Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 50. Keputusan yang Sulit


__ADS_3

Saat mereka pamit keluar dari rumah itu, Zahra sudah tidak bisa lagi tersenyum dengan penuh kemenangannya itu.


" Kamu harus bercerita banyak pada saya. Tentang semua ini, Mbak Asti!"


Tagih Ibu Anggita gusar. Wanita itu sudah meneguk setengah dari isi tumbler yang dibawanya. Segera dia membawa mobilnya keluar dari kompleks pemukiman yang tampak asri dan nyaman. Namun dapat menyembunyikan hubungan gelap Satrio dan Zahra.


" Ayo, Asti. Bercerita lah!" Pinta Ibu Anggita.


Wanita itu memberhentikan mobilnya di sebuah rumah makan sederhana tak jauh dari komplek perumahan tadi. Mereka memilih tempat yang paling sudut dan agak jauh dari pengunjung agar lebih nyaman dan leluasa berbicara.


" Tetapi, saya mohon ibu mencarikan saya bantuan untuk pengacara, ya!" kata Asti lagi.


" Satrio agak susah dihadapi. Dia jadi emosi dan kasar kalau saya dianggap sudah merendahkan harga dirinya!"


" Kamu tahu berapa lama perselingkuhan Satrio ini?"


" Mungkin sejak saya dirawat di rumah sakit ketika melahirkan Akbar. Di sanalah Satrio dan Zahra bertemu."


Sebenarnya, Asti sudah merasakan perubahan sikap Satrio setelah kedua pasang orang tua mereka kembali ke rumah masing - masing. Tepatnya seminggu setelah dia kembali ke rumah. Puncaknya adalah ketika mereka mengadakan acara akikahan Akbar di desa. Saat bayi mereka baru berusia tiga minggu.


Sampai nama Zahra terucap dari mulut Satrio. Ketika itu melewati kamar sebelah yang dipakai suaminya itu beristirahat. Terkadang Akbar sering menangis terbangun di malam dan itu membuat Asti sering begadang. Sedangkan dia tak berani meminta bantuan Satrio yang sedang menangani sebuah kasus berat.


"Kenapa kamu menyerah, Asti? Perempuan itu yang menang ...."


"Saya mau hidup tenang, Bu. Saya sudah lelah karena selama ini Satrio sangat rapi menutupi hubungannya itu. Sampai Joko melihat sendiri saat Satrio di sebuah SPBU membawa Zahra bepergian ke luar kota. Ternyata mereka melangsungkan acara pertunangan di rumah orang perempuan itu."


Suara Asti semakin rendah. Tampaknya dia berusaha meredam rasa pahit akibat sakit hati dan kekecewaan. Apalagi mendengar dengan gamblangnya Zahra berbicara hubungan percintaan mereka sudah selayaknya sebagai suami -istri.


" Menangis lah, Asti! Kalau itu membuat hatimu lebih lega," kata ibu Anggita pelan.


"Mengapa kamu baru cerita sekarang, Asti? Padahal kami dapat segera menolong kamu. Ketika Pak Sadewo secara tidak sengaja melihat Satrio membawa perempuan itu. Di blok sebelah ada rekan beliau yang tinggal di sana. Saya awalnya tidak percaya lho, ketika suami saya menyampaikan cerita itu. Tetapi Bu Suparlan sudah lebih dari sebulan lalu ribut masalah Satrio berpaling ke perempuan lain."


" Saya sangat malu, Bu ... Entah salah dan dosa apa yang telah saya perbuat. Karena Satrio dengan cepat berpaling ke perempuan lain. Padahal kami baru menikah dan punya bayi."


"Sabar... Semua perbuatan yang jelek akan diterima oleh orang yang melakukannya. Allah tidak tidur, Asti!"


" Tolong, Bu. Simpan juga rekaman suara Zahra tadi. Apa pun yang terjadi nanti, saya harus keluar dari rumah dinas Satrio itu."


Dalam perjalanan kembali pulang, mereka sama- sama terdiam. Tadi di warung masakan Solo di pinggir jalan, hampir saja Asti tidak menyentuh semangkok tongseng yang sudah dipesannya. Kalau tidak diingatkan Ibu Anggita sebab dia harus makan untuk memberi asupan ASI pada bayinya juga kewarasan pikirannya.


Besoknya Ibu Anggita datang dengan seorang pria muda yang


ternyata seorang teknisi di sebuah toko elektronik untuk memasang cctv di ruang keluarga dan di depan rumah. Katanya disuruh Pak Sadewo untuk berjaga- jaga.


