Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 162. Kodrat Seorang Istri


__ADS_3

Sebenarnya, Asti siap- siap saja dengan kehadiran Mbak Almira di perumahan baru itu. Bisa jadi wanita muda itu akan menjadi tetangganya kelak. Sebab Asti juga sudah mendengar bahwa, rumah - rumah di unit satu itu sudah mulai ditempati oleh para pembelinya.


Kata Leon, para pembeli itu bisa menempati rumah yang mereka beli, asalkan sudah membayar uang muka dan memenuhi berbagai syarat dalam kepemilikan rumah yang diatur oleh sebuah Bank KPR yang telah ditunjuk. Setelah mendapat kunci rumah, para pembeli rumah itu dapat menempati rumah mereka. Bahkan para penghuni baru itu jarang yang merenovasi rumah mereka itu. Sebab bangunan rumah itu sudah dirancang sedemikian rupa untuk memanfaatkan setiap sisa tanah dan ruang di dalam rumah dengan cermat. Sesuai dengan kebutuhan para keluarga muda saat ini, yang ingin memiliki rumah modern, nyaman namun mudah dibersihkan dan rapi.


Lagipula perumahan di unit 1 satu itu sudah dilengkapi berbagai fasilitas sarana dan prasarana yang cukup memadai. Seperti jalan- jalan antar blok dan jalan utama cukup lebar dan diaspal licin. Di sana juga sudah dibuat jalan alternatif lain , yaitu jalan tembus menuju ke desa di utara wilayah itu, yang berbatasan dengan sebuah jembatan besar yang menjadi penghubung antara dua kabupaten.


Di pintu Gerbang Utara pun juga sudah didirikan pos keamanan terpadu, dengan petugasnya yang akan berjaga selama 24 jam. Bahkan di perumahan itu sudah tersedia Jaringan listrik dan air, juga WiFi sudah terpasang. Termasuk pagar pengaman tinggi di sekeliling area perumahan unit 1 itu. Tentu ditambah berbagai fasilitas umum dan sosial lain seperti, mushola, lapangan olahraga, taman di tiap blok dan arena bermain anak yang nyaman dan hijau.


" Dimas, blok A sudah banyak penghuninya, ya ?" tanya Asti. Ketika dia melihat ada dua truk besar penuh barang-barang datang dari pintu belakang kompleks perumahan, dari gerbang Utara.


"Sudah hampir full, Mbak. Kebanyakan para pembeli itu, bekerja di kantor swasta dan pemilik usaha di sekitar wilayah ini. Sebab perumahan yang dekat pasar kecamatan itu kurang fasilitasnya. Terutama keamanan!"


Sementara di dalam ruang kantornya, hari ini, Leon terlihat gelisah. Sejak kehamilannya, Asti menyerahkan sepenuhnya pengelolaan toko kepada Puspita dibantu Ningrum. Agar tidak bosan, sesekali Asti ke kantor Leon sambil membawakan makan siang yang sudah diatur menunya oleh Mbak Ning. Biasanya Damar dan Bu Jum juga ikut menata bawaan itu di ruang rapat, di samping ruang kerja Leon.


Di kantor ini, Leon bekerja dengan dua asistennya. Sedangkan di lantai bawah ada pekerja administrasi yang dipekerjakan secara kontrak selama setahun, dari perusahaan dari kota yang bekerja sama dengan pihak pengembang. Termasuk merekrut tenaga keamanan perumahan di unit satu yang mulai beroperasi secara rutin.


Belum lagi ada dua OB pria muda yang merupakan anak tetangga di dekat rumah Asti, dipekerjakan di kantor itu. Kadang ada mandor proyek yang sedang melaporkan pekerjaannya pada Leon. Juga beberapa tamu lain, yang berhubungan dengan pembangunan tahap kedua.


Akbar paling senang diajak main ke kantor ayahnya itu. Tentu di sana dia akan dijaga banyak orang. Termasuk oleh Pak Rob, juga tenaga keamanan saat anak itu bermain di halaman depan kantor yang cukup luas. Lucunya, Leon telah membelikan sepeda roda tiga dengan pegangan tinggi agar mudah di dorong Bu Jum. Sepeda itu lebih sering disimpan di lobi kantor Leon.


