Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 111. Keterkaitan Dania dengan Jago


__ADS_3

Kedatangan anak buah Barep dan Mas Bambang, memang sudah ditunggu Joko. Takut mengganggu kenyamanan para pembeli di warung tenda, Joko mengajak teman akrabnya itu masuk ke dalam rumah.


Asti dan Mbak Ning malah menyiapkan makan malam. Lihatlah, jangan menilai orang dari penampilan luarnya. Keempat anak geng motor itu makan dengan sopan ditemani Joko di meja makan. Bahkan mereka juga sholat Isya berjamaah di mushola kecil di dalam rumah Asti itu.


Selama ini, Mas Bambang terus memantau keamanan rumah Asti dan Juga ruko, setelah mendengar penuturan dari sobatnya. Kalau keluarganya akan berangkat Umroh. Sedikitnya Mas Bambang cukup memahami latar belakang kehidupan Asti saat itu dan kandasnya pernikahan yang disebutnya baru seumur Jagung. Padahal Asti dan Satrio menikah belum ada dua tahun, punya bayi lalu harus bercerai.


" Kabar Jago bagaimana?" tanya Joko penasaran.


Anak metal yang satu itu licin bagai belut, susah dicari jejaknya. Walaupun perbuatan Jago yang bertindak kriminal itu menjadi tugas aparat kepolisian. Namun selama ini Keberadaan Jago sudah meresahkannya masyarakat di sekitar alun- alun di dekat kecamatan.


" Dia sepertinya kembali Ke arah Timur, deh! Cuma Dania sepertinya ikut terlibat dalam pencurian itu. Sebab ada kawan yang mempunyai toko di pinggir jalan besar ditawari untuk membeli beberapa rokok dalam bentuk bos dengan harga dibawah pasaran..."


" Yakin yang menawarkan itu Dania?" tanya Joko tak percaya.


" Yakin, Bro! Dia pakai kerudung kan? Sebab cewek - ceweknya Jago kan nggak berhijab kecuali Dania!"


" Sebentar... Dania sepertinya tinggal di satu kontrakan bersama cewek- cewek itu di kota. Nggak jauh dari kampusnya Ninuk." Ujar Mas Bambang.


Wajah Joko menjadi berang. " Sialan itu Dania! Kalau ketangkep polisi. Malunya orang tuanya kayak apa? Asti terlalu baik kepada anak itu. Dipikir karena masih berkerabat dengan ibu..."


Di ruangan itu bukan hanya Joko yang emosi, tetapi Asti dan Bu Jum. Tampak wajah Bu Jum memerah mendengar ucapan Joko, juga soal Dania.


Mereka memang saling berkaitan bersaudara di desa tempat tinggal orang tua Dania itu. Namun kaum mudanya di desanya, banyak mencari penghidupan di kota- kota di sekitarnya wilayah Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Tetapi kebanyakan yang perempuan lebih nekad lagi menjadi TKI. Mereka bekerja di negara Singapura, Malaysia ada juga yang bekerja di negara - negara di Asia Barat.

__ADS_1


" Ya, Allah... Dania sudah salah jalan, Mbak Asti! Gimana nasib si Tumirah kalau anaknya itu ditangkap polisi dan masuk penjara..."


Rintihan itu membuat Mas Bambang menatap Bu Jum agak lama. " Dania sudah lama nongkrong dengan Jago dan anak buahnya itu, Bu. Jadi dia hanya dimanfaatkan kepolosannya saja untuk menjadi kaki tangannya kelompok mereka."


" Mas- mas tolong jaga Ninuk, ya! Adik Joko itu tinggal nggak jauh dari kampus di kota itu..."


" Ya, Mbak Asti! Kalau soal Dania , itu urusan yang lain. Kalau Jago ketangkap pun, Dania akan terseret juga karena banyak membantu lelaki itu..." Jawab Mas Barep yang tampak lebih bijaksana.


Tubuh Bu Jum gemetar saat masuk kamar Asti. Sebenarnya, dia hanya bersaudara jauh dengan ibunya Dania karena adanya pernikahan di antara dua keluarga mereka.


Bu Jum, bekerja dia Jakarta, tak lama setelah suaminya meninggal karena sakit. Dia mendapat pelatihan sebagai baby sister di yayasan yang menyalurkan tenaga kerja. Wanita itu bekerja keras agar dapat menyekolahkan kedua anak laki-lakinya yang diurus oleh kedua orangtuanya di kampung. Mereka sekarang sudah lulus sekolah SMK dan bekerja di Surabaya.


Lain halnya dengan Tumirah, nama gadis dari ibunya Dania itu. Justru wanita itu masih bersaudara sepupu dengan Bulek Ratih. Ibunya Dania dulu adalah kembang desa di dusun Sidodadi. Karena kecantikannya wanita muda itu, tentu banyak pria dari berbagai kalangan yang melamarnya. Oleh karena itu, Tumirah malah menertawakan Ratih Marfuah yang mau saja dijodohkan dengan keponakan Pak Harjo Winangun. Apalagi saat Tumirah mendengar kalau pekerjaan sehari-hari Sarno Winangun hanyalah mengurus sawah dan kebun milik saudara tiri ibunya itu.


Tentu saja, Tumirah yang cantik mau menerima lamaran pria yang bernama bernama Sungkono itu. Walaupun pria itu tak jelas status pernikahannya. Sebagai janda muda yang baru saja bercerai dan belum punya anak. Tumirah disebut Janda Kembang.


