
Kantor tempat Leon bekerja tampak sepi. Mungkin para pekerja administrasi yang biasa bekerja di lantai bawah itu sedang keluar, untuk mencari makan siang. Langkah Asti jadi lebih lamban saat kakinya menapaki anak tangga menuju ke lantai dua.
Pada dasarnya, hati Asti akan mudah memaafkan bila seseorang itu berbuat salah padanya dan mengakui kesalahannya. Tetapi tidak dengan Almira! Malah mendengar nama itu, Asti jadi timbul rasa sangat benci!
Leon masih berada di lantai lobi bersama Akbar. Dia sibuk menelpon seseorang. Setelah sampai di ruang rapat yang pintunya tertutup, Asti menghela nafas panjang.
"Assalamualaikum! " Salam Asti sambil mendorong pintu itu. suasana di dalam agak juga sepi.
" Selamat ulang tahun! Trak!"
Seru orang-orang yang berada di dalam sana sambil bertepuk dan berteriak nyaring. Disusul dengan lampu yang dinyalakan, sehingga ruangan itu menjadi terang.
Asti sangat terkejut. Sampai dia terpana dan tidak bisa berkata apa-apa. Dia benar-benar mendapatkan kejutan. Di sana, semua anggota keluarganya telah hadir... Dari Lek No, Bulek Ratih juga Joko dan Ninuk. Belum lagi para pegawai administrasi, asisten Leon samping para OB ikut hadir. Ditambah Bu Jum yang mengendong Qani dan disusul Akbar, Mbak Putri dan Leon yang ada di belakangnya.
Sampai ada orang yang mendorong sesuatu di belakangnya... Bu Ani yang sedang membawa sebuah kue tar ulang tahun besar dengan lilin menyala di angka 25.
Semua di luar perkiraan Asti. Mereka semua menyanyikan selamat ulang tahun... sampai terdengar suara berat Leon yang meminta untuk meniup lilin itu.
" Ibu, Akbar mau kuenya!" jerit Akbar di gendongan Joko. Ninuk terus beraksi dengan siaran langsungnya dari hape kesayangannya.
Sampai Leon mengecup kedua pipinya. " Selamat ulang tahun istriku tersayang dan tercinta, hadiahnya menyusul!"
Asti menangis terharu ketika sanak keluarga bergantian memeluk dan memberi ucapan selamat... Dari ruang kantor Leon, Ninuk membantu Bu Ani mengeluarkan nasi kotak pesanan mereka untuk acara ulangtahun tahun ini sekaligus untuk makan siang bersama.
Leon mengendong Qani yang dibawa Bu Jum untuk ikut merayakan ulang tahun ibunya.
" Ayok Mbak Asti, kita buka hadiah Mas Leon di bawah! " bisik Ninuk. Sementara orang-orang di sana mulai menikmati hidangan dari nasi boks itu. Beberapa pegawai meminta izin membawa nasi kotak itu ke ruang kerja mereka di bawah. Segera Bulek Ratih juga memberikan kepada mereka satu botol air mineral dingin.
Asti dibawa Ninuk dan Leon ke lantai bawah... Joko segera mengendong Akbar, biar anak itu tidak tertinggal oleh rombongan yang lebih dulu berjalan di depannya. Mereka sangat antusias dengan kado yang akan diberikan Leon kepada istrinya itu.
Sampai di bawah Asti kembali terheran-heran dengan kehadiran sebuah mobil jenis MPV. Sebuah mobil Kijang Inova terbaru berwarna merah maron yang diberi sebuah pita putih besar di atas kapnya.
" Ini hadiahnya! " Seru Leon senang.
Kesal Asti menatap suaminya dengan pandangan baru. " Nggak lucu ya, Mas! Mau kasih kejutan ulang tahun , kok pakai alasan Almira sih!"
__ADS_1
" Nggak apa-apa, Sayang! Sebagai pembelajaran juga, jangan sampai rumah tangga kita berantakan karena hadirnya orang ketiga seperti Almira. Wanita licik dan picik!"
Bulek Ratih, Bu Jum dan Lek No yang baru saja turun dari lantai dua ikut terharu karena hadiah ulang tahun itu sangat mengejutkan mereka. Sebuah mobil baru untuk Asti.
Qani beralih ke dalam pelukan Bulek Ratih. Sebab Leon akan membuka pintu mobil baru itu. Joko mulai menurunkan Akbar dari gendongannya.