" Mas ini, pudingnya kusimpan di cooler, ya! Nanti sore biar Dimas yang ambil cemilan yang sudah dibuat Mbak Ning."


"'Ya, sayang... Minggu depan saja, ya. Kita ke dokter Eva!" kata Leon pelan. Matanya masih memeriksa laporan dari laptopnya.


Asti melihat banyaknya tumpukan kertas dan laporan di meja Leon. Tentu dia memerlukan seorang sekretaris untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu yang semakin banyak. Asti paham, kalau urusan surat menyurat dan laporan akan sangat menyulitkan bagi suaminya itu. Padahal dia juga harus memantau proyek pembangunan selanjutnya, di unit 2 , dan 3 yang akan segera launching di Semarang.


" Mas, cari tenaga sekertaris wanita saja untuk membantumu. Asal dia perempuan baik- baik yang benar mau kerja, dan sesuai dengan kemampuannya. Saya nggak akan cemburu , kok!"


Leon jadi senyum - senyum nggak jelas. " Malah kemarin , Almira yang menawarkan itu, bolehkan ?"


"'Boleh aja.... Nanti kalau rumah tangga kita berantakan. Aku tinggal lapor papa dan Mama di Semarang!"

__ADS_1


Ada tawa geli dari Leon, mendengar ancaman receh dari Asti. " Yakin mau ngadu ke sana. Cemburu, kan?"


" Nggak. Buat apa? Kalau seorang suami mau menghargai komitmen pernikahannya, dia tentu tidak mudah tergoda perempuan lain. Kecuali kalau suka sama suka... Silahkan! Tetapi aku minta diceraikan lebih dahulu!"


Kesal, Asti segera meninggalkan ruang kantor Leon. Tanpa mau mendengar jawaban dari Leon lagi. Padahal segala macam masakan belum dikeluarkan dari wadahnya. Buat apa capek - capek mengatur menu , mengantarkan makanan ke kantor ini dan menyiapkan di meja, kalau Leon selalu menyakitinya dengan ucapan yang konyol seperti itu. Malah sekarang, Mbak Almira yang menjadi perhatian Leon lagi. Apa ini yang disebut cinta yang lama yang belum rampung?


Perlahan - lahan, Asti menuruni tangganya di kantor Leon yang ada di lantai dua. Dia akhirnya menyadari, kalau ketakutan akan kegagalan dalam berumah tangga sebelumnya, membuat Leon tidak nyaman. Apa pria itu merasa terbelenggu karena hampir setiap hari, dia dan Akbar selalu berada di sekitar dirinya?


Di lantai bawah, Asti bertemu dengan Dimas. Tampaknya pemuda itu memang disuruh Leon berjaga-jaga di sana. Agar dapat mudah disuruh apa pun bila ada suatu keperluan.


Di seberang halaman kantor, Bu Jum masih mendorong sepeda Akbar berkeliling area ini. Apalagi jalan di sana cukup luas itu, juga banyak ditumbuhi tanaman peneduh.


" Dimas bisa antar saya pulang, kan ? Biar Akbar sama Bu Jum di sini dulu!"


" Siap, Mbak Asti!" Pemuda itu membukakan pintu mobil Honda jazz merahnya itu. Dengan cekatan, Dimas membawa mobil itu keluar dari jalan utama perumahan, menuju rumah Asti.


Pintu gerbangnya depan, dibukanya... Tanpa menunggu bantuan Mas Yanto yang masih berjaga di pos ruko. Damar melihat Asti menahan perutnya sambil meringis kesakitan .


Dimas segera mendorong pintu samping di belakang garasi yang selalu terbuka, karena di yakin di sana ada Joko dan anak buahnya, beristirahat di dekat bangunan tambahan. Kedatangan Dimas juga agak mengejutkan Mbak Ning yang masih santai menonton tv.


" Mbak Ning, sepertinya perut Mbak Asti sakit... Ayo, Mbak! kita bawa ke bidan aja!"


Mbak Ning kaget. Biasanya mereka semua berada ada di kantor Leon cukup lama... Ini belum jam satu siang, Asti sudah pulang. Segera Mbak Ning menemui Asti yang masih duduk di kursi depan, samping pengemudi.


