
Perjalanan malam untuk kembali pulang dilakukan Dimas dengan sangat waspada. Dari sejak sebelum keberangkatan, Ibu Anggun sudah berkali -kali berpesan pada Dimas maupun pada Leon untuk membawa kendaraan itu dengan lebih berhati-hati.
Tidak usah ngebut! Karena di dalam mobil itu juga dibawa calon cucu dari keturunan Basuki H. Murti. Begitu pesan wanita paruh baya itu.
Menjelang tengah malam, mobil tangguh itu sudah memasuki wilayah pinggiran kota menuju jalan simpang ke desa Sidodadi.
Beberapa rumah penduduk di sana memasang lampu depan hanya sekedarnya saja. Jadi tampak temaram.
Padahal banyak pohon besar di kedua sisi jalan raya itu yang menutupi jalan simpang itu yang sangat ramai. Sehingga desa di sana suasananya agak gelap, sepi juga agak terpencil. Kecuali lampu di depan ruko dan di depan rumah Asti yang terang benderang.
Dari depan ruko berlari-lari sosok Mas Yanto untuk membuka pintu pagar depan rumah Asti.
Ada ucapan " Alhamdulillah" yang mereka panjatkan setelah berhasil sampai di depan rumah dengan selamat. Akbar ikut terbangun. Pintu depan rumah, dibuka oleh Mbak Ning dengan kunci cadangan.
Suasana ruangan yang temaram memberikan suatu getar kerinduan tersendiri bagi mereka. Walaupun dalam beberapa hari ini mereka tinggal di rumah orang tua Leon yang bagus dan mewah. Tetap saja di rumah sederhana inilah tempat ternyaman untuk mereka tinggal. Sebuah rumahnya yang memberi mereka arti kehangatan sebuah keluarga... Terasa tenang dan tentram di hati.
Tas dan koper sudah diangkut masuk ke dalam oleh Mas Yanto dengan rajinnya... Akbar yang sudah terbangun segera digantikan baju yang dipakainya dengan piyama kartunnya untuk segera tidur kembali. Bulek Ratih malah menggurus Asti dengan telaten. Wanita itu membawa teh hangat dengan campuran gula yang sedikit.
" Aku nggak mandi , nggak apa-apa kan. Bulek?"
" Nggak apa-apa, bersih - bersih saja. Langsung tidur, ganti bajumu dengan daster yang nyaman saja!"
Leon dan Dimas sudah menata berbagai oleh- oleh di atas meja makan. Sebagian lagi diletakkan di atas kulkas.
Suasana rumah kembali hening. Tetapi Joko malah turun dari lantai dua. Tampaknya dia memang sengaja menunggu Leon. Karena ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakannya dengan lelaki itu.
" Mas Leon, Kita bicara saja di ruang atas. Dimas kamu jaga di sini. Usahakan agar Asti jangan tahu masalah ini!" Katanya pelan namun terdengar jelas.
Tentu saja Dimas yang cukup lelah, berkeinginan untuk istirahat barang sejenak. Sementara Mbak Ning sedang masak air panas untuk membuatkan mereka kopi.
Kedua pria itu cepat bergerak naik kembali ke lantai atas. Leon sempat berganti dengan t-shirt yang lebih nyaman dan bersih.
" Ini soal Dania!" Tandas Joko. Setelah mereka duduk di sofa.
__ADS_1
" Gadis yang pernah menjaga tokonya Asti itu, kan?" tanya Leon lagi.
" Iya ... Kemarin pihak yang berwajib telah berhasil menggulung komplotan pembobol toko itu. Mereka semua anak buah si Jago dapat tertangkap. Tetapi sayang, si. Jagonya itu tewas terkena tembakan seorang petugas, karena berusaha melawan saat akan ditangkap!"
"Lalu Sekarang, bagaimana ? Apa
Dania akan mendapat tuntutan hukuman yang sangat lama?
" Pasti itu! Dania telah terbukti menjual separuh dari seluruh hasil barang yang dibobol dari toko itu yang nilainya cukup besar. Takutnya Dania itu menyeret nama Asti dalam perkara itu. Sebab saya yang memasang kamera CCTV di toko ... Setelah yakin Dania terlibat dalam perampokan itu!"
"Apa sudah ada bantuan pengacara dari lembaga tertentu untuk Dania?"
"Belum! Mereka mana punya uang? Bahkan dua kali orang tua Dania datang ke sini untuk menekan Asti! Tampaknya Dania itu sering ngoceh-ngoceh nggak jelas begitu.
Sehingga banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Termasuk kesalahan paham yang diterima oleh orang tuanya...."
" Apa Dania pengguna pil haram atau narkoba? Sebab kalau orang sering menggunakan obat seperti itu, jadi suka berbicara ngawur..."
" Aku kurang tahu Mas Leon... Sejak ibu memberitahukan kehamilan Asti. Sebaiknya dia dijauhkan dengan permasalahan Dania!"
"'Nanti aku bisa tanya Mas Danu atau Kancil untuk mencari orang atau gadis muda yang mau menjadi asisten buat Puspita!"
" Apa kamu nggak mau bantu Dania sama sekali, Joko?"
" Males, Mas... Orang yang nggak tahu diri seperti Dania dan orang tuanya itu, kalau ditolong orang, bukannya terima kasih... Malah tambah besar kepala dia. Seakan apa yang mereka lakukan itu benar! Nanti aku tanya Pak Hermawan agar Asti tidak disangkutpautkan dengan permasalahan Dania..."
