
Asti berniat ke Desa Sendang Mulyo lebih dahulu sebelum pulang ke rumah hari ini. Segala belanjaan Ninuk dimasukan ke dalam bagasi. Akbar sudah terkantuk-kantuk setelah di dudukan di car seat.
Kedatangan Asti ternyata sudah ditunggu Bulek Ratih dengan dua orang asistennya. Dua wanita muda yang membantunya mengurus kebersihan dia rumah, juga memasak. Selain mengurus sawah, ada banyak pekerja yang sedang memanen kelapa di kebun. Di gudang belakang rumah juga sudah ada dua tandan pisang yang sudah masak.
Akbar sudah bangun ketika Asti memarkirkan mobilnya di depan rumah joglo itu. Bayi gemoy itu langsung digendong Bulek Ratih ke mana - mana, padahal Mereka juga baru rumah ini beberapa hari yang lalu.
Sekarang Bulek Ratih disibukkan dengan menyiapkan makan untuk para pekerja di kebun itu. Nanti mereka semua akan makan siang bersama, setelah pekerjaan mengambil puluhan butir kelapa itu selesai.
" Bu Jum, ayo makan! " ajak Ninuk. Sebab pengasuh Akbar itu masih asyik ngobrol dengan seorang kerabatnya yang juga ikut membantu Bulek Ratih di rumah ini.
Asti ikut memantau ke kebun untuk melihat hasil panen kelapa itu. Lek No melambai tangannya saat melihat Akbar dalam gendongan istrinya. Wajah pria itu tampak cerah melihat Akbar juga tertawa .
" Sini sama Mbah No!"
Kembali Akbar digendong lagi. Walaupun tanah kebun cukup kering dan rata, tampak Lek No tak membiarkan sepatu baru Akbar kotor oleh tanah kebun itu. Padahal sejak turun dari mobil tadi kaki Akbar sama sekali belum menapaki tanah warisan leluhurnya ini.
" Ini kebun dan sawah Akbar, ya!" Ujar Lek No menerangkan pada Akbar.
Ada rasa haru saat Asti mendengar suara Lek No. Sejak sawah sudah tidak dikerjakan orang lain secara bagi hasil lagi, mereka dapat memperkejakan lebih banyak orang lagi di sawah. Bahkan hasilnya lebih banyak dan cukup memuaskan. Termasuk kedua orang tua Dania ikut bekerja di sawah mereka, secara tetap.
" Dapat borongan kelapa lagi, Lek?"
" Ini dibeli tiga pedagang yang berbeda, Asti. Mereka mau menjualnya ke Madiun dan Surabaya katanya."
" Nanti disimpan dulu uangnya, ya. Lek! Sebagian untuk sangu umroh. Sisanya nanti untuk membeli keperluan Lek No dan Joko. Ninuk sudah menuliskan daftarnya, barang apa saja yang perlu dibeli. Setelah tahun baru, kita semua akan berbelanja di Solo saja!"
Pria paruh baya itu tersenyum lebar. Semakin hari, semakin dekat saja rencana keberangkatan umroh itu. Sebuah rencana yang dulu sangat diidamkan oleh almarhumah Bude Ayu.
" Mbah..!" Panggil Akbar jelas. Bayi itu menunjuk pada burung- burung liar yang berterbangan di sawah.
Padi akan siap panen dipertengahan bulan Januari mendatang. Jadi burung- burung yang dilihat Akbar itu termasuk sebagian dari hama yang menyerang tanaman padi mereka. Selain wereng, tikus dan belalang.
Entah Asti membaca di mana! Barisan pohon bambu yang ada di hutan bambu yang mengelilingi desa ini adalah pelindung alami. Sehingga hanya sedikit hama yang menggangu pertumbuhan padi- padi di sawah di desa ini.
" Akbar suka lihat burung?"
Bayi itu tertawa. Sebab setelah mendekati lahan persawahan, banyak dipasang berbagai alat yang dapat mengeluarkan bunyi untuk menakuti kawanan burung itu agar
tidak memakan padi yang sudah tumbuh namun masih hijau.
" Ayo kita pulang! " ajak Asti pada Bulek Ratih yang masih memperlihat para petani yang sibuk mengusir burung- burung pemakan padi itu.
Ninuk berlari menyusul ke arah kebun. Dia mencium tangan bapaknya saat mau pamit pulang.
__ADS_1
Kang Kasat sedang memasukan satu tandang pisang raja yang sudah dipotong - potongnya menjadi beberapa sisir ke dalam bagasi Honda Jazz Asti.
" Banyak sekali yang saya bawa, Kang! Nanti yang di rumah ini nggak kebagian!"
" Perintah, Lek No! Jangan takut Asti. Di kebun belakang masih ada dua tandan yang akan kita panen dua hari lagi."
" Terima kasih ya, Kang!"
Bu Jum sudah membawa Akbar masuk ke dalam mobil. Tampak Ninuk masih pamit dengan beberapa kerabatnya di dalam rumah itu.
" Kamu belanja banyak banget, Asti!" tanya Bulek Ratih yang tadi melihat beberapa tas kresek memenuhi bagasi.
" Itu, si Ninuk, minta buat bakar- bakaran untuk merayakan malam tahun baru!"
" Waduh! jangan selalu dituruti permintaan Ninuk yang banyak maunya itu, Asti. Dia harus fokus dengan kuliahnya!"
" Maklum Lek, masih remaja labil. Daripada dia kongkow nggak jelas dengan teman kuliahnya yang ada di kampung sebelah!"
Wajah Ninuk berkerut saat banyak diberi nasehat oleh ibunya itu. Sebab Bulek Ratih banyak berharap agar Ninuk dapat menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Jangan sampai kegagalan anak bungsunya itu nanti jadi bumerang buat nama baik keluarganya.