Terlihat Asti menahan sakit ... Wajahnya sudah pucat dengan keringat dingin mengalir di dahi dan lehernya.


" Mbak Ning, antar aku ke Klinik Permata Ibu, ya! Tolong ambilkan dompet di meja rias!" Bisik Asti sambil menyerahkan kunci kamar. Mbak Ning berjalan sangat cepat. Joko yang melihat keadaan darurat seperti itu segera bertindak.


" Kamu sakit, Asti?" bisiknya cemas.


Dimas menyerahkan kunci mobil Asti kepada pemuda itu yang hanya berbeda dua tahun saja dari umurnya. Di kursi itu, Asti sudah hampir pingsan menahan sentakan rasa nyeri di perutnya. Mobil bergerak cepat menuju klinik di dekat Masjid At-taubah. Di samping mesjid itulah bangunan klinik yang baru setahun beroperasi itu berdiri.

__ADS_1


Joko yang membantu Asti memapah tubuhnya yang terasa sangat sulit untuk bergerak. Ketika mereka keluar dari mobil. Sedangkan Mbak Ning segera mendaftarkan nama Asti. Sebab Akbar dan Asti sering berobat di sini, bila mendapat sakit yang tidak terlalu berat.


Dalam keadaan tak berdaya itulah, seorang tenaga medis membawakan sebuah kursi roda. Cepat Asti duduk dibantu seorang suster jaga. Dia segera dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan di dalam gedung itu.


Gedung klinik itu tidak terlalu besar. Namun peralatan medisnya cukup lengkap juga. Terutama untuk pemeriksaan ibu hamil dan ibu yang yang akan melahirkan di sini. Bahkan tersedia ruang rawat inap juga.


Bidan Irna dengan cekatan membantu Asti berbaring di ranjang besi ruang periksa. Asti mengalami kram perut bawah. Tentu dalam keadaan hamil 6 bulan, keadaan itu membuatnya sangat kesakitan.


" Istighfar, Bu Asti!" ujar Bidan Irna pelan . Sejak tadi Asti merintih menahan sakit.


Sampai mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang pria tampan... Langsung menyeruak masuk ke dalam ruang periksa. Tentu itu Leon. Dia tergopoh-gopoh datang ke klinik ini setelah mendapat telepon dari Dimas.


" Maaf, Bapak siapanya pasien?"


"'Saya suaminya, Bu. Tadi istri saya baru dari kantor membawa makan siang untuk kami. Sampai Dimas supir kami memberitahukan kalau mereka membawa istri saya berobat ke klinik ini.."


" Sabar, ya. Pak. Janin di perut Ibu Asti bergerak sangat kuat, sehingga menimbulkan rasa sakit karena kram..."


Segera Asti dipindahkan ke ruang lain untuk beristirahat. Terutama untuk melihat reaksi obat yang telah diberikan oleh Bidan muda itu yang sangat sabar menghadapi kesakitan dan kepanikan pasiennya.


Di sebuah ranjang itulah Asti masih terbaring sambil memejamkan matanya. Leon menatapnya cemas. Dia sesekali menghapus keringat yang membasahi dahi istrinya itu dengan tisu yang disediakan pihak klinik. Leon sudah memesan kamar di rumah sakit kota. Tetapi Asti lebih menuruti perkataan Bidan Irna kalau sakitnya Asti tidak terlalu parah. Benar saja , setelah diberi minum obat Asti tertidur sebentar. Menjelang Ashar keadaan nyeri di perutnya sudah berangsur-angsur berkurang.


Cepat sekali Leon mengurus administrasi pembayaran sampai menebus obat yang harus diminum Asti. Bidan Irna menasehati agar Asti mengurangi pekerjaan yang agak berat dan cukup beristirahat.


Joko pulang dengan Mbak Ning membawa mobil Asti. Leon memapah Asti di bangku tengah, sementara Pak Cakra yang membawa mobil itu menuju rumah.


Bidan. Irna kagum dengan cara suami Ibu Asti itu menjaga istrinya. Sesaat dia melihat kepergian dua mobil itu beriringan menuju jalan simpangan di depan klinik tersebut.


.


.

__ADS_1


__ADS_2