
Pak camat, pak lurah beserta istri mereka masih menikmati hidangan ala tumpengan di ruang makan kantor kelurahan itu. Mereka juga berbincang hangat dengan Pak Adam David, Pak Sudewo Rajab pimpinan kantor bank yang bekerjasama dengan perusahaan property Abadi Murti.
Di sana juga ada Pak Ndaru Subeno. Pria yang mempunyai usaha merekrut tenaga kerja di bidang pembangunan. Sebab para pekerja dari perusahaan pria itu yang akan lebih dulu bekerja menyiapkan fasilitas untuk memulai pembangunan perumahan itu. Berupa pembuatan jalan masuk khusus untuk kendaraan proyek, pemagaran lahan juga meratakan lahan. Rencananya akan segera dilakukan dalam beberapa bulan ke depan setelah segala izin itu keluar dan dinas dan instansi terkait.
" Ibu Asti ini masih adik iparnya, Pak Adam?" tanya Pak Ndaru kaget.
" Iya, Leon ini yang mengelola proyek pembangunan perumahan di desa Sekarwangi... Di tempat itulah mereka berdua bertemu sampai menikah!" ujar Pak Adam bercerita seperti orang mendongeng.
" So sweet, begitu!" ujar Pak Cakra ikut menimpali.
" Nah ini saksi mata dan saksi hidupnya!" Ledeknya Pak Adam lagi. " Ini Asisten Leon yang sudah ikut bekerja dengan adik ipar saya ini saat memimpin beberapa proyek pembangunan apartemen di Jakarta dan sekitarnya..."
" Terus Mas Joko ini?" tanya Pak Ndaru.
" Dia sepupu Asti, mereka ini orang tua dan adiknya!"
Lek No maju menyalami pria muda bertubuh tambun, berwajah serius tetapi ucapannya lugas dan konyol. Bulek Ratih, Joko dan Ninuk ikut menyalami.
" Kalian punya saudara orang-orang hebat di daerah ini ... Tetapi sikapnya malah sederhana seperti ini?" Ujarnya tak yakin. " Padahal banyak orang lain petantang- petenteng mengaku- ngaku kerabat dekatnya pak camat. Padahal Pak Prayoga pun juga tidak mengenal orang itu!"
Lek No tertawa. " Gimana mau memanfaatkan kedudukan Pak Camat, kami semua tinggal di provinsi berbeda. Kalau saya hanya seorang petani biasa , Nak!"
Di ruangan itu masih ada Bu Andar yang kelihatan sok sibuk sendiri. Dia terlihat repot dengan mengantar minuman untuk semua orang, membawakan tisu atau apapun untuk para tamu kehormatan itu yang masih asyik berbincang- bincang. Tetapi Pak Cakra dan Leon tak sudah tak mempedulikannya perempuan itu. Hilang rasa hormat mereka pada wanita itu.
Padahal Pak Cakra sudah protes sejak kemarin, ketika banyak orang belakang yang tidak kebagian lauk-pauk. Padahal mereka juga sudah banyak mengeluarkan tenaga untuk membantu ibu-ibu PKK itu dalam menyiapkan makan siang. Dari mengangkut bahan mentah berupa sayuran dari pasar, mencuci piring, sampai bersih-bersih sampah sisa makanan itu.
Secara diam-diam, Bu Ratna, istri Pak Lurah Acmad Sudiro juga mendengar keluhan beberapa ibu-ibu anggota PKK. Mereka sudah bersusah payah menyiapkan sajian makan siang dengan dana yang sangat minim. Tetapi masih ada beberapa orang berkomentar negatif. Karena makan siang itu terlalu sederhana untuk disajikan kepada orang banyak! Katanya lebih mirip makanan untuk orang yang bekerja di sawah daripada makan di gedung kantor kelurahan baru yang dibangun sangat megah dan bagus.
Malah wanita yang seharusnya bertanggung jawab atas terpotongnya dana makan siang itu semakin tidak peduli. Pokoknya hati ini Ibu Andar Sita selalu tersenyum puas. Saat melihat ada banyak tersedia makanan yang mewah dan pantas untuk disajikan kepada tamu kehormatan mereka hari ini.
Sampai dia dipanggil Pak Camat ke ke ruang kerja Pak Lurah. Di sana ada Ibu Hernani, Ibu Ratna Sudiro dan Ibu Sumiarsih.