Sayangnya, Sungkono mulai suka bermain judi dengan teman- teman yang punya usaha dengannya itu. Lelaki itu mulai berani melakukan taruhan yang awalnya hanya menghabiskan ratusan ribu rupiah sampai harta kekayaan ludes di meja judi. Dia menjual motor miliknya, sawah , juga kebun. Akhirnya rumah besar kebanggaan Tumirah di dekat pasar pun juga turut dijual karena hutang suaminya bertumpuk-tumpuk di tangan rentenir.


Sikap Kono demikian panggilan untuk ayah Dania tidak berubah. Dia malah suka mabuk-mabukan. Setelah usahanya semakin tak menghadapi karena kekurangan modal. Itulah yang membuat keluarga Dania dikucilkan dari tetangga, saudara dan kerabatnya. Kata para tetangga, sudah miskin tidak tahu diri!


" Aku nggak tega, Mbak! Apa dia keluarga mereka itu telah menerima semua karma itu untuk seumur hidupnya..."


" Bu Jum ngomong apa, sih? Kok, Aku nggak ngerti!" Balas Asti bingung.

__ADS_1


" Ya, Tumirah sewaktu masih muda dan cantik, dulu sangat sombong dan angkuh! Bulek Ratih selalu diremehkannya karena tidak secantik dia dan hanya berjodoh dengan Pak No yang petani. Ibunya Dania itu membuang suaminya pertamanya setelah sakit dan jatuh miskin. Suaminya yang sekarang hanya memberinya kesusahan hidup. Mau makan sehari-hari saja susah, kalau tidak kerja di sawahmu Asti. Entah kalau Si Kono itu masih suka berjudi... Uang darimana lagi ?"


" Sudahlah... Bu Jum. Bulek saja menolong keluarga Dania dengan tulus. Biar baik buruknya perbuatan kita, Allah yang menilai!"


Ada ketukan di pintu kamar Asti. Di sana berdiri Joko yang memberi tahu kalau anak-anak motor itu pamit pulang. Sebenarnya ada rahasia yang hanya dapat disampaikan kepada Joko terkait Jago. Sebab urusan ini sangat riskan. Mereka harus berjaga-jaga dari segala kemungkinan.


Tak lama Asti pamit kepada Joko untuk kembali masuk kamar. Dia melihat Mbak Ning mencuci piring dan membersihkan dapur dibantu Bu Jum. Sementara Ninuk masih nongkrong di warung tenda, karena banyak teman- teman kampus yang datang ke sana. Mereka ngobrol sambil menikmati sajian yang sering dipromosikan Ninuk di medsos. Seperti juga Asti, Ninuk pantang memamerkan kekayaan keluarganya. Sebab dari rumah besar, bangunan ruko megah dan warung tenda yang selalu ramai ini adalah milik kedua kakaknya. Bukan miliknya!


Ninuk yang mentraktir teman- temannya dengan berbagai makanan yang mereka pesan di warung tenda Joko. Walaupun hubungan mereka tidak sedekat pertemanannya dengan Izzah! Tetapi Ninuk tetap senang dengan perhatian dan kebaikan semuanya. Mereka teman satu kelas dan satu angkatan dengannya. Tak lama gadis- gadis muda itu pamit dan masuk ke mobil Ayla putih itu.


Sebelum meninggalkan pelataran ruko, Ninuk melepaskan kepergian mereka. Suara tawa dan canda gadis- gadis muda itu cukup ramai terdengar. Tak urung beberapa pengunjung di warung Tenda dan ruko turut memperhatikan kehebohan itu. Sampai mereka masih melambaikan tangan dengan gembira di dalam mobil dengan kaca yang terbuka.


" Teman kuliah Mbak Ninuk, ya. Mas? Gila! Bro anak kuliahan sekarang bawaannya mobil! Gimana kalau mahasiswa yang kuliah di kampus negeri terkenal atau kampus swasta yang mahal? Bisa bawa helikopter kali! " Seru Mas Danu sambil mengocok telur di dalam mangkok besar.


" Yah, begitulah, Mas... Anak kampus zaman sekarang. Fasilitas dari orang tua serba lengkap. Memang kita yang anak kampung? Harus kos, dan rela makan mie instan setiap hari agar cukup dengan uang kiriman dari orang tua.."


Jawaban Joko yang santai itu membuat Mas Danu tertawa. Dia juga merasakan beratnya kuliah di sebuah akademi pariwisata dan memilih jurusan perhotelan di Semarang. Bakat masaknya terasah di dapur tempat praktek di kampusnya yang rapi, modern dan komplit.


" Soal Jago gimana?"


" Ada yang lihat dia balik ke kampungnya. Dania ternyata yang bantu menjual hasil rampokan itu, Mas!" bisik Joko.


Memang Joko dan Danu tak pernah merahasiakan apa pun di antara mereka. Apalagi soal hasil penjualan di warung tenda, akan mereka bagi dengan adil sesuai dengan kesepakatan kerja awal. Sisanya disimpan untuk modal dan pengembangan usaha. Sayangnya mereka belum mendapatkan lokasi yang cocok itu membuka cabang baru. Setidaknya usaha itu dapat membuka sedikit lapangan kerja di daerah ini.

__ADS_1


__ADS_2