Seharian itu Asti sudah merapikan seluruh barang- barang keperluan Akbar dalam dua dus besar. Asti juga sudah mengosongkan barang- barang pribadinya dari lemari di kamar tidur utama. Pakaian yang biasa dipakai sehari- hari hanya di letakkan di dalam keranjang cucian plastik lebar.

__ADS_1


Tampaknya, Ibu Anggita sudah memanggil temannya yang seorang pengacara, Imelda Wahono , S.H. Wanita itu tampak cerdas dan berpengalaman, beliau juga sudah biasa mengurus masalah perceraian. Dia agak terkejut dengan permasalahan pelik yang dihadapi wanita cantik dan sederhana itu.


Wanita itu menerima beberapa foto, video dan rekaman suara Zahra dan pengakuan hubungan mereka.


Di rumah Bu Anggita mereka berbicara dan berdiskusi agak lama.


Kemarin Satrio pulang dari dinasnya dari Semarang. Namun, lagi - lagi dia kembali ke rumah Zahra. Tentu saja wanita itu tak berani membicarakan kedatangan Ibu Anggita dan Asti yang berhasil mendapatkan bukti hubungan mereka.


Sorenya, baru Satrio pulang ke rumah dinas. Tentu dia masih menjaga kehormatan diri dan nama baiknya, karena di kompleks ini ada atasannya langsung, Pak Sadewo.


Sengaja, Asti menyusui bayinya sampai kenyang agar Akbar cepat tertidur. Selain diletakan di boks agar bayinya aman, Asti menyetel bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dari hapenya.


Dilihatnya Satrio sedang duduk terdiam di depan televisi yang menyiarkan berbagai berita .


" Mas, ini kopinya!"


Satrio menikmati kopi itu seteguk demi seteguk. Dia agak risih ketika Asti mengambil duduk di kursi di meja makan itu yang berhadapan dengannya.


" Bisa kita berbicara baik- baik, Mas?"


" Kenapa, kalau kita nggak bisa ?"


" Saya mau izin untuk keluar dari rumah ini!"


"Yakin ini keputusanmu?"


Ketika Asti beranjak dan berdiri dari dia duduk, kedua tangan kuat Satrio menahan kedua bahu Asti." Duduk!"


Suaranya lantang dan membahana dari laki-laki itu, sampai membuat Asti terkejut. Dia terpaksa duduk dengan cepat. Tentu dengan hati kebat- kebit. Sampai dia memasrahkan diri, kalau Satrio akan melalukan hal anarki. Berbuat KDRT padanya. Di sana sudah ada cctv yang terpasang.


" Jangan kamu kira dengan hijab dan kerudungmu yang panjang itu tidak menutupi tingkah lakumu yang bejat. Berapa banyak lelaki yang kau undang datang ke rumah ini, Asti? Jangan- jangan Akbar juga bukan darah daging aku!"


Perkataan Satrio sungguh di luar perkiraannya. Ternyata ada seseorang yang telah memfitnahnya dan suaminya percaya begitu saja. Apa dibenarkan lelaki ini berselingkuh dan berbuat zinah untuk membalas fitnah itu?


Tarikan napas Asti dihembuskan berkali- kali untuk menghilangkan rasa sesak dan amarah yang bergulung menjadi satu.


" Apakah Mas Satrio percaya dengan fitnah itu? Demi Allah dan Rasulallah, saya tidak pernah menerima lelaki masuk ke rumah ini tanpa ada orang lain! Bahkan kamu juga meragukan Akbar sebagai anakmu?"


Air mata Asti mulai bercucuran. Segara dia meraih kotak tisu. Di depan lelaki arogan ini dia tidak boleh lemah. Matanya menatap sebuah Al Qur'an, yang tadi siang digunakannya berdoa di ruang makan ini, sementara Akbar tidur.


Diletakkan Al Qur'an itu di atas meja, di samping mereka. " Demi apa pun itu, aku menolak tuduhan dan fitnahan itu. Apa Mas berani bersumpah di atas kitab suci ini, kalau mas tidak berselingkuh dan berzinah dengan perempuan lain?"


Belum selesai Asti mengambil kitab itu, Satrio sudah melemparkan buku yang tidak terlalu besar namun tebal dan berat ke wajah Asti. Wanita itu secara refleks menunduk. Tetapi kepalanya masih kena hantam benda itu sebelum jatuh dengan suara keras ke lantai. Asti mengaduh. Hantaman benda itu membuat kepalanya terasa pusing.