Tiba- tiba Leon tersenyum penuh rasa puas. " Terimakasih Joko, karena kamu sudah berusaha keras menjaga Asti selama ini. Semoga Asti sehat- sehat saja..."
Lama kedua lelaki itu terdiam agak lama di ruang santai keluarga. Joko melihat suami sepupunya itu sudah cukup lelah.
" Ya, sudah Mas. Sana istirahat! Tidur..."
" Oke, tolong tetap kamu jaga Asti dan Akbar. Dia harta yang sangat berharga bagi hidup saya saat ini!"
__ADS_1
" Tenang, Mas! Aku akan selalu menjaga semua keluarga ini dengan sepenuh hati."
Berita digulungnya kelompok pembobol toko di pasar kecamatan oleh Jago dan komplotannya itu seketika sudah menjadi berita paling viral di daerah itu. Terutama masyarakat yang tinggal di sekitar polsek, kecamatan dan pasar terbesar di daerah itu. Tetapi Bulek Ratih, Mbak Ning dan Bu Jum tetap mencoba merahasiakan berita menghebohkan itu dari pendengaran Asti.
***
Siang ini di kamarnya, Asti merasakan ketidaknyamanan itu. Hanya berbaring dari pagi hari setelah suaminya berangkat kerja, bukanlah kebiasaannya. Tetapi tenaganya terasa terkuras habis dalam perjalanan pulang kemarin malam dari Semarang. Mau ke kamar mandi pun, dia harus berjalan pelan-pelan, karena kakinya masih lemas.
" Ibu?" panggil Akbar.
Tiba-tiba bayi gemoy itu sudah masuk kamar utama. Dengan kekuatan tangan, anak laki- laki yang sebentar lagi berusia 2 tahun itu bertumpu agar bisa naik ke ranjangnya yang agak tinggi. Tentu Akbar dapat datang ke sini, karena melihat pintu kamar utama terbuka.
" Sini, bobok sama Ibu!" Pinta Asti sambil menepuk bantal di sebelahnya. Tak lama bayi itu juga terbaring di sebelahnya. Lama-lama akhirnya Akbar terlelap tidur juga.
" Asti? Lihat Akbar nggak?" Panggil Bulek Ratih. Mulut Wanita itu jadi ternganga heran melihat anak yang dicari-cari telah tertidur di sebelah Ibunya.
" Ya, ampun..Dicariin Bu Jum kemana- mana. Malah anaknya tertidur di sini!" Bisiknya agak pelan. " Nanti Joko yang mau ngantar Bulek kembali pulang. Kamu pengen dibawain , apa?"
" Nggak usah Bulek! Sarapan bubur tadi juga sudah enak!"
Wanita paruh baya itu duduk di sisi Asti. " Kamu Jangan murung seperti ini. Ini takdir Allah dalam hidupmu yang harus kamu jalani. Anak ini titipan Allah, bersyukurlah! Kamu jaga kesehatanmu baik- baik. Semoga pernikahanmu kali ini akan langgeng. Sebab Leon bukan Satrio! Dia lelaki dewasa yang memilihmu untuk menjadi istrinya karena sangat mencintaimu!"
"Terimakasih Bulek! Kok badanku masih lemes begini?" Keluh Asti.
"Apa mau dianterin periksa di klinik depan jalan sana ? Biasanya kamu dan Akbar cocok dengan obat yang diberikan bidan itu !"
" Nggak usah, Bulek! Aku coba beristirahat saja dulu. Mungkin nanti sore bisa lebih segar lagi tubuhku....."
Akhirnya Bulek Ratih mengalah. Dia keluar dari kamar tidur utama itu sambil menutup pintunya. Para wanita yang bekerja di rumah ini melihat kedatangan Ibunya Joko itu dari ruang tidur Asti, mulai menyadari kalau Akbar pasti ada di kamar sana.
Tas berisi pakaian sudah dirapikan, diletakkan di dekat meja. Dengan cekatan, Mbak Ning memasukan beberapa kotak oleh- oleh yang kemarin mereka beli di Semarang. Tetapi oleh- oleh lumpia itu dapat dihangatkan di Microwave setelah disimpan dalam kulkas.
" Satu saja, Ning! Kasihan, kalau nanti Asti masih kepengen makan lumpia ini lagi. Tolong kalian jaga keponakannya dengan baik, ya! Mudah-mudahan kehamilannya baik- baik saja. Sama seperti saat dia hamil Akbar dulu. Sampai terus menahan diri. Ngidam apa saja tidak keturutan. Sebab Satrio sudah banyak berubah waktu itu!"
__ADS_1
Kedua perempuan itu mengangguk mengerti. Mereka tadi sudah memberi tahu pada pekerja warung tenda agar tidak membicarakan masalah Dania di dalam rumah ini. Ketenangan pikiran Mbak Asti memang harus diutamakan.
Siangnya, setelah istirahat makan siang dan sholat. Leon tidak kembali ke kantornya... Niatnya dia akan membawa Asti periksa ke rumah sakit. Kali ini Akbar dibawa. Walaupun tidak akan ikut masuk ke dalam rumah sakit. Cukup anak itu akan dijaga Bu Jum dan bisa bermain di taman rumah sakit yang cukup luas dan tertata apik itu.