Banyak orang membicarakan keluarga mereka dengan berbagai penilaian. Baik yang positif maupun negatif. Malah ada anak tetangga, yang baru pulang merantau dari kota sering menyebutkan kalau keluarga Lek No itu adalah gaya orang kaya baru atau OKB. Sebab banyak perubahan dan kemajuan hidup keluarga itu dalam beberapa tahun terakhir ini. Apalagi Asti dan Joko ke mana - mana selalu menaiki mobil pribadinya masing- masing.
Mobil yang dikemudikan Asti sudah masuk ke garasi menjelang Magrib. Pak Roh membantu mengangkat berbagai barang yang ada di bagasi mobil . Pria itu yang tadi menjaga rumah Asti sekaligus membuka pintu pagarnya.
" Oke, Mbak! Wah ini pisang raja, ya. Direbus saja sudah enak, apalagi digoreng atau dibuat kue..."
" Nanti, bapak minta sama Mbak Ning untuk merebusnya. Sekalian buat teman minum kopi!"
Akbar segera dimandikan oleh Bu Jum. Tidak terlalu lama karena air di kamar mandi utama sudah agak dingin menjelang sore.
Dapur jadi ramai, karena Pak Roh membantu menyiapkan pengolahan pisang itu. Sebab Mbak Ning juga harus menyiapkan makan malam.
" Mbak Asti, tadi ditunggu oleh Bude Diah di warung Mas Joko!" lapor Mas Firman.
Tentu pria itu di suruh oleh Joko. Sebab pemuda ini yang jarang keluar masuk di rumah Asti. Dia selalu pulang ke rumahnya menjelang warung tutup di tengah malam.
" Mas, tolong Bude Diah disuruh masuk ke rumah saja, ya!. Terimakasih! " pinta Asti.
" Baik, Mbak!"
Tak lama terdengar suara salam seperti suara seorang wanita dan pria dari pintu samping rumah. Tampak Bude Diah dengan Mas Santo anaknya berdiri di sana.
" Masuk, Bude! Mas!"
__ADS_1
Asti dipeluk dan diciumi oleh wanita yang merupakan adik mantan ibu mertuanya. Tanpa terasa air mata wanita yang sudah punya empat cucu itu menetes. Wanita itu menangis dengan sedihnya.
" Aku pikir, kamu sudah tidak menganggap kami saudara, sejak kamu bercerai dari Satrio. Ternyata kamu dan Joko benar-benar sibuk. ya! Bude senang, melihat kalian tampak berhasil dengan usaha yang kalian kerjakan saat ini!"
Wanita itu duduk di sofa ruang tengah dan segera disuguhi teh manis hangat dan sepiring pisang rebus.
Ninuk datang dan menyalami Bude Diah. Wanita itu mengusap kepala Ninuk yang terbungkus jilbab bergo rumahan. " Ini anak bungsunya Sarno?"
" Iya, ini Ninuk! Bude. Dia lagi libur semesteran, main di sini sambil menjaga Akbar!"
" Pantas banyak gosip yang terus nyampe di telinga Bude ini. Sampai telinga Bude gatal. Ya. To!"
Anak laki-laki itu tersenyum lembut. " Aku sudah sering lapor, Mbak! Ibu tetap nggak percaya. Joko sudah punya usaha kuliner sore. Asti punya ruko dan rumah bagus. Dikira aku menghayal kali.."
Wanita itu pun ikut sholat di kamar Asti ketika Joko dan rombongannya datang untuk sholat berjamaah di ruang sholat yang ada di ruang tengah. Di sana ada Mas Dimas, Mas Yanto dan Mas Danu.
" Rumahmu besar dan nyaman, Asti! Ini yang Sarno bilang merupakan tanah warisan Ayu juga tinggalan dari Mbah Putrimu!"
" Benar, Bude!"
" Jangan putuskan tali persaudaraan kita, ya. Walaupun Mbah Sanjaya sudah nggak ada..."
Mereka akhirnya makan bersama. Walaupun Mas Santo ngotot mau menikmati mie goreng Warung Tendanya Joko. Ternyata Mas Santo sering mampir makan di warung Joko. Sebab dia juga sering tidur di ruko miliknya kalau sedang datang mobil yang bongkar muatan barang untuk tokonya dari kota.
" Bude mau menginap di sini?" tanya Asti.
" Boleh?"
" Iya masak nggak boleh! Nanti saya siapkan kamar di atas. Kalau mau lihat- lihat, biar Ninuk yang menemani!"
" Sebentar, Asti!"
Mereka duduk di ranjang besar di kamar Asti. " Kamu sudah dengar soal Nanik?"
" Memang ada apa, dengan dia?"
" Sebulan yang lalu, dia dilabrak oleh keluarga istri sah suaminya! Sekarang keluarganya balik ke Sendang Ranti. Memang si Nanik itu selalu saja membuat masalah di desa kami. Ternyata dia menggoda seorang pengusaha dari Boyolali. Malah mereka sudah nikah siri. Mereka mau dilaporkan dan akan dipenjarakan karena menikah tanpa izin istri pertama. Suami perempuan itu nggak berdaya. Jadi mereka kembali ke Boyolali. Nanik sama keluarga sepertinya malu karena hampir setahun ini mereka petantang - petenteng dengan mobil bagus suami sirinya. "
" Sekarang Nanik tapi tinggal di kota Itu kan?" Tanpa sadar Asti menyebutkan kota tempat Satrio bertugas
" Kok, kamu tahu?"
" Dari Ninuk, Bude. Dia dekat dengan istri salah satu atasan Satrio di kantornya. Malah mereka mengalami musibah. Suami dan anak ibu itu meninggal dalam kecelakaan lalu lintas."
__ADS_1