Tanpa sadar di mengambil buku kitab itu dan memeluk di dadanya sambil menahan tangis. " Dengan Al-Qur'an ini saja kamu tidak berani bersumpah setia! Padahal pernikahan kita sudah tercatat secara sah menurut negara dan agama...."

__ADS_1


Jangan tanya betapa hancurnya hati Asti dengan fitnah yang tertuju padanya. Belum lagi hubungan Satrio dengan Zahra. Sangat tak masuk akal dan logika, kalau gadis itu mau berhubungan dan bertunangan dengan lelaki yang jelas- jelas masih ada istri dan anaknya. Padahal Zahra masih sangat muda, cantik dan lumayan juga pendidikan untuk menjadi seorang perawat.


Kepala Asti masih agak berat. Tetapi dia tak berani keluar dari pintu rumah sebelum Joko atau Lek No datang menjemput. Matanya menatap sedih benda yang dulu diberikan Satrio sebagai bagian dari mahar pernikahan. Sekarang benda itu agak sedikit koyak.


Sambil menggurus Akbar, bibir Asti terus bersholawat. Tampaknya setan- setan di rumah ini sedang berpesta kemenangan. Sebab Satrio selalu membenarkan segala tindakan dan ucapannya.


" Joko, Kamu sudah jalan? " Telepon Asti pada Joko di pagi harinya.


" Sebentar lagi, sebab Pak Cahyadi juga meminta Bapak dan Ibu juga datang ke rumahmu!"


Jadi Satrio meminta orang tuanya datang. Untuk mempermalukan dirinya? Wajah Asti menjadi lebih sinis.


Menjelang pukul 11.00, rombongan orang tua Satrio datang bersamaan dengan kedatangan Joko dan kedua orang tuanya. Mereka bersalaman di depan pintu masuk. Joko sempat membeli kue dan minuman setelah menerima beberapa pesan dari Asti sebelumnya.


" Sini Asti!" Panggil Pak Cahyadi ketika Asti keluar dari kamar sambil mengendong Akbar. Bayi itu lebih memilih digendong Joko daripada neneknya sendiri, Ibu Widya.


" Ada apa ini. Kami diminta Satrio untuk segera datang ke mari?"


Wajah Satrio jadi semakin tidak sedap dipandang ketika dia melihat kehadiran Lek No, Bulek Ratih dan Joko yang masih menimang Akbar.


" Asti minta cerai, Pak!"


" Cerai? Asti? Apa yang kamu perbuat sampai Asti minta cerai?"


" Dia menuduh Satrio berselingkuh."


Ada senyum sinis yang diperlihatkannya Asti mendengar cara Pak Cahyadi memarahi anaknya. "'Apa itu benar, Asti?"


" Iya, Pak!"


" Kamu tahu, tuduhan tanpa bukti itu jatuhnya menjadi fitnah?"


" Kenapa Bapak hanya memarahi pasangan ini sewaktu di lapangan parkir rumah sakit? Sekarang apa yang akan bapak lakukan kalau pasangan ini sudah berselingkuh juga berzinah?"


" Asti! Sembarangan saja kamu kalau ngomong ... Jangan besar kepala kamu, ya! Kalau selama ini kami semua sayang dan selalu membelamu." Tegur Ibu Widya kasar. Dia melupakan diri sebagai ibu mertua dan nenek yang welas asih karena sangat menyayangi Satrio.


" Maafkan, Asti. Kalau kurang menghormati orang yang selama ini sudah memberi kasih sayang dengan tulus. Mas Satrio harus menceraikan Asti di depan keluarga ini. Atau saya harus menggugat Mas Satrio dengan barang bukti yang tidak saja membuat keluargamu malu, tetapi akan mencoreng namamu baikmu di kantor."


" Maksud kamu, kamu mengancam saya Asti?"


" Mana saya berani dengan orang sehebat anda, Satrio Wibowo. Pak Sadewo juga sudah menyimpan semua bukti itu."


" Ada apa lagi ini?" tanya Pak Cahyadi bingung.


"Satrio berselingkuh dengan perawat yang bapak lihat sewaktu saya dirawat di rumah sakit. Bahkan mereka belum lama ini bertunangan, Pak!"

__ADS_1


" Gila!" desis Joko keras. Untung Akbar masih ada di pelukannya dengan kuat. " Kamu setan Satrio!"


Joko menyerahkan Akbar pada ibunya. " Saya pernah melihat Satrio membawa perempuan itu pergi ke arah Yogyakarta. Ternyata ini yang kamu sembunyikan selama ini Satrio? Kamu nggak malu dengan latar belakang keluargamu yang terpandang, pangkat juga kedudukanmu. Penjahat kelamin!"


__ADS_2