__ADS_1
" Andar apa suami keponakan saya yang mendanai acara makan siang bersama di kantor ini?" tanya Pak Prayoga pelan.
" Iya, Pak?" jawab Ibu Andar ragu.
" Berapa yang diberikan asistennya Leon kepadamu?"
" Empat ratus ribu rupiah per- hari. Jadi dana semua Satu juta dua ratus ribu, Pak !" Jawab Bu Andar tegas.
" Ada laporan yang sampai di mejaku lho, pagi tadi! Pak Cakra sudah memperlihatkan tanda tanganmu, saat dia menyerahkan uang sejumlah tiga juta rupiah. Sekarang yang berbohong itu kamu atau Pak Cakra?" suara Pak Prayoga semakin tinggi nadanya.
Wajah Bu Andar Sinta memucat." Eh, ah, memang semua tiga juta rupiah, Pak! Tetapi sisa uang belanjanya saya simpan!"
" Kamu simpan untuk siapa? Dana kepentingan pribadimu, bukan?" tanya Pria itu tegas.
" Tolong kembalikan, Andar! Memang Leon itu memberikan dana itu dari uang pribadinya... Tetapi kita punya program anti korupsi bukan? Kalau kamu mau saya laporkan dengan tindakanmu. ini ke dinas di kabupaten, silahkan!"
" Maaf, Pak!" Ujar Wanita itu." Saya mohon, Jangan!".
" Andar Sinta! Untung Leon masih kerabat saya. Jadi permasalahan ini tidak akan saya perpanjang, asal sisa uang yang ada kamu sekarang kamu kembalikan kepada Ibu Sumiarsih. Hey, kamu nggak dengar apa? Asti juga sudah menambah uang belanja untuk makan - makan kita siang ini!"
Tampaknya, Wanita itu sudah tidak berani berkutik. "Jangan permalukan dirimu dan desa ini hanya karena uang yang tidak seberapa itu! Kasihan para ibu PKK yang pontang-panting, menyiapkan segala makanan, tetapi dengan dana yang minim. Kapan desa ini mau maju dan setara dengan desa lain, di kecamatan sebelah kalau mental ini para pegawai aparat kelurahannya seperti ini? Sudah banyak masukan dari orang tentang sepak terjangnya kamu selama ini, Andar Sinta ... Nanti akan saya pertimbangkan lagi, untuk menempatkan kamu di kelurahan lain!"
Wati yang memang selalu mendampinginya seniornya itu ikut pucat. Sebab dia tahu, Ibu Sumiarsih yang melaporkan hal itu kepada istri Pak Lurah. Sebab banyak keluhan tentang makanan yang sangat sederhana itu. Padahal mereka tahu, dana yang diberikan Pak Leon juga tidak sedikit! Mungkin sebungkus ayam geprek pun masih bisa dibeli untuk 50 orang di kelurahan ini selama acara makan siang dalam tiga hari ini.
" Laporan sisa uang kamu serahkan ke istri saya! Kalau kamu mau mempertanggungjawabkannya!" ucap tegas Pak camat itu.
Ibu Sumiarsih pun sudah geram. Setelah kemarin mendengar ucapan Pak Cakra dari alasan Ibu Andar Sinta itu. Di sengaja mengerahkan bantuan Ibu PKK di kelurahan ini untuk memasak sendiri makan siang untuk mereka. Agar ada sisa makanan yang banyak dengan biaya yang lebih murah lagi.
Bisik-bisik pun terdengar dari belakang bangunan yang merangkap sebagai dapur umum, dan halaman samping. Banyak masyarakat mendengar rencana Pak Leon untuk memperbaiki berbagai fasilitas di kelurahan ini untuk kepentingan masyarakat desa Sumber Sari. Sebagai balas jasa istilahnya.
" Kembalikan saja Ibu Andar itu ke tempat tugas dia semula! Mentang-mentang bukan orang desa ini, membuat nama desa kita jadi jelek! Masa uang makan untuk orang banyak saja dikorupsi! Pantas Pak Camat berusaha agar pembayaran lahan itu sangat jelas! Jadi nggak ada istilah uang jasa, uang capek atau apapun untuk orang kelurahan!" Bisik seorang ibu yang lahan orang tuanya dibeli dengan harga yang cukup layak.
__ADS_1
Riuh suara ibu-ibu itu juga didengar oleh staf dan pegawai kelurahan. Wajah mereka tertunduk malu. Sebab mereka pada hari Sabtu ya g lalu juga ikut merasakan makan enak di restoran mahal atas inisiatif Ibu Andar yang memaksa Pak Leon untuk mentraktir mereka.
