
Para ibu - ibu heboh itu akhirnya pamit pulang ke rumah masing- masing. Ada yang dipanggil suaminya karena anaknya menangis. Namun Sebagain lagi pulang, setelah melihat Pak Leon dan dua asistennya itu datang ke warung Tenda untuk menikmati makan malam mereka.
" Mbak Asti, kami pamit, ya! Terima kasih atas tahu isinya. Bilang sama Mbak Ning, masih kurang banyak! Ha, ha "
Asti hanya senyum- senyum saja. Mbak Ning segera membereskan gelas -gelas bekas minum mereka. Sementara Akbar anteng di dalam rumah karena dia sekarang punya banyak mainan yang cukup menarik. Terutama mobil remote control pemberian Pak Leon.
Sore harinya, Asti melihat Pak Leon sudah duduk di teras depan. Walaupun pintu pagar ditutup, namun tidak terlalu rapat. Sehingga tetangga atau para pejalan kaki masih dapat melihat keberadaan Pak Leon dan Asti di sana, yang juga ditemani Mas Yanto.
" Maafkan atas kedatangan mantan istri saya kemarin, jadi membuat heboh keluarga Mbak Asti dan para tetangga di sini!"
" Nggak apa- apa, Pak Leon. Saya juga maklum, kok. Iya kan Mas Yanto?"
" Eh, iya. Ya. Saya saja nggak menyangka, kalau wanita cantik itu sudah jadi mantan Pak Leon. He, he!"
Ucapan itu sudah memperlihatkan, betapa takut dan bingungnya Mas Yanto menghadapi serangan dari Ibu Corinne. Selain ucapannya yang cespleng! Juga tindakan yang brutal. Tidak sesuai dengan penampilan yang modern dan mobil mahalnya itu.
Mata Pak Leon menerawang sangat jauh. "Saya sudah menceraikan istri saya, hampir empat bulan yang lalu. Penyebabnya bukan hanya Corinne menolak ikut saya pindah ke Semarang setahun yang lalu. Tetapi Mbak Alya, Kakak saya melihat perselingkuhan Corinne dengan seorang pejabat daerah yang dikenalnya. Ya, sudah! Saya ceraikan dia. Tidak ada kata maaf dengan perselingkuhan!"
"Tetapi kok Ibu Corinne tahu nama saya, juga ada foto saya, ya. Pak? Hal itu yang membuat saya bingung ..."
" Mungkin dia menyuruh seseorang untuk menguntit, Mbak Asti! Kalau saya kan sehari- hari ada di proyek. Paling juga di Semarang bulan lalu saat mengikuti sebuah pemeran di sana. Itu pun hanya tiga hari saja!"
" Apa dia tahu soal Mbak Almira juga?"
" Maksud, Mbak Asti?"
"Yang sering jalan sama Bapak , Mbak Almira , bukan?"
" Oh itu ? Almira sedang mengerjakan proyek dari saya untuk membuat both pada pameran perumahan di Semarang, Mbak! Mungkin itu foto Almira yang dipegang Corinne, ya? Ha- ha. Lucu juga jadinya!"
__ADS_1
" Saya sudah bilang, kalau Ibu Corinne itu mendapat informasi yang salah. Malah dia nggak terima dan marah- marah terus! " kata Mas Yanto lagi.
" Iya, Mas. Lihat? Mbak Asti terlalu kalem begini. Malah digosipin yang aneh- aneh! Mana berani Mbak Asti menerima saya, kalau nggak ada orang ketiga. Iya kan?"
Mas Yanto yang agak kaget langsung berdiri, " Maksudnya orang ketiga itu, saya. Pak Leon ? Jangan begitu! Bilang saja terus terang sama Mbak Asti. Kalau Bapak bersedia menjadi bapak barunya Akbar!"
Wajah Asti jadi memerah. Kok, jadi aneh pembicaraan antara Mas Yanto dan Pak Leon. " Ya, sudah. Saya tinggal masuk ke dalam dulu, Pak Leon. Saya terima maafnya!"
" Okey, jadi Mbak Asti mau, ya. Menerima lamaran saya?"
Tambah bingung juga Asti, melihat kelakuan receh Pak Leon itu. Cepat - cepat dia masuk ke dalam rumah dengan wajah merah merona, antara malu dan takut kalau hanya mendapat gombalan maut dari sang duda keren itu alias, DUREN!
Hampir saja dia bertabrakan dengan Mbak Ning yang juga mau keluar dari pintu depan itu. Padahal Mbak Ning sedang membawa baki berisi dua cangkir kopi dan kue jadah yang sudah digoreng.
" Pelan-pelan jalannya, Mbak Asti! Mbak Ning lagi bawa kopi panas , nih! Kan, sayang kalau wajah mulus Mbak Asti luka terkena siram kopi ini"
Di depan teras, Mbak Ning melihat Mas Yanto dan Pak Leon sedang ngobrol sambil tertawa -tawa. Mereka sangat akrab. Pria tampan itu malah menganggap Mas Yanto yang hanya tukang parkir ruko itu layaknya seorang teman.
