
Anak - anak terbangun di pagi hari dengan riang gembira. Mereka tampak sangat menikmati pemandangan pagi yang tersaji dari balkon resort yang mereka sewa, di lantai dua. Akbar digendong Lek No dan Bulek Ratih memangku Qani sambil melihat sekeliling penginapan dari ketinggian balkon tersebut . Sehingga sejauh mata memandang, ada hamparan sawah hijau di seberang resort yang mereka tinggali.
Sebagai seorang petani, Lek No juga merasa kagum dengan suburnya tanaman padi di sawah itu. Karena persawahan di sini mendapat pasokan air secara teratur dari irigasi yang berasal dari bendungan atau waduk yang banyak dibangun di kabupaten Madiun ini. Salah satunya untuk mengaliri sawah penduduk.
Selain untuk pengairan, beberapa waduk atau bendungan itu juga menjadi tempat kunjungan wisata unggulan. Sebab di waduk tersebut juga dilengkapi infrastruktur dengan berbagai fasilitas untuk reaksi yang sangat lengkap.
Sambil memandangi keindahan alam yang ada di hadapannya itu, Lek No masih memanjatkan doa dan syukur atas keberkahan Allah. Karena telah melimpahi keluarganya dengan kesehatan, kehidupan yang lebih layak, dan rezeki yang terus mengalir.
Sampai di saat ini pun, pria itu dan istrinya masih selalu bersabar. Mereka mengharapkan anaknya, Joko Adi Winangun menemukan wanita tambatan hatinya, untuk segera menikah dan membentuk keluarga. Walaupun selama ini, dia menerima kehadiran kedua anak Asti, sebagai cucunya sendiri. Orang tua Ninuk dan Joko kali ini benar-benar menikmati liburan mereka. bersama anak, menantu dan cucu-cucu.
Tadi malam Joko juga mendapat telepon dari Mbak Nindya Faradina. Anak bungsu Om Sampurno Hardiman Winangun. Joko ngobrol cukup lama di balkon atas, sampai hampir tengah malam.
Wanita muda itu akan menemui mereka, karena kemarin dia harus lembur di kantornya, di sebuah bank milik pemerintah daerah tersebut. Jadi tidak dapat menemui kerabat dari ayahnya itu karena, kesibukannya dalam pekerjaan.
Gadis cantik itu nanti berniat datang ke penginapan, sekaligus berkenalan dengan Asti dan keluarganya. Sebab dia jarang sowan ke rumah kerabat ayahnya, yang kebanyakan tinggal di perbatasan antara daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pukul 09.00 datanglah sebuah mobil Suzuki Xpander keluaran tahun terbaru berwarna putih di depan resort nomor 22. Tempat keluarga Leon Narendra Murti menginap di sana. Bulek Ratih yang menerima kedatangan mereka. Sebab Akbar sudah merengek pada ayahnya mau berenang lagi di kolam renang khusus anak-anak. Padahal air kolam yang ada di belakang gedung utama hotel pagi itu masih terasa sangat dingin. Jadi diajaknya anaknya itu berjalan - jalan di sekitar tempat penginapan sampai ke ujung perbatasan desa.
Di luar pintu gerbang utama hotel dan resort itu banyak para pedagang berkumpul, menawarkan jualannya. Mereka berbaris berjejer di sepanjang pintu sampai ke seberang sampai jalan di depannya.
Mereka menjajakan beraneka macam dagangan. Ada yang menjual berbagai kerajinan tangan seperti aksesoris, tasbih, gantungan kunci dan berbagai cenderamata lainnya . Banyak juga pedagang yang menggelar dagangannya berupa buah - buahan yang dipetik dari kebun mereka sendiri. Seperti pepaya, pisang atau buah musiman seperti mangga, durian atau alpukat.
Ada pedagang yang menjual sarapan ala kampung mereka, juga berbagai makanan khas daerah itu selain brem. Mbak Ning dan Bu Jum sedang menikmati tahu campur, yang penjualnya menggunakan gerobak dorong. Mereka menikmati sarapannya itu dengan duduk-duduk, pada selembar tikar yang digelar di dekat pematang sawah yang letaknya di seberang jalan Hotel Citra.