" Ayok semua masuk kita coba mobil baru!" Ajak Leon kepada para penonton di depan lobi kantornya itu.
" Mas, aku belum berani bawa!" Ujar Asti ragu-ragu. Saat dia disodorkan kunci mobil itu.
" Iya, nanti kamu minta ajarin Joko atau Dimas untuk melancarkan saja! Untuk sementara biar Honda jazz itu dipakai Joko untuk keperluannya sehari-hari... Sedangkan Avanza Joko biar dipake dan dibawa Lek No pulang ke desa."
Pengaturan dari Leon itu mengejutkan semua orang yang sudah berada di dalam mobil itu.
" Sebenarnya lebih cocok, Honda Jazz itu untuk Ninuk. Tetapi nanti! Kalau nilai Ninuk tetap bagus, di setiap semesternya, bolehlah! Joko nanti kamu boleh pilih mobil baru yang kamu sukai... tetapi bantu aku di kantor, ya?"
" Beres itu, Mas!"
Mereka berkeliling di sekitar pemukiman di tahap satu yang hampir seluruhnya sudah dihuni oleh pemiliknya.
Di sana ada team tukang kebun yang akan membantu membuat taman di depan rumah - rumah penghuni baru itu . Sebab banyak pohon - pohon buah yang dicangkok ditanam di samping trotoar jalan dan pembatas dua jalur jalan untuk penghijauan.
Lek No sangat senang dapat membawa pulang mobil milik Joko. Dengan kendaraan itu , dia dapat membawa istri dan beberapa tetangganya untuk menghadiri berbagai acara di desa... Mulai dari undangan untuk hajatan, pengajian umum di suatu wilayah dan kegiatan sosial masyarakat desa lainnya. Sebab selama ini Lek No hanya mengandalkan sepeda motornya saja bila menghadiri undangan pesta dari sanak saudaranya. Kecuali bepergian sangat jauh, baru meminjam mobil Joko atau Asti.
Joko mulai berkantor bersama Leon... Karena sebagian tugas-tugasnya itu adalah mengerjakan administrasi, surat- surat dan laporan. Karena Joko menguasai administrasi dan komputer. Biasanya, ada beberapa surat lain yang akan dibawa pulang oleh anak sulung Lek No itu. Dia dapat bekerja di meja halaman samping, sambil mengawasi persiapan para pekerja untuk mulai berdagang di warung tenda.
Pembukaan mini market baru itu akan dilaksanakan pada hari Minggu. Beberapa hari sebelumnya Leon ikut memantau semua isi mini market dan segala persiapannya. Apalagi Ninuk sangat suka penataan barang - barang untuk toko kado di lantai atas. Nanti toko di lantai atas akan menjadi tanggung jawab Ninuk, saat dia libur kuliah di hari Sabtu dan Minggu.
Pembukaan mini market itu berjalan ramai dan meriah... Anak-anak yang datang di beri hadiah balon dan permen. Kalau ada pengunjung yang berbelanja dengan mencapai nominal tertentu akan diberi hadiah gelas, piring dan wadah makanan yang menarik... Mini market itu semakin ramai di sore hari. Bersamaan dengan dibukanya warung tenda.
Dua hari kemudian, Asti mendapat laporan pendapatan Berkah MQ mini Mart yang omzet penjualannya naik tajam... Para pegawai pria bersemangat untuk membawa berbagai barang dari gudang untuk mengisi barang - barang di rak yang dengan cepat menjadi kosong karena diserbu para pembeli.
Para pekerja pria akan istirahat dan tidur di lantai tiga. Semua barang sudah lengkap di sana, kecuali kompor. Sebab mereka mendapat makan malam dari Mbak Ning. Asti pun tidak keberatan memberi tiga atau lima orang tambahan jatah makan sehari dua kali.
Mbak Wiwik selalu mengantar laporan itu setiap dua atau tiga hari sekali. Dia juga cukup senang dengan para pegawai wanita yang mulai dapat mengoperasikan mesin kasir.
__ADS_1
Toko kado itu pun sudah diberi nama " Kadoku" di lantai dua akan ramai menjelang sore hari. Biasanya yang datang adalah anak-anak sekolah dari tingkat SMP sampai SMA yang akan mencari sovenir untuk hadiah atau koleksi pribadi. Sedangkan para ibu-ibu muda ke sana mencari kado untuk ulang tahun untuk teman anaknya.
