dibersihkan. Nanti kirim ke saya. Biar Mas Danu yang mengejar pelaku itu !" ujar Joko tenang.
" Hati-hati, Mas Joko. Mas Danu!" Kata Mbak Ning cemas.
Joko berterima kasih pada Ali, dan menyuruh pemuda itu kembali ke kantor. Dia segera naik ke boncengan motor Mas Danu.
__ADS_1
Motor yang digunakan pelaku pelemparan itu berjalan agak jauh di depan motor Mas Danu. Terhalang satu kendaraan mobil boks dengan dua motor lagi di belakangnya. Tetapi foto yang diambil Mas Yanto cukup jelas nomor polisinya... Apalagi si pelaku merasa kalau perbuatan mereka sudah cukup aman. Jadi mereka memacu kendaraan tidak terlalu kencang juga.
Motor berjenis Supra X lama berwarna hitam itu terus bergerak ke arah timur. Mereka terus berjalan melewati pasar Kecamatan... Mas Danu juga dengan tenang terus membuntuti kendaraan itu dengan tetap menjaga jarak aman.