Di sudut ruang makan Asti dan keluarganya masih menikmati nasi kuning itu. Mbak Putri menjaga makanan di piring Akbar agar jangan berceceran dan membuat kotor. Joko mengendong Qani yang terlihat anteng. Lek No, Bulek Ratih, Leon masih terlibat pembicaraan serius dengan Pak Ndaru dan Pak Adam.
" Tenang, Pak! Kami punya beberapa rumah tinggal yang memadai yang sesuai dengan minat Pak Adam minta. Sekaligus bangunan kantor untuk perencanaan proyek perumahan itu." Jawab Pak Ndaru.
" Untuk siapa, Mas?" tanya Leon.
" Keluarga Mbak Alya! Kalau perlu kita bangun rumah tinggal di dekat penginapan sana... Udaranya lebih sejuk. Cocok untuk mereka." Tambah Mas Adam.
Maklum keluarga Mbak Alya dan suaminya sudah hampir 5 tahun ini tinggal di Bandung. Mereka berhasil memasarkan kompleks apartemen yang didirikan anak perusahaan Abad Murti di kota Kembang itu. Jadi terbiasa tinggal di daerah yang berhawa sejuk.
Sampai mereka harus bolak - balik ke rumah orang tuanya, karena sebenarnya mereka tinggal di pusat kota Semarang. Karena mereka merasa kurang cocok dengan rumah mereka yang ada di pusat kota Semarang. Maklum kota itu, berada di dataran rendah dengan cuaca yang sangat panas , karena terletak di pantai Utara Pulau Jawa.
Acara makan selesai, langsung ditutup dengan acara perpisahan. Leon menyalami semua staf, pegawai dan para petugas keamanan yang berjaga di sekitar area kelurahan ini selama tiga hari ini demi kelancaran proses pembayaran lahan tersebut.
Sampai di halaman depan kelurahan, ada dua petugas bank yang menemui Leon. Mereka banyak membawa hadiah atau kenang - kenangan untuk Pak Leon dan kerabatnya . Ada tumpukan payung besar dengan logo nama bank tersebut dan beberapa goody bag. Semua barang itu dimasukan ke dalam bagasi mobil Elf Leon, oleh Pak Sugeng atas instruksi Pak Sudewo Rajab.
Mas Adam datang ke kota ini bersama supirnya. Mereka tinggal di sebuah hotel di pinggiran kota. Atas inisiatif Leon mereka akan bertemu dan makan malam di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat kakak iparnya menginap di sana.
Restoran itu baru berdiri dalam beberapa bulan ini yang direkomendasikan oleh Pak Ndaru, untuk tempat acara mereka sore nanti. Sebab restoran itu mempunyai fasilitas parkir yang aman dengan bangunan restoran yang nyaman dan luas.
Uang yang diserahkan oleh Ibu Andar Sinta kepada Ibu Hernani segera diserahkan ke tangan Ibu Sumiarsih disaksikan para pengurus PKK lainnya. Selain terharu, mereka juga agak sedikit kecewa, dengan wanita yang menjadi sekretaris Pak Lurah Ahmad Sudiro itu.
" Kami nggak akan menyangka saja, kalau demi uang yang tak seberapa ini...Bu Andar memotong dananya lebih dari. separuhnya juga!" Ucap Ibu Sumiarsih. Apalagi dia tahu, kalau Pak Leon, istri dan keluarganya itu adalah kerabat dekat Pak Camat.
" Terima saja, Bu Sumiarsih! Bu Ratna Sudiro pun setuju jika uang itu dimasukkan ke dalam kas PKK. Jangan sampai kejadian ini terulang kembali!" bisik Bu Hernani
" Terimakasih, banyak, Bu Hernani...Untung yang punya kegiatan masih kerabat Ibu, jadi ketahuan! Coba pihak lain? Bisa bahaya itu!" komentar ibu yang lain.
Ibu Andar Sinta dan Wati sudah menyingkir jauh. Mereka mulai tak nyaman dengan pandangan orang-orang yang melihatnya seakan menghina dan meremehkannya. Dengan uang yang nilainya tidak seberapa itu, mereka telah dipermalukan. Maklum mereka sudah terbiasa mencari celah diantara kesempatan dalam kesempitan. Inilah hasil akhirnya yang mereka dapatkan!
__ADS_1