Pak Leon juga sesekali masih mampir ke rumah Asti untuk makan siang. Apalagi kalau Mbak Ning memberikan tahu kalau dia memasak sayur bening dan bacem tempe- tahu, masakan kesukaannya. Sebab lidah pria itu masih belum pas, merasakan makanan dari para penjual nasi di sekitar sini. Karena pada umumnya semua lauk dan sayur yang mereka sajikan agak terasa manis. Maklumlah orang Jawa!
Akbar sudah mandi, minum susu dan menghabiskan makanannya di mangkok kecil. Sebab, Asti akan melarang Bu Jum membawa Akbar keluar rumah! Dia sedikitnya memberi pelajaran disiplin pada putranya itu. Walaupun masih bayi.
Pernah, Akbar jatuh ke lantai saat dia berjalan - jalan secara berputar. Padahal Bu Jum dan Mbak Ning sudah melarangnya. Setelah jatuh dan menangis keras, barulah bayi itu sedikit mengerti ketika dahinya benjol. Rasa sakit itu memberinya pembelajaran untuk mendengar perkataan orang lain.
Ternyata, Asti yang dilabrak oleh mantannya Pak Leon sampai juga ke telinga Bulek Ratih. Wajah wanita itu sudah keruh ketika datang ke rumah Asti di Sabtu siang.
" Yanto! jangan kamu buka pagar, kalau ada tamu yang tidak dikenal datang!"
Yanto yang mendapat teguran langsung dari saudara Ibunya itu hanya diam. Dia juga berusaha menjaga dan melindungi semua orang di rumah ini. Sampai rela ngotot dengan seorang perempuan, yang sedikit merendahkan harga dirinya.
__ADS_1
" Orang error itu, Lek! Semua orang diamuk! Kata Bu RT , wanita itu nggak terima diceraikan tanpa mendapat harta goo- gini yang sesuai. Padahal dia yang berselingkuh. Tapi ngotot menguasai harta suaminya!"
" Sok tahu kamu, Mas Yanto! " Ledek Mbak Ning.
Sejak mendengar ribut- ribut pagi itu di depan rumah, Mbak Ning dan Bu Jum memilih tidak keluar rumah. Sebisa mungkin mereka menghindar. Apalagi ada Akbar yang menjadi tanggung jawab mereka, sementara ibunya sedang bekerja. Mereka juga takut ketika melihat wanita itu berteriak -teriak sampai menjadi tontonan orang banyak.
Seumur hidup, baru kali ini dia melihat wanita cantik, berpenampilan menarik, terlihat dari kalangan orang berada. Tetapi tingkahnya mirip orang gila! Walaupun mereka orang kampung, hanya berpendidikan rendah. Setidaknya masih menjaga sopan santun dan tata krama. Bukan seperti manusia prasejarah yang keluar baru keluar dari goa pengasingan.Kasar dan tidak mengerti aturan!
" Pak Leon itu lelaki yang sering makan di warung Tenda Joko dengan dua anak buahnya itu, kan ?"
" Iya Bule?"
"Ya sudah, Pokoknya jaga Asti dan Akbar dengan baik! Pintu pagar tutup aja, kalau kamu repot di ruko, Yanto!"
Berkat kehebohan itulah, akhirnya Asti memasang cctv di beberapa titik di dalam dan di luar rumah. Termasuk di area Warung Tenda. Itu semua atas permintaan Joko. Saat kejadian, dia dan anak buahnya sedang berbelanja di sebuah pasar desa yang lain untuk membeli bahan - bahan makanan untuk warung.
Padahal dulu Mas Adam menawarkan hal itu kepada Asti. ketika pemilik ruko memasang benda canggih itu untuk mengantisipasi berbagai tindakan kejahatan. Namun benda itu agaknya sedikit menimbulkan rasa tak nyaman bagi Asti yang pernah memasangnya di rumah dinas Satrio. Entah, sekarang masih berfungsi atau tidak. Sebab Asti sudah memutuskan jaringan itu di Hp -nya.
" Semakin hari, semakin banyak saja ujian hidup ini ya, Bu Haji !" Keluh Asti.
" Tandanya Mbak Asti disayang Allah, karena selalu kuat ketika diberi ujian yang berat. Nanti ujian itu akan berakhir dengan manis, Mbak. Percayalah!"
Yah, sebenarnya Asti tidak mau mengeluh. Tetapi apa status janda yang sekarang disandangnya itu membuat dirinya sangat jelek di mata orang banyak.
Diam- diam Asti menyakini, pria penguntit yang menggunakan sepeda motor itu apakah suruhan mantan dari Pak Leon?
Tanpa sadar, Asti memasukan sebuah kayu pemukul bola kasti di dalam bagasi mobilnya. Dulu sewaktu bersekolah di SD, dia cukup mahir memukul bola kasti dengan alat ini. Sehingga selalu membawa regu sekolahnya menang sampai tingkat kecamatan.
Tidak sengaja, kemarin dia mampir di toko Pak Fuad di depan pasar. Toko itu selain menjual berbagai jenis baju olahraga dan seragam sepak bola. Bapak itu juga menjual alat- alat olahraga. Termasuk pemukul kasti. Jadi Asti membelinya. Lumayan buat berjaga- jaga!
__ADS_1