Pemandangan di sebelahnya adalah lahan sawah milik penduduk setempat , yang padinya baru mulai tumbuh dan meninggi. Dari saluran irigasi yang tidak terlalu besar itu terdengar gemericik air yang dialirkan ke pematang sawah- sawah di lahan yang lebih rendah.
__ADS_1
Lek No, Leon dan para supir berjalan-jalan ke desa di ujung jalan sana bersama Akbar. Lain halnya dengan Qani dan Asti yang sedang menikmati bubur sumsum, dengan kuah air gula aren yang manis.
Ninuk sedang memilih beberapa gantungan kunci dengan berbagai hiasan unik dari resin. Kata penjualnya, semua itu merupakan hasil karya kerajinan tangan dari para remaja yang tergabung dalam organisasi karang taruna di kelurahan di wilayah ini. Karena benda-benda itu sangat unik, beberapa pengunjung yang sebagian menginap di resort dan hotel ini tertarik ikut melihat dan membeli juga. Jadi penjualnya mengelar semua dagangannya di selembar karpet plastik.
Harga gantungan kunci dan magnet kulkas itu mulai dari 5000 ribu rupiah sampai 10.000 rupiah per- buah. Ninuk sudah memilih sepuluh buah gantung kunci untuk oleh-oleh teman satu kelasnya di kampusnya nanti.
" Mbak Asti, ada anaknya Pak Sampurno datang ke penginapan. Bulek Ratih meminta Mbak untuk segera menemuinya !" Lapor Putri yang tadi memilih tinggal di resort itu bersama Bulek Ratih.
Gadis itu meraih Qani dari pelukan ibunya, sementara Asti sibuk mencari uang dalam dompetnya, untuk membayar harga bubur pada penjualnya. Sambil membawa empat bubur sumsum yang sudah dipesannya untuk dibawa pulang. Bubur itu ditempatkan pada wadah gelas air mineral yang berukuran besar.
Bubur sumsum adalah bubur yang dibuat dari tepung beras yang dimasak dengan santan dan air, diaduk sampai tanak dan matang. Cara makannya disiram dengan kuah. Kuahnya itu berasal dari gula aren yang diiris halus dimasak dengan air sampai larut dan sedikit mengental, kadang diberi daun pandan supaya wangi.
Qani tertawa - tawa dalam gendongan Putri , karena melihat ibunya ketinggalan agak jauh di belakangnya. Asti berpura - pura memanggil anaknya itu, sambil berusaha mengejarnya. Sebab Putri berjalan sangat cepat, menuju resort tempat mereka sudah menginap di sana.
Sampai Asti dikejutkan dengan kehadiran dua wanita yang duduk di teras depan resort, ditemani ngobrol oleh Bulek Ratih. Wajah Bulek Ratih juga terlihat kurang nyaman dengan kehadiran Mbak Dian Larasati di sana.
Asti tertegun memandangi anak sosok anak gadisnya, Om Sampurno itu. Di luar perkiraannya . Sebab dia kemarin sore sudah tak nyaman dengan cara si Mbak Dian, bersikap padanya. Malah sekarang dia juga ikut bertandang kemari.
Mereka saling berpelukan hangat. Wanita itu tampaknya lebih muda dua atau tiga tahun. Dari usia dari Asti. Sebab baru tahun lalu dia menyelesaikan pendidikan di sebuah kampus di Malang. Lalu mendapatkan lowongan di salah pekerjaan di salah satu bank pemerintah di kota ini.
" Ini Nindya, ya? Maaf, saya hanya pernah bertemu dengan Mas Idham dan Mas Panji saja!"
Gadis itu tersenyum, ketika Asti menyebutkan kedua kakaknya lelakinya itu. Mereka sejak sekolah SMA sering berkeliling menemui beberapa kerabat ayahnya, dengan kelompok motornya itu. Mereka melakukan itu setiap libur panjang sekolah, dengan istilah touring.