Asti dibimbing Dimas untuk mengendarai mobil barunya dalam seminggu ini. Maklum bodi mobil ini lebih besar dibandingkan dari Honda Jazz yang biasa dibawanya. Tetapi Leon memilih mobil itu sesuai dengan sikap Asti, yang tidak suka pamer dengan barang mewah. Tetapi mobil itu tangguh dan dapat membawa kedua anaknya pergi bersama kedua pengasuhnya. Jadi di dalam mobil masih terasa lapang.
Sekarang Asti sudah mulai berani mengendarai mobil itu ke jalan raya yang lebih ramai. Perjalanan pertamanya kali ini adalah ke desa Sendang Mulyo. Akbar akan duduk di belakang dengan didampingi Mbak Putri , Qani sudah duduk di car seat yang dibelikan baru oleh Leon. Bu Jum yang menjaganya. Di bagasi ada bermacam- macam sembako untuk Bulek Ratih.
Dimas masih mengawasi Asti yang mengemudikan mobil baru itu. Mobil itu pun meluncur meninggalkan halaman rumah Asti, diiringi lambaian tangan Mbak Ning dan Mas Yanto.
Ini perjalanan kedua Qani ke rumah Mbah No dan Mbah Ratih, setelah acara aqiqah dulu. Bayi berumur 5 bulan itu tambah besar dan bertambah cantik. Dialah permata hati Leon Narendra Murti.
" Mbah!" Panggil Akbar yang tak sabar ketik dia mengetuk pintu rumah Joglo itu berkali-kali. Dimas sibuk mengangkat semua sembako dari bagasi menuju depan teras.
" Ya , ampun cucu-cucuku datang!" seru Bulek Ratih gembira saat membuka pintu depan.
Wanita itu meraih Akbar dalam pelukannya. Begitu juga keberadaan Qani yang menjadi rebutan antara Mbak Isni dan Mbak Mar yang bergantian ingin menggendongnya. Sampai mereka menyadari kalau Bu Jum, Putri dan Dimas telah membawakan semua sembako itu masuk ke dalam rumah.
" Mentang-mentang sayang cucu, nggak perlu sembako ini, ya!" " Ledek Bu Jum.
" Sudah, aku aja yang membuatkan minum!" Ucap Mbak Mar segera masuk ke dapur.
Dimas maklum, dia menjadi satu- satunya lelaki di rumah ini. Kalau tinggal di desa, para pria akan berangkat sangat pagi ke kebun atau ke sawah untuk bekerja.
" Asti, kita dapat borongan kelapa dari pedagang besar di Yogyakarta!"
" Alhamdulillah, Bulek! Nanti sebagian keuntungan disimpan, untuk pembayaran biaya ongkos haji!"
Mereka berada di sana sampai siang hari. Dimas mengambil beberapa buah mangga dan jambu air jenis Cincalo yang berwarna merah menyala itu. Dia mengumpulkan buah itu sampai mendapat satu kresek besar. Nanti akan dibuat rujak bersama Mbak Ning. Karena di kebun itu juga ada buah kedondong dan bengkuang.
Buah bengkuang itu tanamannya itu mirip tanaman ubi. Buahnya berada di dalam tanah. Daunnya lebih lebar dengan warna hijau pucat dan merambat. Tadi Kang Slamet yang membongkar dua batang tanaman induk itu yang menghasilkan buah yang cukup banyak dan besar-besar.
Mereka menikmati makan siang bersama Lek No...Sebab Kang Kasat membawa sebagian makan siang itu untuk para pekerja ke sawah dengan mobil Joko.
" Nggak salah, mobil Joko dibawa ke sawah?" tanya Dimas kurang paham.
" Nanti sekalian untuk mengantar pekerja itu pulang... Kami memperkerjakan orang-orang dari Kidul desa, sejak ada masalah dengan orang tua Dania!"
__ADS_1
"Bagaimana usaha mini marketnya, Asti. Lancar?"
" Alhamdulillah...Semoga terus lancar, Lek!" ujar Asti santun.. Mereka menikmati makan siang itu di ruang tengah. Sementara Qani terlelap di stroller yang memberinya rasa nyaman. Karena di dalam rumah Joglo ini terasa dingin dan sejuk. Tanpa AC dan kipas angin. Kecuali di kamar Asti yang terletak di bangunan belakang. Tertutup, dan bersebelahan dengan dapur dan gudang.