" Benar kata Ibu, Mbak Asti sangat cantik! Pantas almarhumah Bude Ayu juga pernah menjadi kembang desanya di Sendang Mulyo, kan?"
__ADS_1
"'Masa? Saya hanya orang kampung, ko, Mbak. Maklum dari lahir dan besar pun di desa. Jadi takut kurang pantas dan terlihat kampungan, ya?" balas Asti manis.
" Siapa bilang? Ayah sangat menghargai Mbah Harjo Winangun, toh! Kalian semua keturunan orang hebat. Ayah saja agak berhati-hati menyematkan nama Winangun di nama belakangnya . Takut berlaku kurang pantas... Para Mbah dan Mbah Buyut pejuang dan tokoh masyarakat yang sangat dihormati."
Kali ini Asti asyik ngobrol dengan si Nindya itu. Tanpa mempedulikan kehadiran si tantenya Nindya itu. Salah sendiri kemarin dia menolak uluran tangannya tanda perkenalan. Dipikirnya, karena lahir di kota dan sedikit mengenal budaya luar asing dengan kemampuannya berbahasa Inggris menjadikan dirinya sangat hebat. Jadi dia boleh meremehkan orang-orang yang tidak selevel dengan dirinya.
Asti bersikap mengalah saja. Karena hanya dia yang diremehkan oleh adik Ibu Sarita itu. Awas saja, kalau dia berani mengusik anggota keluarganya ini. Bisa-bisa dia harus berurusan dengan pihak yang berwajib atau ke meja Hijau lagi!
" Ugh, coba kalau rumah kita agak dekat, ya. Mbak! Kita bisa jadi besti, nih. Percuma aku punya dua kakak laki-laki, bukanya melindungi malah bisanya kena bully terus...." Keluh Nindya curhat.
" Hey, baby?" tegur Nindya manis saat melihat Qani digendong Bulek Ratih, menemui mereka . Qani tak menolak saat digendong saudaranya itu." Kok kamu cantik, sih!" pujinya tulus.
Bayi perempuan itu menatap wajah lembut Nindya dan merasakan ketulusan hati wanita itu. Jadi Qani mau digendong Nindya agak lama. Sambil mereka meneruskan obrolannya.
" Waktu Mbak Asti ngundang untuk acara pernikahan dengan Mas Leon, kami sekeluarga sedang menjenguk Mbak Inayah yang sedang melahirkan anak pertamanya di Surabaya... Jadi nggak bisa datang!"
" Nggak apa-apa! Joko dan Mas Leon kan sudah datang dan menginap di rumah Mbak Nindya?"
" Ya, nggak seru aja! Kita ketemu cuma sebentar... Sebab Mas Leon merasa nggak enak dengan tamunya yang merupakan pengacara dari kantor pusatnya. Jadi saya carikan hotel untuk mereka menginap sekaligus dekat dengan lokasi ke desa Sumber Sari."
Putri membawakan minuman dan cemilan yang tadi pagi dibeli Bulek Ratih pada penjaja makanan yang datang dari pintu ke pintu di resort ini. Ada yang menggunakan keranjang untuk membawa dagangannya itu. Banyak juga yang membawa wadah dari bambu yang disebut tampah di atas kepala.
Tadi Bulek Ratih membeli getuk, gorengan juga beberapa potong uli atau di tempat Asti disebutnya juadah.
" Semua keluarga ini dibawa liburan semua, begitu?"
__ADS_1
" Iya. Selain Keluarga Lek No, ada dua supir Elf juga. Ada juga yang momong anak- anak, sama yang bantu ngurus rumah! Mas Leon yang ngajak liburan , sekaligus melihat proses pembayaran lahan yang sudah dibebaskan itu!"
Tak lama, datang Lek No, Leon dan dua supir Elf juga Akbar. Mereka bersalaman. Kedua ART Asti muncul juga bersama dengan Ninuk yang banyak membeli berbagai oleh-oleh. Belanjaannya itu dimasukan ke dalam tas kresek warna hitam.